
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
"Gimana caraku ngebuktiin ke Dirgantara, kalau aku lakuin ini. Murni dari niatku sendiri. Bukan kendali sistem?" batin Aizha resah.
Aizha pun berusaha, untuk berpikir. Setelah menemukan ide. Dia pun mengambil pisau di dapur. Mereka semua tampak terkejut dan mulai resah. Mereka tidak tau, apa yang ingin Aizha lakukan, dengan benda tajam itu.
"Kalau aku dikendaliin Alpha. Dia enggak akan biarin aku mati dan memikirkan cara yang lain," ucap Aizha dan menggores lehernya, dengan pisau tajam tersebut.
Mereka semua tampak sangat terkejut. Arkana yang berada di sebelahnya, langsung mengambil alih pisau itu dan membuangnya jauh-jauh. Arkana tampak begitu marah pada Aizha. Sedangkan Innara dan Bunga, pergi mengambilkan kotak p3k.
...[Aizha! Apa yang telah kau lakukan!]...
Hologram sistem Alpha muncul. Cantika pun menunjuk ke arah hologram tersebut. "Ituuu! Alpha muncul! Ini artinya, Aizha sama sekali, enggak di kendalikan Alpha!"
Cantika sepertinya lupa, jika hologram Alpha, hanya bisa dilihat oleh mereka berempat. Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan, tampak heran serta bingung. Farel dan Akhsan, sampai menyipitkan mata, ke arah yang di tunjuk Cantika.
"Maaf Alpha, aku hanya ingin membuktikan. Kalau aku, enggak kamu kendalikan, layaknya mayat hidup atau boneka," ngadu Aizha, membuat Dirgantara menelan salivanya.
...[Biarkan saja dia dan gunakan kekuatan kepercayaanmu, untuk membuat dia percaya!]...
"Ehh, iya juga ya. Apa jangan-jangan, lo lupa, Zha?" tanya Cantika dan Aizha pun tersenyum kikuk, sambil menganggukkan kepala.
"Apa kalian lagi ngobrol sama sistem Alpha?" tanya Arkana, memastikan dan diangguki oleh Aizha serta Cantika.
Innara dan Bunga, tampak terkejut melihat hologram Alpha. Innara yang membacanya, langsung menanyakan hal yang sama pada Aizha. Bunga sendiri tertawa kecil, melihat ekspresi Aizha. Mendengar Bunga mengejek Aizha yang kena omel Alpha, membuat ke-empat laki-laki itu percaya, akan adanya sistem tersebut, di sekitaran mereka.
"Apa kita nggak bisa, lihat sistem Alpha, seperti kalian?" tanya Arkana, membuat Cantika, Innara serta Bunga, menoleh ke arah Aizha. Namun, Aizha hanya tersenyum kikuk.
...[Dirgantara dan Cantika, telah mendapatkan informasi yang kalian butuhkan. Selesaikan sekarang juga dan lanjutkan misi yang lainnya. Sebelum energi habis]...
"Ehhh, Cantika! Dirgantara! Kalian udah dapat informasi tentang misi ini?" tanya Aizha, membuat mereka berdua terkejut.
"Apa Alpha memberitahumu, tanpa aku ketahui?" tanya Cantika dan diangguki oleh Aizha.
"Ehhh, Cantika juga nggak bisa lihat? Terus yang tadi?" tanya Farel, merasa janggal.
"Jangan salah paham dulu ya! Terkadang, Alpha memang hanya ingin bicara, dengan Aizha seorang. Tapi, dia juga bisa nunjukin diri ke kami bertiga, jika memang penting atau berkaitan," jelas Bunga dan diangguki oleh Farel. Tiga cowok lain, juga mulai paham dan percaya.
"Kania kasih tau kita, kalau progam Murid VIP ini, enggak sepenuhnya berlanjut. Malah, kayak beli nama, tapi beda penyaluran atau jaringan. Sekarang, progam VIP ini, malah lebih jujur," kata Dirgantara, membuat mereka semua berpikir.
"Lebih jujur gimana, ya?" tanya Bunga, membutuhkan penjelasan.
"Yang dulukan, bisa sabotase nilai atau sertifikat, kalau sekarang enggak. Para Murid VIP, cuman dikasih meditasi dan pelajaran, kayak les biasanya. Kalau nilai mereka enggak sempurna atau seperti yang diharapkan, itu kesalahan mereka sendiri! Karena program tersebut, merasa telah memberikan kunci soal dan pengerjaan yang terbaik," jelas Cantika dan diangguki oleh Bunga, Aizha dan Farel.
"Apa alasan atau syarat, yang bikin Kania, mau ngasih informasi ini ke kita?" tanya Arkana penasaran.
"Kania enggak suka, dengan metode belajar progam tersebut. Dia ngaku, bukan orang yang mudah menghapal atau berotak cerdas. Hal ini, buat dia sangat stres. Dia berpikir, cara terbaik untuk menghentikan hal gila ini, hanya dengan membubarkannya," sahut Dirgantara, membuat Arkana paham.
"Kalau gitu, apa bener, Pak Fahri yang ambil alih progam itu sekarang?" tanya Arkana diangguki oleh Dirgantara dan Cantika. "Sendirian?" tanyanya, kembali.
"Waktu gue tanya hal ini. Dia kelihatan ragu-ragu dan ketakutan," ucap Cantika dan disetujui oleh Dirgantara.
"Kenapa?" tanya Aizha, Arkana, Akhsan, Bunga dan Farel. Sedangkan Innara sendiri, hanya fokus menyimak.
"Dia ngerasa, kalau yang bantu Pak Fahri itu, si Alex dan Jeno yang notabennya, udah meninggal," ucap Dirgantara, membuat mereka terkejut.
"Apa maksudnya?" tanya Innara.
"Alpha pernah bilang. Mereka yang udah meninggal bakalan bangkit lagi," ujar Aizha, membuat Farel merinding dan sepontan memeluk Akhsan.
"Hiiii! Jangan ngomong yang aneh-aneh bisa?!" Farel tampak ketakutan, hingga membuat Innara menahan tawa. Namun, Bunga langsung memberikan tatapan tajam padanya.
"Bentar! Cantika, apa lo inget, waktu kita di mini market dulu?" tanya Dirgantara, membuat Cantika menekuk keningnya. "Cowok bertato X!"
"Aahhh, gue inget! Ada orang aneh, modelnya hampir kayak zombie atau pemabuk berat dan ada tanda X di tangan kalau nggak salah," ujar Cantika membuat Akhsan dan Arkana menyadari sesuatu.
Arkana dan Akhsan teringat, ketika dirinya di serang oleh para Pejubah tadi siang. Ada tanda X, di tangan dan beberapa orang di leher. Tapi, mereka malah terlihat, seperti Psikopat.
"Waktu gue sama Arkana, ngelawan para Pejubah tadi siang. Ada tanda X di tangan mereka. Tapi, ada juga yang di leher," kata Akhsan.
"Cuman, mereka masih sedikit normal. Malah kayak gengster biasa atau Psikopat," ujar Arkana, membuat Aizha dan Innara berpikir keras.
"Ada banyak sekali tanda tanya. Tapi, saat ini kita nggak bisa buang-buang waktu. Aizha udah serap energi dari empat tubuh manusia. Ini kesempatan langka, dan harus dimanfaatkan, untuk menyelesaikan misi-misi kita!" seru Innara dan disetujui oleh mereka semua.
"Itu benar, jika mau menghadapi mereka juga. Aku perlu mencapai level yang tinggi," kata Aizha dan diangguki oleh mereka semua.
Mereka berdelapan pun, merancang misi bersama-sama. Mereka mencari para Guru yang berkaitan, dengan progam Murid VIP dan progam les atau jual soal lainnya. Arkana, Aizha, Innara dan Dirgantara juga merancang strategi atau pertunjukan menarik. Sedangkan Cantika, Akhsan, Farel dan Bunga, mengambil beberapa bukti, sebagai penambah bumbu.
...<\=>...
Dua hari berlalu, kini mereka telah sampai pada hari yang sangat dinantikan. Banyak Murid terkejut dan bingung, melihat orang-orang yang masuk ke dalam sekolah, memasang layar besar di halaman Sekolah dan peralatan lainnya. Sela-sela pagar dan dinding sekolah pun, sampai ditutupi. Supaya tidak terlihat dari luar Sekolahan. Jalanan juga mulai sepi, tak ada satu kendaraan yang lewat.
Para Murid, Karyawan dan Bapak-Ibu Guru, mulai resah. Banyak yang menduga, Alpha telah kembali. Beberapa dari mereka sangat penasaran, siapa yang akan dirugikan dan dipermalukan oleh Alpha.
Pada layar yang begitu besar dan lebar itu, muncul hitungan angka, dari sepuluh sampai nol. Mereka yang melihat, mulai tegang dan risau. Ketika angka nol muncul. Tak lama, sebuah foto-foto kegiatan jual soal, les privat yang curang dan progam Murid VIP. Bukti pemalsuan nilai dan sertifikat juga dimunculkan di layar. Banyak Murid terkejut dan kesal.
"Apa dari kalian, ada yang merasa curiga. Kenapa les privat yang dilakukan oleh beberapa Guru ini, menjadi masalah?" pertanyaan yang terdengar di seluruh halaman Sekolah, tanpa tahu pemilik atau wujub yang bertanya.
"Ya!" sahut banyak Murid, kencang.
"Para Guru ini, memberikan pembelajaran, soal dan jawaban, sebelum mengajar di kelas. Mereka juga, langsung memberikan kunci jawaban, dari soal ujian yang dibuat olehnya. Ada beberapa yang menerima transaksi, dengan uang, perjodohan, pelecehan dan pemerasan!" ucap Alpha, membuat mereka semua terkejut. Para Guru dan Kepala Sekolah, mulai kebingungan sendiri.
"Jika gaji para Guru di sini, sangatlah kecil atau standard. Mungkin, masih bisa aku maklumi. Namun, gaji mereka sudah berkisar belasan, hingga puluhan juta. Apa itu tidak cukup? Sekolah juga memiliki aturan, untuk mengadakan les bersama, pada waktu kosong di Sekolah. Sistemnya pun, iuran satu kelas. Jika ada yang tak sanggup, tinggal dengan uang tutup kas. Tapi, mau bagaimana lagi. Kita memiliki Guru yang serakah dan egois," ujar Alpha, membuat mereka memaki para Guru yang terlibat.
"Apa kalian ingin, menghukum mereka?" tanya Alpha.
"Ya!"
"Kami mau!"
"Mau banget!
seru para Murid, mulai heboh. Alpha tampak tertawa kecil. Dia senang, melihat kehebohan teman-temannya ini. "Tapi, kalian juga harus menghukum Pak Kepala Sekolah? Kalian yakin?" tanya Alpha.
Arkana tampak mengambil mikrofon dan menjawab, "Siapapun yang melanggar aturan sekolah dan malakukan pelanggaran, wajib diberikan hukuman!"
Para Murid tampak sangat senang dan heboh. Mereka pun meminta hukuman itu pada Alpha. Arkana yang memegang mikrofon bertanya, apa yang harus dia dan teman-temannya lakukan.
"Apa ya..." Alpha berusaha untuk memperlambat, hingga membuat para Murid penasaran.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Kita lanjutkan besok, ya guys. See you😘💕...