
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Bel berdering sangat nyaring. Suara heboh para Murid, mulai mengiringinya. Tampak di dalam Kelas begitu sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang piket. Innara, Cantika, Bunga dan Aizha, juga telah berpencar, untuk melakukan misi.
Cantika terlihat, tengah memasuki ruang ekskul bela diri, untuk menemui para Murid di sana. Nampak, Pak Silat begitu bahagia, melihat kehadiranya. Dia pun memberikan pakaian silat pada Cantika dan meminta, untuk segera pergi mengganti seragam. Nampak aura tegas dan tangguh Cantika, membuat Guru Silat dan beberapa Murid terpukau.
"Wahhh, kau memang Murid kebanggan Bapak, Cantika! Bukan hanya cantik dan pintar dalam pelajaran, tapi kamu juga menguasi seni bela diri," ujar Pak Silat, kagum.
"Hahahahaaa, Bapak ini! Berlebihan banget, kalau muji saya. Saya kan jadi seneng!" ucap Cantika, sambil tersenyum.
Tiba-tiba, beberapa Murid dari ekskul bela diri datang. Mereka membawa, beberapa buah balok putih. Batu-batu itu mereka tata di atas lantai. Terlihat, ada yang ditumpuk menjadi tiga, dua dan hanya satu batu. Pak Guru Silat juga, membawa triplek di tangannya. Cantika pun tersenyum, melihat semua ini.
"Wahhh, kayaknya Bapak mau nguji saya nih?" celetuk Cantika.
"Bagaimana, kalau kita lakukan sekarang? Mereka pasti, juga tidak sabar melihat kekuatanmu," kata Pak Guru Silat.
Camtika pun menganggukkan kepala, mengiyakan. Ketika sang Guru menaikkan triplek yang dia bawa. Cantika berhasil menendang triplek tersebut, dengan meluruskan kaki, hingga melompat. Tiga aktraksi berhasil dia tunjukan di depan banyak anggota. Mereka semua tampak begitu kagum dan terpukau, sampai bertepuk tangan.
Kini Cantika berhadapan, dengan balok yang ditata oleh para anggota silat. Dia tampak terdiam sejenak dan langsung mematahkan balok-balok itu, dengan tangannya. Mereka semua tampak terkejut. Ada juga yang menutup mata, saking takutnya. Namun, Cantika masih bisa tersenyum lebar dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tepuk tangan dan seruan heboh pun diberikan oleh para Anggota serta Pak Pelatih.
"Bapak bener-bener bangga sama kamu, Can! Kalau kamu bisa ikut lomba bulan depan. Saya yakin, kamu akan mendapatkan posisi pertama!" ucap Pak Pelatih.
Cantika pun tersenyum kecil. "Saya mau-mau aja kok Pak, ikut lomba itu. Tapi... Ada syaratnya! Bapakkan tau, kalau saya diminta buat pertahanin nilai, supaya beasiswanya aman."
Pak Pelatih langsung mengangguk-anggukkan kepala, setuju. "Apa syaratnya?"
"Sebentar, saya juga mau beradu silat dengan meraka. Jika, mereka mau mengikuti permintaan saya. Permintaannya nggak mahal kok, cuman hal sepele doang. Kalian tau saya kan?" tanya Cantika, beberapa Anggota tampak gelisah.
"Gimana nih?"
"Sepele? Uang dong, berarti?"
"Nooo, Kak Cantika bukan orang kayak gitu!"
"Kakak, gimana nih? Kalian berlima kan, satu angkatan sama Kak Cantika!"
"Biasanya, kalau Cantika kayak gini itu. Dia cuman mau informasi dari kita. Tapi, kalian tenang aja. Dia bakalan jaga rahasia!"
"Benar kata dia, Cantika pasti butuh informasi. Apalagi, bentar lagi UTS. Dia pasti, terpaksa lakuin ini, untuk pertahanin beasiswanya. Kita harus bantu dia!"
"Bener, pasti ada seseorang yang mengancam Cantika lagi!"
"Beberapa Guru, juga udah kasih peringatan sama Cantika, untuk nggak mengikuti ekskul dulu, karena harus fokus, dengan pelajaran. Kita nggak boleh sia-siain kesempatan ini!"
"Bener itu, banyak banget orang yang pingin duel sama dia, karena saking tangkas dan lincahnya."
Ucap mereka, sedang berdiskusi. Mereka pun melihat ke arah Cantika dan menerima kesepakatan. Pak Pelatih juga sama halnya. Cantika langsung setuju, untuk mengikuti lomba dan menantang satu per satu anggota silat.
<\=>
Bunga juga sedang dalam perjalanan, mencari tambahan bukti. Dia mendekati dua orang Pria yang menjadi Asisten Andre, yaitu Bimo dan Teo. Terlihat, ada perasaan gelisah dan takut. Tetapi, dia tidak menyerah. Sebuah lip tin, dia pakai ke bibirnya. Jepit yang Aizha bagi juga, terlihat semakin cantik di rambut lurusnya.
"Haiii!" sapa Bunga pada kedua Pria itu, dengan malu-malu.
Beberapa menit yang lalu. Aizha memintanya, untuk mengenakan jepit yang dia berikan. Aizha memiliki ide, untuk menjadikan Bunga, sebagai pemain tambahan dalam permainan Andre. Jika mengingat, kalau Bungalah orang yang paling cantik di Sekolah ini. Bunga juga menyetujuinya, karena hanya itulah yang bisa dia bantu.
"Wawww, ada apa Bunga?" tanya Bimo, sangat ramah dan sopan.
"Emmm, aku denger-denger kalian punya grup dan Asila, dari kelas MIPA, juga masuk di sana. Boleh enggak, aku ikut masuk? Aku... Pingin cari temen, karena Vlora dan yang lain, tidak bisa memaafkanku. Mereka nggak mau lagi, temenan sama aku," keluh Bunga, tampak begitu sedih.
Bimo dan Teo tersentuh. Bimo mengusap lengannya, merasa iba. "Kasihan... Kamu pasti kesepian ya?"
"Jadi pacar gue aja, Bunga. Gue jamin, lo nggak bakalan kesepian lagi!" ucap Teo.
"Benarkah?" Mata Bunga penuh harapan.
Bimo menatap Teo, kesal. "Sialan! Maksud lo apa, hah?! Gue duluan yang deketin dia!"
"Bagi dua lah," ujar Teo, santai.
Bimo benar-benar marah dan langsung menonjok Teo. Melihat Teo yang ingin membalas, Bunga pun mengabil tindakan, untuk berteriak kencang, "Berhentiiii!"
Teo dan Bimo, langsung menutup telinga, saking cemprengnya. Bunga pun menangis dan marah, "Aku cuman mau gabung ke grup itu, supaya dapat teman baru! Kenapa kalian, malah bertengkar?!"
"Stststttt! Jangan nangis!" pinta Bimo, lembut.
"Aku mau dapat temen baruuu! Hiks hiks hiks, ijinin aku masuk!" mohon Bunga, membuat Bimo gelisah.
Teo pun mendekat. "Elo yakin? Elo bakalan, kita pamerin ke depan anak-anak dan wajib ikuti semua keinginan kita?! Elo sanggup?"
"Nggak papa, Vlora juga sering kok, pamerin aku ke temen-temen dia. Aku udah biasa," ucap Bunga, membuat Teo tersenyum.
Bimo hanya diam dan melihat. "Lo tunggu di sini, gue bakalan panggil Andre!" kata Teo.
"Emmm, di lab aja gimana? Aku punya kuncinya." Bunga menunjukkan kunci yang dia bawa. "Asila bilang, orang cantik dan cocok pakai segala macam pakaian saja yang dapat masuk ke grup. Jadi, aku udah bawa beberapa pakaian, untuk pertunjukkan nanti. Kalian bisa nilai, apakah aku layak di grup itu," ucapnya membuat Teo senang.
"Hmmm, boleh juga lo, kebetulan pala gue puyeng, karena pelajaran tadi. Baguslah, kalian berdua ke lab duluan aja. Biar gue panggil si Andre," kata Teo dan diangguki oleh Bunga. "Jangan mulai, sebelum kita dateng!" pesannya pada Bimo.
Teo pun pergi. Sedangkan, Bimo dan Bunga, berjalan menuju lab. Innara diam-diam, bersembunyi di balik dinding, dekat dengan ruangan Andre. Terlihat, si Teo mulai masuk ke dalam ruang tersebut dan tak lama, dia keluar bersama Andre.
Innara menekan ujung bolpen dan bertanya, "Zha, CCTV-nya?"
Aizha yang sedang berada di Perpustakaan, langsung menjawab, "Udah gue ambil alih!"
Innara dapat mendengar, melalui anting dari Aizha. Dia pun masuk ke dalam ruang tersebut. Innara terkejut, saat melihat handphone Andre yang tergeletak di meja. Nampak, si Aizha yang berada di ruangan berbeda, tengah fokus mengamati laptopnya.
"Pakai kunci apa?" tanya Aizha.
Innara tampak lega dan menjawab, "Untung aja pola Zha."
"Syukurlah!" sahut Aizha lega.
Innara pun mengeluarkan handphone dan mengaktifkan salah satu aplikasi. Dia arahkan kamera handphone ke layar tersebut. Tidak butuh waktu lama, hasil pola ditemuka. Ada dua macam pola yang ditemukan aplikasi. Innara pun mencoba sekali dan langsung terbuka. Dia pun memasangkan aplikasi rahasia di handphone Andre.
"Jangan lupa, sembunyikan aplikasi itu Ra!" pesan Aizha.
Innara pun, menyandi aplikasi tersebut dan menyembunyikannya. Terlihat titik biru di ujung handphone, muncul. Innara tampak puas dan menaruh handphone itu kembali ke meja.
"Innara, sembunyi!" pinta Aizha, membuat Innara terkejut. "Andre balik lagi!" ucapnya, sambil melihat ke arah layar laptop.
Innara tampak sedikit panik. Dia langsung bersembunyi, di lemari kecil. Andre yang tiba-tiba masuk, langsung mengambil kembali handphonenya dan pergi. Tampaknya, Andre sama sekali tidak curiga.
Aizha terus memantau. Ketika, Andre telah jauh dari lokasi. Dia pun meminta Innara, untuk keluar.
"Wahhh, jantung gue..." keluh Innara, sambil berjalan, untuk mencari kembali ipad yang disembunyikan Andre.
"Tenanggg, udah aman kok. Ipadnya ada di brankas, dalam lemari depanmu," ucap Aizha memberitau. Ketika Innara mendapatkan brankar itu. Aizha pun memberitau kembali, tentang kodenya, "55271."
Brankas itu terbuka dan terlihat sekumpulan uang serta ipad. Innara pun memasang aplikasi rahasianya ke ipad tersebut. Selesai, dengan urusannya. Innara pun pergi.
Aizha tampak senang. Ternyata, memasang Aplikasi adalah cara yang lebih mudah. Jika harus menggunakan ide yang dulu, untuk memasang kabel data ke handphone Andre dan Innara. Aizha juga harus berada di rumah, karena perlengkappan di sana lebih lengkap dan memerlukan kecepatan serta kefokusan yang cukup tinggi.
Melihat kembali Bunga, Aizha pun memberitaunya, "Bunga, keluarlah dengan menunjukkan kaki terlebih dahulu, seperti yang aku tunjukkan semalam! Sebentar lagi, akan ada Guru yang datang dan kau jangan keluar!"
Bunga menjawab, dengan sangat pelan, "Iya."
Aizha tampak senang, melihat keberanian Bunga. Terdengar helaan napas pelan, dari suara Bunga. "Emmm, aku malu..." ucapnya.
Teo, Bimo dan Andre, tampak melihat di depan pintu penyimpanan barang-barang lab. "Its okay, jangan malu-malu!" ucap Teo.
"Percaya dirilah, kau sangat cantik!" kata Bimo.
Andre hanya diam menonton. Bunga pun mengeluarkan kakinya terlebih dahulu dan bertanya, "Emmm, apa dari sini terlihat cantik?"
"Pintar juga dia," komen Andre, membuat Teo tersenyum.
"Dia sendiri yang nawarin. Elo kalau nggak suka, tutup mata aja," ujar Teo dan Andre pun tersenyum smrik.
Tiba-tiba saja, seseorang dari luar, berusaha untuk membuka pintu lab. "Ehhh, kok. pintunya kekunci? Apa jangan-jangan...?" Ibu Kimia, mulai risau.
Andre, Teo dan Bimo, mulai khawatir. "Anak-anak, apa kalian sedang berkencan?! Tolong hentikan, ini sekolah! Buka pintunya sekarang! Ibu akan berikan kalian kesempatan untuk lepas, tanpa memberitau BK! Ayo, buka sekarang dan hentikan aktivitas kalian!" pinta Ibu Guru Kimia, dengan cukup kencang.
"Sialan, kenapa harus dia, njir!" maki Andre, kesal.
"Waduhhh, kalau lo dituduh pacaran sama Bunga, bisa gaswat bro! Dia nggak bakalan biarin hal ini!" celetuk Bimo.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...