Alpha Female

Alpha Female
Bab 26



...Welcome to Alpha Female, guys✨...


...Selamat membaca💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Aizha, Cantika, Bunga dan Innara pun pergi ke Perpustakaan. Nampak, pada ruang tersebut sangat kosong, tak ada seorang pun berada di sana. Mereka pergi duduk di meja panjang paling pojok.


"Kayaknya serius?" gumam Cantika dan Aizha pun tersenyum.


Innara duduk di sebelah Aizha. Sedangkan Bunga, berada di samping Cantika. Melihat kondisi yang tiba-tiba sunyi dan cukup serius, Bunga menjadi tidak nyaman. Dia merasa, Aizha terlalu memperhatikannga. Hal itu, membuat Bunga sedikit terganggu.


"Aku adalah Alpha, orang yang telah mengusir Bianka, Rena, Vina, Dian dan Jeno. Aku juga, orang yang telah membuatmu menderita akhir-akhir ini. Aku minta maaf," ungkap Aizha, membuat Cantika dan Bunga terkejut. Dia menundukkan kepala sebentar, kepada Bunga.


Bunga tampak tak begitu percaya. Dia berdiri dari duduknya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aizha! Kamu nggak bohong kan!" tanyanya, dengan nada yang sedikit tinggi.


Aizha, tampak menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan Bunga. Air mata Bunga pun terjatuh. "Kenapa...? Kenapa kamu lakuin ini, Zha! Awal-awal kan, aku udah bilang ke kamu, kalau aku suka sama mereka! Mereka nggak seburuk itu!"


"Lo yakin?" tanya Innara, langsung tanpa jeda. Dia menopang kepalanya, dengan tangan kanan.


Wajah datar Innara, membuat Bunga terdiam sejenak. Innara pun, kembali berbicara, "Kayaknya lo ragu. Ada yang mau gue kasih lihat sama kalian, khusus lo, Bunga!"


Bunga, Aizha dan Cantika, tampak begitu penasaran. Innara pun mengeluarkan handphone miliknya. Dia memutar sebuah vidio, pada mereka bertiga. Terlihat, si Vlora dan teman-temannya, sedang membicarakan Bunga. Kejadian itu, tepat setelah mereka kembali dari pemakaman Ibu Bunga.


"Ya ampun, mungkin kah ini karma?" ujar Siswi bando putih.


"Kok karma sih?" tanya Siswi lain.


"Lo nggak tau, ya? Ibunya Vlora itu, sakit selama dua minggu, karena ulah Bunga!" ujar Siswi berbando putih.


Vlora tampak sedih dan melihat ke arah yang lain. Gadis berkucir satu pun menambahi, "Ibunya Vlora kan lembut banget. Bayangin aja deh, kalau Ibu kalian tau, anaknya diperlakuin kayak gitu, karena keuangan mereka yang menipis gimana?"


Vlora menangis dan berusaha, untuk menguatkan diri. "Aku nggak papa kok, guys. Jangan bilang, kalau ini karma. Doain aja yang terbaik, untuk Bunga. Apapun yang telah dilakuin Bunga selama ini, lupakan aja. Kita doa aja, supaya dia sadar dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi."


"Semoga aja terkabul. Kamu yang kuat ya, Vlo!" ucap Siswi lain dan mengusap punggung Vlora yang tersenyum sendu.


Bunga yang melihat rekaman vidio itu, tampak kesal. Dia tak habis pikir, dengan kelakuan Vlora dan teman-temannya. Apa yang mereka katakan juga, telah menyinggung nama baik Ibunya. Dia mulai menangis, dengan tangan yang mengepal.


"Aku hanya ingin membantumu, Bunga. Kalau kamu marah, lampiasin aja ke aku, nggak papa," ucap Aizha.


"Bunga, coba lo inget lagi. Waktu kejadian di Aula hari itu. Ada banyak Murid yang berkomentar, kalau elo itu udah ditipu. Aizha kasih informasi itu, pasti murni dari pendapat para Murid. Gue juga denger, masih ada beberapa Murid yang berpikir, kalau elo itu korban," jelas Cantika, memberikan penjelasan. Supaya Bunga, tidak salah langkah.


"Aizha juga yang udah bebasin gue dari Alex. Niat Aizha itu baik, Bunga. Kalaupun, elo sekarang masih sama Vlora dkk. Apa lo yakin, mereka bakalan kasih tempat berlindung, kayak apa yang udah dilakuin Aizha saat ini? Mereka pasti pakai ribuan alasan, untuk menolak! Lo lebih tau hal ini, kalau salah gue minta maaf," ucap Innara panjang kali lebar.


Bunga pun menangis. Dia jatuh terduduk di lantai, dengan menyembunyikan kepala dilipatan kedua tangan. Cantika yang berada di sebelahnya, langsung mendekat dan mengusap punggung Bunga, dengan lembut.


Aizha melihat ke arah Innara. Dia tersenyum lembut dan mendapatkan tepukan di punggung, oleh Innara. Sebuah hologram, tak lama muncul,


[Perpaduan yang sangat pas sekali, dengan begini, Aizha tidak akan kesulitan seorang diri]


[Tubuhmu pun akan bertahan lama, benar bukan?]


Aizha tersenyum dan menganggukkan kepala. Innara yang melihatnya, juga ikut tersenyum.


[Waktunya, timmu beraktivitas Aizha]


[Selamat Aizha, si Alpha Female]


Hologram tersebut, hanya bisa dilihat oleh Aizha. Dia tampak sedikit ragu. Namun, tiba-tiba sebuah skor suka dan tidak muncul di atas masing-masing orang. Terlihat, perolehan skor Innara 95, Cantika 88, Bunga 80. Rasa suka mereka pada Aizha mulai membesar.


Aizha tersenyum senang dan menghampiri Bunga. Dia memeluk tubuh Bunga, dengan kelembutan dan kehangatan. Innara juga mendekat. Dia meminta Cantika, untuk memeluk Bunga dan Aizha bersamaan.


"Maaf Bunga, aku akan menunggu, sampai amarahmu meredam," ucap Aizha, membuat Bunga semakin menangis.


Cantika juga berkata, "Mereka sekarang nggak ada di sisimu. Tapi, ada kami yang akan menggantikannya. Kita akan berusaha, untuk menjadi temanmu yang lebih baik."


<\=>


Beberapa mobil keluar dari Sekolah. Para Murid yang melihatnya, tampak sibuk sendiri. Mereka sibuk mengomentari Para anak-anak yang bertengkar tadi.


"Pak, saya mau bicara!" kata Arkana pada sang Kepala Sekolah. Dia pun pergi dan disusul oleh Pak Kepala Sekolah.


Para Murid yang berkumpul di halaman Sekolah, tampak menoleh ke arah mereka berdua. Beberapa Guru pun meminta mereka, untuk bubar dan kembali ke kelas. Sedangkan Akhsan, Dirgantara dan Farel, mengikuti Arkana dari belakang. Mereka semua masuk ke dalam ruang rapat. Suasananya sangat tegang dan sunyi.


"Apa Bapak, sebelum mencari Guru itu, tidam mengikuti aturan yang Paman saya berikan?" tanya Arkana dingin.


"Bigini Nak Arkana, tidak semua Guru berani menghentikan mereka. Kamu bisa lihat sendirikan, beberapa Guru juga ikut turun tangan, untuk memisahkan mereka berdua. Tetapi, kami tetap tidak bisa dan terluka," jelas Pak Kepala, tak mau disalahkan.


Arkana tersenyum dan bertanya, "Terus?"


Pak Kepala Sekolah, tampak bingung. Dia melirik ke arah dua Guru yang berada di dalam ruangan itu. Akhsan dengan tiba-tiba, merangkul salah seorang Guru di sana dan melihat satu per satu.


"Ada yang mau jawab?" tawar Akhsan, namun kedua Guru itu menggelengkan kepala.


Arkana pun melihat ke arah sang Kepala Sekolah, dengan sangat tegas. "Pak, saya peringatkan sekali lagi. Selama saya ada di sini, kekuasaan anda tidak berarti bagi kami berempat. Jadi, kembalikan Sekolah ini seperti semula dan jangan serakah!" peringatan dari Arkana. Dia pun pergi, bersama Akhsan dan Farel.


Dirgantara yang berada di belakang. Menghentikan langkah kakinya. Dia berdiri di ambang pintu dan melihat ke arah Pak Kepala Sekolah. "Jika rahasia kalian terungkap. Jangan berharap, Arkana dan Pamannya, akan mengampuni kalian!" pesannya dan pergi, sambil menutup pintu.


Dua Guru itu pun mendekat. "Waduh Pak, ini gimana sama karir kita? Saya baru aja nikah. Ada dua keluarga yang harus saya penuhi kebutuhannya," keluh Pak Guru pendek.


Pak Kepala Sekolah, baru teringat soal itu. Dia pun mencari handphone miliknya dan meminta kedua Guru itu untuk ikut membantu. Setelah ketemu, dia pun menchat Alpha.


Pak Kepala Sekolah;


Alpha, anda akan menepati janji kan?


Terlihat di Perpustakaan, Bunga mulai berhenti menangis. Dia hanya sesenggukan sedikit. Aizha yang menerima pesan di handphonenya pun, mengecek. Dia tampak mengernyitkan kening.


Aizha / Alpha;


Janji?


Pak Kepala Sekolah;


Janji untuk menyimpan file yang anda curi, waktu kasus Jeno dan Pacarnya.


Aizha baru saja teringat. Dia pun membalas,


Aizha / Alpha;


Janji akan saya tepati, asalkan kalian menurut.


Guru yang tinggi itu curiga. "Sepertinya, dia akan memanfaatkan kita Pak."


"Pak, kita nggak bisa biarin ini. Bapak juga harus menawar! Kalau Bapak, hanya asal mengiyakan. Kita semua bisa dimanfaatkan olehnya, sepuas hati dia!" tambah Guru yang pendek dan Pak Kepala Sekolah, tampak setuju.


Pak Kepala Sekolah;


Saya akan menuruti semuanya. Asalkan, anda juga bisa membantu saya, untuk menghadapi Aples.


Aizha / Alpha;


Mimpi!


Anda ini memang kurang ajar dan serakah!


Mau saya permalukan anda, hingga seluruh dunia tau?


Pak Kepala Sekolah, tampak begitu terkejut. Dia langsung mengeplak lengan dua orang Guru tersebut. "Sialan! Karena kalian, dia jadi marah!"


Pak Kepala Sekolah;


Maaf, saya akan menguti kemauan anda.


Aizha tak membalasnya. Pak Kepala Sekolah, terlihat mengomeli ke dua Guru, tersebut dengan penggaris. Aizha yang berada di Perpustakaan pun, kembali duduk dan menyimpan handphonenya.


"Gimana, udah tenang belum? Ada yang mau aku kasih tau soalnya," kata Aizha dan diangguki oleh Bunga. Aizha pun tersenyum dan melanjutkan omongannya, "Seperti yang Innara jelasin ke kalian berdua. Kita sama-sama, merupakan korban bully. Aku mau, kita bersatu untuk memberikan mereka pelajaran. Namun, tidak dengan membunuh mereka."


"Bukannya Alex mati?" tanya Cantika.


"Gue sendiri yang habisi dia, bukan Aizha," jelas Innara membuat Cantika diam. Bunga yang mendengarnya, tampak terkejut.


Aizha pun menunjukkan layar handphone dia ke Bunga dan Cantika. "Andre adalah orang yang bakalan kita beri pelajaran. Banyak sekali Murid yang jadi korbannya. Aku mau, waktu UTS terakhir. Kita udah mulai kasih dia pelajaran!"


"Masih ada satu minggu lagi, sebelum UTS. Apa kita bakalan nyantai, buat persiapan UTS?" tanya Cantika, memastikan.


"Mengingat kita udah kelas dua belas. Aku mau, kita tetap fokus belajar, sekalian ngumpulin semua bukti kekerasan atau hal yang melanggar aturan tentang Andre!" jelas Aizha dan diangguki Bunga dan Cantika. "Ohh iya, aku juga bakalan panggil Guru Les terbaik, untuk kita berempat, kalau mau sih."


"Gue sih, malah seneng banget. Apalagi, Guru yang lo panggil, pastinya bukan orang sembarangan," ucap Cantika, membuat Aizha tersenyum.


"Aku juga mau!" seru Bunga, yang mulai terlihat senang.


"Gue ikut deh. Lucu juga, kalau nilai kita bisa ada di peringkat lima puluh besar," ujar Innara.


"Kok lima puluh?" Bunga tampak tidak suka.


"Kenapa? Lima puluh itu, udah berat banget di Sekolah ini. Elo aja, selalu diperingkat seratus ke bawah! Jangan mimpi tinggi-tinggi deh!" maki Innara, membuat Bunga manyun.


Aizha menggelengkan kepala, heran dengan sikap Innara. Cantika pun, menepuk bahu Bunga dan berkata, "Nggak papa, kita bakalan belajar bareng, oke? Kalau nggak paham, bisa langsung tanya ke Gurunya. Minta diajarin sampek paham banget! Toh Aizha pasti, bayar Guru yang mahal. Jadi, kita harus ambil kesempatan langka ini!"


"Bener, apa yang kamu bilang, Can! Apalagi, aku sekarang miskin. Aku harus ambil kesempatan ini. Buat tunjukin juga ke Ayah dan Putri barunya itu, kalau aku mampu hidup lebih baik, tanpa dia!" seru Bunga, seperti anak kecil, membuat Innara dan Aizha, tersenyum-senyum.


<\=>


"Karena hari ini libur, mari kita cari bukti tentang Andre sekalian liburan!" ucap Aizha, membuat Cantika dan Bunga terkejut, senang.


"Ayo, susul Andre sekarang, kalian siap?" Innara tampak begitu semangat, dengan menunjukkan layar maps pada Bunga, Cantika dan Aizha.


"Busettt, jauh banget!" komen Cantika, melihat garis titik mereka, dengan Andre.


"Kok jantungku, jadi nggak enak ya?" kata Bunga, sambil memegangi dada.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...See you💕...