Alpha Female

Alpha Female
Bab 35



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Aizha yang sedang berada di kelas, tampak memperhatikan Alin, Via dan Afifah, dengan perasaan curiga. Dia juga sempat memikirkan, siapa orang yang dimaksud Cantika.


...<\=>...


Tiba di area taman. Bunga, Cantika, Aizha dan Innara, tampak duduk di bawah pohon yang sangat besar. Ada juga, beberapa cemilan dan minuman botol, untuk menemani mereka.


"Lo kenapa, ngajak kita kemari?" tanya Innara pada Cantika.


Cantika yang sedang meneguk, sebuah minuman botol, berhenti. Dia melihat ke arah Innara dan berkata, "Kalian masih penasaran enggak? Sama orang yang gue maksud?"


"Iya-lah!" sahut Aizha dan Innara bersamaan. Sedangkan Bunga, hanya menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Orang itu, ada di depan mata gue sekarang!" ucap Cantika, berhasil membuat Innara, Aizha dan Bunga, terkejut.


Orang yang berada di depan Cantika, adalah Innara. Aizha dan Bunga, tampak tidak percaya. Innara sendiri juga kaget. Namun, Cantika tidak sedang bercanda. Ekspresinya sangat serius.


"Sebentarrr!" tahan Aizha, berusaha untuk memahami situasi. "Innara, lebih baik kau jelaskan, maksud Cantika!"


"Apa?!" Innara tampak tersentak kaget dan bingung. Dia juga kecewa, karena Aizha lebih mempercayai Cantika. Ketimbang dirinya yang jelas-jelas, pernah dipilih oleh sistem Alpha. "Apa lo, bercanda?! Mana mungkin, gue lakuin hal itu! Kalaupun iya, gue bakalan kasih tau kalian, suer!" sanggah Innara, sambil menunjukkan dua jari.


Aizha masih tak percaya. Bunga juga, terlihat begitu kecewa. "Aku nggak nyangka, kamu begitu In!" ucap Bunga, kecewa.


Innara tampak kesal dan hendak beridiri. Namun, ucapan Cantika, membuatnya berhenti. "Yang gue maksud bukan Innara, astaga! Itu loh! Orang yang lagi pacaran di belakang Innara pas!"


Aizha, Innara dan Bunga pun melihat ke arah yang di maksud Cantika. Namun, nampak tiga pasangan sedang berpacaran. Mereka jadi bingung dan bertanya-tanya.


"Yang mana?" tanya Bunga, tak mengerti.


"Ck, arah mata gue kemana? Ikutin juga, garis lurus gue sama Innara!" cetus Cantika, membuat mereka langsung intropeksi dan melakukan, sesuai yang dikatakan.


Bunga tampak terkejut, melihat pasangan itu. Namun, Innara dan Aizha masih sedikit kesulitan, karena wajahnya ditutupi oleh topi. Aizha pun kembali ke posisinya semula dan terdiam, ketika melihat Bunga. Sedangkan Innara, tampak sedikit kesal, karena tidak dapat melihat wajah kedua orang tersebut.


"Apa mungkin, dia Vlora?" batin Aizha, bertanya-tanya.


...[Kamu benar!]...


...[Banyak Murid, masih mempercayai Vlora, karena pengaruh kekasihnya di Sekolah]...


...[Tetapi, kamu salah Aizha. Jika kamu berpikir, Bunga terkejut, karena gadis itu, adalah Vlora. Sebenarnya, Bunga lebih terkejut, melihat sesosok lelaki itu]...


...[Lelaki itu bernama Pedro]...


...[Pedro adalah lelaki mesum yang tidak beda jauh, dengan Alex. Namun, Pedro tidak segila Alex. Bunga pernah melihatnya, tengah bermesraan di lorong kelas ketika Sekolah sepi]...


...[Bunga tampaknya, ketakutan dan khawatir pada Vlora]...


Innara dapat melihat layar tersebut. Aizha dan Innara pun, melihat Bunga yang terlihat risau. Cantika pun menunjukkan sebuah rekaman suara, secara tiba-tiba.


"Pedrooo, gimana nih, kalau jawabanku salah?! Ada dua sampai lima soal yang jawabanya, aku kurang yakin!" keluh Vlora, dengan suara khas cewek manja dan alay.


"Bukannya, soal udah aku kasih, beberapa hari sebelum UTS? Matematika sama Akuntansi, juga udah aku bocorin jawabannya ke kamu, tanpa mikir lagi," kata Pedro.


"Maksudku itu, yang bahasa Indonesia, Inggris sama Jerman! Aku juga, udah berulang kali translate, pakai aplikasi rekomendasi kamu. Tapi hasilnya kurang meyakinkan!"


"Mungkin, kamu sulit memahaminya saja. Jangan dipikirin lagi, oke?! Lebih baik, kita berdua jalan-jalan atau pacaran? Aku udah capek, gara-gara nih UTS, harus les privat sampai malam!"


"Oke deh, ayo!"


"Apa mungkin, dia nyerahin tubuhnya ke Pedro, sebagai balasan?" ujar Innara, tanpa permisi.


Bunga tampak terkejut dan menggelengkan kepala, tidak mungkin. Cantika mengernyitkan kening, mendengar ucapan Innara. "Elo pikir, Alex! Vlora nggak sepenuhnya begitu! Dia masih harus jaga tubuhnya, buat Mahasiswa dari Kampus deket kita!"


Innara tampak kesal, dengan balasan Cantika. Aizha yang sedari tadi menyimak, tampak sedang berpikir. "Yang jadi pertanyaan itu, apa Pedro si Penjualnya? Mau Vlora bayar Pedro, dengan cara apa dan tentang masalah pribadinya, bukan urusan kita. Kita cukup fokus sama titik pentingnya saja! Seperti yang kita lakuin semalam. Kita nggak perlu ngurusi latar belakang para korban. Kita hanya perlu membubarkannya, karena hal itu salah dan merugikan banyak orang! Kalian paham?!" tanya Aizha yang terlihat tegas dan serius.


Bunga, Cantika dan Innara, menganggukkan kepala, mengiyakan. "Fokus Bunga! Jangan sampai, kamu kena marah Aizha! Ingat, Vlora hanya penipu dan Aizha-lah yang menolongmu! Bantu dia dan ambil kesempatan ini, untuk membalaskan kehinaan yang telah kamu terima, karena ulah Vlora!" batin Bunga, berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri.


"Bunga!" panggil Aizha, membuat Bunga yang diam-diam mengepalkan tangan, terkejut. "Kamu kenapa? Aku dari tadi, ngajak kamu ngomong!"


"Lo yakin?" Innara tampak tak percaya, membuat Bunga jadi bimbang. "Ekspresi lo barusan, bukan kayak orang ngantuk. Tapi, lebih ke benci dan ingin makan orang hidup-hidup."


"Engg-enggak kok!" elak Bunga.


"Halah, dari lo ngomong aja, udah jelas!" cetus Innara, membuat Bunga kesal.


Cantika langsung, menatap Innara tajam dan menegurnya, untuk tidak menggoda Bunga. Aizha yang sedari tadi menyimak, kembali berbicara, "Kalau mau balas dendam boleh aja. Tapi, jangan seperti Innara yang membunuh alex, tanpa sepengetahuanku!" pesannya.


"Njir, gue lagi," gerutu Innara, pelan.


"Iya," sahut Bunga, sambil menundukkan kepala.


"Untuk sekarang, kita nikmatin classmeting Sekolah aja dulu," ucap Aizha dan diangguki oleh mereka bertiga. "Kalau kamu kesepian, dateng aja ke kelasku, nggak papa," katanya ke Bunga.


"Ke kelas gue aja," saran Cantika, untuk Bunga dan Aizha. "Biar lo, bisa-bisa main sama teman sekelas sepuasnya. Lo pasti, udah lama bukan? Nggak nikmatin serunya kehidupan Sekolah?"


"Apa?" Aizha tampak terkejut dan merasa sedikit malu.


"Iya, aku bakalan temui Cantika aja, kalau kesepian. Lagi pula, aku udah sering banget, happ-happy di Sekolah bareng teman yang lain. Apalagi, waktu SMP banyak banget yang sayang sama aku, tanpa pandang harta," kata Bunga.


"Bener, kita bertiga juga, udah beberapa kali, nikmatin serunya kehidupan Sekolah. Tapi, elo belum ngerasain hal itu bukan?" tanya Innara, membuat Aizha bingung.


"Pasti, Bibik atau Pak Supir, cerita yang enggak enggak sama kalian kan?!" tebak Aizha, malu dan kesal.


"Kami menyadarinya, waktu kita pergi ke pasar malam dan di dalam mobil, hari itu," ungkap Cantika.


...****************...


Beberapa hari yang lalu. Ketika Bunga, Innara, Aizha dan Cantika, sedang pergi menuju pasar malam. Setelah mengikuti Andre ke Bar. Meraka berempat, tampak begitu senang, memainkan beberapa permainan di acara tersebut, khususnya Aizha.


"Wahhh, ini pertama kalinya dalam hidup ku! Aku nggak nyangka, ada perasaan kayak gini. Rasanya, aku nggak mau berhenti dan terus memutar waktu, untuk kembali ke detik ini juga, secara berulang-ulang kali!" seru Aizha, tanpa disadari.


Waktu di mobil pun, Aizha yang tertidur lelap, mulai mengigau, "Terima kasih Alpha, aku sangat menyukainya. Aku benar-benar bahagia dan merasa senang, karena bertemu dengan mereka bertiga. Mereka adalah teman terbaikku, seumur hidup! Aku akan ceritakan banyak hal, pada Mamah, Ayah, Diego, sampai mereka merasa lelah dan memintaku berhenti, bercerita!"


Pak Supir tampak tersenyum dan menangis haru. Cantika, Bunga dan Innara juga ikut meneteskan air mata, ketika mendengarnya. Mereka memang merasa bahagia, tetapi tidak sebahagia Aizha.


...****************...


Aizha tampak begitu malu, hingga menutup wajahnya. Dia merasa sedikit kesal, karena mereka bertiga, baru memberitaukan hal ini padanya. Innara, Cantika juga tertawa kecil, melihat reaksi Aizha yang sangat menggemaskan.


...<\=>...


Farel, Dirgantara, Arkana dan Akhsan, sedang sibuk berbincang di salah satu Cafe. Kini langit pun, telah berganti menjadi malam. Arah jarum jam juga, sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Gue curiga, si Alpha ini memang Murid di Sekolah kita!" ujar Farel, sambil mengaduk minuman es kopinya.


Akhsan yang baru saja menyeruput kopi itu, langsung membalas, "Bukannya itu udah jelas?"


Farel hanya diam. Dirgantara dan Arkana, tampak begitu serius. Mereka sedang berpikir, siapa sosok Alpha itu.


"Alpha, seharusnya ada di setiap kejadian itu. Tapi, terlalu banyak Murid, yang selalu ada di setiap kali kejadian itu terjadi," ucap Dirgantara, masih merasa pusing.


"Tujuan dia, nggak beda jauh sama kita. Bagaimana pun caranya, kita harus bisa kerja sama, dengannya!" kata Arkana.


"Lahhh, bukannya lo dah ajak dia kerja sama?" tanya Farel, merasa sedikit bingung.


"Bukan kerja sama kayak gitu. Gue mau, kita bisa saling tatap muka dan lakuin hal itu bersama-sama!" jelas Arkana dan diangguki oleh Farel.


"Bener, apalagi kita nggak dikabari sama sekali, soal kejadian semalem. Dia cuman ngajakin kerja sama, kalau butuh! Dan kita nggak tau, apa yang dia lakuin setelah kasus Andre," ujar Akhsan, membuat mereka memikirkan hal lain.


"Bentar-bentar! Alex kan mati, setelah lo berdua siksa. Apa mungkin, dia dibunuh Alpha? Kalau iya, jangan-jangan Andre juga bakalan mati!" ucap Dirgantara, membuat mereka terkejut.


Pada waktu yang bersamaan, tampak seorang Pelayang terkejut, dengan sangat histeris. Dia melihat, dua orang lelaki yang tergantung di dalam kamar hotel.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...