Alpha Female

Alpha Female
Bab 60



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


"Ya ampun, Can. Coba kamu lihat ini, deh!" Aizha menunjukkan, tangan yang dipegang oleh Cantika barusan. Terlihat ada jejak tangan Cantika, yang memerah. "Kamu kasar banget!" ujarnya.


Cantika pun meminta maaf pada Aizha. "Gue cuman nggak mau, elo lakuin hal di luar nalar lagi, Zha!"


"Iya, aku ngerti kok," sahut Aizha, dengan wajah yang mulai sendu.


Cantika menjadi sedih, melihat wajah masam Aizha. Cara Aizha, memegang lengannya yang memerah, membuat dia merasa bersalah dan tidak nyaman. Dia hanya takut, Aizha langsung menghisap darah kedua Siswa itu, tanpa aba-aba atau kendali.


Ketika kondisi mulai sunyi, Cantika mendapatkan telepon dari Innara. Dia memberitau Innara, jika dirinya berada di ruang Satpam. Tak berselang lama, Innara, Bunga, Arkana, Farel, Dirgantara dan Akhsan muncul.


"Lohhh, kalian juga ke sini?" Aizha terkejut, melihat Arkana, Akhsan, Dirgantara dan Farel.


"Lo ngapain di sini?! Apa lo nggak lihat, Rino sama Vero, barusan?!" tanya Arkana, emosi.


Aizha menaikkan alisnya, bingung. "Rino dan Vero?"


"Mereka yang bertengkar tadi, Rino sama Vero, Zha!" ungkap Bunga, membuat Aizha terkejut.


"Tapi, mereka sekarang udah meninggal," lanjut Innara, membuat Aizha dan Cantika syok.


"Hah?!" Cantika tidak percaya, dengan apa yang barusan dia dengar.


"Mending, kita lanjut ngobrol di ruang Aples. Biar Farel, pergi ke ruang Osis, buat ngurus permasalah ini dan bicara, dengan para Guru dan Kepala Sekolah," ujar Arkana, membuat Farel melongo.


"Lo nyerahin tugas kek gini, ke gue lagi?!" protes Farel, tidak terima. Namun, tatapan tajam Arkana dan Dirgantara, berhasil membuatnya bungkam.


"San, lo temenin dia!" tambah Arkana, membuat Akhsan, terpaksa mengiyakan.


Aizha, Innara, Bunga, Cantika, Arkana dan Dirgantara pun, pergi ke ruang Aples, tanpa Akhsan serta Farel. Padahal, mereka berdua sangat ingin, bergabung dalam obrolan itu. Namun, apalah dayanya, jika Arkana telah memberikan perintah.


...<\=>...


"Rino sama Vero, udah meninggal. Sekarang, tinggal Afifah, Meira dan Kania yang tersisa. Menurut gue, lebih baik kita sekarang, jagain mereka bertiga, dua puluh empat jam, tanpa henti!" saran Arkana, setelah menempelkan foto-foto ke papan tulis.


Foto-foto itu, adalah gambar digital Meira, Kania, Afifah, Bu Hani, Pak Kepala Sekolah dan Pedro. Sedangkan, foto milik Rino dan Vero, baru saja dicoret oleh Arkana. Meraka yang ada di ruang Aples, hanya menyimak.


Aizha tampak memikirkan sesuatu dan berjalan ke arah papan itu. Dia menggambar bentuk wajah, tanpa hidung, mata, mulut dan alis. Dia juga memberikan tanda tanya, pada gambar wajah itu.


"Dia adalah orang yang berusaha, untuk mencelakai kami beberapa bulan yang lalu. Tapi, sekarang niat dia berubah. Dia ingin menggagalkan semua misi yang kami kerjakan, bagaimana pun caranya. Ada kemungkinan besar, segala cara akan dia lakukan, untuk menghabisi Meira, Kania dan Afifah. Sekalipun, kita berada di sampingnya, selama dua puluh empat jam!" ujar Aizha, serius.


Arkana dan Dirgantara, tampak merenung sebentar. "Apa ini, berhubungan dengan lo yang makan darah Farel?" tanya Dirgantara, sedikit berhati-hati.


Aizha terdiam, mulutnya tak dapat mengeluarkan suara, mengingat hal itu. Cantika yang menyadarinya, mengambil kesempatan, untuk bicara, "Sorry, kenapa lo bisa bilang kayak gitu? Ini yang kita bahas, sama sekali enggak ada sangkut pautnya loh?"


"Kalian bilang sendirikan, Aizha bisa lakuin, karena hilang kendali? Kalian juga yang bilang, kalau ada sistem di dunia ini!" ucapan Dirgantara, diangguki oleh Cantika, Innara dan Bunga. "Kalau Aizha aja, bisa hilang kendali, sampai kayak gitu. Udah nggak ada gunanya dong, kita ngurus masalah ini! Toh, dia juga nggak tau, bisa bikin gue sama Arkana, bersikap konyol kayak dulu!" perkataannya, membuat mereka bungkam.


...[Hai, kalian tidak melupakan aku bukan?!]...


"Alpha?!" batin Aizha, Bunga, Cantika dan Innara, terkejut.


...[Mereka (khususnya kalian bertiga) adalah orang-orang, di bawah kendali Aizha. Jika Aizha sangat percaya diri, Meira, Kania dan Afifah selamat. Mereka bertiga, pasti akan selamat!]...


...[Namun, jika tubuh Aizha, tak dapat diserap energinya. Semua akan berakhir sia-sia]...


Aizha ingin waktu mulai berhenti, khususnya untuk Arkana dan Dirgantara. Supaya dia dan teman-temannya, bisa berbincang dengan Alpha. Melihat Arkana dan Dirgantara mematung, membuat Bunga, Innara serta Cantika, langsung mengerti.


"Seandainya, gue siapin persediaan darah buat dia? Terus, dia konsumsi darah itu setiap hari, gimana?" tanya Innara, membuat Aizha mual.


...[Darahnya harus segar, supaya energi yang diterima, dapat bertahan lebih lama dan kuat. Ibarat sayur atau ikan, kalau baru aja dipanen, nilai positifnya kan lebih bagus. Masak sayur lamaan sedikit aja, nilainya udah berkurang]....


"Itu artinya, kita harus pastiin, tanggal donor darahnya masih baru," kata Bunga.


...[Kan enggak harus sesuai, dengan golongan darah Aizha]...


...[Kalian juga bisa serahin diri, buat dihisap Aizha, lewat gigitan atau lukain sendiri, pakai pisau dsb]...


Mata Bunga, Innara dan Cantika, membulat. Aizha yang membacanya, langsung menutup wajah, dengan kedua tangan. Mereka bertiga saling melihat. Tampak, si Bunga yang sedikit ragu dan diberikan kepercayaan, dengan genggaman tangan Cantika.


Innara pun meraih tangan Aizha. Dia juga mengkode Cantika, untuk menggegam tangan Aizha. "Kita bakalan berjuang bersama Aizha, untuk keadilan dan kebahagian banyak Murid di Sekolah!" ucap Innara, membuat Aizha menangis, karena terharu.


...[Aku tau, kalian bakalan kayak gini. Kalian tidak perlu khawatir. Jika Aizha percaya, akan menyelesaikan masalah ini, dengan cepat. Misi ini, pasti segera berakhir!]...


...[Aku akan jarang muncul, karena item telah melekat pada Aizha]...


...[Belajarlah, untuk mandiri!]...


...[See you!]...


"Ehhhh?!" Bunga dan Cantika, tampak tak percaya, dengan pesan pada hologram tersebut.


"Apa dia, bakalan menghilang sepenuhnya?" tanya Bunga, resah.


Aizha tersenyum kecil. "Enggak, dia hanya akan jarang muncul aja, kayak akhir-akhir ini."


Cantika dan Bunga, menganggukkan kepala paham. Innara pun, meminta Aizha untuk menjalankan kembali, waktu yang dihentikannya. Arkana dan Dirgantara yang sudah bisa begerak, langsung menatap Aizha, membutuhkan jawaban.


"Kalian enggak perlu risau. Jika ada kendala atau kalian terkena pengaruh, aku bakal tanganin semuanya. Sekarang, mari kita tentukan, siapa yang akan jaga dan cari bukti, untuk Meira dan Kania, mau buka suara dengan kita!" ujar Aizha dan diangguki oleh ketiga temannya, setuju.


"Gimana sama Afifah?" tanya Arkana, ketika menyadari nama Afifah tidak disebutkan oleh Aizha.


"Biar aku yang urus," sahut Aizha dan diangguki oleh Arkana.


...<\=>...


"Kayaknya, kamu mau tau sesuatu? Apa aku boleh tau?" tanya Afifah, ketika dia dan Aizha, berdua di kamar tidur.


Aizha tampak terkejut dan terdiam. Dia menatap wajah Afifah, dengan ekspresi yang sedikit resah. Sedangkan Afifah sendiri, tampak bertanya-tanya dan berusaha. untuk tersenyum. Supaya Aizha terbuka dan merasa nyaman.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...Sampai jumpa, di hari berikutnya, ya guys💕...


...Jangan lupa, untuk jaga kesehatan kalian, oke?! Hiduplah, dengan penuh semangat dan jangan pantang menyerah! Semua memiliki ujian masing-masing, kita pasti bisa melaluinya! Semangat semuanya✨...