
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Innara yang sedang tertidur di kasur bawah. Tak menyadari, jika Aizha telah sadar dari tidurnya. Namun, tubuh Aizha terasa aneh. Dia tidak bisa, merasakan serta menggerakkan kaki dan tangannya. Hologram Alpha pun muncul.
...[Kau telah melanggar aturan, Aizha!]...
"Hiksas, tolong Alpha! Jangan buat aku lumpuh! masih banyak hal yang harus aku lakukan!" pinta Aizha, sembari menangis.
...[Bukan hanya kamu! Tapi, aku juga ikut tersiksa, karena ulahmu itu! Untung saja, ada kecelakaan di dekatmu. Jika tidak, kau akan langsung meninggal atau tidak koma]...
Aizha menangis tersedu-sedu dan terus meminta maaf. Dia hanya tak ingin, Afifah pergi begitu saja atau meninggal, dengan cara seperti itu. Innara yang terbangun, setelah mendengar suara tangis Aizha pun, mengubah posisinya menjadi duduk. Dia juga melihat hologram Alpha.
...[Kebetulan Innara bangun]...
...[Jika kamu ingin kembali berjalan dan menggerakkan tanganmu. Innara harus rela, untuk kamu hisap darahnya]...
Innara dan Aizha terkejut, melihat hologram itu. "Apa tidak ada yang lain?" tanya Aizha.
...[Selain Innara, hanya ada Arkana]...
Aizha tampak syok. Sedangkan Innara, tampak mengernyitkan kening. Aizha pun bertanya kepada Alpha, mengapa harus Arkana dan Innara? Alpha menjawab, jika itu sudah menjadi konsekuensi Innara yang layaknya, seperti seorang wakil. Jika Arkana sendiri. Alpha merasakan, perasaan yang sama antar Arkana dan Aizha. Ikatan yang membuat siapapun, bisa buta dan melakukan segala cara, hanya untuk mengikuti hati mereka.
Wajah Aizha memerah, membaca hologram tersebut. Alpha juga mengakulasi, perasaan Arkana pada Aizha, sudah mencapai 86%. Innara tampak menganggukkan kepala, paham. Dia teringat, bagaimana cara Arkana menangkap Aizha semalam. Arkana juga, lebih menunjukkan rasa khawatirnya pada Aizha, ketimbang ekspresi kesakitan, karena kakinya yang terus saja, mengeluarkan banyak darah.
Innara juga menyadari, jika Arkana sama sekali belum tidur. Dia juga bekerja sangat keras, untuk menyelesaikan misi ini. Namun, dia tidak bisa, membiarkan Aizha menghisap darah Arkana, yang masih menaruh rasa curiga, dengan dirinya, Aizha, Cantika dan Bunga.
"Ini!" Innara memberikan tangannya pada Aizha. "Kalau begini, kamu harus gigit."
"Kamu?" Aizha tersentak, dengan perubahan kata panggilan Innara.
"Ayo!" Innara mendekatkan tangannya ke mulut Aizha.
...[Lakukan dan ingatlah hal ini selalu! Jangan gunakan item pengulangan waktu, untuk mengubah takdir kematian seseorang!]...
Aizha menangis sendu dan meminta maaf pada Innara. Dia pun mulai menggigit pergelangan tangan Innara. Ekspresi wajah Innara, tampak begitu jelas, jika dirinya sangat kesakitan. Dia sampai menggigit bawah bibirnya, untuk menahan rasa sakit yang muncul.
Selesai Aizha menghisap darah Innara. Dia mulai bisa, merasakan kaki dan tangannya. Sedangkan Innara sendiri, tengah sibuk mengobati pergelangan tangan yang digigit oleh Aizha, barusan.
"Terimakasih Innara," ucap Aizha dan mendapatkan senyum lembut, dari Innara.
"Sama-sama," sahut Innara dan hologram Alpha, kembali muncul.
...[Aizha telah menghisap banyak darah]...
...[Ada banyak energi yang ada pada tubuhnya. Kalian harus selesaikan masalah ini, secepatnya!]...
...[Aku mendeteksi, hal aneh muncul di kota kalian. Ada kemungkinan besar, ini ulah sistem Gatif]...
...[Jangan!]...
...[Kalian tetap harus menjalankan misi-misi yang lain, untuk meningkatkan level Alpha Female Aizha. Dengan ini, Aizha bisa meningkatkan item atau kekuatan yang ada pada tubuhnya dan di sistem Alpha]...
"Baiklah," sahut Innara, merasa bersalah dan malu.
Aizha merangkul Innara dan mengajaknya, untuk tetap bersemangat, dalam menjalankan misi. Innara menganggukkan kepala, mengiyakan. Setelah itu, dia pun pergi, mengambilkan sarapan Aizha.
Aizha yang baru saja tersenyum lebar, seketika pudar. Dia teringat, akan kejadian semalam. "Sekarang, Afifah gimana ya?" gumamnya, resah.
Pada lain tempat, Afifah tampak murung, menatap kursi Aizha yang kosong. Terlihat seorang Guru berpamitan pada para Muridnya dan pergi meninggalkan kelas. Bel berdering pun, tak lama berbunyi. Jam istirahat yang sangat ditunggu-tunggu, telah tiba. Namun, Afifah malah tak bersemangat dan membaringkan kepalanya, ke lipatan tangan.
"Kamu nggak istirahat Dah?" tanya Via yang duduk di bangku sebelahnya.
Afifah menggelengkan kepala, sebagai jawaban tidak. Dia meminta Alin, Via dan teman yang lain, untuk pergi duluan saja, tanpa dirinya. Via dan Alin pun, saling melempar mata.
"Kita titip aja boleh?" tanya Alin, dengan senyum memohon.
Siswi di kelasnya itu, langsung mengiyakan, dengan menganggukkan kepala. "Mau titip apa kalian?"
"Aku, kayak biasanya," sahut Via.
"Kalau gitu, roti tiga rasa strawberry, dua botol air putih sama satu Pocary," ucap Alin dan diangguki oleh Siswi itu. Dia pun memberikan uang lima puluhan, ke siswi tersebut.
"Apa kalian berantem?" tanya Alin, selepas para Siswi itu pergi.
Afifah tampak mendongakkan kepalanya, melihat Alin. "Mungkin," sahut Afifah, ragu. "Gimana ya, kalau Aizha ngerasa nggak nyaman sama aku dan salah paham? Dia pasti, lagi kesepian di rumah atau... Jangan-jangan dia nangis!"
Alin dan Via, menatap Afifah, dengan ekspresi jengah. Alin pun, diam-diam mengirimkan pesan pada Aizha. Dia menanyakan kabar dan masalahnya, dengan Afifah. Dia juga memberitau Aizha, jika Afifah sangat mencemaskannya dan merasa bersalah.
...<\=>...
Arkana dan Akhsan kini, tengah sibuk mencari lokasi Rafi. Namun, kondisi mereka sedikit berantakan. Beberapa menit yang lalu, mobil Arkana mengalami masalah, yaitu rem blong. Arkana pun, terpaksa membanting setir ke pohon besar. Beruntungnya, dia dan Akhsan, berhasil keluar dari dalam mobil, sebelum menabrak pohon besar itu.
Arkana dan Akhsan pun, terpaksa jalan kaki. Cuaca yang panas dan suasana sepi, tak membuat mereka menyerah. Berpuluh-puluh menit, mereka berjalan di tengah teriknya matahari. Akhirnya, mereka menemukan Rafi. Namun, bukan kelegaan atau rasa senang yang muncul. Melainkan ekspresi syok.
Tubuh Rafi kini, telah dipenuhi banyak darah. Dia juga, sudah terlihat tidak bernyawa. Arkana dan Akhsan pun, langsung berlari dengan sangat kencang. Bukan kabur, melihat kondisi Rafi yang mengenaskan. Tetapi, karena sekumpulan orang berjubah hitam, dengan pisau besar dan bengkok, di tangan mereka bersepuluh.
"Ar! Apa sistem Alpha, yang dipunya Aizha, bisa nolong kita?" tanya Akhsan, sambil berlari kencang dan suara ngos-ngosan.
"Kalau bisa, udah dari tadi, dia muncul!" ujar Arkana, yang sama ngos-ngosannya. Mereka masih terus saja berlari, tanpa menengok ke belakang.
Arkana dan Akhsan, dapat mendengar jelas, suara langkah kaki, para Jubah hitam itu. Tampak keduanya sudah sangat lelah. Akhsan saja, sampai terjatuh, saking lelahnya. Arkana yang menyadarinya, langsung membantu sang Sahabat. Namun, karena hal itu, mereka tertangkap oleh para Jubah hitam tersebut.
"Selamat tinggal!" ucap Pejubah hitam, melayangkan pedangnya ke arah Arkana.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Tunggu sampai tamat ya guys. Sampai jumpa, di Bab selanjutnya. 😘💕...