
...Welcome the Alpha Female✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Bibik masuk ke dalam kamar, untuk membawakan susu. Bunga yang baru saja selesai mandi, segera menerima susunya dan berterima kasih. Dia pergi menuju teras kamar, sambil menerima telepon dari keluarganya.
"My Love... Bagaimana kabarmu?" tanya Mamah Bunga.
"Baik Mah, liburan kalian berdua gimana?" tanya Bunga dan menyeruput susunya.
Mamah yang sedang berada di suatu tempat, terlihat begitu cantik dan bahagia. "Semuanya berjalan, dengan sangat lancar. Ayah kamu juga, nggak sibuk-sibuk banget. Dia beneran luangin waktu buat Mamah."
"A cieee, berasa kayak pasangan muda nih," goda Bunga, membuat Mamah tersenyum malu.
"Aihhh, apaan sih!" Mamah Bunga, benar-benar malu, karena ulah sang Anak. "Ohh iya, Mamah sama Ayah, bentar lagi mau pulang. Apa kamu di sana, baik-baik aja?"
"Baik kok," sahut Bunga, sambil tersenyum senang.
"Wahhh, kayaknya, kamu ini lagi happy banget. Pasti, kamu habis main sama Vlora dan yang lain ya? Cerita dong, sama Mamah! Kalian main kemana dan ngapain aja!" seru Mamah, heboh.
Bunga nampak tersenyum kecil, membuat Mamah mengerutkan kening. "Sebenarnya, aku sama Vlora dan yang lainnya, udah nggak begitu dekat. Tapi, aku punya teman baru. Kami juga, nggak berantem kok, Mah."
Mamah tersenyum lembut. Dia sepertinya, memahami maksud Putri cantiknya. Dia pun duduk dan menaruh handphonenya, dengan tangan bersila di atas meja. "Apa mereka, termasuk teman yang lebih baik, dari Vlora dan temanmu lainnya, My Love?"
"Emmm, mungkin," sahut Bunga, takut salah. "Tapi... Entah kenapa, aku benar-benar merasa lebih nyaman, dengan mereka. Baru kali ini juga, aku traktir orang, rasanya tuh seneng dan puuuu-as banget! Padahal ya, Mah. Uang yang aku keluarin itu, nggak sebanding sama..." menggantung.
"Sama apa, My Love?"
"Emmm, sama waktu aku belanjain Vloda dan yang lain." Bunga tampak murung dan sedih.
Mamah pun, kembali tersenyum lembut. "My Love... Dengerin Mamah ya! Teman tidak selamanya setia, baik dan mengerti dirimu. Ada kalanya, yang kelihatan buruk, malah lebih baik. Kelihatannya juga nyebelin banget nih, karena sok ngerti, tentang apa yang terbaik dan enggak buat kamu. Bisa jadi, dialah teman sejati yang akan selalu ada buatmu."
Bunga mengangkat pandanganya ke arah Mamah. "Yang terlihat baik di matamu. Bisa saja, melukai hatimu. Banyak orang bertopeng di dunia ini. Jarang sekali ada, orang yang murni dan suci bersih. Jadi, kalau My Love berpisah, dengan teman atau sahabat. Janganlah bersedih terlalu lama! Ingat kata-kata Mamah ini! Ayah dan Mamah, akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi. Mamah juga yakin, kamu akan mendapatkan teman yang lebih baik lagi!" lanjut Mamah dan diangguki oleh Bunga.
Bunga tampak menangis dan berterima kasih banyak, karena telah menjadi Ibu yang baik. Mamah Bunga, adalah Ibu yang sangat pengertian dan tak banyak menuntut. Dia menerima kondisi Putrinya, dengan lapang dada. Bunga merasa bersalah, karena tidak bisa menjadi anak yang baik.
"Aku saaaa-yang Mamah sama Ayah! Kalian yang terbaik! Makasih, karena kalian sudah menikah dan membuatku, bisa merasakan kehidupan di dunia ini. Makasih, karena kalian telah bekerja keras untuk menghidupiku. Aku janji, bakalan kasih kalian kebahagian yang penuh, saat dewasa nanti!" ucap Bunga, sambil menangis.
Mamah tersenyum haru. Dia sempat meneteskan air mata, karena terharu dengan kedewasaan Bunga. Putri kecilnya kini, telah beranjak dewasa. Dia benar-benar bangga, memiliki anak sebaik Bunga. Meskipun tidak selalu memberikan piagam atau piala. Tetapi, Bunga selalu berhasil, menenangkan hati orang, dengan kecantikan di wajahnya dan hati.
Terlihat di lain tempat, Cantika telah dibawa ke Rumah Sakit. Nampak seorang pemuda juga sedang menemaninya. Dia terlihat sibuk, dengan handphonenya. Tanpa menyadari, jika Cantika telah bangun.
"Tara?" panggil Cantika, memastikan.
Pemuda itu pun menoleh. Yups, orang itu adalah Tara atau biasa dikenal, dengan nama Dirgantara. Dia adalah si Genius dan Murid yang paling membagakan. Namun, dibalik kesempurnaan itu. Tara cukup lemah dalam hal fisik. Mereka juga satu kelas. Hanya saja, Tara jarang masuk kelas, akhir-akhir ini.
"Can, lo jangan banyak gerak dulu! Lo istirahat bentar aja, nanti gue antar pulang," kata Tara, melarang Cantika untuk banyak gerak.
Cantika pun kembali berbaring dan menoleh pada Tara. "Jam berapa sekarang?"
"Tujuh malam," sahut Tara, membuat Cantika terkejut.
"Apa?! Handphone gue dimana? Gue harus kasih tau, orang tua dulu! Bisa-bisa, mereka panik sendiri entar!" ujar Cantika panik.
Tara pun mengambilkan handphone Cantika dan memberitau, "Tadi Mamah lo, udah nelpon. Gue juga udah kasih tau mereka, kalau lo ada di Rumah Sakit."
"Terus?"
"Gue kasih tau mereka, kalau elo udah sadar nanti. Gue bakalan antar pulang elo ke rumah. Gue minta mereka, buat nggak panik dan tetap bekerja, seperti biasanya," sahut Tara, sangat santai. "Ohh iya, Adik-adik lo, dititipin ke tetangga sebelah katanya."
Tara memahami perasaan Cantika. Dia pun menatap Cantika dan berkata, "Mereka mau susul elo, Can. Tapi gue larang. Gue juga, sampek minta Dokter buat bicara sama orang tua lo langsung, supaya mereka nggak khawatir."
Cantika diam dan memalingkan wajahnya. Dia masih sedikit kecewa. Tara menghela napas pelan dan kembali menjelaskan, "Gue yang paksa mereka, buat nggak ke sini, Can! Tadi waktu nelpon, ada orang yang marah-marah ke Bapak sama Mamah lo! Dia minta mereka buat segera berangkat kerja, karena ada kerjaan yang menumpuk."
Cantika sempat merasa malu. Namun, dia langsung menggelengkan kepala dan menepuk jidatnya. Dia memarahi dirinya sendiri, karena telah bersikap keterlaluan. Bagaimana bisa, dia malu pada orang tuanya sendiri. Padahal, apa yang dikerjakan mereka, adalah pekerjaan halal.
"Gue mau pulang sekarang!" pinta Cantika dan Tara, langsung menolak dengan melambaikan salah satu tangan ke arahnya.
"Jangan sekarang, tunggu beberapa menit lagi. Supaya lo, beneran pulih dan sanggup jalan kaki sampai parkiran! Jangan sampai, orang tua lo yang udah capek-capek kerja. Masih harus, ngater elo yang tiba-tiba pingsan!" ujar Tara, membuat Cantika diam.
Tara adalah orang yang bisa membuat banyak Murid, langsung terdiam. Sangat melelahkan, jika harus berdebat dengan Tara. Apalagi, jika dia sudah berbicara, dengan ilmu tinggi. Siapapun yang mendengarnya, pasti telah pusing tujuh keliling dan pingsan, secara tiba-tiba.
Vlora dan Cantika, merupakan Murid yang mendapatkan beasiswa sekolah. Ketika mereka diajukan, untuk ikut lomba bersama Tara juga. Mereka berdua tampak begitu lemas dan lelah. Tara berhasil membuat mereka berdua, belajar dengan sangat keras, hingga Vlora menangis.
Cantika pun memejamkan mata. Dia meminta Tara, untuk membangunkannya lima belas menit lagi. Tara menganggukkan kepala dan Cantika, memejamkan mata.
<\=>
Bibik pamit pada Aizha, untuk mengambil baju dan keperluannya yang lain. Aizha yang sedang terduduk di atas ranjang, menganggukkan kepala dan melambaikan tangan. Ketika Bibik telah benar-benar pergi, Aizha pun ngambil laptopnya.
[Seseorang berhasil melacakmu!]
Hologram itu, tiba-tiba muncul. Aizha pun segera bertindak dan menghentikan pergerakannya. "Ya ampun, baru juga buka."
[Semoga saja, dia telah kehilangan jejakmu]
"Apa kau yakin?"
[Tidak]
Aizha menatap datar, hologram tersebut. Namun, sebisa mungkin, Aizha tidak panik. Dia memilih, untuk mengistirahatkan dirinya dan menyimpan laptop itu. Sedangkan, di lain kamar. Innara tengah berusaha, untuk pergi keluar, dengan infusnya. Dia juga membawa handphone itu, entah ingin pergi kemana.
Terlihat kamar VIP 03, di depan mata Innara. Dia mengetuk pintu itu pelan. Terdengar suara seorang wanita dari dalam. Innara pun meminta ijin, untuk masuk ke dalam. Dia berpura-pura menjadi seorang Perawat. Pasien yang ada di dalam, percaya dan memintanya masuk. Namun, ketika mata mereka saling bertemu. Tampaknya, kedua gadis itu terkejut.
"Innara!"
"Elo!"
"Ka-kamu ngapain ke sini?" tanya Aizha, panik dan khawatir.
"Jadi elo, si Alpha itu?!" tanya Innara, tak percaya.
[Orang yang melacakmu tadi, adalah suruhan Innara]
Aizha mulai risau. Innara pun menutup pintu. Dia berjalan mendekat ke arah Aizha. Ketika Innara ingin memegangnya. Aizha spontan menjauh. Dia benar-benar ketakutan pada Innara.
"Lo kenapa sih?!" tanya Innara kesal.
Aizha terlihat ketakutan dan tiba-tiba meminta maaf. Innara yang mendengarnya pun, tampak mendesah. Dia menerkam kedua tangan Aizha, dengan tatapan membunuh. Aizha yang spontan berteriak, langsung dibungkam oleh Innara, menggunakan bantal. Terlihat di sisi, seseorang dari luar, seketika membuka pintu kamar Aizha.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Yahhh, Innara udah tau deh. ...
...Lanjut besok ya,...
...See you ...💕...