
...Welcome to Alpha Female, guys✨...
...Selamat membaca💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Sore hari, terlihat banyak orang tengah berduka di tengah Pemakaman. Nampak Bunga yang sedang menangis dalam diam. Ayahnya juga, hanya berdiri tegak dan diam. Tampak seorang wanita paruh baya menangis, sambil memeluk papan nama Mamah Bunga.
Siang tadi, Mamahnya Bunga selamat. Namun, dia mengakhiri dirinya sendiri, dengan pisau di pergelangan tangan. Hal itu dilakukan, karena sang Ayah, lebih memilih selingkuhannya. Dia meninggalkan Bunga dan sang Istri sah, karena mendengar kabar. Jika, selingkuhannya jatuh pingsan.
[Bunga mengalami masalah keluarga]
[Ayahnya telah berselingkuh]
[Terdeteksi, Bunga 89% membenci Ayahnya]
Innara melirik ke arah Aizha. "Lo bantu Bunga aja. Gue bakalan cari tau, semua Murid yang jadi korban Andre CS."
Aizha menganggukkan kepala dan berterima kasih. Innara pun, meninggalkan lokasi pemakaman terlebih dahulu. Aizha merasa lega, ternyata Innara sangat membantunya.
"Alpha, Innara tidak akan berkhianat bukan?" tanya Aizha dalam batin.
[Tidak]
[Dia melakukan ini tulus, karena kamu telah membantunya bebas dari siksaan Alex]
[Ada juga salah seorang yang menjadi korban penyiksaan Andre. Dia adalah Sepupu Innara]
"Aaa, aku paham sekarang." Aizha mengangguk-anggukan kepala, mengerti.
Aizha pun pergi mendekat ke arah Cantika, yang berdiri seorang diri. Dia mengajak Cantika, untuk menghampiri Bunga. Tampak, Bunga langsung memeluk erat Aizha, sambil menangis. Cantika nampak sedih dan menggegam erat tangan Bunga yang memeluk tubuh Aizha.
<\=>
Farel yang sedang berada di Sekolah lain, tampak resah. Dia tak sendirian, ada Dirgantara yang menemani. Tampak keduanya, sedang menghadiri suatu pertemuan, dengan seragam Sekolah yang berbeda-beda.
"Duhhh, ngapa Bunga nggak balas chat gue, ya?" gumam Farel, resah.
Dirgantara yang mendengarnya pun menoleh. "Masih berduka paling. Mendingan, lo simak aja nih rapat, keburu kelar soalnya."
Farel mendesah dan menyimak. Belum ada satu menit, MC telah menutup pertemuan mereka. "What?! Gue belum tau apa-apa, njir! Gan, lo tau isi rapatnya kan?"
Dirgantara hanya menaikkan kedua bahunya, tidak tau. "Kagak, gue kan cuman nemenin lo ke sini."
"Arghhh! Sialan, bisa habis gue sama Arkana!" maki Farel pada dirinya sendiri. Dia pergi menghampiri sang Tuan Rumah. Tampak Murid dari Sekolah, kesal. Namun, Farel tak menyerah. Dia terus meminta tolong, hingga mendapatkan informasi tersebut.
Selesai mendapatkan info tentang rapat tadi. Dirgantara dan Farel kembali ke sekolah. Mereka berdua masuk ke dalam ruang Aples. Arkana dan Akhsan juga, tak berselang lama muncul. Mereka berdua baru saja tiba, setelah pergi dari pemakaman Ibunya Bunga.
"Gimana rapatnya?" tanya Arkana, sembari berjalan menuju kursi khusus miliknya.
Akhsan pun menyusul. Dia duduk di depan Dirgantara. Sedangkan Farel, berada di depan Arkana. Ada juga meja hitam di tengah-tengah mereka berempat.
"Nih!" Farel memberikan sebuah buku catatan ke Arkana.
"Ar, waktu rapat tadi, Far---" ucap Dirgantara terhenti. Dia dibungkam oleh Farel.
Arkana tampak mengernyitkan kening dan kembali membaca. Akhsan hanya tersenyum kecil, melihat Farel dan Dirgantara. Nampak, Farel memberikan tatapan tajam pada Dirgantara. Namun sayang, tatapan tajamnya kalah menakutkan, dengan milik Dirgantara. Dia pun menciut dan memohon, untuk diam.
Arkana tiba-tiba, membanting buku tersebut ke meja. Farel tampak terkejut dan jatuh terduduk ke kursinya. Akhsan dan Dirgantara, menoleh ke arah Arkana.
"Ada apa?" tanya Akhsan.
"Ngapa kita harus sama Sinama?!" tanya Arkana kesal.
"Ehhh, emang ngapa?" tanya Farel, tak paham.
"Kakak-Kakak Alumni pernah larang kita, buat nggak deket-deket sama mereka, karena bahaya dan sangat merepotkan. Mereka bakalan memengaruhi Murid-Murid di sini, untuk masuk ke lubang hitam," jelas Akhsan.
"Bukannya, Murid di sini emang udah pada nggak bener?" tanya Farel yang masih loading.
Arkana tampak malas, menanggapi Farel yang lemot. Dia pun mengambil jaketnya dan pergi. Akhsan tampak menghela napas berat dan pergi menyusul Arkana. Farel yang merasa bingung, melirik Dirgantara yang baru saja, hendak membaca buku. Dia membutuhkan penjelasan.
"Alasan kenapa, peforma Murid-Murid di Sekolah kita, udah nggak kayak dulu lagi, karena anak Sinama. Mereka mempengaruhi anak murid di sini, untuk lakuin hal-hal menyimpang," jelas Dirgantara.
"Kenapa gue nggak tau? Alasan mereka apa?" tanya Farel.
"Lo kan, home schooling dulu. Mangkanya, lo nggak tau apa-apa soal ini. Kita juga, enggak sempat kasih tau lo, karena lupa mungkin," sahut Dirgantara dan kembali membaca bukunya.
Nampak Farel begitu prustasi dan pergi dari ruang Aples. Dirgantara, hanya melihatnya pergi dan kembali membaca buku. Terlihat di lain tempat, Bunga tengah bertengkar, dengan sang Ayah. Beberapa keluarga, juga berkumpul di rumah itu. Aizha dan Cantika, hanya melihat dalam diam.
"Anda seorang wanita dan Ibu! Kenapa anda lakuin ini ke Mamah saya?! Kenapa anda berhubungan, dengan Ayah saya?! Kenapa...?!" bentak Bunga, sembari menangis.
Seorang Ibu Muda, tampak menangis. Dia merasa bersalah pada Bunga dan tak dapat berkata-kata. Anak perempuannya yang memiliki umur tak jauh berbeda, dengan Bunga. Dapat terlihat, jika sang Ayah dan wanita muda itu, telah berhubungan sangat lama. Ayah Bunga telah menipu keluarganya belasan tahun.
"Kita seangkatan ternyata," ucap Cantika, melihat logo seragam anak Perempuan, dari Ayah Bunga dan Ibu Muda itu.
"Itu artinya, sudah dari awal pernikahan. Ayahnya Bunga, berkhianat," ujar Aizha, berbisik.
"Jawab saya, dasar ******!" maki Bunga, membuat seisi ruangan tersentak kaget. "Kenapa? Lo kaget, hah?! Anda bukan hanya sekedar ******! Tapi, anda juga penipu dan tidak pantas, untuk hidup bahagia!"
"Plak!" Ayah berhasil menampar wajah Bunga. Putri satu-satunya yang sangat dia sayang dan cintai.
Ayah tampak terkejut dan meminta maaf. Dia meraih wajah Bunga, namun disentak. Bunga memberikan tatapan yang sangat tajam dan dingin. "Mamah selalu bilang ke aku. Ayah adalah lelaki yang saaa-ngat sempurna. Mamah selalu berterima kasih pada Tuhan, karena telah dipertemukan, dengan jodoh seperti Ayah."
Ayah tampak sedih dan menundukkan kepala. Dia tak sanggup, melihat wajah sang Putrinya. Bunga berusaha, untuk menahan tangisnya dan langsung menyeka air mata yang jatuh.
"Ayah adalah orang yang sangat baik, penuh perhatian, penyayang dan sangat bertanggung jawab. Ayah juga tidak pernah sekali pun marah, selama ini. Aku selalu takjub dan kagum pada Ayah. Ayahlah, cinta pertama dan terakhirku. Tetapi... Cinta itu telah hancur lebur dan menusuk setiap sudut di dalam tubuhku," ucap Bunga, lirih.
Aizha dan Cantika, tampak tak sanggup menahan tangisnya. Selingkuhan Ayah Bunga dan Putrinya, saling berpelukan. Mereka juga tengah menangis bersama. Banyak kaluarga yang ada di dalam sana, ikut bersedih.
Bunga tersenyum sendu, melihat anak Perempuan itu. "Dia pasti kesulitan selama ini, karena ulah Ayah dan Ibunya. Tetapi, Tuhan maha adil. Dia akan segera memiliki keluarga yang lengkap. Semua ketidak adilan yang dia terima, akan berakhir. Berbeda denganku, Mamah mengakhiri dirinya sendiri dan Ayah pun, akan pergi juga dari hidupku. Hidupku yang selama ini bahagia dan tentram, telah pudar dan menghilang. Mungkin, ini lah saatnya, aku menerima hukumanku."
Ayah menggelengkan kepala dan meraih tangan sang Putri. "Ayah minta maaf Bunga. Ayah nggak akan meninggalkanmu! Ayah sangat menyayangimu! Jangan pernah berkata seperti itu lagi!"
"Anda siapa? Beraninya anda memerintah saya?!" ucap Bunga sangat dingin. "Mulai detik ini juga! Anda bukan lagi Ayah saya! Dan untuk semua keluarga Ayah di sini! Jangan pernah lagi, kalian muncul di hadapan saya! Ingatlah, pada detik ini ikatan keluarga diantara kita telah berakhir!" peringatannya dan pergi.
Bunga pergi bersama Aizha dan Cantika. Terlihat, sang Ayah langsung mengejar Putrinya dan memohon, untuk menarik kembali ucapannya, sambil menangis. Namun, Putrinya yang lembut dan polos itu telah tiada. Bunga menghempas Ayahnya, hingga terjatuh. Dia juga membentak Aizha, untuk memberikan kunci mobilnya. Mobil yang ditumpangi Aizha, Bunga dan Cantika, akhirnya pergi meninggalkan rumah itu.
<\=>
Innara tampak masuk ke dalam sangkar Andre. Dia juga membawa paper bag di tangannya. Terlihat, dua orang lelaki juga mendapingi Andre di sana.
"Wawww, lama nggak ketemu ya? Gue denger, lo dateng ke acara gue semalem?" ujar Andre, dengan senyum songongnya.
Innara melihat sekeliling dan melirik Andre serta kedua temannya. "Lo nggak mau kasih gue tempat duduk?"
Andre tersenyum dan menyuruh Anak buahnya, untuk mengambilkan kursi. Setelah menerima bangku, Innara pun duduk di depan mereka bertiga. "Mentang-mentang, Alex udah mati. Lo pada, jadi ngeremehin gue?"
"Ohhh, jadi tuh cowok mati. Pantesan, lo kelihatan beda. Sepi dong, nggak ada yang unyel-unyel lo?" goda Andre dan Innara pun tersenyum smrik.
Innara mengeluarkan sebuah benda yang amat berharga. Harganya begitu mahal. Andre tampak begitu terkejut dan melongo.
"Lo masih mau ngebac*ot? Kalau masih mau, lanjutkan! Gue bakalan jual nih barang ke orang lain!" kata Innara, membuat Andre salah tingkah.
Andre menghampiri Innara. Dia tampak sedikit aneh. "Jaaa-jangan! Sorry, gue nggak bakalan ganggu atau goda lo lagi!"
Innara hanya diam dan melemparkan barang tersebut ke Andre. "Gue mau, lo panggil semua Murid yang pernah kalian siksa, sebagai bahan tontonan. Gue mau menikmati hiburan itu, sebagai perayaan karena Alex telah pergi dari dunia ini! Ada juga tambahan uang, untuk memeriahkannya."
Andre dan kedua temannya, sangat takjub. Mereka pun menghormati Innara, layaknya Boss mereka. Innara pun pergi mengirimkan pesan pada Aizha.
Innara ;
Selesai, dengan sangat mudah.
Aizha yang masih berada di dalam mobil, membalas pesan tersebut.
Aizha :
Kau yakin?
Innara :
Iya, kenapa?
Aizha :
Aku mau, kita kasih pertunjukkan yang lebih fatal. Harus ada bukti kuat yang sangat banyak, aku nggak mau tontonan sederhana.
Innara :
Sampek kapan?
Aizha :
Aku rencananya, setelah UTS. Lagi pula, korban Andre itu ada banyak sekali. Jika kita terlalu cepat mengungkapkan fakta itu ke publik. Bisa-bisa nyawa mereka terancam.
Innara :
Kalau gitu Bunuh saja mereka!
Aizha :
Datanglah ke rumahku malah ini. Kita bisa bicara dan kutunjukan sesuatu.
Innara :
Ok.
Aizha pun mematikan handphonenya. Dia melihat ke arah Bunga, yang terlihat kacau. Cantika yang berada di bangku belakang juga risau.
"Kamu tinggak di rumahku aja. Seragam dan perlengkapan yang lain. Biar, aku aja yang siapin. Kamu nggak perlu khawatir oke?" kata Aizha, berusaha menguatkan Bunga.
"Hidup tak seindah itu Bunga. Ada saatnya, dimana kita akan terluka dan terbanting oleh keadaan di hidup ini. Kebahagian tak selamanya menyelimuti kehidupan kita, sama halnya dengan kesedihan atau penderitaan," tambah Cantika, membuat Bunga terharu.
Bunga menghentikan mobil itu dan menangis. Dia menutupi wajahnya, dengan kedua tangan. Cantika dan Aizha pun memeluk Bunga, untuk memberikan kekuatan serta kehangatan.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Terima kasih💕...