
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Bel berdering, dengan begitu nyaring. Para Murid, langsung berhamburan keluar, dari dalam Kelas mereka masing-masing. Ekspresi ceria dan lelah, banyak ditunjukkan oleh para Murid.
Cantika, Bunga dan Innara, pergi bersama-sama, menuju area parkiran. Mereka bertiga tampak sangat terkejut, karena mobil Innara menghilang. Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan, muncul. Kini Farel dan Akhsan, sedang tidak naik montor. Mereka berdua pun menawarkan tumpangan pada ketiga gadis itu, untuk ikut masuk ke dalam mobil. Tetapi, tawaran mereka, sepertinya tidak akan berlaku lagi, karena mobil Aizha telah tiba.
"Haiii!" sapa Aizha, dengan senyum lebar dan kaca mata yang anggun.
Para Murid lagi-lagi dibuat terkejut, oleh Aizha. Mobil yang dibawanya pun, bukanlah mobil biasa. Mobil baru yang dibelikan Hasan, sebelum pergi. Hasan membelikan hadiah mobil itu, sebagai permintaan maaf, karena membuat Putri semata wayangnya, harus menderita akibat keluarganya.
"Waww! Belum lama, lo bawa mobil keren kemarin. Sekarang, udah ganti baru lagi?!" seru salah seorang Siswa, terkagum-kagum.
Aizha hanya tersenyum kecil dan pergi melewatinya, menghampiri teman-teman. "Ayo pulang! Aku udah kangen banget sama kalian!" ucap Aizha dan mendapatkan pelukan yang sangat erat, dari Bunga.
Bunga sungguh merindukan Aizha, sampai meneteskan air mata. "Aizhaaaa! Ich vermisse dich!" ucapnya dalam bahasa Jerman yang artinya, aku rindu kamu
"Aku pun," sahut Aizha dan melepaskan pelukan itu.
Innara dan Cantika juga, memeluk Aizha bersamaan. Tetapi, suasana sweet itu seketika hancur, ketika Arkana buka mulut, "Hahahaaa, Teletabis lagi pelukan! Hambar nih, kalau kagak dinyanyiin." Dia pun menyanyikan lagu teletabis, hingga akhirnya dibungkam oleh Farel.
Innara pun berbisik pada Aizha. "Lo udah cari tau, kenapa dia gitu?"
"Seperti yang kalian tebak, ini karena ulah ku waktu manipulasi memori mereka berdua. Tapi, aku masih perlu Alpha, untuk nyelesain tuh masalah," sahut Aizha, dengan suara berbisik. Dia melihat ke arah Arkana dan Dirgantara, yang tingkahnya semakin menjadi-jadi, hingga Farel serta Akhsan, kewalahan.
Aizha merasa sedikit bersalah, namun lucu juga, melihat dua orang lelaki itu, bertingkah aneh. Tetapi, ekspresi wajahnya berubah, ketika melihat layar handphone Farel. Ada notifikasi yang memiliki surel persis, dengan miliknya.
"Sial!" umpat Farel, merasakan getaran handphone di kantong celananya. Dia menyerahkan Arkana pada Akhsan dan membalas pesan itu.
Aizha tampak curiga, apalagi melihat ekspresi wajah Farel yang berubah. Farel tampak meminta maaf, karena tidak dapat membantu Akhsan. Dia pun berpamitan dan memeluk erat Bunga, seakan-akan ini adalah hari terakhirnya. Tetapi, hanya Aizha saja lah yang dapat melihat ekspresi itu. Senyum Farel kembali terukir dan pergi, dengan mobilnya.
"Tuh kan, dia itu aman! Lo nggak perlu takut," ucap Cantika, sambil menyenggol Bunga.
Bunga tersenyum kikuk. "Tapi, aku ngerasa sedikit aneh, waktu meluk tadi?"
"Nggak usah dipikirin!" kata Innara, membuat Bunga diam. "Kalian masuk ke mobil aja duluan! Gue mau bantu Akhsan sebentar," ucapnya.
"Oke," sahut Cantika dan Bunga juga menganggukkan kepala, mempersilahkan.
Aizha yang sibuk sendiri, langsung menyerahkan kunci mobilnya ke Bunga. "Kalian duluan aja, aku nanti susul!" pesan Aizha. Dia pergi, dengan sangat cepat, membuat Bunga dan Cantika terkejut.
"Aizhaaa!" teriak Cantika, memanggil Aizha, tetapi tidak diperdulikan. "Sialan! Tuh anak mau kemana lagi?!"
"Ahhh," Bunga merasa pusing dan memijat keningnya, lelah. Dia yakin sekali, Innara dan Cantika, pasti akan terus mengomel, tanpa henti.
...<\=>...
Hari mulai senja. Terlihat di rumah Innara, Bunga tampak meyandarkan kepala ke dinding, dengan ekspresi lelah. Apa yang dia pikirkan benar, Innara dan Cantika terus saja mengomel, karena kepergian Aizha yang mendadak.
"Arghhhh! Sumpah, kalau tuh anak balik ke sini, gue bakalan bijek-bijek dia sampek puas! Awas aja!" umpat Innara, sangat emosi dan gemas.
"Apa yang harus gue lakuin, biar dia kagak ngeremehin gue kayak gini?" gumam Innara, dengan tatapan haus, akan nafsu membunuh. "Perlu gue racunin kah? Atau... Kurung di kamar? Atau gue siksa dia, pelan-pelan?"
"Kalau sampek nilai atau beasiswa gue, jadi ancaman. Gue bakalan minta tuh anak pertanggung jawaban yang sangat besar! Kira-kira, apa yang harus gue minta? Uang, mobil, rumah, tanah, sawah, atau apa?" gumam Cantika, kehilangan akal.
Bunga benar-benar prustasi, dengan sikap kedua temannya yang telah kehilangan akal sehat. Selama Aizha di Rumah Sakit, Innara dan Cantika terus saja mencari-cari konflik yang terjadi di Sekolah dan merancang strategi. Melihat gilanya Sekolah mereka, membuat Innara dan Cantika sangat geram. Mereka tidak sabar, untuk menghadapi para Murid yang menjengkelkan. Tetapi, orang yang ditunggu-tunggu, malah menundanya kembali.
Pada lain tempat. Terlihat sebuah tempat persembunyian yang jauh dari perumahan dan hanya terlihat, beberapa lahan kosong. Banyak montor yang terpakir di depan tempat itu. Aizha, dengan hati-hati, berjalan mendekat dan mengintip.
"Kalau sampai Polisi tau, ada persebaran narkoba, melalui sistem Sekolah. Kita semua bisa habis, bukan karena dihukum oleh mereka! Tapi, kita bisa habis ditangan dia!" ujar salah seorang lelaki.
Aizha terkejut, ada pengedaran narkoba di Sekolahnya. Dia pun memperhatikan satu per satu orang yang ada di dalam sana. Ada banyak anggota geng montor Arkana dan Akhsan. Tetapi, dia merasa sedikit aneh, karena bukan Akhsan yang ada di depan barisan mereka, malah Farel. Seketika dia teringat, akan curhatan Bunga beberapa hari yang lalu.
Bunga bercerita, tingkah Farel sangatlah aneh. Dia tak percaya, jika itu hanya trauma atau penyakit mental. Hari-hari setelah jadian pun, Farel hanya memeluknya, dengan cukup lama, tanpa berkata-kata apapun. Terkadang, wajahnya terlihat begitu lelah dan terlihat banyak pikiran. Farel sama sekali tidak fokus dan selalu berubah karakter.
"Aku harap, dia nggak ikut-ikutan konsumsi narkoba. Tapi, mereka semua yang ada di sini, adalah manusia perusak dunia. Kalau aku biarin mereka lepas, ada kemungkinan transaksi itu kembali berjalan. Apa perlu, aku musnahin mereka, tanpa beri pelajaran?" batin Aizha, bimbang.
Aizha masih merenung. Para manusia di dalam, tampak sibuk merancang strategi. Farel juga ikut memberikan solusi, untuk permasalahan mereka. Melihat hal itu, Aizha sepertinya memilih jalan paling aman. Sangat berisiko, jika mereka kabur dari dalam ruangan tersebut. Ketika dia, sedang memberikan hukuman, sebelum pergi meninggalkan dunia ini selamanya.
...<\=> ...
Aizha berlari, dengan sangat kencang, menggunakan kekuatan manipulasi waktu. Dia mencari selang dan beberapa benda lainnya, untuk mengambil bensin di setiap montor. Sangat sulit, mencari penjual bensin atau Pom Bensin di sekitar area itu.
Semua aktivitas di sekitaran mereka telah berhenti. Aizha menyiramkan bensin, dengan penuh perhitungan dan ketelitian, karena perbandingan tempat serta bencin yang didapat, sangat menipis. Selesai menyebarluaskan bensin itu, dia menatap ke arah Farel yang mematung.
"Maaf Bunga," ucap Aizha dan sebuah korek pun melayang di atas cairan bensin yang disebarnya. "Kembalikan waktu seperti semula!" ucapnya, sambil menjentikkan tangan. Beberapa detik kemudian, tempat persembunyian itu langsung ludes dilahap si jago merah.
...<\=>...
Waktu menunjukkan pukul 22.17. Aizha yang baru saja tiba di rumah Innara, langsung disekap oleh ketiga temannya ke ruang belajar. Tangannya di ikat dikursi, dengan mulut terlakban. Aizha terus saja memberontak, namun tak diperdulikan.
"Lo makin ke sini! Makin kurang ajar ya?!" seru Innara, marah. "Lo bilang kita temen bukan?! Kenapa kesannya, lo perlakuin kita, kayak bawahan hah?!"
"Kita capek-capek kumpulin semua data dan rancang strategi, tapi lo! Elo datang dan langsung pergi lagi?!" Cantika tak percaya dan tersenyum, sambil menggelengkan kepala.
"Zha, waktu kita singkat! Kita harus selesaiin ini, sebelum ujian! Tugas Sekolah udah numpuk. Kita di Sekolah elit, tugasnya enggak main-main!" jelas Bunga, berusaha untuk tetap ramah dan tidak meninggikan nada bicaranya. "Cantika, salah satu Murid beasiswa. Kamu nggak lupa kan?!"
Aizha pun memberontak, meminta mereka, untuk membuka lakban yang menutupi mulutnya. Setelah dilepas oleh Bunga, Aizha pun memberitau, "Maaf, aku nggak bermaksud, bikin kalian kayak gini. Aku beneran minta maaf, tadi---"
"Elo ngejar Farel kan?" potong Innara dan diangguki oleh Aizha. "Lo lakuin apa? Sampek, baru mampir ke sini, jam sepuluhan?"
"Aku bunuh Farel dan teman-temannya, karena ngedarin narkoba di Sekolah," sahut Aizha, membuat Bunga, Cantika dan Innara, terkejut bukan main.
...×××××××××××××××××××××××××××××××...
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...