
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Aizha langsung menampar wajahnya, menyadarkan diri. Dia meraih tubuh Afifah yang tak lagi bernyawa. Dia menangis tersedu-sedu, dengan kepala yang menunduk. Tangannya meremas sprei kasur, dengan penuh emosi.
"Enggakkk! Ini enggak boleh! Ini nggak mungkin terjadi!" lirih Aizha, tidak menerima kenyataan yang ada.
Pada lain sisi, terdengar gedoran pintu, dari luar kamar Afifah. Aizha yang tidak memperdulikannya, terus saja bergumam. Dia berharap, waktu kembali ke beberapa menit yang lalu. Namun, tak terjadi apa-apa. Aizha tampak begitu marah dan berteriak begitu kencang. Jika dirinya, sangat menginginkan pengulangan waktu, apapun resikonya.
Kilatan biru, langsung menyebar ke seluruh komplek Afifah. Semua kembali ke tempat semula, tepatnya di beberapa menit yang lalu. Terlihat Aizha, Alin, Afifah dan Via, sedang berada di lorong.
"Aizha! Kamu tidur sama aku ya!" pinta Alin pada Aizha.
Aizha sadar, jika dirinya telah mengulang waktu. Dia pun tersenyum kikuk, pada Alin. Matanya langsung melirik Afifah, dengan perasaan lega dan sedih. Alin mulai curiga, dengan Aizha dan Afifah.
"Maaf Alin, kayaknya kamu terlambat. Aizha udah lebih dahulu minta ke aku, untuk jadi teman sekamarnya," kata Afifah, memberitau.
Alin tampak terkejut. Dia kecewa pada Aizha, karena tidak memilih dirinya. Drama pun muncul. Alin berpura-pura sedih dan hancur. Dia merasa dikhianati oleh Aizha. Padahal, dia selalu, menjadi yang lebih depan untuk Aizha, dibandingkan Afifah dan Via.
Via pun membawa paksa Afifah, untuk masuk ke dalam kamar. Aizha lega, karena tidak ada yang berubah. Afifah yang sudah berada di ambang pintu, meminta Aizha untuk segera masuk. Jika mengingat kejadian dua menit yang lalu. Seharusnya, ada seseorang di rumah sebelah yang memantau mereka.
"Ohh iya, soal pem---" ucap Afifah terhenti.
Jari telunjuk Aizha, mendarat tepat di bibir Afifah. "Lupain aja! Apa di rumah sebelah ada orang?"
Afifah mengernyitkan kening. "Rumah itu!" menunjuk ke arah luar jendela dan diangguki oleh Aizha. "Kenapa kamu tanya kayak gitu?" penasaran.
"Emmm, aku rasa ada orang yang mantau kita," sahut Aizha, membuat Afifah paham.
Afifah mengatakan, jika rumah itu sedang kosong. Para penghuni rumah, tengah pergi ke luar negeri, menemui anak mereka yang kuliah di sana. Aizha yang tidak percaya, ingin mengajak Afifah, untuk mencheknya langsung. Tanpa basa-basi, Afifah pun mengiyakan, melihat sang teman, begitu khawatir.
Ketika tiba, di Rumah yang di tuju. Salah seorang Bodygruad Afifah, datang menghampiri mereka berdua. Saat mengetahui tujuan Afifah dan Aizha, datang ke tempat itu. Sang Bodygruad, langsung menjelaskan pada mereka, jika tak ada seorang pun yang datang. Penjagaannya sangatlah ketat, mengingat barang-barang berharga di dalam rumah tersebut.
"Tapi Pak, jika ada orang yang berhasil masuk, ke dalam rumah ini. Kemungkinan, orang itu siapa?" tanya Aizha, masih kekeh pada pendiriannya.
Pak Bodygruad menjawab, jika tak ada seorang pun yang bisa masuk, karena banyaknya penjagaan ketat di setiap sisi. Aizha masih tak percaya. Dia langsung mempertanyakan, kondisi dalam rumah itu, jika tidak ada yang bisa masuk, hanya untuk membersihkannya saja.
Afifah yang mendengar perdebatan itu, merasa penasaran dengan apa yang ada di pikirannya saat ini. Pak Bodygruad terus saja kekeh, jika tak ada seorang pun yang bisa masuk. Dia sampai mempertaruhkan dirinya sendiri, untuk masuk ke dalam. Meskipun, sang Penjaga Rumah melarang, dengan begitu tegas.
Aizha merasa bersalah, ketika kondisi di rumah itu, mulai menjadi sedikit kacau. Ketika Pak Bodygruad membuka pintu, sebuah ledakan terdengar begitu kencang, hingga mengeluarkan asap beracun. Beruntung, semua Penjaga dan Pak Bodygruad, bisa kabur. Meski, sedikit terbatuk-batuk dan pusing.
Afifah tampak begitu kesal dan marah pada Aizha. Dia ingin, Aizha untuk kembali pulang ke rumahnya sendiri. Sikap Afifah yang kasar itu, membuat Aizha bersedih. Mereka berdua menangis, tanpa keduanya ketahui.
Aizha yang telah berada di dalam mobil, mengemudi sendirian. Tampak begitu sedih dan marah, pada dirinya sendiri. Namun, seketika hal aneh muncul di dalam tubuhnya. Setiap sisi langsung berwarna merah. Hologram berwarna merah dan besar, dengan tulisan "Warning" muncul, secara tiba-tiba.
Letupan-letupan di dalam tubuh Aizha, membuatnya sangat menderita. Aizha berteriak begitu kencang, dengan tangan meremas baju, bagian dada. Nafasnya panas, mata berkaca-kaca, kepala yang terasa tertusuk dan hidung berdarah. Aizha benar-benar tak sanggup, merasakan sakit dan penderitaan ini. Sebuah hologram kecil, menunjukkan lokasi kecelakaan.
"Arghhh, apa a-aku har-rus ke sa-na?" gumamnya, menahan rasa sakit yang begitu menyiksa.
Aizha langsung mengirimkan lokasi dan pesan, pada grup Alpha. Setelah itu, dia juga menghubungi Cantika, Bunga dan Innara, secara bersamaan. Tanpa menunggu waktu lama, Aizha langsung membawa mobil itu ke lokasi, sambil menerima panggilan teman-temannya.
"Aaa-aku u-dah nggak ta-han lag-gi In! Cepetan ke lokasi se-karang!" pinta Aizha dan langsung menutup panggilan telepon itu.
"Kayaknya kita harus ke sana, sekarang!" ujar Cantika, sembari mengambil jaket miliknya. Dia juga melemparkan kunci ke Bunga, yang sudah berada di dekat pintu.
"Apa kita boleh ikut?" tanya Arkana, membuat Innara bingung, dalam kepanikan.
"Emmm, boleh!" sahut Innara, terpaksa.
Mereka berenam pun pergi, kecuali Dirgantara. Dia masih harus tetap tinggal, mengingat file yang masih berproses dan banyaknya hal penting, di ruangan itu. Terlihat dua mobil langsung keluar, dari Apartemen tersebut, dengan sangat cepat.
Aizha yang telah tiba di lokasi. Terlihat, berlarian menuju mobil yang terbalik. Langkahnya terlihat sempoyongan dan tidak bertulang. Matanya juga sedikit memerah dan kain berdarah, di hidungnya. Aizha yang tak sanggup lagi berjalan, terpaksa untuk ngesot. Dia tidak peduli, dengan kakinya yang mulai terluka dan tergores, karena rerumputan serta kerikil.
Aizha yang sudah tidak tahan, langsung menyerap darah keluarga di mobil itu. Butiran-butiran darah mulai bertebang, mengelilinginya. Banyaknya korban, membuat Aizha melayang cukup lama, dengan dikelilingi butiran-butiran itu.
Cantika, Bunga, Innara, Arkana, Akhsan dan Farel, tiba di lokasi. Mereka langsung turun ke jurang, ketika melihat cahaya biru. Arkana, Akhsan dan Farel terpukau, akan butiran-butiran yang mengelilingi Aizha. Entah mengapa, Arkana tak bisa berhenti menatap, Aizha yang sedang melayang. Dia nampak begitu cantik dan seperti fantasi.
"Arkana! Bantu kita!" teriakan Innara itu, berhasil membuat Arkana sadar.
Innara melempar ranting ke Arkana dan meminta batuan, untuk meletuskan butiran yang negatif. Mereka pun melihat lebih dahulu, ciri-ciri butiran darah yang harus diletuskan. Setelah memahami, mereka langsung membantu Cantika dan Innara.
Butuh waktu cukup lama, untuk proses itu selesai. Aizha yang hendak jatuh, berhasil ditangkap oleh Arkana. Melihat kondisi Aizha yang lemas dan sedikit pucat, membuat benak Arkana sedih. Mereka pun segera pergi dan membawa Aizha ke Apartemen.
...<\=>...
Pagi harinya, Dirgantara, Cantika, Bunga dan Farel, terpaksa harus pergi ke Sekolah. Mereka juga, harus menjaga Kania dan Meira, dari ancaman yang ada. Sedangkan Innara kini, tampak begitu sedih, melihat Aizha yang terbaring lemah di kasur. Dia juga resah, karena tidak dapat memanggil sistem Alpha.
"Lo yakin, kita nggak perlu bawa dia ke Rumah Sakit?" tanya Arkana memastikan, dengan baskom yang berisikan air panas, di kedua tangannya.
Tak lama, Akhsan juga muncul, dengan handuk kecil dan pakaian untuk wanita. Dia memberikan barang-barang itu ke Innara. "Dokter cuman tau hal medis, bukan fantasi," sahut Innara, membuat Arkana diam. Dia menerima barang-barang itu dan menyuruh kedua cowok tersebut pergi.
"Gue sampek nggak bisa tidur, lihat kejadian semalam. Gue nggak percaya, ada hal diluar nalar di depan mata. Jelas-jelas, gue juga ikut turun tangan. Tapi tetep aja, sulit untuk dipercaya sama logika," seru Akhsan, bingung dan heran.
Arkana tak mendengar ucapan Akhsan. Dia sibuk, dengan pemikirannya sendiri. Namun, ketika dia hendak duduk. Panggilan telepon masuk, dari Rafi dan Diki.
"Hallo?" angkat Arkana, menerima panggilan telepon itu.
"Arrrr! Bantu gue!" pinta Rafi, dengan suara panik. "Ada orang yang ngejar gue, kek zombie edan!"
"Kirim lokasi, lo sekarang! Gue otw!" suruh Arkana dan Rafi pun, mengirimkan lokasinya.
Arkana dan Akhsan pun pergi dari Apartemen. Sebelumnya, dia juga sempat pamitan pada Innara. Arkana berpesan, jika ada masalah terjadi, langsung hubungi saja dirinya atau Akhsan. Innara mengiyakan dan memberikan pesan balik, pada mereka berdua.
...×××××××××××××××××××××××××××××××...
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...