
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Pada ruang belajar Innara. Terlihat Bunga yang baru saja datang. Dia berlari memeluk Cantika, sembari menangis. Innara yang sedang sibuk menulis, melihat ke arah Bunga, dengan ekspresi bingung.
"Lo kenapa lagi, Bungaaa? Ayah lo, bikin ulah lagi?" tanya Innara, sambil melepas kaca mata.
Bunga menoleh ke arah Innara. "Bukan soal Ayah, tapi Farel! Aku jadian sama Farel sekarang, huweee!" rengeknya.
"Lahhh." Innara menyangga kepalanya, dengan tangan kanan. "Jadian, kok nangis? Lo nggak suka, tapi dipaksa buat terima dia?"
"Itu bener?" tanya Cantika, pada Bunga.
Bunga menggelengkan kepala, sebagai jawaban. Dia mengaku, jika dirinya juga menyukai Farel. Tetapi, dia merasa sedikit khawatir dan takut. Cantika dan Innara, tampak bingung. Cantika pun bertanya, alasan Bunga merasa seperti itu pada Farel. Bunga pun menceritakan kejadian di mobil, tadi siang.
"Farel ngebunuh Kakaknya sendiri, karena punya pacar?" gumam Innara, tak percaya.
"Hahahahaaa!" Cantika tiba-tiba tertawa, membuat Innara dan Bunga, menoleh ke arahnya.
"Kok, kamu ketawa sih, Can!" Bunga tampak tidak senang.
Cantika pun berusaha, untuk meredam tawanya dan berucap, "Lo itu, dibohongi Farel, Bunga!"
"Apa?!" tanya Bunga, tak percaya. "Tapi, ekspresi dia..."
"Heh, Can! Kalau ngomong yang bener! Kagak masuk akal banget, kalau Farel bohong, dicerita Bunga tadi!" seru Innara, menyuruh Cantika untuk berhati-hati.
Cantika melihat ke arah Innara dan Bunga. "Gue jelasin ya! Sebenarnya itu, si Farel bukanlah Pembunuh Kakaknya. Pembunuhnya itu, Ayah dia sendiri. Gue nggak tau, kenapa dia bohong dan bersikap, kayak gitu ke elo. Tapi, gue tau info ini dari Dirgantara. Dirgantara tau langsung, dari cerita Ibu dan Asisten Rumah Tangga Farel."
"Belum ada puluhan menit, udah dibohongin," celetuk Innara dan kembali mengenakan kaca matanya.
Bunga tampak terpukul, dengan ucapan Cantika. Tetapi, ekspresi dan tingkah Farel, sangatlah natural. Bunga masih merasa janggal.
"Tapi Can, ekspresi sama sikap Farel, kelihatan asli, tanpa dibuat-buat," ucap Bunga, yang masih tidak percaya, dengan pernyataan Cantika.
Cantika pun menghela napas pelan dan mengeluarkan sebuah handphone. "Gue teleponin Dirgantara, gimana? Biar lo puas?"
Buang sedikit merasa ragu dan menganggukkan kepala, pelan. Cantika pun menelepon Dirgantara. Tanpa butuh waktu lama, Dirgantara langsung menerima panggilan itu.
"Kenapa Can?" tanya Dirgantara, pada balik telepon.
Bukan hanya Cantika yang dapat mendengar. Innara dan Bunga, juga bisa mendengar ucapan Dirgantara. "Tar, Farel ngaku ke Bunga, kalau dia yang ngebunuh Kakaknya sendiri, dengan alasan punya pacar," kata Cantika, mengadu ke Dirgantara.
"Hmmm, mungkin Farel lihat sesuatu, sebelum ngomong itu. Atau, dia keingetan sesuatu," ujar Dirgantara dari balik telepon.
Bunga pun mendahului Cantika, untuk bertanya duluan, "Tapiii, kalau gitu, kenapa dia nembak aku?"
"Ya, karena dia suka elo," sahut Dirgantara, santai.
"Tar! Serius sedikit, kenapa?!" tegur Cantika, sedikit marah.
"Emmm, serius nggak ya? Gue bakalan serius, kalau lo ke sini, bawa es krim!" celetuk Dirgantara, membuat Innara dan Cantika terkejut.
Innara menatap Cantika, terkejut. "Lo kagak salah orang?"
Cantika menutup handphone dan bicara, "Itu artinya bener, Arkana sama Dirgantara berubah, karena ulah Aizha!"
"Mending lo tutup aja, deh!" suruh Innara, jengah.
"Tunggu!" Cantika yang menganggukkan kepala, langsung ditahan oleh Bunga. "Sebentar, aku boleh coba sekali lagi?" tanyanya pada Cantika.
Cantika menganggukkan kepala dan memberikan handphonenya pada Bunga. "Aku bakalan beliin es krim! Tapi, kasih tau aku dulu, kenapa Farel begitu?" tawar Bunga.
"Ceritain dulu! Biar gue paham!" pinta Dirgantara.
Bunga pun menjelaskan, ketika Farel yang mengungkapkan dirinya, adalah sang Pembunuh dan menembak dirinya. Dia juga memberitau, tingkah dan sikap Farel, yang sedikit mengkhawatirkan. Cantika yang mendengarnya, hanya menyimak saja, di sebelah Bunga.
"Jlebbb!" Cantika, Innara dan Bunga, mematung seketika.
"Dirgantara!" bentak Cantika, membuat Dirgantara terkejut. Dia pun marah-marah, karena dibentak oleh Cantika. "Bisa nggak, balik ke diri lo yang dulu, hah?! Bunga beneran takut!" omel Cantika.
"Uhhh, gue kan udah bilang tadi! Dia pasti keingetan atau lihat sesuatu, yang bikin tuh anak ngomong begitu. Kalau nembak kan lumrah aja, toh orangnya suka beneran sama Bunga! Farel nggak bakalan gigit atau nekan Bestie lo! Dia itu normal, cuman aneh dikit, kalau keingetan hal itu," jelas Dirgantara, membuat Bunga sedikit lega. "Jangan lupa, es krim gue! Satu lagi, spageti!" pesannya dan mematikan telepon.
Cantika pun, menaruh handphonenya ke atas meja. Dia berusaha, untuk menenangkan Bunga dan membuatnya nyaman. Innara juga datang, memberikan kunci mobil dan berusaha, untuk menghibur Bunga. Mereka meyakinkan Bunga, jika Farel masihlah normal dan merupakan, seorang lelaki biasa.
...<\=>...
"Mamah masih harus nyiapin, beberapa pakaian dan makanan ringan, buat di Rumah Sakit. Kamu istirahat dulu aja, kalau udah selesai, Mamah bangunin," kata Mamah Vivi dan diangguki oleh Diego.
Mamah Vivi dan Diego kini, sedang berada di rumah. Mereka berdua, bertukaran dengan sang Bibik, untuk menjaga Aizha. Diego pun, langsung pergi ke lantai atas dan pergi menuju kamar Aizha. Sayangnya, kamar itu di kunci.
Diego tidak kehabisan ide. Dia pergi mencari sesuatu, untuk membuka pintu kamar itu. Tanpa pantang menyerah, dia akhirnya berhasil, membuka pintu kamar Aizha. Dia pun masuk ke dalam dan langsung menutup pintu.
Diego memperhatikan setiap sudut kamar Aizha dan mencari-cari, hal yang mencurigakan. Otaknya yang sangat cerdas, sepertinya bukan omong kosong saja. Dia berhasil, menemukan sedikit celah yang aneh dan menggeser sebuah lemari.
"Waw!" Diego tampak bangga dan membuka pintu itu. Matanya semakin berbinar, melihat banyaknya komputer dan teknologi canggih lainnya.
"Kenapa kosong? Mana mungkin, Mbk Aizha beli ini semua, nggak dipakai buat apa-apa?" Diego merasa heran dan bingung.
Bibik lain yang ada di rumah, langsung memotret Diego. Dia mengirimkan foto itu, ke Bibik yang menjaga Aizha. Pada waktu yang bersamaan, Aizha tampak tersenyum kecil.
"Malangnya, Adikku yang kepo ini," gumam Aizha, sembari tersenyum.
...<\=>...
Beberapa hari kemudian, Aizha, Arkana dan Dirgantara, telah keluar dari Rumah Sakit. Kini, Aizha sedang mengantar Ayah Hasan, Mamah Vivi dan Diego di Bandara. Terlihat sang Ayah, yang tak ingin melepaskan Putrinya sendiri. Dia ragu, untuk meninggalkan Aizha. Setelah, banyak hal terjadi.
Ayah Hasan pun memeluk erat Aizha. Dia teringat, ketika dirinya bertemu sang Ibu, Kakak dan keponakan. Ada perasaan yang hancur dan campur aduk. Dia terpaksa memutus ikatan keluarga mereka dan memberika uang milyaran ke Ibunya, sebagai permohonan, untuk tidak menggagu Aizha.
"Ayahhh, mau sampek kapan begini? Nanti ditinggal Pak Pilot loh," celetuk Aizha, dengan sangat menggemaskan.
Ayah Hasan pun melepaskan pelukannya dan merapikan rambut Aizha. "Kalau ada apa-apa, kabari Tante atau keluarga Mamah yang lain. Tante saja Om, udah Ayah suruh, buat pindah ke sini."
Aizha tampak kesal dan protes. Dia tidak suka, membebani orang lain. Dia juga, tak ingin membuat orang lain repot, karena dirinya sendiri.
"Sayanggg, Tante sama Om, nggak kerepotan kok," ucap Mamah Vivi. Dia belum selesai bicara, tapi sudah dipotong Aizha.
"Mamah tau dari mana?! Lagi pula, di rumah ada tiga ART dan banyak Penjaga lain sama Supir juga! Mereka udah lebih dari cukup!" kata Aizha, sedikit kesal.
Ayah Hasan dan Mamah Vivi, memberikan pencerahan pada Aizha. Melihat waktu yang semakin mepet. Aizha memilih, untuk mengalah pada orang tuanya. Dia pun memeluk erat sang Adik dan mengacak-acak rambutnya.
"Damn it!" umpat Diego, kesal dan merapikan rambutnya.
Aizha tertawa kecil, mendengar umpatan Diego. Dia juga berbisik pada sang Adik, "Rahasiakan, atau aku aduin ke Ayah, kalau kau menabrak anak kecil di komplek kemarin!"
Diego tampak sangat terkejut dan menelan ludahnya sendiri. Kemarin, Diego tengah naik sepeda, dengan cukup kencang. Tanpa disadari, seorang anak kecil muncul dan terjatuh, karena dia tabrak. Melihat Ayahnya yang gagah, Diego pun kabur secepat mungkin.
"Kamu tau kan, Ayah dari anak kecil itu, sekeren apa?" sindir Aizha membuat Diego menganggukkan kepala.
"Aku janji!" ucap Diego dan Aizha pun tersenyum senang.
Ayah Hasan dan Mamah Vivi, tampak begitu penasaran. Diego berharap, Aizha dapat menjelaskannya, tanpa berkata jujur. Aizha tampak tersenyum dan mengarang cerita yang terdengar masuk akal. Ayah Hasan dan Mamah Vivi, mengangguk paham. Mereka pun pergi, dengan Aizha yang melambaikan tangan.
"Mbk Aizha emang udah berubah ternyata," batin Diego, murung.
Aizha tersenyum lebar dan pergi dari Bandara. Dia masuk ke dalam mobil dan berpikir sejenak. "Lucu kalik ya, kalau aku jemput Cantika, Bunga dan Innara di Sekolah?" gumamnya dan menganggukkan kepala. "Oke, kita ke Sekolah sekarang!" Aizha pun, mengemudikan mobilnya ke Sekolah.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Oke deh, sampai sini dulu ya. Ayo dukung novel ini, dengan like, komen dan berikan juga rating kalian tentang novel ini. Berikan juga hadiah dan vote kalian, khihihiii.
See you💕