
...Happy Reading✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Terlihat, Arkana duduk di kursi yang dipakai Alex tadi, ketika menonton Innara. Gayanya tak kalah keren, dengan Alex. Arkana begitu menikmati tontonannya, dengan ekspresi tegas dan dingin.
Notifikasi dari Alpha, alias Aizha :
{Aku ingin bicara, dengan Alex}
Melihat pesan itu, Arkana pun menyuruh orang di sampingnya, untuk menyeret Alex kemari. Orang tersebut, langsung melaksanakan tugasnya. Dia mengambil alih, si Alek yang telah tak berdaya dan lemah. Sesuai perkataan Arkana, orang tersebut menyeret Alex dan membawanya ke sana.
"Ada yang mau ngomong sama lo!" kata Arkana, dengan suara yang sedikit berbeda.
Arkana memberikan handphone itu ke telinga Alex. "Bukankah sudah dia peringatkan, untuk tidak menggagu Innara? Kenapa kau tidak mendengarkan?"
"Lo siapa?" tanya Alex, tanpa rasa takut.
"Menurutmu?" tanya balik Aizha.
"Apa mau lo, hah?! Lo ada rasa sama Innara?!"
"Cih, berisik sekali kau ini," omel Aizha, kesal. "Aku akan membiarkanmu hidup, tapi... Dengan kehidupan sengsara!" ucapnya, penuh penekanan di kata terakhir.
"Maksud lo, apa hah?!" maki Alex, sambil berteriak. Namun, telepon itu telah mati duluan.
Alex yang berteriak pun ditendang oleh Arkana, tepat pada wajahnya, hingga mengeluarkan darah. Tak berselang lama, sebuah telepon masuk di handphone Alex. Arkana mengambilnya dan menerima panggilan itu. Dia menyuruh mereka diam dan membungkam mulut lawan, yang mengeluarkan suara. Dia hidupkan spekernya dan berikan ke Alex.
"Alex! Apa yang udah kamu lakuin?! Semua komputer dan laptop di perusahaan rusak! Semua file penting Ayah, juga hilang! Para Klien Ayah, juga tiba-tiba memutuskan kerja sama! Para pesaham juga mundur!" omel Ayah Alex, marah dan kesal.
"A-Ayah, serius?" tanya Alex, terkejut.
"Hentikan semua hal konyol yang kamu dan teman-teman kamu lakukan sekarang! Atau Ayah kirim kamu ke desa malam ini juga!"
"Tapi Yah, Alex lag---"
"Diam! Turuti saja perintah Ayah sekarang! Kirim juga lokasimu, kita harus bicara! Kalau kamu kabur, jangan harap bisa bertemu kami kembali suatu hari nanti!" ancam Ayah dan menutup telepon.
Alpha atau Aizha :
{Pergilah, tugas kalian telah selesai}
Arkana yang menerima pesan itu, langsung pergi bersama anggotanya. Alex tampak begitu terkejut. Para korban yang dihabisi anggota Arkana, terlihat babak belur, hingga tak bisa bergerak. Alex yang kelihatan, kacau dan sama babak belurnya, langsung pergi dari markas. Dia meninggalkan para anggotanya, dengan jalan pincang dan menahan rasa sakit yang menusuk.
...<\=>...
Terlihat di Rumah Sakit, Innara sedang diomeli oleh sang Dokter wanita. Dia tampak begitu risau, marah dan menangis. Innara, hanya menundukkan kepala, meminta maaf.
"Innara, Tante udah janji, bakalan rahasiain ini dari Ayah dan Ibumu sendiri. Tapi, jika suatu hari ada apa-apa, siapa yang bakalan kena masalah? Kamu mau buat, Tante sama Ibumu bertengkar?!" omel Dokter itu yang merupakan Adik dari Ibunya Innara.
Innara kembali meminta maaf. Dokter itupun, mendesah. "Jangan mencoba kabur lagi!" peringatan dari sang Tante.
"Iya," sahut Innara dan Tantenya pun pamit pergi, karena ada Pasien lain, yang harus dia urus.
Seorang laki-laki masuk ke dalam kamar Innara. Dia adalah Akhsan, Anak Pramuka dan juga anggota Arkana. Dia lah yang membawa Innara ke Rumah Sakit ini.
"Dia Tante mu?" tanya Akhsan dan diangguki oleh Innara. "Ohh."
Innara pun berterima kasih pada Akhsan, karena telah membawanya ke Rumah Sakit, tepat waktu. Akhsan menjawab Innara, dengan santai tanpa rasa repot sedikit pun. Kondisi ruang itu, seketika sunyi.
Akhsan tampak mengetuk-ngetukan sepatunya ke lantai, gabut. Dia pun bertanya, "Tante lo tau, soal ini?"
"Ini apa?" tanya Innara tak paham.
"Lo yang dilecehin Alex," jelas Akhsan, tanpa malu sedikitpun.
Innara diam sejenak dan menjawab, "Gue nggak tau."
Akhsan hanya mengangguk-anggukan kepala, mengerti. Dia pun meminta Innara, untuk segera beristirahat. Arkana yang telah berada di markasnya, nampak berteleponan dengan seseorang. Akhsan itu adalah Alpha, alias Aizha.
"Waw, apa anda sudah mempersiapkannya sejak lama? Bagaimana bisa, anda merusak laptop dan handphone, di dua tempat yang berbeda, dengan jarak jauh?" tanya Arkana kagum, tak percaya.
Aizha yang sedang berada di mobil, tersenyum senang. "Apa ada masalah? Bukankah ini hal sepele?" sombong.
"Tidak, hanya kagum saja. Jujur saja, saya senang bisa bekerja sama, dengan anada. Cara main anda menakjubkan," puji Arkana.
"Aku baru saja mulai dan pertama kalinya ini. Setelah beberapa kali coba, kau akan semakin takjub!"
"Anda tidak sedang bercandakan?"
"Buat apa, aku bercanda?"
"Oke, uangnya udah aku transfer dan tolong, diterima ya!"
"Apa? Tapi kan, saya nghak pernah kasih nomor rekesning saya?"
"File yang dikasih keamanan kuat saja, bisa aku bobol. Apalagi, buat cari tau nomor rekening orang. Itu mah, gampang bingits! Kau mau ganti Bank pun, aku akan tau! Jadi, jangan coba-coba!"
Arkana benar-benar takjub, dengan Alpha. Dia pun berterima kasih, karena kebaikan Alpha. Aizha menutup telepon itu. Dia tampak begitu senang, hingga lupa dengan hidungnya yang berdarah.
...[Aku jadi khawatir, karena kondisi tubuhmu mulai menurun]...
"Nggak papa, kalaupun aku pingsan. Ada Bibik sama Penjaga yang siap dua puluh empat jam!" jawab Aizha, melalui batinnya.
...[Aku memang yang menyuruhmu. Tapi, kau ternyata, tidak sepenuhnya menurut. Jika kau celaka, aku akan merasa bersalah]...
"Apa kau dikendalikan oleh manusia?" tanya Aizha, dalam batin.
...[Tidak, ini sihir]...
"Kalau gitu, diamlah!" suruh Aizha dan menyenderkan tubuhnya. Dia sudah sangat pusing dan tubuhnya terasa tidak enak. Ada hal aneh, pada tubuhnya yang sulit dikatakan.
...<\=>...
Cantika dan Bunga, nampak sibuk mendekor ruang tamu Aizha. Dekorasi yang elegan dan simpel. Para Asisten Rumah Tangga, juga membantu mereka berdua.
"Nanti confettinya, biar aku aja. Cantika sama Mbk-mbknya, tiup terompet. Bibik pegang kue. Pak Sopir sama Pak Satpam, cukup antar Aizha, tanpa ketahuan," ucap Bunga membagi peran masing-masing.
"Tapi... Ini udah hampir dini hari. Apa Mbk Aizha, baik-baik aja? Nggak biasanya, Mbk Aizha pulang semalem ini," cemas Asisten Rumah Tangga Aizha, yang masih terlihat sedikit muda.
"Bibik tadi, udah tanya sama Pak Asep. Sopir yang biasa, antar jemput Mbk Aizha. Dia bilang, ini udah otw ke rumah," sahut Bibik, berusaha menenangkan rekan kerjanya.
Mbk ART itu pun, merasa sedikit lega. Tetapi, Mbk ART satunya, masih belum bisa lega, mengingat kondisi Aizha yang sering kali mimisan. Bunga dan Cantika saling melirik. Mereka tampak bertanya-tanya.
"Kan Bibik udah bilang, jangan berpikiran negatif! Bibik yakin, Mbk Aizha itu cuman kecapekan, karena dia udah kelas tiga!" omel Bibik, tidak suka.
"Tapi Bik, Mbk Aizha itu, udah berulang kali mimisan dan pingsan. Kita juga nggak kasih tau, hal ini ke Bapak sama Ibu," ucap Mbk ART, khawatir dan takut.
"Diam! Memangnya kamu mau tanggung jawab, kalau Mbk Aizha sampai bunuh diri, karena kita kasih tau mereka?!"
"Tapi Bik, apa yang dia bilang bener. Kita seharusnya, lapor hal ini ke Bapak sama Ibu. Bagaimanapun, mereka adalah orang tua Mbk Aizha," ujar Mbk ART satunya.
"Kita pasti kasih tau mereka! Tapi, enggak sekarang!" kata Bibik tegas dan kedua Mbk ART itu pun menyerah.
Bunga dan Cantika, hanya diam saja. "Lebih baik, kita jangan bertengkar kayak gini. Kalau Aizha tiba-tiba muncul dan mendengar hal ini bagaimana?" tanya Bunga.
"Maaf, Non Bunga," ucap mereka bertiga dan diangguki oleh Bunga.
"Oke, sekarang kita tunggu Aizha-nya. Pak Satpam sama Pak Sopir ke depan aja, sesuai rencana tadi!" ucap Cantika dan disetujui oleh mereka semua.
Pak Sopir dan Pak Satpam pun pergi, ke area halaman. Sedangkan para kaum wanita, tengah menunggu di dalam, sambil berbincang-bincang. Beberapa menit kemudian, Gerbang besar itu terbuka. Sebuah mobil masuk ke dalam dan berhenti di depan rumah. Aizha yang baru saja keluar, langsung disambut oleh Pak Satpam.
"Ya ampun, Mbk. Kok wajahnya pucet banget?" tanya Pak Satpam, terkejut dan juga khawatir.
Pak Asep yang baru saja keluar dari mobil, langsung menghampiri Aizha. "Kan Bapak udah bilang, kita langsung ke Rumah Sakit aja! Kalau nanti, Mbk Aizha ada apa-apa gimana?"
"Aku nggak papa, Pak Asep. Bapak nggak perlu khawatir," ucap Aizha, sembari tersenyum.
Pak Sopir yang satunya, berlari mendekati Aizha. "Astaga, Mbk Aizha mimisan lagi? Saya baru aja dihubungi Rumah Sakit, katanya Mbk Aizha belum di-ijinin pulang. Itu artinya, Mbk Aizha kabur kan?"
"Maaf Pak, aku nggak suka di sana, apalagi sendirian doang. Jadinya, aku pergi keluar deh, main sama teman," tipu Aizha, dengan pura-pura merasa bersalah dan murung.
Pak Sopir pun, memaafkan Aizha. Dia membawa Aizha, untuk masuk ke dalam rumah, seperti yang direncanakan. Ketika pintu itu terbuka, sebuah suara yang mengejutkan, terdengar. Hujan kertas berkelap-kelip itu juga, menghujani Aizha.
"Happy Brithday Aizha!"
"Selamat ulang tahun, Mbk Aizha!"
Ucap mereka bersamaan. Tetapi, Aizha yang telah kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan. Bunga dan Cantika, tampak begitu terkejut. Mereka semua kaget, melihat Aizha pingsan. Aizha pun dibawa pergi ke Rumah Sakit. Dua buah mobil, keluar dari Rumah Megah itu, menuju Rumah Sakit.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Terima kasih, karena telah membaca novel ini. Aku harap, kalian selalu dijauhkan dari pembullyan atau hal yang diterima Innara ya, Guys. Jangan sampai, kita menjadi korban seperti Innara ataupun Aizha. Kasus Bunga dan Cantika, sepertinya banyak orang terima. Tapi, aku juga berharap, kalian dijauhkan dari yang namanya penghinaan dan pembullyan.
Percaya deh, kita ini tidak serendah, selemah dan seburuk itu. Suatu hari nanti, aku percaya. Kita akan memiliki sisi yang dikagumi atau dibanggakan orang lain. Rasa senang dan bangga, karena telah mengenal kita.
Jangan pernah menyerah pada hidup ini! Jangan lakukan bunuh diri! Lihat orang di bawah kita! Banyak dari mereka yang lebih menderita, terluka dan sengsara. Jangan lihat ke atas, yang hanya membuat kita bersedih, iri dengki, apalagi membenci diri sendiri.
Oke deh, sampai sini dulu ya. Bab selanjutnya ditunggu besok, oke! Berikan like, komen, vote dan hadiahmu pada Alpha Female. See you💕