
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
"Kalau begitu, manfaatin aja putri mereka yang murah hati," ucap Oma, membuat Aizha tersentak.
"Caranya?" tanya Ayah dan Ibu Layli.
"Tinggal bilang aja, kalau Mamah bakalan coret nama keluarganya, mudah bukan," celetuk Oma, membuat Ayah Layli, senang dan bangga.
"Lohhh, bukannya Mamah memang udah rencanain hal itu ya? Supaya hak warisnya, jatuh ke tangan kami semua?" ucap Ibu Layli, masih belum paham.
"Mangkanya, Mamah ancam si Aizha, dengan itu. Mau Aizha sama Diego, berhasil nikah berkat perjodohan Mamah. Hak waris, bakalan tetep Mamah kasih ke kalian. Soalmya, Ayah mereka udah dicoret sejak awal," celetuk Oma, dengan santai dan bangganya.
"Kalau mereka marah gimana?" tanya Ibu Layli.
"Orang tua sama anak itu, enggak ada bedanya! Paling-paling, mereka lebih milih ngalah, kayak orang tuanya," ucap Oma, membuat air mata Aizha menetes.
"Bener juga, kelihatan dari kecilnya. Aizha sama Diego, emang mirip orang tuanya. Mereka terlalu murah hati. Si Diego agak tegas, tapi tetep aja, kayak Hasan, Ayahnya. Udah tau mau dilempar ke lumpur. Bukannya kabur, malah nyemplung duluan," ujar Ayah Layli, membuat mereka tertawa kecil.
"Tapi, dia sekarang udah bangkit dari atas lumpur dan mandi di sungai," komen Ibu Layli.
"Apa kamu nggak denger, ucapan Mamah barusan? Dia bakalan masuk ke lumpur lagi, tapi enggak sendirian, ditemani anak sama Istrinya. Buat apa mandi di sungai, kalau akhirnya nyemplung lagi ke lumpur?" ujar Ayah Layli, membuat Oma tersenyum.
"Kan dia nggak tau, kalau bakalan masuk lumpur lagi," ucap polos, Ibu Layli.
"Hadehhh," Oma tampak jengah.
"Ya mangkanya, jadi orang jangan setengah-setengah! Jangan juga, jadi orang yang terlalu baik dan polos!" ujar Ayah Layli.
"Kenapa?"
"Karena, apapun yang dia lakukan, pada akhirnya sia-sia! Jadi, didik anak kita, dengan keras! Jangan sampai, mereka tumbuh seperti Aizha dan Diego! Kamu nggak mau kan, anakmu dipermainkan oleh orang lain dan dilempar ke lumpur?" tanya Ayah Layli dan Istrinya pun menggelengkan kepala
Aizha pun yang sudah tampak kesal, terpaksa menghentikan waktu. Dia pergi ke ruang kerja, untuk mengambil beberapa dokumen dan menyabotase laptop yang ada di sana. Namun, suatu hal tak terduga, membuatnya tersenyum lebar.
"Maaf Ayah, sepertinya aku akan menjadi anak durhaka," ucap Aizha, dia pun mengirimkan beberapa foto dan file ke handphonenya. Dia juga, mengambil beberapa dokumen dan pergi.
...<\=>...
Malam harinya, Aizha tengah bercengkrama, dengan Vivi di ruang televisi. Terlihat, Vivi yang bingung, karena berada di rumah ini. Dia bertanya-tanya, apa tujuannya kemari. Aizha yang tersenyum pun, berusaha untuk berbohong dan mengarang sebuah cerita. Mamah Vivi, dengan polosnya percaya dan menganggukkan kepala, paham. Bibik yang berada di sana juga, hanya tersenyum kecil.
"Kayaknya, aku harus benar-benar berpihak pada Mbk Aizha. Jangan sampai, Mbk Aizha bikin aku hilang ingatan seperti Ibu Vivi. Tapi, gimana caranya, kalau Mbk Aizha, secara tiba-tiba ngerasa nggak nyaman sama aku lagi?" batin Bibik khawatir dan sedikit takut.
Aizha yang amat dia sayangi, seperti anak kandungnya sendiri, telah berubah. Gadis kecil yang imut itu dulu, pasti akan menangis, jika keluarganya terluka sedikit. Tetapi, sekarang telah menjadi remaja yang tangguh dan berani. Bibik menjadi takut, jika Aizha benar-benar berubah, menjadi orang yang tak dikenalnya.
"Mending nonton berita aja deh. Penasaran juga, gimana kondisi negara ini sekarang," ucap Vivi, sambil mencari channel berita.
Mata Vivi membulat, ketika rumah Oma, muncul di kayar televisi tersebut. Mamah Vivi yang tak percaya pun, mendekat. "Aaa-apa ini?!" tanyanya terkejut.
"Ya ampun, kenapa Om di tangkep Polisi, Mah? Rumah Oma juga, dikerubungi banyak Polisi!" ucap Aizha khawatir dan panik.
"Jangan-jangan... Ini ulah Mbk Aizha," batin Bibik khawatir. Dia pun pergi ke dapur.
Bibik yang merasa sedikit pusing, langsung mengambil segelas air putih. Dia meneguknya, dengan sangat agresif. Aizha yang tiba-tiba memeluk Bibik dari belakang, membuatnya sangat terkejut dan takut.
"Bibik kenapa?" tanya Aizha, dengan raut wajah risau.
Bibik tersenyum lembut dan menggelengkan kepala, sedikit. "Saya enggak papa kok, Mbk Aizha. Cuman, pusing sedikit."
Aizha pun tersenyum kecil dan menangkup kedua tangan Bibik. Dia menatap Bibik, dengan sangat intens. "Bibik... Bibik sayangkan sama aku?" tanya Aizha dan diangguki oleh Bibik, mengiyakan. "Kalau gitu, Bibik harus tutup mulut serapat-rapatnya, karena... Kalau Bibik buka suara pun, bakalan sia-sia dan tidak akan, mendapatkan maafku. Bibik juga, mulai sekarang nggak boleh masuk ke kamarku! Bibik paham?"
Bibik menganggukkan kepala. Aizha pun tersenyum lebar dan mencium tangan Bibik. Sebelum pergi, Aizha juga berkata, jika dirinya sangat menyayangi Bibik.
Bibik tampak begitu lemas dan terjatuh ke lantai, sambil menahan tangis. Mamah Vivi dan Aizha pun, pergi ke rumah Oma. Setibanya di rumah itu, Oma, Layli dan Ibunya, tampak begitu sedih serta sedikit kacau. Masih ada banyak Polisi yang menggeledah rumah itu.
Mamah Vivi pergi mendekat dan mempertanyakan, alasan Ayah Layli di tangkap oleh Polisi. Oma pun meraih kedua tangan Vivi dan memohon, untuk meminta Hasan kembali pulang, menolong Kakaknya. Aizha yang berada di sebelah Vivi, tampak sedikit jengah.
Ibu Layli yang sedang hamil, langsung berlutut di depan Vivi. Dia memohon pada Vivi, untuk mengeluarkan Suaminya dari penjara. Dia juga memberitau, kalau Suaminya telah mengonsumsi narkoba dan melakukan kegiatan ilegal yang sangat merugikan negara.
"Apa?!" Vivi tampak terkejut. Dia juga merasa kasihan pada keluarga Suaminya itu.
Aizha pun meraih, sebelah bahu Mamah Vivi dan berkata, "Jangan suruh Ayah, untuk bantu Om, Mah!" ucapannya itu, membuat Oma, Layli dan Ibunya terkejut.
"Apa-apaan lo! Lo kalau ada masalah gue, bilang!" ujar Layli, dengan nada emosi dan sedikit serak, karena habis menangis.
"Sayang, kamu ngomong apa sih?! Kenapa kamu punya pikiran sejelek itu?!" tanya Mamah Vivi, kesal.
"Mahhh! Ayah dan Mamah udah berjuang keras di negara orang! Aku cuman nggak mau, hiks hiks hiks," Aizha mulai menangis, membuat Mamah Vivi merasa bersalah. "Kalian tinggal di sana lebih lama lagi! Masalah Om udah berat banget dan terlalu kacau! Apa Mamah tega, Ayah kembali ke nol, hanya kerena ini? Mereka juga bisa curiga sama Ayah!"
"Tapi..." Mamah Vivi ragu.
"Enggak ada tapi, Mah! Ayah udah sukses, bikin usaha di luar negeri! Mereka bisa mikir yang enggak-enggak karena kasus Om! Aku nggak bakalan terima, kalau Mamah dan Ayah bantu Om! Ayah juga, bukan lagi bagian dari keluarga ini! Ayah nggak perlu bantu masalah Om, titik!" tegas Aizha, sambil berteriak di kata terakhirnya.
Mamah Vivi tersentak. Oma pun menampar wajah Aizha, hingga terjatuh. Mamah Vivi benar-benar terkejut dan langsung memeluk sang Anak.
"Mamah!" bentak Vivi, marah dan sedih.
"Emang dasar, anak kampungan! Apa kamu nggak kasih didikan tata krama sama dia, hah?! Bisa-bisanya, dia mengatakan hal sekasar dan seburuk itu, dalam kondisi seperti ini! Dimana hati nuraninya, hah?!" omel Oma, menghina Mamah Vivi dan Aizha.
"Jangan pernah, rendahin anak saya, ya Mah?!" bentak Mamah Vivi, penuh amarah.
"Mahhh!" panggil Aizha, lemah. Mamah Vivi terkejut, melihat hidung Aizha mengeluarkan darah.
"Aizha, hiii-hidung ka-mu!" ucap Mamah Vivi terkejut dan Aizha pun jatuh pingsan. "Aizhaaa!" teriaknya.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...