Alpha Female

Alpha Female
Bab 50



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


"Aku nggak salahkan, kalau bilang kamu itu, sistem yang kurang ajar?" ucap Innara, menahan emosi. Nada suaranya juga, sedikit parau.


...[Negara tidak akan merdeka, tanpa sebuah pengorbanan]...


...[Dunia ini dibentuk, karena suatu tujuan]...


...[Kehidupan kita, adalah perlombaan]...


...[Tidak ada yang namanya kebahagian abadi. Semua pasti pernah terluka, bersedih dan merasa putus asa]...


...[Apa aku salah, jika melakukan hal ini?]...


...[Semua tidak ada yang percuma, Innara]...


...[Semuanya memiliki data dan perhitungan, di setiap langkah atau gerakan]...


Innara menggigit bawah bibirnya. Hologram itu, seketika menghilang. Dia pun kembali menangis, dengan membungkungi Aizha.


...<\=>...


Malam harinya, Cantika, Bunga dan Innara, tengah mengerjakan tugas Sekolah. Innara mendapatkan pesan, dari sang Ketua Kelas, untuk informasi tugas hari ini. Meskipun Innara ijin, dia tetap harus mengerjakan tugas dan mengumpulkannya besok, setelah masuk.


Cantika melihat ke arah jam dinding dan bertanya, pada Innara, "Ra, udah jam sembilan. Kenapa Aizha, masih belum bangun-bangun juga?" tanyanya, risau.


Innara hanya menaikkan kedua bahunya, sembari merapikan buku-buku. Dia telah selesai mengerjakan dan pergi ke tempat Aizha berada. Cantika dan Bunga pun menyusul, setelah merapikan buku mereka.


Cantika, Innara dan Bunga, tampak begitu sedih, melihat kondisi Aizha. Tanpa disadari, jari Aizha bergerak dan disusul, oleh kedua matanya yang terbuka. Mereka bertiga tampak terkejut dan senang.


"Aizha!" panggil Cantika, Innara dan Bunga, ceria.


Aizha tersenyum kecil, menerima pelukan ketiga temannya. Innara, Cantika dan Bunga, tampak begitu terharu. Mereka juga mengungkapkan, rasa khawatirnya. Jika, Aizha tak segera bangun.


Aizha tampak meminta maaf, karena telah membuat mereka bertiga khawatir. Dia juga meminta maaf kembali, karena udah membunuh Farel. Bunga tampak menggelengkan kepala, tidak apa-apa. Baginya, tindakan Farel telah sangat merugikan banyak orang, meskipun bukan narkoba.


"Udah...! Mending kita lanjut istirahat aja, oke?" saran Innara dan disetujui oleh Cantika serta Bunga.


Aizha tampak murung. Baru saja dia bangun, masa harus tidur lagi. Tetapi, dia terpaksa mengangguk, dengan berpura-pura memejamkan mata. Jika dia tetap terbangun, Cantika, Innara dan Bunga, bisa terganggu Sekolahnya.


...<\=>...


Pagi harinya, Innara sangat ingin membolos, untuk menjaga Aizha. Tetapi, Aizha melarangnya dengan sangat tegas. Supir Aizha juga telah datang, untuk menjemputnya. Innara pun, mau tidak mau, harus pergi ke Sekolah, bersama Bunga serta Cantika.


"Saya mimpi, Mbk Aizha dikerumunin banyak Murid di Sekolah, dengan suasana yang mengharukan," ucap Pak Supir, ketika di dalam mobil. Dia menghentikan mobil sejenak, karena lampu merah.


Pak Supir ikut tersenyum melihat Aizha dan kembali ke arah depan. "Aminnn, saya langsung berdoa pada Tuhan, untuk menjadikan mimpi itu, sebagai kenyataan. Saya selalu saja nggak enak dan merasa bersalah sama Bapak-Ibu, kalau sembunyiin kasus Mbk Aizha, yang jadi korban pembullyan."


Aizha tersenyum kecil, sembari menatap pemandangan di luar jendela. Mobil itu, kembali bergerak. Suasana di mobil pun, perlahan-lahan berubah, karena obrolan mereka.


"Saya sama yang lainnya, selalu berharap dan berdoa, untuk kebebasan serta kebahagian Mbk Aizha. Kami ikut terluka, kalau lihat pakaian Mbk Aizha berbeda dari sebelumnya. Apalagi, kalau udah ada luka, bekas goresan, rambut berantakan dan wajah..." ucap Pak Supir menggantung. Dia tak kuasa menahan tangisnya dan menyeka air mata yang jatuh.


Aizha yang berada di bangku sebelah Pak Supir, ikut meneteskan air mata. Mengingat memori dirinya yang selalu dibully dari SMP, membuat dia terpukul. Tetapi, Pak Supir tiba-tiba tersenyum.


"Sekarang kami sangat senang, melihat teman-teman Mbk Aizha, yang selalu datang ke rumah, sampai piknik bersama. Melihat Mbk Aizha bisa tertawa, kerja kelompok, belajar bareng, menginap dan bermain, membuat kami benar-benar bersyukur. Kami sampai berharap, hal ini akan terus terjadi dan berterima kasih pada Tuhan, karena akhirnya doa itu dikabulkan," ucap Pak Supir, membuat Aizha menangis.


"Bapak seneng banget ya, bikin saya nangis begini?!" protes Aizha, sedikit marah dan sedih.


Pak Supir tertawa kecil. "Saya hanya ingin mengatakannya saja. Bisa sajakan, saya dan Pekerja yang lain, mati lebih dulu, sebelum Mbk Aizha? Karena itu, sebelum salah satu dari kita, pergi terlebih dahulu. Saya akan membuat Mbk Aizha terharu, dengan kata-kata ini. Kalik aja, ada bonus untuk keluarga saya, setelah mati nanti," candanya, membuat Aizha tertawa kecil. "Lumayan, kalau Mbk Aizha, mau sumbangin mobil atau gelang."


"Hahahaaa, sepertinya aku harus beli banyak montor atau mobil, untuk kalian semua. Tapi... gimana caranya ya, supaya nggak ketahuan Ayah sama Mamah?" gumam Aizha, berpura-pura berpikir.


"Lewat saya saja, Mbk. Nyisil sebulan dua puluh juta ke saya," ucap Pak Supir. "Nanti saya investasikan!"


"Wahhh, pinter-pinter. Habis nilep anak Juragannya, terus kabur ke luar Negeri, lebih bagus lagi tuh, Pak!" sahut Aizha.


"Ide bagus tuh, Mbk. Coba, nanti saya rundingkan, dengan keluarga!" ujar Pak Supir, membuat Aizha dan dirinya tertawa.


Tiba di rumah megah Aizha. Para Penjaga dan Asisten Rumah Tangga pun muncul, menyambut Anak Juragan mereka. Senyum lebar dan sambutan hangat, langsung diberikan. Aizha tampak tersenyum senang dan memeluk sang Bibik, begitu erat.


Bibik telah menyiapkan banyak makanan, untuk menghibur Aizha. Hari ini, keluarga Ayah Hasan, telah pergi ke area desa yang jauh, dari kota ini. Mereka semua tau, bukan hanya Sekolah yang menyulitkan Aizha. Namun, ada juga keluarga Ayah Hasan, yang memperlakukan Aizha, layaknya boneka.


Aizha tampak senang, melihat kekesalan mereka, dengan sikap Oma pada keluarganya. Bukan tanpa alasan atau terlihat tidak tau diri. Mereka semua adalah saksi, atas perjuangan hidup Vivi dan Hasan, untuk mendapatkan pengakuan Oma. Bibik dan Pak Supir yang paling tua, dari Pekerja lainnya di sini, sudah seperti kedua orang tua Vivi serta Hasan. Mereka memutuskan ikut, dengan Hasan, untuk pergi keluar dari rumah megah Oma dan menjadi bawahannya, tanpa bayaran atau gaji kecil.


Melihat Bibik yang menyumpahi Oma, membuat Aizha tersenyum kecil. Dia tau, Bibik pasti sangat kesal dan benci, dengan Oma. Bibik juga, terlihat begitu senang, ketika Ayah Hasan mengumumkan. Jika keluarga ini, tak akan lagi berhubungan, dengan Kakak atau Ibunya. Aizha masih teringat, bagaimana Vivi langsung memeluk Bibik, dengan tersenyum haru. Ayah Hasan juga, merangkul Pak Supir, dengan senyum sendu, namun lebar. Rasa sedih dan senang, yang sulit diungkapkan.


Aizha pun mengajak para Pekerja yang lain, untuk makan bersama-sama. Mereka semua saling bercerita dan bercanda tawa, sembari makan. Aizha tampak begitu bahagia, hingga tersedak minuman. Apalagi, melihat lamaran mendadak, yang dilakukan oleh keempat orang Pekerja.


...<\=>...


Malam harinya, Sekolah yang sangat sepi, terlihat aktivitas seseorang di ruang Guru. Dia adalah Bu Hani. Namun, ada juga seseorang yang berjalan, dengan sangat santai di lorong, menuju ruang tersebut.


Bu Hani yang sedang sibuk menyimpan sesuatu di tasnya, tampak sangat terkejut melihat sosok itu. Namun, dia tiba-tiba marah, karena menyadari. Jika dia, bukan orang asing. Dia bertanya-tanya, tujuan orang itu di sini. Tetapi, orang itu hanya tersenyum. Bu Hani seketika teringat sesuatu dan menyadarinya. Dia tampak sangat terkejut. Orang itu langsung memojokan Bu Hani dan mengambil tas tersebut. Jendela ruang Guru, seketika pecah dan Bu Hani pun, terjatuh.


...×××××××××××××××××××××××××××××××...


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...