
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Arkana dan Dirgantara, nampak duduk melihat handphone, di dalam mobil. Mobil tersebut berada di depan komplek megah dan elit. Arkana pun menjalankan mobilnya, masuk ke dalam komplek tersebut. Tetapi, dalam pertengah jalan, maps itu hilang.
"Sialan, ngapa tuh titik hilang coba?!" protes Arkan, sambil memukul setir.
"Santai, gue masih inget," sahut Dirgantara dan dia pun mengarahkan Arkana, untuk membawa mobilnya, sesuai arahan.
Terlihat pagar rumah yang megah dan besar. Arkana dan Dirgantara pun keluar dari mobil, melihat-lihat rumah tersebut. Arkana pun, hendak pergi menuju layar kecil di tembok. Tetapi, Dirgantara menghentikannya dan membawa Arkana, untuk kembali masuk ke dalam mobil.
"Mending kita sebunyi di depan gerbang yang itu!" tunjuk Dirgantara, pada gerbang di rumah lain.
"Lahhh, ngapain?! Lo takut hah?!" tanya Arkana, membuat Dirgantara jengkel.
"Ikutin gue aja, ngapa!" cetus Dirgantara, membuat Arkana menaikkan salah satu alisnya.
Arkana pun membawa mobil itu, sesuai permintaan Dirgantara. Nampak, Dirgantara langsung membalikkan badan, menghadap ke belakang mobil, dengan ekspresi serius. Arkana pun ikut melihatnya dan terlihat, sebuah mobil serta plat nomor yang tak asing baginya.
"Kita ikutin mereka!" suruh Dirgantara, kembali ke posisi semula.
Arkana pun membalikkan mobil dan mengikuti. Dia tampak menyangga kepalanya, sambil mengingat mobil itu. Sedangkan Dirgantara, nampak fokus mengamati mobil di depan.
"Nggak mungkin kan, kalau si Alpha itu Aizha?" gumam Arkana, setelah mengingat mobil tersebut. Dia teringat, ketika satu Sekolah heboh, melihat mobil Aizha itu.
"Hah?" Dirgantara yang mendengarnya, tersentak. "Lo tau, pemilik mobilnya?"
"Lo nggak inget? Aizha selalu pakai tuh mobil ke Sekolah?" tanya Arkana, membuat Dirgantara menekuk kening.
"Bukannya Bunga?" ujar Dirgantara, membuat Arkana terdiam.
Arkana memperhatikan mobil di depannya, semakin melaju dengan sangat cepat. Arkana tampak terkejut dan langsung memegangi setir, dengan dua tangan. Dia pun meningkatkan kecepatan mobilnya, untuk mengejar mobil Aizha.
Pada lain sisi, Aizha dan Cantika, tampak begitu resah, melihat Arkana yang masih bisa mengejar. Bunga yang mengemudi pun, sesekali lihat spion dan kaca tengah. Dia benar-benar ahlinya, dalam soal mengebut.
"Gue yakin, mereka pasti udah nemuin titik lokasi Alpha. Mangkanya, mereka ngejar kita!" ujar Innara, sambil melihat spion. "Cantika, lo yakin kan, kalau itu mobil Dirgantara?" tanyanya, memastikan.
"Iya, gue yakin banget! Soalnya, dia pernah bawa gue ke Rumah Sakit, pakai tuh mobil. Platnya juga sama!" sahut Cantika.
"Guys, kayaknya kita nggak bakalan bisa kabur dari dia! Kalau gini terus, kita nggak bakalan bisa, cek kondisi Pak Kepala Sekolah!" kata Bunga, membuat Aizha berpikir sejenak.
"Mau nggak mau, kayaknya kita harus celakai mereka," ucap Aizha, membuat Bunga dan Cantika terkejut.
"Apa?!"
"Kamu yakin, Zha?" tanya Bunga.
"Enggak ada cara lain apa?" tanya Cantika.
Aizha menggelengkan kepala. "Enggak ada, kita harus celakai mereka. Aku juga, bakalan ambil memori mereka, sedikit."
"Itu ide yang bagus. Kita berharap aja, semoga yang ada di dalam mobil itu, Arkana sama Dirgantara. Jadi, kalau Farel dan Akhsan doang yang tau, masalah ini nggak akan terlalu besar," komen Innara. Cantika dan Bunga pun, menyetujui ide itu.
Arkana dan Dirgantara, masih fokus mengamati mobil Aizha. Tanpa mereka sadari. Mereka telah berada di tengah-tengah hutan. Mobil Aizha yang tiba-tiba semakin kencang dan menghilang, membuat Arkana serta Dirgantara bingung. Namun, dari samping sebuah lampu, seketika menyoroti mobil mereka. Mata mereka membulat, ketika mobil mereka telah tertabrak dan terbalik.
Aizha pun memanipulasi waktu di sekitaran mereka berempat dan jalan, mendekati Arkana serta Dirgantara. "Aku bunuh orang?" gumam Bunga, merasa resah.
Cantika dan Innara, berusaha mengeluarkan Arkana serta Dirgantara, dari dalam mobil. Aizha pun, memegang puncak kepala Arkana dan Dirgantara, untuk mengambil memori mereka, beberapa jam yang lalu.
"Tapi, kalau dibiarin kayak begini, bakalan kelihat aneh!" ujar Cantika, membuat mereka mendesah.
"Jangan sampai keluar api, kalau bisa cuman asep aja. Kira-kira, lo bisa nggak Zha?" tanya Innara, membuat Aizha berpikir sejenak.
"Aku coba dulu deh, kalian kembaliin mereka aja seperti semula. Bunga! Kamu siap-siap panggil Ambulan oke?!" pinta Aizha dan diangguki oleh mereka bertiga.
Cantika dan Innara pun, mengembalikan Arkana serta Dirgantara ketempat semula, secara hati-hati. Sedangkan Aizha, menggunakan item cerdasnya, untuk memperbaiki mobil sedikit, supaya tidak meledak ataupun keluar asap. Selesai dengan urusan mereka, manipulasi waktu pun dihentikan. Bunga menelpon Rumah Sakit dan mereka berempat pergi.
...<\=>...
Waktu telah menunjukkan, jika hari sudah sangat malam. Cantika, Bunga, Innara dan Aizha, telah masuk ke dalam area Sekolah, secara diam-diam. Ruang Kepala Sekolah yang begitu gelap, tampak lebih menakutkan, ketika lampu menyala. Tiga orang tergantung, dengan darah yang bercipratan dimana-mana.
"Astaga!" ucap Bunga, terkejut. Dia menutup mulut dan hidung, tak sanggup mencium aroma darah yang menyengat.
Cantika sendiri, sudah gemetaran sampai-sampai, kakinya terasa begitu lemas. Aizha dan Innara, hanya menatap jasad tersebut, dengan yang sulit diartikan. Tak berselang lama, sirene polisi terdengar.
"Mampus, ketangkep dah kita," celetuk Cantika, mendengar sirene itu.
"Kita pergi sekarang!" ujar Aizha dan mereka pun pergi dari ruang tersebut, sesegera mungkin.
Tiba di halaman belakang Sekolah, Aizha, Innara, Cantika dan Bunga, baru saja teringat. Jika mobil mereka, telah mereka bakar, sebelum ke Sekolah. Mereka tampak kebingungan. Aizha pun menggunakan kekuatan manipulasi waktunya, untuk menghentikan semua aktifitas, kecuali mereka berempat. Namun, metika mereka pergi dari lokasi. Bunga menemukan jam tangan. Dia simpan barang itu ke kantong dan pergi menyusul teman-temannya.
...<\=>...
Hari yang sangat melelahkan, untuk Alpha dan Aples. Terlihat, Aizha, Innara, Cantika dan Bunga, yang lemas serta tak berdaya di sebuah kamar yang sama. Sedangkan Farel dan Akhsan, tampak begitu kesal, melihat kedua temannya yang lupa ingatan.
"Lo beneran lupa, kejadian semalem?" tanya Akhsan pada Dirgantara. Pertanyaannya pun, hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Dirgantara, tanpa ekspresi.
"Lo bisa beliin gue permen? Gue tadi lupa pesen sama Bunda, soalnya," celetuk Dirgantara, membuat Akhsan tak percaya dan menatap, dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Arkana yang berada di lain tempat, berkata, "Gue cuman inget, kalau hari ini kamis."
"Sialan, hari ini jumat!" umpat Farel, pada Arkana.
"Jumat? Lo bilang, gue pingsan setengah hari doang!" ucap Arkana, emosi.
"Emang! Tapi, kemarin tuh kamis, Ar! Bukan rabu!" jelas Farel, lelah.
Arkana hanya diam dan menarik selimutnya. "Gue capek, pingin tidur. Lo mending balik ke Sekolah aja!"
Farel tampak tak percaya, dengan tingkah Arkana. "Ya! Sekolah lagi genting, lo pada malah enak-enak dimari hah?!"
Arkana pun membuka selimutnya. Dia menarik kepala Farel, untuk mendekat ke kakinya yang diperban. "Mata lo sehat?!"
Farel yang baru menyadarinya, tampak lebih kesal. Dia mengacak-acak rambutnya dan pergi. Arkana, dengan santainya, mengucapkan selamat tinggal dan kembali tidur. Akhsan yang baru saja keluar, dari kamar Dirgantara, tampak begitu lelah. Mereka berdua, terduduk di atas lantai, bagaikan pengemis yang tampan.
"Gue nggak sanggup ke Pemakaman, San. Capek banget, ngerasain Arkana yang pikun. Bukan cuman otaknya yang bermasalah, tapi tingkahnya juga!" ucap Farel, yang masih terduduk di depan pintu kamar Arkana.
"Tara juga sama aja, Rel," celetuk Akhsan dan diakhiri, dengan mendesah.
...×××××××××××××××××××××××××××××××...
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...