
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Bunga kini, tiba di halaman rumah Aizha. Dia langsung masuk, setelah dibukakan pintu oleh Bibik. Matanya yang bertemu, dengan sesosok Aizha, langsung berlari menghampirinya.
"Aizha!" panggil Bunga, dengan cukup kencang.
Aizha yang hendak naik ke atas tangga, kembali turun, dengan raut wajah resah. Bunga menatap Aizha, kesal. "Zha! Jujur sama aku! Kamu beneran bunuh, si Farel?" tanya Bunga, dengan mata sedikit berkaca-kaca dan emosi.
Aizha hanya menundukkan kepala, terdiam. Bibik yang melihatnya, meminta Bunga untuk tenang. Dia akan menyiapkan minuman sebentar dan menyuruh mereka berdua, untuk tetap tenang. Bunga menatap Aizha, penuh rasa kecewa. Pada waktu yang bersamaan, Arkana, Dirgantara dan Akhsan yang baru saja sadar, menatap Farel, dengan ekspresi penuh tanya.
"Bentar! Gimana ceritanya lo bisa selamat dari kebakaran itu?" tanya Akhsan, sangat penasaran.
"Gue enggak tau pastinya. Tapi, waktu gue sadar. Gue udah ada di salah rumah bareng Aizha," ungkap Farel, membuat mereka bertiga terkejut.
"Apa?!" ucap Akhsan terkejut.
"Aizha?!" Arkana dan Dirgantara tampak begitu terkejut, bersamaan dengan Akhsan.
Farel menganggukkan kepala lemah dan kembali berkata, "Ada hal yang lebih ngagetin lagi!"
"Apa?" tanya Akhsan dan Arkana, penasaran. Dirgantara hanya mendekat, saking keponya.
"Aizha ngoles roti pakai darah gue," ucap Farel, membuat Arkana benar-benar syok. Dirgantara dan Akhsan, tampak mengernyitkan kening.
Dirgantara dan Akhsan, malah menggoda Farel. Mereka berdua tidak percaya, dengan ucapan sang Sahabat. Farel yang terlihat kesal, mulai menceritakan kejadian malam itu ke mereka bertiga.
Malam, setelah Aizha membakar gedung. Farel terkejut, karena salah seorang temannya, menusuk lengan dia, ketika api mulai menyebar. Detik-detik, dia hendak pingsan. Seseorang berhasil membopongnya, untuk keluar dari gedung itu. Farel yang akhirnya membuka mata, tampak begitu terkejut, melihat Aizha. Hal yang lebih mengejutkan lagi. Roti yang baru saja di usapkan ke lengannya yang berdarah, dilahap oleh Aizha, dengan begitu rakus.
"Belum selesai sampai situ doang. Aizha juga tekan lengan gue, supaya darahnya keluar dan dioles ke rotinya lagi," ucap Farel, dengan tubuh yang sedikit gemetaran.
Dirgantara dan Akhsan, meminta maaf pada Farel. Mereka berdua, masih belum bisa mempercayainya. Farel pun menunjukkan lengannya dan memperagakan, cara Aizha mengoleskan roti, dengan darahnya. Sedangkan Arkana, hanya terdiam. Dia teringat, saat Aizha hendak menggigit leher satu minggu yang lalu.
Pada lain tempat, Aizha juga telah memberitau Bunga, tetang dirinya yang menghisap darah Farel. Bunga tampak begitu syok. Sedangkan Aizha, memilih untuk memalingkan wajahnya. Dia merasa bersalah, pada Bunga. Dia tak sanggup, melihat wajah Bunga yang sedih.
"Bunga! Aizha!" panggil Cantika, secara tiba-tiba di kamar Aizha. Innara juga datang bersamanya.
Cantika yang terkejut melihat Bunga menangis, langsung pergi memeluknya. Bunga tampak hanyut dalam pelukan Cantika, hingga sesenggukan. Innara pun menatap Aizha, kesal.
"Lo kenapa lagi sih, Zha?! Kenapa lo beg---" omel Innara terpotong.
"Aaa-Aizha, hi-hisep daaa-rah Farel, In!" potong Bunga, sambil sesenggukan.
"Hiks, aku minta maaf! Itu bukan kendaliku!" ucap Aizha, sambil menangis tersedu-sedu.
Innara jatuh terduduk. Cantika yang mendengarnya, langsung mematung. Mereka berdua sangat syok, mendengar hal itu.
"Aaa-apa lo, jadi vampir?" ucap Innara, gemetar ketakutan dan mengharapkan, gelengan kepala dari Aizha.
"Aku nggak tau. Aku sangat ingin, menghisap darahnya. Aku juga... Hamoir gigit Arkana," ucap Aizha, langsung membuat Innara Cantika dan Bunga terkejut.
"Hah?!"
"What?!"
"Arkana?!"
"Lo bercandakan?" tanya Innara dan dijawab tidak oleh Aizha, dengan menggelengkan kepala.
"Kenapa lo, jadi kayak gini, Zha?!" seru Cantika, sembari meraih kedua bahu Aizha.
Bunga tampak sedikit ketakutan. "Apa mungkin, kamu bakalan gigit atau hisap darah kita bertiga, suatu hari nanti?" tanyanya, dengan hati-hati dan risau.
Aizha menundukkan kepala. "Aku nggak tau."
Innara langsung memijap keningnya, dengan air mata yang menetes. Cantika tampa diam, merenung. Sedangkan Bunga, tampak menahan tangis, dengan menutup mulutnya.
<\=>
Pagi harinya, tepat pada hari libur. Arkana, Dirgantara, Akhsan dan Farel, tengah dalam perjalan, menuju rumah Farel. Melihat kehebohan orang tua Farel, melihat sang Anak yang masih hidup, membuat Arkana sedikit kewalahan. Arkana memutuskan, untuk melangkah lebih depan, menjelaskan keluarga Farel.
Arkana tampak sedikit sedih, karena membohongi banyak orang. Dia juga, harus menyewa seseorang, untuk berperan sebagai Penyelamat Farel. Namun, ada hal yang sangat menghancurkan dirinya. Dia merasa terkhianati oleh Aizha yang terkesan memanfaatkan dirinya.
"Gue pikir, lo cewek yang baik dan polos, Zha. Gue nggak nyangka, elo bisa sebejat ini! Berani-beraninya, lo manfaatin gue! Setelah, lo bikin gue sama Dirgantara, bertingkah konyol akhir-akhir ini!" batin Arkana, telah benar-benar kecewa.
Pada waktu yang bersamaan. Hologram Alpha muncul. Aizha, Innara, Cantika dan Bunga, sedang makan di kamar. Mereka bertiga, memutuskan untuk tinggal, menjaga Aizha. Supaya dia tidak bertingkah di luar sana.
[Astaga! Apa yang aku bilang! Apa yang aku lihat, jadi kenyataan bukan?!]
[Kenapa kamu tidak mendengarkan aku, Aizha?!]
"Alpha, apa kau bisa, tunjukan hologrammu pada yang lainnya juga?" ucap Aizha, secara tiba-tiba, membuat Cantika dan Bunga terkejut. Mereka tampak bingung dan deg-degan, karena penasaran dengan sistem Alpha.
Hologram tersebut menghilang. Satu menit kemudian, hologram kembali muncul,
[Aples sekarang, adalah orang-orang yang harus kalian waspasai!]
"Sebentar Alpha! Aku bukannya nggak dengerin kamu. Tapi, aku udah kerja sama, dengan Arkana. Dia juga tau, soal misiku dan bakalan bantu kita," sahut Aizha, pada pertanyaan yang sebelumnya.
[Apa kau tidak paham? Aku mengatakan Aples, bukan hanya Arkana!]
"Mungkin," sahut Cantika, yang juga menggunakan suara berbisik.
[Kamu tau nggak? Kenapa kamu ngerasa, tubuhmu seperti tidak terkendali?]
Aizha menggelengkan kepala, tidak tau.
[Karena kamu, telah melanggar aturan]
[Kamu pernah bilang, tidak akan balas dendam, dengan cara membunuh. Tapi, kau membunuh puluhan orang dalam sekali bertindak]
[Alpha Male dan Alpha Female lain di dunia ini, hanya empat orang yang boleh membunuh. Itupun, karena mereka sudah sejak awal mengatakan, akan menyiksa orang hingga mati, sebagai pelajaran atau balas dendamnya]
[Dan kamu tidak termasuk!]
"Kenapa seribet itu dah? Kalau ada yang boleh, tinggal ijinin aja kan?" ujar Innara, sewot.
[Setiap tindakan memerlukan pengorbanan. Mereka yang tidak berniat membunuh, hanya memberi pelajaran saja, akan mengeluarkan darah, ketika kehabisan tenaga. Sedangkan mereka yang berniat membunuh, harus merelakan tubuhnya, untuk lumpuh dalam jangka waktu tertentu]
[Aizha bisa meninggal, karena anemia. Sedangkan mereka yang termasuk kategori pembunuh, akan meninggal dalam kondisi yang sedikit mengenaskan. Mereka akan merasa di ambang kematian dan kehidupan. Tubuh tak berdaya, dengan hidung yang masih ingin, menghirup oksigen. Mereka akan lumpuh lama dan meninggal, beberapa hari kemudian, tergantung anggota]
"Maaf, kalau agak melenceng. Maksudnya, tergantung anggota itu bagaimana?" tanya Cantika.
[Mereka yang terpilih, adalah seorang Pemimpin, untuk memimpin anggotanya, membersihkan dunia dari kejahatan. Jika apa yang dia lakukan, sangat berjasa dan membekas bagi banyak orang. Mereka pasti, akan meninggal dalam keadaan bahagia dan tenang. Apalagi, banyaknya doa dan rasa terima kasih yang diberikan]
[Jika tujuan itu berhasil dilaksanakan. Mereka akan kembali menjalani kehidupan normal, dengan satu buah item, sebagai kenangan]
"Kalau kami bisa tanggung jawab dan saling bersama, Aizha akan tetap hidup?" tanya Cantika, sedikit bersemangat.
[Itu sudah pasti, karena dia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga]
"Mereka yang di-ijinin bunuh orang, aturan dan hukumnya apa?" tanya Bunga pada Innara, berbisik.
[Mereka berempat, memiliki aturan untuk tidak membunuh orang se-enaknya. Jika orang yang tidak sesuai kategori dibunuh, mereka akan melakukan hal yang lebih parah dari Aizha]
"Apa?!" tanya Aizha, Innara, Bunga dan Cantika bersamaan, penasaran.
[Bukan hanya menghisap darah, tapi juga makan daging manusia]
Aizha, Innara, Cantika dan Bunga paham. Mereka terkejut dalam diam. Namun, saat Aizha hendak bertanya. Hologram Alpha telah mendahuluinya.
[Aku akan ikut memberikan rencana, karena ini mendesak]
"Baiklah," sahut Aizha dan mereka pun menyusun rencana, dengan bantuan data dari sistem Alpha.
<\=>
Aples dan Alpha, berkumpul menjadi satu, di salah satu ruangan. Mereka tampak sedikit tegang. Ada suasana yang cukup panas di antara mereka. Bunga juga berusaha, untuk tidak menatap Farel. Dia memang senang, namun perasaan itu, harus disembunyikan sementara waktu.
"Aku sama Arkana, udah obrolin soal progam Murid VIP dan kegiatan jual bel---" ucap Aizha terpotong.
"Kita tau, bisa langsung ke intinya aja? Arkana juga udah kasih tau semuanya. Kita pun, nggak punya banyak waktu," potong Akhsan, terdengar sedikit kasar dan tidak enak didengar.
Innara dan Aizha tampak tersinggung, dengan sikap Akhsan. Namun, Aizha tak boleh baper. Dia harus tetap pada rencana dan menunjukkan beberapa dokumen.
"Ini semua adalah bukti, kalau progam Murid VIP masih berjalan. Jual beli soal ujian juga, kemungkinan besar tetap berjalan, tapi beda orang," jelas Aizha, sembari Aples membaca dokumen itu.
Arkana pun mengeluarkan flesdish, dari saku bajunya dan memberikan ke Aizha. "Di flesdish itu, ada beberapa orang yang bisa kalian curigai. Semua latar belakang dan keterkaitan, dengan kedua progam itu pun, udah gue masukin semua."
"Udah kelarkan? Kita harus segera pergi, soalnya," tanya Farel, sambil berdiri dari duduknya.
Aizha pun ikut berdiri. Tak lama Innara, Cantika dan Bunga, juga menyusul. Mereka berempat, sedikit membungkukkan badan dan menundukkan kepala, untuk meminta maaf. Farel, Arkana, Dirgantara dan Akhsan, tampak begitu terkejut.
"Aku benar-benar minta maaf, karena itu terjadi, tanpa kendaliku sendiri," ucap Aizha, meminta maaf.
"Ini semua terjadi, karena pengaruh sistem. Tolong, rahasiakan hal ini dan maafkan Aizha," ucap Bunga.
"Mohon kerja samanya," tambah Cantika dan Innara.
Aples dengan terang-terangan, memperlakukan mereka, dengan ketus. Farel hanya mengiyakan dan pergi begitu saja. Arkana, Dirgantara dan Akhsan pun, menyusul dari belakang. Innara, Aizha, Bunga dan Cantika, hanya diam saja. Mereka juga ikut pergi keluar, menuju Cafe.
"Gue udah duga, kalau mereka nggak akan pura-pura baik atau memaafkan begitu saja," ujar Cantika, diakhiri dengan mendesah.
"Kalau begini, bakalan sulit banget, buat kita kerja sama, dengan mereka," ucap Innara, lelah.
"Lakuin aja, udah mepet juga, soalnya. Nanti malam, mau nggak mau, kita harus udah nemuin, siapa dalang sebenarnya. Apalagi, kalian ingat bukan, kegiatan Andre adalah hal terlarang. Tapi, mereka dengan mudah, memberikan ijin pada Andre, untuk melakukan hal itu. Bisa jadi, Aples tidak sesuci itu," seru Aizha, membuat mereka bertiga melihat ke arahnya. Mereka tampak setuju, dengan apa yang dikatakan Aizha.
"Ini kesempatan bagus juga, untuk kita cari tau, bagaimana kerja mereka," kata Cantika dan diangguki oleh mereka bertiga.
Pada lain tempat, anggota Aples juga sedang membicarakan Alpha, di suatu tempat. "Kita harus pantau mereka, demi kebaikan kita juga. Selama kerja sama ini, kita harus lihat, gimana cara mereka bergerak dan beraksi!"
...×××××××××××××××××××××××××××××××...
...Lanjut besok......
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...