Alpha Female

Alpha Female
Bab 55



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Cantika melihat sosok orang itu, seperti perpaduan mabuk dan zombie. Dia benar-benar ketakutan. Dirgantara pun, dengan sigap memeluk Cantika erat-erat dan menyuruh lelaki itu, untuk pergi. Tetapi, sebelum lelaki itu pergi, Cantika dan Dirgantara, melihat tanda di pergelangan tangannya.


"X?" gumam Cantika, membuat Dirgantara menoleh.


"Lo juga lihat, tanda itu?" tanya Dirgantara dan diangguki oleh Cantika.


"Itu cuman tato biasa atau... Yang kayak di film-film?" tanya Cantika balik, penasaran.


Dirgantara diam sebentar. "Kalau itu tanda salah satu geng, mereka harusnya datang ke Arkana atau Akhsan. Kenapa gue?!" ucapnya, tampak begitu kesal.


"Hah?" Cantika tampak tak paham. Seketika, Dirgantara pun mengajaknya, untuk pulang.


...<\=>...


Arkana dan Aizha, masih berada di Apartemen. Melihat Arkana yang fokus menelpon seseorang, dengan memegangi foto Bu Hani dan Pak Kepala Sekolah, membuatnya senang. Entah mengapa, ada hasrat atau nafsu yang meluap di tubuhnya. Tanpa disadari, Aizha telah berjalan mendekat ke arah Arkana.


Arkana yang sedang berteleponan, terkejut. Saat Aizha, menyentuh bahunya. "Zha, are you okay?" tanyanya, tak mendapatkan balasan. Arkana mulai risau dan sedikit takut, melihat mata Aizha. "Zhaaa!" khawatir.


Aizha tak mendengar Arkana. Dia malah, mendekatkan wajah ke leher Arkana. Arkana yang sedikit marah, langsung mendorong tubuh Aizha, hingga terjatuh di atas sofa. Dia dan Aizha, tampak sama-sama terkejut.


"Maaa-maaf!" ucap Aizha, setelah sadar, dengan tindakannya barusan.


Arkana hanya diam dan memalingkan wajah. Dia sedikit terluka, atas tindakan Aizha. Ada rasa bersalah, malu dan perasaan berdenyut, yang membuat wajahnya memanas. Sedangkan Aizha, tampak sangat malu, hingga menangis seorang. Hatinya hancur, mendapatkan penolakan yang begitu kasar.


"U-dah malem, a-aku mau pulang! Selamat ma-lam Ar!" ucap Aizha dan langsung pergi begitu saja, meninggal ruangan itu. Belum selesai, Arkana menjawab. Aizha ternyata, telah menghilang di balik pintu.


"Hufff, gimana caranya, gue ngobrol sama dia lagi, sekarang? Bodoh banget lu, Ar!" maki Arkana, pada dirinya sendiri, sembari memukul jidat.


Aizha yang berlari, sambil menangis. Tampak begitu menyedihkan di mata orang-orang yang dilaluinya. Banyak orang menduga, kalau dia telah diputusi Pacar atau memergoki sang Kekasih, tengah bercinta. Sang Penjaga saja, sampai memberikan mobil online, secara langsung. Seakan-akan hal ini, telah sering terjadi.


...<\=>...


Apa yang dirisaukan Arkana, benar. Sudah hampir satu minggu, Aizha menjauhi dirinya. Arkana yang membolos jam pelajaran, hanya untuk menemui Aizha, ketika olahraga pun, langsung dijauhi. Aizha selalu kabur, ketika melihat dirinya atau teman dari kelasnya.


Innara, Bunga dan Cantika, tampak sangat bingung, dengan sikap Aizha akhir-akhir ini. Bukan hanya Arkana saja ternyata, tapi mereka bertiga pun, terkena imbasnya. Setiap kali menyapa atau mendekat, Aizha akan langsung pergi. Dia pun keluar lebih dulu, sebelum kelasnya sendiri, apalagi yang lain.


"Sialan! Ngapa Aizha, makin ngeselin gini sih?!" ujar Innara, benar-benar marah.


"Mau sampek kapan, kita tunda terus?!" ucap Cantika, terdengar sedikit merengek.


Bunga hanya diam saja, menatap ke arah gerbang Sekolah, yang dilalui banyak Murid. Dia melihat sosok yang sangat tak asing baginya, seorang pemuda berhoodie. Dia pun berusaha, untuk mengingat kembali, orang tersebut. Wajah itu, sangat mirip dengan seseorang.


"Itu tadi, Farel atau Jeno?" gumam Bunga, berpikir.


Innara pun melihat ke arah yang dilihat Bunga, barusan. Pemuda berhoodie itu, seketika pergi begitu saja, membuat Innara kesulitan, untuk melihat wajahnya.


"Proposi wajah Farel sama Jeno kan, agak-agak sama. Aku lihat cowok, modelnya persis kayak mereka berdua. Apa mungkin, Farel selamat?" tanya Bunga, membuat Innara dan Cantika, merasa prihatin.


"Dia udah meninggal Bunga. Lo harus ikhlas!" ucap Cantika lembut, membuat kening Bunga mengerut.


"Aku udah ikhlas kok. Aku nggak bohong! Aku beneran lihat, cowok itu mirip Jeno atau nggak Farel!" ujar Bunga, membuat Cantika menganggukkan kepala, sok mengerti.


Bunga sedikit kesal, karena Innara juga, mengusap punggungnya. Dia yakin, Innara sama Cantika, tidak percaya dengan ucapannya. Mereka bertiga pun pergi masuk ke dalam mobil, meninggal Sekolah.


...<\=>...


"Akhirnya... Lo berdua, balik juga ke diri kalian yang dulu!" ucap Akhsan, lega.


Kini mereka berdua sedang berada di kamar Dirgantara. Melihat Arkana yang sibuk, dengan handphone dan Dirgantara bersama bukunya, membuat Akhsan senang. Dia benar-benar lelah, jika mengingat tingkah laku Arkana dan Dirgantara, beberapa hari yang lalu.


Saat Akhsan lelah, mengingat masa lalu. Dirgantara dengan tiba-tiba, melempar buku ke atas meja. "Otak lo dah balikkan, Ar?! Sekarang waktunya, lo berdua tanggung jawab, atas meninggalnya Farel!" ujar Dirgantara, membuat Akhsan dan Arkana tersentak.


"Farel meninggal atas tindakan ilegal. Lo mau, kita kayak gimana? Gue juga kecewa dan sedih, tau Sahabat sama temen-temen montor pada berkhianat kayak gini!" seru Akhsan, berdiri dari tempat tidur. "Bukan hal yang mudah, nyuruh tuh para Polisi buat bungkam. Apalagi, gue lakuin itu sendirian, tanpa lo berdua?!"


"Gue udah bilang dari awal! Kagak usah geng-gengan! Sekarang, kalian berdua lihatkan?! Lengah sedikit, langsung dihabisi!" omel Dirgantara, tak mendengarkan ucapan Akhsan.


"Tar!" bentak Akhsan, namun dihentikan oleh Arkana.


"Gue paham, kenapa lo semarah ini. Lo kecewakan? Karena Farel meninggal, waktu elo bertingkah aneh kek gini? Gue juga sama. Tapi, berulang kali, kita udah debattin hal ini. Udah berkali-kali, Akhsan juga jelasin, kalau tuh klub, gue buat bukan untuk main-main doang. Apa lo lupa?" Arkana berusaha untuk sabar.


Arkana dan Akhsan pernah bertengkar hebat, dengan Farel serta Dirgantara. Akhsan yang sangat anti menangis, hari itu meneteskan air mata. Dia menjelaskan, bagaimana dia, Arkana dan anak-anak montor, berusaha untuk melindungi Sekolah mereka. Sekolah ini pun, memiliki ikatan yang sangat kuat, dengan dua SMA lain, berkat klub Arkana. Pengorbanan waktu, darah dan patah tulang, telah mereka berikan, hanya untuk kedamaian Sekolah. Dirgantara dan Farel hanya diam. Mereka berdua, tampak masih tidak bisa menerima dan pergi begitu saja. Hubungan keempat pemuda itu, mulai sedikit canggung dan pudar, tanpa Murid di Sekolah sadari.


"Mending, kalian berdua ke makam Farel, sekali lagi. Hari itu, kalian benar-benar, seperti anak kecil yang nggak tau apapun. Karena udah kembali normal, lebih baik kalian ulang dan berpamitan, dengan lebih baik," saran Akhsan.


Dirgantara, Arkana dan Akhsan pergi ke makam Farel, malam hari. Meraka bertiga, memberikan tiga tangkai bunga melati, di atas rerumputan hijau. Tampak, khusuknya mereka mendoakan sang Sahabat, hingga meneteskan air mata. Arkana dan Dirgantara meminta maaf, karena telah melepas kepergian, dengan celotehan dan tindakan ke kanak-kanakan.


"Kalian nggak perlu minta maaf, karena gue masih hidup!" ucap seseorang dari belakang tubuh mereka bertiga.


Arkana, Dirgantara dan Akhsan, dengan tubuh gemetar, menoleh ke belakang. "Kyaaaa!" teriak mereka bertiga, terkejut.


Akhsan yang terjatuh, ditinggal pergi oleh Arkana dan Dirgantara. Lelaki yang mengejutkan mereka, adalah Farel. Dia mendekat ke arah Akhsan dan memegangi kakinya. Akhsan yang ketakutan dan syok, langsung terjatuh pingsan.


...×××××××××××××××××××××××××××××××...


...Lanjut besok......


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...