
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
"Arghhh, sialan!" maki Innara, di tengah-tengah kerumunan.
Para Murid berkumpul di halaman depan Sekolah. Terlihat sebuah ambulan, baru saja pergi, meninggalkan area Sekolah. Bu Hani yang dikabarkan meninggal dunia, membuat satu Sekolah heboh. Banyak terdengar keluhan para Murid yang risau dan ketakutan, karena Sekolah terasa tidak aman.
"Maaf, karena aku, kita harus kehilangan Bu Hani," ucap Aizha merasa bersalah.
Cantika menggelengkan kepala. "Enggak kok, Zha. Ini semua bukan kesalahanmu, emang udah takdirnya aja," ucapnya berusaha untuk menghibur.
"Iya Zha, ini semua bukan kesalahanmu. Seandainya, kita kemarin-kemarin beraksi pun, mungkin endingnya kayak kasus Almarhum Pak Kepala Sekolah dan dua Guru itu," ujar Bunga, diangguki oleh Cantika, setuju.
Aizha hanya tersenyum dan berterima kasih. "Terus, sekarang gimana?" tanya Aizha pada Innara, Cantika, Bunga.
Innara tampak membuka handphonenya, mengecek list. "Kita cari para Murid VIP. Tanya, gimana perkembangan mereka, mengingat Pak Kepala Sekolah, dua Guru dan Bu Hani, udah meninggal dunia."
Cantika, Bunga dan Aizha, menganggukkan kepala paham. "Ohh iya, sekalian tanyain juga sama para Mantan atau yang gagal jadi keanggotaan Murid VIP. Ada enggak, Pelanggan Pedro dan gimana perkembangannya," tambah Innara.
"Kalau gitu, aku sama Innara, tanya Murid VIP. Cantika sama Bunga, pergi tanya ke Murid yang jadi Pelanggan Pedro. Pakai juga, aksesoris komunikasi kita. Aku percaya sama kalian bertiga, kita pasti berhasil!" ucap Aizha, seketika ada hal aneh yang mengembang pada tubuh Cantika, Innara dan Bunga.
"Lo kasih kita kekuatan lagi?" tanya Innara, tersentak.
Aizha hanya tersenyum kecil. Cantika tampak sedikit tidak nyaman. "Kalau lo, kenapa-napa gimana?" tanya, Cantika khawatir.
"Enggak usah dipikirin! Alpha udah ningkatin, performa darah yang aku hisap, dari Siswi itu dulu. Sekalian, ngebersihin yang negatif. Mangkanya, rasanya sakit banget dan sampai pingsan seharian," ungkap Aizha membuat mereka bertiga terkejut.
"Apa sehari cukup?" celetuk Bunga, membuat Cantika dan Innara, menatapnya tak percaya.
"Heh! Maksud lo apa?!" tegur Innara, emosi.
Bunga pun bersembunyi di belakang Aizha, yang sedang tersenyum kikuk. "Udah-udah! Ini kesempatan yang langka. Kita harus segera lakukan, sebelum aku pingsan!" ucap Aizha dan di-iyakan oleh mereka bertiga.
...<\=>...
Innara, Cantika, Bunga dan Aizha, perlahan-lahan mendekati para target. Bunga dan Innara, melakukan basa-basi sedikit, sebelum ke inti pembicaraan. Berbeda dengan Cantika dan Aizha yang hanya sekedar sapa dan to the poin. Dalam kurung waktu dua jam, mereka berhasil mendapatkan banyak informasi, berkat item kepercayaan.
...[Cantika dua target]...
...[Innara lima target]...
...[Bunga tiga target]...
...[Aizha satu target]...
Aizha murung, melihat layar hologram tersebut. Dia kini, sedang berada di ruang Perpustakaan. "Tapi kok, Cantika cuman dua doang? Kamu nggak eror kan Alpha?"
...[Dua Informan yang didapatkan Cantika, lebih benilai plus]...
...[Sayangnya, mereka meminta bayaran yang tidak masuk akal, untuk informasi itu]...
...[Cantika sedikit butuh waktu lama, karena sikapnya. Kamu tau sendirikan?]...
"Ahhh, aku paham!" sahut Aizha dan tak berselang lama, Bunga serta Innara muncul. "Gimana?"
"Berhasil!" Innara menunjukkan sebuah benda yang digunakan, untuk merekam suara.
"Aku pun!" sahut Bunga, ceria. Dia menaruh hasil rekamannya ke atas meja.
Aizha, Innara dan Bunga, langsung berdiskusi bertiga, sembari menunggu Cantika. Innara tampak menceritakan sedikit, tentang isi rekamannya. Para Target atau Informan yang ditemuinya, mengaku. Jika mereka kini, tengah prustasi. Meninggalnya Pak Kepala Sekolah dan Bu Hani, membuat progam VIP, terancam bubar. Ada pun Guru pengajar mereka yang masih hidup, memilih untuk berhenti.
"Karena Guru itu, cuman tugasnya ngajar. Mereka nggak akan tau, cara lanjutin tuh progam. Paling-paling, mereka bakalan pilih, untuk bikin kursus atau les sendiri. Dari pada pusing, ngelanjutin hal yang tidak dimengerti," komen Aizha, setelah mendengar cerita Innara.
"Sulit dong, seandainya nih ya, lo itu Guru. Gue sebagai Bu Hani atau Pak Kepala Sekolah, cuman nyari elo dan Guru lain, buat layani Klien mereka, dengan sebuah surat kontrak. Lo cuman sekedar tau sedikit, tentang Progam VIP ini. Tapi, elo nggak bakalan bisa ngambil alih progam ini, tanpa tau seluk-beluknya di awal-awal!" jelas Cantika, Bunga masih menyimak. Dia perlu penjelasan kembali.
"Progam VIP ini, ada kerja sama, dengan orang dalam, di beberapa Universitas Favorit. Ada juga kerja sama, untuk mengurus pemalsuan data sertifikat yang berkualitas. Bukan hanya itu, pasti ada kerja sama lain yang dilakukan secara spontan, karena suatu keadaan mendesak," sambung Aizha, membuat Bunga paham. Tak berselang lama, Cantika tiba, dengan seragam berantakan.
"Lo habis tauran?" tanya Innara, melihat kondisi Cantika yang sangat kacau.
"Bisa-bisanya, mereka bilang kek gini!" Cantika mengatur sebuah rekaman dan memulainya.
"Ayolah... Seratus juta itu, udah harga termurah! Kita semua tau, lo deket sama Aizha, Bunga dan Innara. Denger-denger, Aizha anak konglomerat juga. Ini artinya, duit segitu bukan apa-apa buat dia!" ujar seorang Siswa.
"Ck! Gue cuman tanya, sekarang kalian gimana, tanpa adanya bantuan Pedro. Kita udah kelas dua belas, lo pada harusnya ketar-ketir sekarang!" ujar Cantika.
Terdengar dua orang Siswa, tertawa berbahak-bahak. "Kenapa kita harus begitu? Seratus juta ini, udah tawaran yang paling ngerugiin kita berdua. Apalagi, lo hajar kita, sampai kayak gini! Lo inget aja ini! Kalau kita nggak bakalan se-stress, Murid yang lain, sekalipun Pedro mati!" ucap Siswa itu.
"Hmmm, kayaknya itu informasi bagus. Seratus juga, untuk mengungkapkan hal itu, emang termasuk tawaran yang bagus banget," komen Innara, sembari menyangga kepala, dengan kepalan tangan.
Aizha tampak melihat, saldo di rekeningnya. "Aku ada sih, tapi kalau segitu, orang tuaki bisa curiga."
"Kita bagi dua aja, gimana Zha? Ambil rekening, dua puluh juta. Jual barang tiga puluh juta." saran Innara dan disetujui oleh Aizha.
...<\=>...
Pagi hari kemudian, tepatnya sabtu. Aizha, Innara, Bunga dan Cantika pergi ke toko emas. Aizha menjual gelang dan kalung, pemberian Ibu Damian. Sedangkan Innara, menjual kalung yang diberikan oleh Alex, padanya dulu.
Uang seratus juta telah berada di tangan. Aizha, Bunga, Cantika dan Innara pun bertemu, dengan kedua pria itu di sebuah Cafe. Tampak keduanya sedikit senang, melihat uang dan kehadiran para gadis itu.
"Apa nggak seharusnya, kita nyamar aja tadi?" bisik Innara pada Aizha.
Aizha pun membalas, dengan suara yang berbisik, "Alpha udah cek, mereka enggak akan ungkap siapa kita. Mereka sekarang udah mulai curiga, kalau kita Alpha. Tapi, Alpha masih mendeteksi, kalau mereka nggak akan bongkar."
Innara tampak langsung percaya dan melihat ke arah dua pria itu. Cantika pun bertanya pada mereka, untuk meminta janji. Pria itu tersenyum dan menyodorkan sebuah bolpen. Innara, Aizha, Bunga dan Cantika, tampak sangat bingung serta heran.
"Bolpen?" tanya Cantika, bingung.
Pria berbaju coklat tua itu tersenyum. Dia adalah Diki. "Iya, di luar emang kelihatan, seperti bolpen biasa. Tapi, fungsinya sangat jauh berbeda."
"Sebetulnya, dengan bolpen ini aja, nilai kita udah pasti bagus, tanpa bocoran soal, sekalipun!" ujar Rafi si baju hitam.
"Lahhh, kalau gitu, lo berdua ngapain beli tuh bocoran soal?!" tanya Innara heran, apalagi harganya pun tidak main-main.
"Ya... Mau gimana lagi, itu persyaratannya," ucap Diki, dengan begitu santai, sembari meminum es.
"Tapi, bolpen yang kita dapatkan ini karena sebuah kebetulan. Awalnya juga, kita pelanggan setia Pedro," ujar Rafi.
"Bu Hani meninggal dunia, Pedro menghilang," gumam Cantika, berpikir. "Mungkin enggak, kalau ini orang yang berbeda? Orang yang membuat kalian, kebetulan ngedapatin bolpen itu?" tanyanya dan kedua pria itu kompak, menggerakan tubuh tidak tau.
"Ohhh, gue bakalan kasih kalian kunci kuat, untuk cari tau orang itu, dengan kejujuran!" tawaran dari Diki, membuat mereka resah. "Kalian Alpha kan?!"
"Iya," sahut Aizha langsung, membuat, Cantika, Bunga dan Innara terkejut. "Jadi, apa kuncinya?"
"Hmmm," Diki dan Rafi, tampak kesal.
"Kuncinya ada di..."
...×××××××××××××××××××××××××××××××...
...Lanjut besok......
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...