
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
"Itulah akibatnya, kalau jadi anak nggak ada sopan santunnya sama sekali. Tuhan aja, langsung ngasih hukumannya," ucap Oma, menghina Aizha.
Mamah Vivi tampak begitu marah. "Apa Mamah harus, berkata seperti itu di depan Cucu anda sendiri?! Aizha adalah Cucu anda! Dia pingsan, karena ulah anda sendiri! Bisa-bisanya!" ucap Mamah Vivi terhenti, tak ada kata yang pas, untuk meluapkan rasa kesal dan kecewanya pada sang Ibu Mertua.
Oma dengan santainya, menatap Aizha dan Vivi, dengan ekspresi tak bersalah dan sombong. "Hah, Cucu kau bilang?! Saya nggak sudi, punya Cucu kampungan, bodoh dan kasar seperti dia! Mana ada, Cucu yang berani ngomong sekasar itu pada Omanya, hah?! Cucuku cuman Layli yang cantik, cerdas dan memiliki sikap terbaik! Kesopanan dan keanggunan Layli pun, sudah diakui oleh banyak orang! Beda jauh, dengan anakmu!"
Mamah Vivi, benar-benar geram. Dia pun meminta salah satu Polisi, yang baru saja lewat, untuk membawa masuk Aizha ke dalam mobil. Ketika Polisi itu pergi, menggendong Aizha ke arah mobil. Vivi menatap sang Ibu Mertua, dengan begitu dingin dan marah.
"Saya sekarang sangat paham, apa maksud Aizha barusan. Mungkin, memang jalan yang lebih tepat, adalah tidak menolong kalian. Terima kasih, karena telah melahirkan Mas Hasan, Mah," ucap Vivi dan pergi begitu saja.
Oma tampak sangat terkejut dan memaki Vivi, "Dasar, Menantu kurang ajar! Kembalikan Putraku, wanita ******! Awas saja, kalau kau cuci otak Putraku! Aku tidak akan pernah mengapunimu, sampai mati! Inggat itu! Aku akan menuntut pada Tuhan, untuk tidak mengijinkanmu masuk ke surga, sedetik pun! Camkan itu!"
Oma terjatuh dan menangis, sambil memukul jalan. Mamah Vivi yang telah berada di dalam mobil, langsung pergi ke Rumah Sakit. Dadanya, terasa begitu sakit dan sesak. Dia menangis sesenggukan, dengan air mata yang berlinang. Hancur sudah, sebagian kehidupan yang dimilikinya. Dia tak tau lagi, bagaimana hidup bahagia, di atas penderitaan keluarga Suaminya.
...<\=>...
Siang harinya, Aizha masih belum bangun. Dia tampak terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit. Sedangkan Mamah Vivi, tampak begitu menyedihkan. Matanya membengkak dan terbaring di sofa, dengan tubuh lemah.
"Vivi!" panggil Hasan, ketika melihat sang Istri di sofa.
"Mbk Aizha...!" Diego tampak sedih, melihat kondisi Aizha.
"Viii, kamu habis nangis? Apa ada masalah? Apa Aizha..." Hasan tampak begitu khawatir. Dia juga risau, jika Aizha memiliki penyakit yang mematikan.
"Aizha nggak papa kok, Mas. Dia sempat kekurangan darah, tapi untung aja, stok darah di sini banyak," sahut Vivi, membuat Hasan lega.
"Terus, kenapa kamu kayak gini? Aku yakin, kamu pasti udah nangis semalan kan?!" tanya Hasan.
Diego memilih, untuk duduk di sebelah Aizha dan mengusap lembut, tangan sang Kakak. Mamah Vivi pun, kembali menangis dan meminta maaf pada Hasan. Dia meminta maaf, karena telah menjadi Istri dan Menantu durhaka serta tidak memiliki perasaan.
Hasan tampaknya paham. Dia langsung memeluk erat sang Istri dan ikut meminta maaf, karena telah membawa Vivi, masuk ke dalam keluarganya. Dia juga berkata, jika Vivi adalah Istri dan Ibu yang terbaik. Keluarganya sajalah, yang sedikit bermasalah. Vivi yang mendengarnya, malah semakin menangis.
"Mbkkk, cepetan bangun! Kasihan Mamah, aku juga mau tau, apa yang terjadi kemarin!" ucap Diego, cukup pelan dan mengecup jari-jemari Aizha.
...<\=>...
"Sial, kenapa kalian selalu kasih gue, kayak gini sih?! Hutang budi gue, jadi makin banyak kan!" umpat Cantika, melihat setu plastik besar di atas meja.
Innara yang mendengarnya, hanya tersenyum kecil. Ibu Cantika pun muncul, dengan secangkir teh, untuk Innara. "Maaf ya, Ibu cuman bisa kasih teh aja. Enggak ada sirup soalnya," ucap Ibu Cantika dan duduk di kursi.
"Enggak papa Bu, santai saja. Lagi pula, kalau ke rumah Aizha, juga dikasihnya teh kok, Bu," ucap Innara, membuat Cantika menoleh, tak percaya.
"Ehhh, Nak Aizha itu... Yang kasih banyak banget makanan sama hadiah buat adik-adik kamu kan, Can? Yang pertama?" tanya Ibu dan diangguki oleh Cantika, mengiyakan.
"Ibu tau, Aizha?" tanya Innara, basa-basi, supaya lebih akrab.
"Saya paham kok, Bu. Ibu tenang aja, ini kita lakuin, karena kita berempat adalah teman. Cantika udah banyak membantu kita. Jadi, inilah balasan yang bisa kami beri. Tolong, jangan ditolak ya, Bu. Lagi pula, sayang juga kan, kalau uangnya lari ke Bar atau Mall? Mendingan juga, buat beli kayak gini, biar berkah. Ya, nggak Bu?" ucap Innara, membuat Ibu Cantika, terharu dan menganggukkan kepala.
Cantika yang berada di dekat Innara, hanya nyegir. "Pinter banget dah, kalau ngomong kek gini," batinnya.
"Ibu nggak perlu lagi! Ngerasa nggak enakan, apalagi bersalah. Jadi, Ibu tenang aja dan terima ini semua, dengan perasaan senang serta rasa syukur pada Tuhan! Kami hanya menyalurkan saja," ucap Innara, dengan ekspresi yang membuat Cantika, jengah.
Ibu Cantika pun menganggukkan kepala dan berterima kasih banyak. Dia juga menitip pesan pada Aizha, melalui Innara, untuk ungkapan terima kasihnya. Innara tampak mengiyakannya, dengan menganggukkan kepala.
"Tapi Bu, Bunga udah nggak kayak gulu lagi. Keluarganya sedikit hancur," ucap Cantika, membuat Ibu terkejut.
"Bukan sedikit, emang udah hancur lebur!" celetuk Innara, memperbaiki.
Ibu Cantika pun bertanya dan diceritakan oleh Innara. Mendengar hal itu, Ibu Cantika tampak ikut sedih. Obrolan mereka terdengar sangat nyambung, hingga membuat kehadiran Cantika, terlihat transparan.
...<\=>...
Sore harinya, Cantika dan Innara berpamitan. Bima tampak sedikit sedih. Dia sangatlah ingin ikut, menaiki mobil Innara. Namun, Cantika tak mengijinkan, dengan begitu tegas. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan pergi.
"Mau jenguk Aizha langsung?" tanya Cantika.
"Enggak perlu, kita langsung ke rumah gue aja. Masih banyak hal janggal yang harus kita bongkar!" ucap Innara dan diangguki oleh Cantika.
Pada lain tempat, Bunga dan Farel juga, sedang berada di dalam mobil. Mereka tampaknya, sedang pergi ke temat yang datarannya tinggi. Ada angin dingin yang menelusup pori-pori kulit Bunga.
"Kamu yakin, kita bisa pergi kayak gini? Sedangkan, kondisi keluargamu lagi kayak gini?" tanya Farel, risau.
"Enggak papa kok. Nenek juga, malah nyuruh aku pergi, agak lamaan. Supaya mereka bisa ngobrol sepuas hati sama keluarga Ayahku," ujar Bunga membuat Farel mengangguk paham.
Bunga yang sedang menatap jalan di depan, seketika teringat sesuatu. "Ohhh iya, mulai besokkan kita masuk Sekolah lagi. Pengganti Kepala Sekolah dam dua Guru itu siapa?" tanya Bunga, penasaran.
"Pengganti Pak Kepala Sekolah, ya Wakilnya. Guru baru cuman satu. Nanti, bakalan ada juga, Guru di Sekolah kita, yang ambil dua mapel. Selagi nunggu Guru baru, lainnya," jelas Farel dam diangguki oleh Bunga.
Bunga sadar, jika Farel sedang banyak pikiran. Terdengar dari cara bicaranya yang panjang dan sedikit membulat. Tetapi, Bunga masih ingin, menanyakan hal yang lainnya. Dia teringat, akan salah satu dokumen yang diprint oleh Innara dan Cantika.
"Aku mau tanya lagi!" seru Bunga.
"Silahkan!" sahut Farel, dengan senang hati.
"Apa Sekolah kita, ada Murid VIP?" tanya Bunga, berhasil membuat Farel terkejut dan menghentikan mobilnya. Melihat reaksi Farel, Bunga pun kembali bertanya, "Kamu pasti tau kan, ada kasus jual beli narkoba di Sekolah kita? Apa anggota Aples tau hal ini?"
"Kamu tau dari mana?!" tanya Farel, sedikit emosi. "Jangan-jangan, elo Alpha?!"
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...