
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
"Makkk-maksudnya? Kamu yang gantiin Pedro, untuk lanjutin ju--" ucap Aizha terpotong.
"Progam itu udah berhenti. Aku nggak bisa lanjutin itu, tanpa Bu Hani dan Pedro," ujar Afifah dan berdiri dari duduknya.
"Kamu? Itu artinya..."
"Kalau mau lanjut, nanti malam, kita sekamar aja," sahut Afifah dan pamit pergi, "Aku harus ke bawah sebentar!"
Aizha menganggukkan kepala, mengiyakan. Afifah pun pergi menghilang, dari balik dinding. Aizha tak percaya, semudah ini dia mendapatkan informasi. Sedangkan di lain tempat, Bunga yang baru saja tiba, langsung mendapatkan perhatian, dari Innara dan Cantika.
"Kenapa baru sampai?" tanya Cantika, resah.
"Maaf, barusan aku mampir sebentar, buat beli ini!" Bunga menunjukkan empat kardus yang berisi martabak telur dan terang bulan.
Aroma yang menggugah selera itu, berhasil membuat Innara dan Cantika, jatuh hati. Mereka kini, sedang berada di Apartemen Arkana. Tempat Aizha dan Arkana bertemu, beberapa hari yang lalu.
"Ya ampunnn, gue udah kangen berat, sama terang bulan ini!" ujar Innara, sembari mencium aroma manis yang dikeluarkan oleh makan itu.
"Seketika perut gue mendemo!" celetuk Cantika, membuat Bunga tertawa kecil.
"Khihihiii, syukur deh, kalau kalian suka. Aku pindahin dulu, ke piring ya," kata Bunga dan diangguki oleh mereka berdua.
Bunga, Innara dan Cantika, tak menyadari. Jika sedari tadi, Farel memperhatikan Bunga, secara diam-diam. Arkana yang mengetahui hal itu, langsung memberitau Farel, untuk tidak melibatkan urusan pribadi. Farel pun menganggukkan kepala, mengiyakan.
Pada lain ruang, terlihat si Dirgantara dan Akhsan yang begitu sibuk, dengan komputernya. Akhsan yang sedang menunggu prosesnya selesai, langsung menengok ke kanan dan ke kiri. Dia mendekat ke arah Dirgantara. "Menurut lo, jika kita ngelawan mereka. Apa mungkin, sistem yang ngawal Aizha tau, sebelum kita bertindak?"
Dirgantara langsung memasang ekspresi yang seakan-akan, mengatakan, "Lo tanya gue?"
Akhsan yang melihatnya, tampak kesal. Dia pun kembali melihat, ke arah layar komputer. Ada banyak sekali data tentang Meira yang muncul pada file Murid VIP.
"Bagaimana bisa?!" seru Innara terkejut, melihat foto-foto itu.
Akhsan dan Dirgantara, sampai terkejut. Innara pun mendekat ke arah komputer Akhsan dan melihat seluruh foto dan data Meira. Dia tampak bingung dan resah.
"Lo dapat dari mana? Gue, Cantika sama Aizha aja, nggak nemu ini!" ujar Innara, setelah melihat-lihat data Meira.
"Ini file yang dihapus Almarhum Kepala Sekolah. Tapi, gue balikin," sahut Akhsan, membuat Innara paham.
Innara pun memanggil Cantika, untuk menghampirinya. Namun, bukan hanya Cantika seorang yang muncul, ada Arkana, Farel dan Bunga. Arkana tampak bertanya, pada Dirgantara, tentang apa yang terjadi di sini. Namun, Dirgantara malah menyuruhnya, untuk menyimak saja, karena jawaban itu akan segera muncul.
"Coba kamu lihat foto-foto ini!" suruh Innara ke Cantika.
Cantika pun, melihat-lihat foto itu dan mengecek tanggalnya. Dia tampak terkejut, melihat hal itu. "Astaga, ini nggak mungkin kan?" ucap Cantika, membuat mereka semua bingung, kecuali Innara.
"Ada apa?" tanya Arkana, penasaran.
"Ada kabar, kalau Rino sama Vero berantem, karena rebutan Meira," kata Cantika, memberitau.
"Oke, terus? Kenapa kalian sekaget ini?" tanya Arkana, dengan ekspresi yang masih berusaha untuk memahami.
"Meira udah enggak perawan, karena Vero," sahut Cantika, dengan suara hati-hati dan tidak enak.
Arkana langsung terdiam. Farel dan Akhsan juga terkejut, mendengar ucapan Cantika. Namun, Dirgantara malah kembali ke komputer dan meminta mereka, untuk fokus dalam satu masalah saja. Cantika tampak sedikit kesal, melihat sikap Dirgantara.
Cantika jadi berpikiran, jika Dirgantara telah mengetahui hal ini. "Jangan-jangan, lo udah tau soal ini?"
Dirgantara hanya diam saja, tak menjawab. Innara yang melihatnya, ikut kesal. "Dir! Lo kalau tau sesuatu bilang! Dengan ini, kita bisa cari tau, siapa yang udah bikin mereka begitu. Kalau memang, Meira lah yang bikin mereka kayak gitu. Kita nggak perlu lagi, terlalu khawatir sama mereka! Tapi, kalau ada orang lain, itu artinya nyawa Meira sekarang, sedang terancam!"
"Dengan lo tau, si Rino sama Vero meninggal, karena Meira. Bukannya itu udah cukup, untuk kalian selidiki langsung ke sana?" tanya Dirgantara, membuat Innara terdiam sejenak.
"Kita memang berencana seperti itu, tadi," sahut Innara.
Innara merasa sedikit kesal dan sedih. Mungkin, karena hari ini, adalah tanggal sensitifnya. Akhsan yang melihat mata Innara berkaca-kaca, jadi tidsk tega. Dia pun memberikan tisu ke Innara, secara diam-diam.
Arkana yang sedari tadi berpikir, seketika penasaran, "Kalau seandainya, Meira dipaksa seseorang, untuk mengatakan hal itu dan membuat mereka berdua bertengkar hebat, sampai meninggal. Itu artinya, orang tersebut adalah penghuni Sekolah kita, entah Karyawan, Guru ataupun Murid," gumamnya.
Cantika dan Innara setuju. "Nahhh, itu yang kami maksud!" seru Cantika.
"Karena itu, gue kaget waktu lihat ini!" ucap Innara, kembali bersemangat.
Arkana menganggukkan kepala paham. "Tar, apa cewek itu Meira bukan Bianka?" tanyanya pada Dirgantara dan dijawab, dengan anggukan kepala. "Selidiki Pak Fahri sekarang! Kalian cari semua data tentang dia!"
"Pak Kepala Sekolah?" Innara, Bunga dan Cantika terkejut.
"Ke-kenapa dia?" tanya Bunga, penasaran.
"Pak Fahri, enggak pernah sependapat, dengan Almarhum Kepala Sekolah. Mereka berdua juga, satu keluarga. Mungkin, Pak Fahri jugalah, orang yang ngebunuh Kepala Sekolah, Guru dan Murid di sini," ungkap Akhsan, membuat Bunga syok.
"Tapi, Pak Kepala Sekolah, orangnya sangat baik dan ramah. Beda jauh, dengan Almarhum Pak Kepala Sekolah yang dulu. Dia sombong dan sok keren!" komen Bunga, tanpa sengaja.
"Yang kelihatan baik, emang biasanya begitu. Mangkanya, jangan menilai seseorang, dengan satu sisi saja!" sahut Farel, membuat Bunga diam.
Innara sedikit, merasa janggal pada Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan. "Sebentar! Bukannya kalian, juga nggak suka ya, sama Almarhum?" tanya Innara, membuat mereka berempat menoleh ke arahnya.
"Kenapa lo bisa mikir kek gitu?" tanya Farel, mulai curiga dan was-was.
"Beberapa kali, gue nemuin kalian, yang kelihatan marah atau enggak seneng sama Almarhum. Padahal kalian tau, kalau Wakil Kepala Sekolah itu, lagi berusaha untuk ambil posisinya," seru Innara. "Anehnya lagi, kenapa Paman Arkana enggak ganti dua orang itu? Apa jangan-jangan? Keponakannya ini, engak lapor ke dia dan merahasiakan hal tersebut?" tambahnya, membuat Arkana, Dirgantara, Akhsan dan Farel marah.
"Innara! Lo sadar enggak?! Sama ucapan lo barusan! Lo kayak mancing keributan, tau nggak?!" omel Cantika, berbisik.
Innara hanya diam, tak memperdulikan omelan Cantika. Arkana pun angkat bicara. "Gue bukannya ngerahasiain ini! Tapi, dia sendiri yang mempertahankan mereka berdua, untuk tetap di Sekolah ini!"
"Ya karena lo, enggak ngasih tau dia, tentang semuanya kan?" tebak Innara, membuat Cantika geram. Sedangkan Bunga, mulai ketakutan.
"Innara!" bentak Akhsan, membuat Innara, Cantika dan Bunga terkejut, saking kerasnya. "Lo nggak tau apa-apa?!"
"Gue emang nggak tau apa-apa. Mangkanya, gue tanya?!" Mata Innara tak kalah tajam, dengan milik Akhsan. Mereka saling meleparkan aliran setrum yang kuat dan tajam.
"Apa kalian bisa jelasin ke kita? Supaya, enggak ada kesalah pahaman?" tawar Cantika, berusaha mencairkan suasana yang panas dan diangin ini. "Lagi pula, kita juga udah ngasih tau, misi dan rahasia besar ke kalian."
Dirgantara tampak tidak suka. Namun, Arkana malah memberitaunya, "Paman gue sengaja, serahin Sekolah ini ke gue. Dia mau uji kita berempat, sebagai Pewaris Keluarga, dengan ijin orang tua kami. Kalau sampai nama baik Sekolah ini tercemar. Kita mungkin, enggak akan dapat meneruskan Perusahaan Keluarga dan hanya, menjadi Asisten aja."
"Paman Arkana, sengaja membiarkan dua saudara itu, menguasai Sekolah sebebas mungkin, untuk menguji kelayakan Arkana, sebagai Pemimpin. Kami bertiga pun, tanggung jawab Arkana," tambah Farel.
"Kita nggak berpihak sama sekali, antara Almarhum atau Pak Fahri, karena dua-duanya kagak bener. Tapi, ada alasan, kenapa Paman Arkana mempertahankan mereka juga. Dia ingin, supaya kita berempat tau, kalau setiap manusiau, bukanlah orang yang mudah disepelekan."
"Makasih," sahut Cantika dan diangguki oleh mereka berempat.
Dirgantara. Farel dan Arkana pun, fokus mencari informasi tentang Pak Fahri. Pada sisi lain, Cantika, Innara, Bunga dan Akhsan, sedang membaca data-data Meira dan Kania. Mereka sekarang, malah jadi lebih akrab dan kompak.
...<\=>...
Afifah tengah mengambil laptopnya dan menunjukkan ke Aizha. "Ini kunci yang Ayah aku dapatkan. Berkat Ayah, aku bisa mengontrol, Guru yang bertugas memasukkan nilai."
"Iniii!" Aizha tampak terkejut, melihat layar laptop tersebut.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Oke, sampai sini dulu ya, guys. See you💕...
...Ohhh iya, aku melupakan ini!✨...
..."Kalian janganlah merasa putus asa, apalagi iri akan kehidupan orang lain! Semua orang memiliki takarannya sendiri. Jika dunia kita terasa begitu membahagiakan, tanpa didampingi dengan ibadah. Ada kemungkinan besar, kamu akan masuk ke dalam jurang neraka. Jadi, jangan tertipu oke?! Jika hidup kita dari kecil sampai besar masih mendapatkan banyak ujian. Mamah aku bilang, mungkin, Tuhan sedang menyiapkan hadiah yang sangat besar dan indah di Surga nanti, jika kita dapat menerima ujian itu dan ikhlas."...
...Itu saja yang mau aku katakan. Jika tidak suka, lompati saja, nggak papa kok. Aku cuman mau tambahin itu aja, untuk diriku juga sebenarnya, khihihiii. Sampai berjumpa di hari berikutnya👋💕...