Alpha Female

Alpha Female
Bab 27



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Tepat di halaman rumah megah Aizha, nampak mobil mewah berada di tengah halaman yang luas itu. Aizha, Innara, Bunga dan Cantika juga, terlihat begitu cantik. Gaya style baju yang sederhana, namun pas dan nyaman untuk dilihat.


"Oke, siapa yang bakalan bawa mobil nih?" tanya Aizha, sembari melihat Innara, Cantika dan Bunga.


Cantika menyilangkan kedua tangan dan menggelengkan kepala, tidak bisa. Innara yang hendak mengambil alih tugas itu, berhenti. Bunga tiba-tiba mengajukan dirinya, untuk menjadi Supir mereka bertiga.


"Katanya deg-degan?" kata Innara.


"Kalau soal mobil, kayaknya aku yang lebih ahli! Lagi pula, aku nggak mau, cuman diem aja nikmatin jalan. Hal itu, bisa bikin aku kangen sama Mamah dan A-yah," ucap Bunga, dengan suara sendu di akhir kata.


"Oke deh." Innara memberikan kunci yang dia ambil dari Aizha, ke Bunga. "Kan mau jalan-jalan, jangan galau kayak gitu dong!"


"Ohh iya, ada Vila yang bagus... Banget! Aku udah booking khusus buat kita berempat!" ujar Aizha, membuat Cantika dan Bunga berseru heboh. "Nah, jangan sedih-sedih mangkanya! Kita harus happy-in pikiran, karena bentar lagi UTS!"


"Woke!" seru Cantika dan Bunga. Sedangkan Innara, ber-ok dengan jari.


Mereka berempat pun pergi masuk ke dalam mobil. Apa yang dikatakan Bunga ada benarnya. Innara mengakui, cara mengemudi Bunga memang sangat pro. Dia bisa menyalip satu per satu kendaraan di jalan, dengan begitu mulus. Innara dan Cantika saja, sampai tertidur.


...<\=>...


Siang harinya, Aizha, Bunga, Cantika dan Innara, telah tiba di Vila yang dituju. Nampak sekitaran Vila, penuh dengan warna hijau, coklat dan biru. Pemandangan yang sangat memanjakan mata. Vilanya juga sangat cantik dan cukup besar, untuk mereka berempat.


"Wahhh, rasanya gue ogah balik," ujar Cantika, setelah melihat-lihat isi Vila.


Aizha hanya tersenyum, sambil memegangi minuman bersoda di tangannya. Ada empat minuman bersoda, dengan warna yang berbeda. Cantika langsung mengambil satu dan nampak terkejut, dengan rasanya. Ada yang meletup-letup di dalam lidah.


"Arghhhh, kaget gue! Sodanya kuat banget buset!" komen Cantika dan meraih sebotol air putih, untuk menjernihkan mulutnya.


Bunga dan Aizha, nampak tertawa kecil, mendengar celotehan Cantika. Sedangkan Innara, terlihat menggelengkan kepala, "Salah lo sediri! Ngapa lo teguk tuh minuman, kayak lagi minum air putih? Ya panteslah, kaget," tegur Innara.


"Sialan! Gue kan baru pertama kali, njir!" kata Cantika, kesal.


"Ya mangkanya, tanya dulu! Lo punya mulut kan?" sahut Innara.


Belum sempat Cantika, membalas Innara. Aizha sudah lebih dahulu memotongnya. Dia langsung menghentikan perdebatan itu, sebelum terjadi perkelahian.


"Udah-udah...! Mendingan, kita ke kamar aja yuk! Kita harus tidur, buat persiapan nanti malam," ucap Aizha, ramah.


"Ehhh, malam-malam? Terus pulang kita?" tanya Bunga, risau.


"Sans aja, aku bakalan panggil Sopir buat ke sini, pakai mobil di rumah. Besok paginya, kita tinggal bobok cantik aja. Setelah itu, kita langsung belajar sama Guru Privat yang aku panggil," sahut Aizha membuat Bunga lega.


"Wahhh, orang tajir emang beda ya," salut Cantika pada Aizha, sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Apa keluarga lo, nuntut anaknya harus---" ucap Innara terpotong.


"Enggak," potong Aizha, langsung. Dia mengerti maksud Innara. "Orang tua sih, nggak begitu peduli sama peringkat atau nilai. Bagi mereka, kebahagian ku yang lebih penting."


"Aku iri, karena kehidupanmu terlalu sempurna, Zha," kata Bunga, dengan wajah irinya.


Aizha hanya tersenyum kecil. Tak berselang lama, Aizha menerima sebuah telepon. Dia pun pamit pergi, untuk menerima panggilan tersebut. Cantika dan Innara merasa, jika kehidupan di dunia ini tidaklah sempurna. Mereka sangat tau, apa yang terlihat begitu enak di mata. Sebenarnya, tidaklah seenak yang dilihat.


"Oma, apa kabar?" tanya Aizha, pada balik telepon.


"Oma baik, kapan kamu ke sini?"


"Emmm, besok aku bisa, kok Oma,"


"Kalau gitu, besok datanglah ke sini. Kenakan pakaian yang cantik dan panggil orang salon kita, untuk rias wajahmu, oke? Damian, akan berkunjung besok. Dia sangat ingin bertemu dengan mu!" ucap Oma, begitu senang.


Aizha tampak terkejut. "Da-Damian Oma?"


"Kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Oma, berubah menjadi dingin.


"Ti-tidak Oma, aku hanya terkejut saja. Aku senang, bisa berjumpa lagi dengan Damian," ucap Aizha, terdengar aneh.


"Baguslah, jangan kecewakan Oma, ya! Kamu tau kan, apa akibatnya jika gagal?"


"Iya Oma, tapi... Apa boleh, aku minta satu hal ke Oma?"


"Apa?"


"Tolong, kabari Mamah tentang kondisi Oma sekarang. Mamah sangat khawatir sama kondisi Oma," pinta Aizha.


Oma tak langsung menjawab. "Hanya itu?"


"Iya,"


"Baiklah, Oma akan hubungi Ibumu itu!"


"Bisakah, Oma mengganti panggilan Ibumu, menjadi Menantuku?" ucap Aizha, dengan takut-takut.


"..." Oma tak membalas. Dia mematikan telepon itu, secara sepihak. Aizha tampak begitu sedih, menatap layar handphone tersebut.


Aizha pun pergi menghampiri teman-temannya. Terlihat, pada ruang tamu sangat sepi. Aizha berpikir, jika mereka telah pergi ke kamar. Namun, ada Innara yang diam-diam, melihat ke arahnya. Sedangkan Cantika dan Bunga, berada di kamar, sesuai perintah Innara.


"Ternyata, lo juga nyimpen hal ini. Gue nggak bisa bayangin, kalau lo masih menderita di Sekolah, Zha. Gue kagum sama lo," gumam Innara dan pergi.


...<\=>...


"Andre mana?" tanya Bunga, sambil melihat sekitaran Bar.


"Ststtsttt, mulai saat ini kita panggil dia, Blak!" perintah Innara dan diiyakan oleh mereka bertiga.


Aizha pun mengaktifkan sistem Alpha, untuk mencari tau posisi Andre. Nampak kartu data diri hologram muncuk, setiap ujung kepala masing-masing orang di dalam Bar. Innara juga dapat melihatnya.


...[Vera : 18 tahun, Tamu Andre]...


...[Aril : 16 tahun, Lelaki Andre]...


...[Alin : 18 tahun, Tamu Andre]...


...[Andre : 17 tahun, Target]...


Innara dan Aizha tampak terkejut, melihat hologram tersebut. Andre dan ketiga orang itu, berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan, dengan dua orang Penjaga di luar. Aizha, Innara, Bunga dan Cantika pun pergi, menerobos sekumpulan orang yang mulai sedikit mabuk. Nampak wajah Bunga dan Cantika terlihat risi serta tidak nyaman. Ketika, bersetuhan dengan perempuan yang berkain sedikit.


"Arghhh, sialan!" umpat Cantika, sambil mengelap tangannya ke rompi.


Aizha, Innara, Cantika dan Bunga kini, telah tiba di dekat ruang yang dimasuki oleh Andre. Aizha yang sedang melihat Cantika, mengernyitkan kening.  "Kamu kenapa, Can?" tanya Aizha.


"Gue sengaja, pegang pantat cewek," sahut Cantika, membuat Aizha dan Innara tertawa kecil. "Btw, ngapa kalian tiba-tiba lari ke sini?"


"Blak ada di dalam ruang itu!" tunjuk Aizha, menggunakan gerakan mata.


"Penjagaanya ketat, Zha," ucap Bunga, sedikit takut.


"Cara masuknya gimana coba? Kita nggak bakalan dapet ijin pasti," ujar Cantika.


"Gue nggak juga bisa, kalau minta ijin, buat masuk ruang itu. Alex nggak pernah ngajak gue, masuk ke sana," ucap Innara.


Aizha pun, tampak berpikir sejenak. Dia memilih, untuk mengaktifkan item cerdas dan kepercayaan. Dia meminta mereka bertiga, untuk menunggu. Aizha tampak berbincang-bincang sedikit, dengan kedua Penjaga tersebut.


"Ehhh, kenapa Penjaganya jadi aneh ya?" ujar Cantika, melihat reaksi Penjaga yang terlihat ramah.


Para Penjaga itu juga, menundukkan kepala dan membiarkan Aizha, Bunga, Cantika serta Innara, untuk masuk ke dalam. Mereka bertiga tampak takjub, dengan apa yang dilakukan Aizha. Innara juga tersenyum, melihatnya.


Aizha, Bunga, Innara dan Cantika, duduk di meja dekat Andre. Tampak, Andre yang sedang bermesraan, dengan lelakinya. Sedangkan dua wanita yang berdiri di depan, tampak diam dan melihat.


"Si Balk, gay?" tanya Cantika dan diangguki oleh ketiga temannya.


"Ya ampun, aku pikir dia cowok me*sum," ucap Bunga, tak percaya.


Aizha pun menaruh parfumnya di tengah-tengah meja mereka. Pada parfum itu, terdapat kamera yang sangat kecil. Bunga tampak ragu, dengan letak parfumnya.


"Apa nggak kejauhan? Lebih baik, kamu taruh di sebelah tanganmu," saran Bunga.


"Ini udah bagus kok. Hasilnya juga, bakalan lebih tajam, dari pada mata kita. Kamu nggak perlu risau," jelas Aizha, membuat Bunga mengerti. "Tapi, kita harus taruh ini ke meja si Blak. Supaya suaranya dapet," lanjutnya, dengan menunjukkan lingkaran hitam yang sangat kecil.


"Kecil banget," komen Bunga dan Cantika bersamaan.


"Apa kita harus ambil itu lagi?" tanya Innara, memastikan.


"Enggak perlu, suaranya udah terhubung sama kamera dan ini." Aizha menunjukkan dua buah jepitan dan anting. "Aku sama Bunga, pakai anting. Kalian berdua pakai jepitan, supaya silang."


Letak duduk mereka berempat saling berhadapan. Bunga bertatapan, dengan Innara. Sedangkan Cantika, bertatapan dengan Aizha. Aizha sengaja menyilangkannya, supaya tidak begitu terlihat. Mereka pun mengenakan benda itu. Setelah Cantika, diam-diam menjatuhkan perekam suara tersebut ke bawah meja Andre.


"Kau tau, kalau sekarang ini, mulai banyak pasangan kayak kita?" tanya Aril pada Andre.


"Hmm, aku tau," sahut Andre dan melihat kedua gadis itu. "Karena itu aku bawa mereka berdua ke sini. Aku mau, mereka memuaskan Siswi di Sekolahku. Jadi, kau jangan cemburu oke?"


Bunga yang mendengarnya, langsung memasang wajah jijik. Aizha juga, terlihat begitu kesal. Namun tetap datar.


"Kapan aku cemburu? Kau pikir, aku cowok seperti apa? Jangan samakan aku sama kaum mereka yang suka ngambekan dan berperilaku aneh!" omel Aril, sambil melihat kedua gadis itu kesal.


Innara yang mendengarnya, mengepalkan tangan. Cantika juga, serasa ingin muntah. Mereka benar-benar tidak tahan, dengan pembicaraan pasangan itu.


"Tapi, aku suka, kalau kamu bersikap seperti itu. Melihat ekspresi kesal dan


cemburumu itu, sangat menyenangkan," kata Andre.


"Ck, kalau gitu, cepat selesaikan urusamu dengan mereka berdua. Melihat para wanita itu, membuatku muak dan mual," ujar Aril dan Andre pun mengiyakan.


"Ada seseorang yang ingin melihat kalian lagi di live gue. Tapi, kalian tenang aja, gue nggak bakalan siksa kalian. Kebetulan juga, ada cewek yang udah pesan kalian berdua. Gue mau, kualitas nggak boleh turun dan harus sempurna!" pinta Andre dan terima oleh kedua gadis itu. "Bayaran dua kali lipat. Doubel job dalam semalam, bagus bukan?"


"Kami akan terima, tapi transfer dulu DP-nya. Kita kan perlu menyiapkan diri juga, buat tampil sempurna," ujar Cewek itu dan Andre pun mengiyakannya.


Cantika, Innara dan Bunga, melepaskan aksesoris itu. "Sial, ternyata bukan hanya Murid Sekolah kita!" gerutu Innara.


Aizha melirik sebentar, ke arah Andre dan Aril. Tampak keduanya sedang berbincang mesra. Dia pun menyimpan kembali parfum itu ke dalam tas, karena bukti sudah cukup sampai sini. Menurut Aizha, tak baik jika rekaman itu dilanjutkan, mengingat Andre dan Aril mulai sangat mesra.


"Sepertinya, elo juga harus kasih pelajaran, buat anak-anak yang menyimpang di Sekolah kita, Zha," ucap Cantika, serius.


Aizha menganggukkan kepala, mengiyakan. "Tapi, kita urus kasus ini dulu oke."


"Selanjutnya apa nih, selain belajar? Kan masih ada satu minggu lagi, menuju UTS," tanya Bunga, yang mulai tertarik.


"Selanjutnya..."


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...See you...💕...