
...Welcome the Alpha Female✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Cantika yang hampir saja memejamkan mata, langsung tersadar. Dia melihat ke arah luar, nampak di depan ada Supermarket. Dia bertanya-tanya, kenapa mereka berhenti di sini.
Bunga yang telah pergi keluar, mengajak Cantika, untuk masuk ke dalam Supermarket. Cantika yang terlihat bingung, nampak bertanya pada Bunga, namun tidak dijawab. Bunga memberikan troli ke Cantika, sambil tersenyum.
Terlihat sesekali Bunga memasukkan beberapa barang ke dalam troli, hingga penuh. Ada banyak cemilan, buah dan roti. Cantika yang melihat bejaan itu tampak penasaran, untuk siapa belanjaan ini. Tiba di Kasir, tampak satu juta lebih, telah Bunga keluarkan, untuk sekali belanja.
"Gilak, orang tajir emang beda ya," celetuk Cantika, namun tak ditanggapi Bunga. Dia hanya, memberikan semyum. Andaikan, Bunga itu Aizha. Sudah pasti, Cantika langsung kena ceramah.
Bunga dan Cantika pun keluar dari Supermarket, menuju mobil. Tampak dua plastik besar dan yang kecil satu. Mereka bawa masuk belanjaan itu ke bangku belakang. Nampak, Bunga mengemudikan mobilnya kembali ke area jalan.
"Gue mau tanya, lo harus jawab!" pinta Cantika dan diangguki oleh Bunga. "Lo belanja buar rumah atau siapa?"
"Buat keluargamu sama Aizha," sahut Bunga, membuat Cantika terkejut.
"Keluargaku sama Aizha?" ulang Cantika, memastikan.
"Iya, kamu nggak kenal Aizha kah? Dia itu, orang yang dibully sama Bianka CS. Dia juga, mantan pacar Jeno," jelas Bunga dan Cantika pun, menyenderkan kepalanya, melihat ke arah luar jendela.
"Gue kenal Aizha," ujar Cantika, membuat Bunga terkejut. "Lo tau, kalau dia ternyata anak orang konglomerat?"
"Tau banget, aku pernah ke rumahnya. Rumah Aizha besar... Banget! Dia juga, cuman tinggal sama Asisten Rumah Tangga dan Satpam doang," sahut Bunga.
Cantika menganggukkan kepala, tau. "Jujur aja, gue sempat iri sama dia. Setelah, lihat rumah megah dan halaman yang luas... Banget itu. Gue pikir, hidupnya tuh bakalan enak banget. Tapi, kalau dipikir-pikir juga, dia nggak sebahagia yang gue bayangin. Pembullyan yang dilakuin Bianka CS itu, gila parah. Setiap kali, gue lihat vidio yang mereka sebar. Dada gue langsung nyeri dan ikut ngerasain, rasanya pingin muntah, teriak, nangis dan marah."
Bunga tampak sedih, mengingat hal itu. "Iya, waktu Bianka CS keluar dari Sekolah. Banyak anak-anak yang nangis, karena senang dan ada juga lega. Merekalah, pembuly yang nggak pernah setengah-setengah. Cuman, anehnya itu ya, kenapa Bianka jarang ikut campur?"
"Dia jarang ikut campur, karena sibuk dengan urusannya. Dia juga, cuman nonton doang, kalau lagi nggak mood. Gue sebenarnya, pernah lihat Bianka nyiksa Aizha. Dia lebih gila dari Rena, Vina dan Dian," ungkap Cantika, membuat Bunga terkejut dan menoleh sekilas.
"Gila gimana?" tanya Bunga, membutuhkan penjelasan.
Cantika pun bercerita. Ketika dia sedang mengambil peralatan bulu tangkis. Dia melihat Bianka yang membawa Aizha, ke ruang sepi dan jarang terpakai. Terlihat, Bianka menampar wajah Aizha berulang kali, sambil memaki. Dia juga mencoret wajah Aizha, menggunalan lipstik.
Cantika resah dan khawatir. Dia ingin menghentikannya, namun tak berani. Dia takut beasiswanya terancam. Bianka terus saja menendang dan menjambak Aizha, hingga lemas. Bianka juga mengoceh, seperti orang gila. Cabai yang dia bawa juga, diberikan pada Aizha, untuk dimakan. Jika Aizha tak bisa menghabiskan, pukulan dan tendangan langsung diberikan oleh Bianka.
Bunga yang mendengar cerita itu, merinding sendiri. Dia tidak bisa membayangkan, jika seumur hidup Aizha, akan mengalami hal itu. Cantika juga merasa iba, dengan Aizha. Melihatnya, masih bisa tersenyum, membuat Cantika sedih. Bunga semakin merasa, jika apa yang dia terima. Tidak ada apa-apanya, jika di bandingkan dengan Aizha.
"Kita ke rumahmu dulu. Setelah itu, kita ke rumah Aizha gimana?" tanya Bunga.
Cantika menganggukkan kepala, setuju. "Oke, tapi jangan kaget ya!"
"Iya!"
...<\=>...
Hari telah sore, namun terkesan malam hari, karena di area yang penuh, dengan pepohonan tinggi. Innara keluar dari mobil, dengan masker di wajahnya. Sang Sopir, tampak begitu khawatir. Tetapi, Innara meyakinkan Pak Sopir, untuk tidak perlu risau dan meminta doa yang terbaik. Pak Sopir pun mendoakan Innara dan pergi.
Innara berjalan, menuju kotak yang besar. Entah kenapa, perasaan tak enak, lagi-lagi melanda Innara. Dia berjalan, dengan rasa takut dan risau. Namun, belum tiba di rumah itu. Innara telah dibungkam, hingga terjatuh pingsan.
Beberapa menit kemudian. Mata Innara terbuka. Terlihat, Alex yang duduk di dangku depan sana, dengan raut wajah dingin. Ada banyak kamera juga, terpasang di berbagai sisi ruangan dan dua buah laptop serta handphone.
Firasat Bunga mulai tidak enak. Dia memberontak, melepas tali yang mengikat dirinya. Terlihat, kedua tangan dan kaki di tali, hingga tubuhnya membentuk X. Tubuh dia juga diikat bersama tembok di tengah ruang tersebut.
Alex berjalan mendekati Innara, dengan tatapan dingin. "Kenapa lo lakuin ini? Kenapa lo, khianatin gue? Apa salah gue?" tanyanya, dingin dan penuh penekanan.
Innara menangis dan menggelengkan kepala. Seseorang membukakan lakban Innara, supaya bisa bicara. "Bukan... Aku sama sekali nggak nyuruh orang, buat lakuin hal itu, ke kamu Lex. Percayalah, ku mohon...!" lirihnya.
Alex pun duduk, menjejerkan posisi mereka. "Elo lihat sekarang, apa yang udah mereka lakuin ke gue!"
Innara melihat ke seluruhan tubuh Alex. "Apa Alpha emang sekejam ini? Gue harap, dia muncul tepat waktu. Kalau enggak, gue bakalan habisi dia!" batinnya dan langsung menangis, "Hiksss, aku nggak mungkin lakuin ini ke kamu, Lex. Per---" ucapnya terhenti.
Alex membungkam mulut Innara, dengan kain. Dia juga melakban mulut Innara, dengan tangannya sendiri. Malutnya berkata, jika hati dia telah terluka dan tak akan ada lagi maaf untuk Innara.
Innara mulai memberontak. Teman-teman Alex, nampak begitu senang, menyobek baju dan celana panjang Innara. Terlihat, Innara yang mulai pasrah dan hanya bisa menangis. Semua kamera mulai menghadap ke arahnya. Innara pasrah dan hanya menunggu Aizha, untuk menolongnya. Karena, hanya dialah harapan dia satu-satunya.
...<\=>...
Bunga dan Cantika, telah tiba di rumah Aizha. Mereka berdua sempat murung, karena Aizha tak ada di rumah. Tetapi, mereka tidak langsung pergi. Mereka memutuskan, untuk menunggu Aizha hingga pulang.
Bibik pun datang, dengan dua buah cangkir susu hangat, untuk Cantika dan Bunga. "Ayo, diminum dulu, Non!"
"Makasih Bik," ucap Bunga dan Cantika, tak bersamaan.
Bibik pun duduk di atas kursi lain. Dia tidak duduk di sofa, seperti Bunga dan Cantika. Namun, kursi itu juga bagus, hanya tidak seempuk sofa tersebut.
Bibik tersenyum dan berkata, "Besok, Mbk Aizha ulang tahun, loh Non!"
"Ehhh, yang bener Bik?" tanya Cantika, tak percaya dan diangguki oleh Bibik.
"Wahhh, kebetulan banget dong. Tapi... Apa orang tua Aizha nggak pulang hari ini, Bik?" tanya Bunga, penasaran.
"Bulan ini, Bapak, Ibu sama Aden, nggak bisa pulang, Non. Tapi, sebagai gantinya, dua bulan kemarin, ulang tahun Mbk Aizha dirayain rame-ramean!" jelas Bibik dan Cantika pun ber-ohh.
"Bibik sama yang lainnya, ada rencana buat kasih kejutan lagi?" tanya Bunga kembali.
"Ada, saya sama dua Asisten lain, baru aja bikin kue sama beberapa makanan lain. Mangkanya, saya kasih tau kalian berdua. Mungkin aja, kalian mau bergabung. Kalau ada yang kesulitan dapat ijin orang tua. Nanti, biar saya aja yang ngomong," sahut Bibik dan disetujui oleh Cantika dan Bunga.
Cantika, Bunga dan Bibik pun, merencanakan kejutan untuk Aizha, dengan senang hati. Bibik juga terlihat ke Ibuan, waktu memintakan ijin, untuk Cantika dan Bunga. Namun, di lain tempat. Kondisinya sangat jauh berbeda.
Alex kini, sedang menonton Innara yang tertekan, karena ulahnya. Nampak, tubuh Innara yang terlihat cukup jelas, karena sobekan yang ada pada pakaiannya. Innara telah benar-benar menyerah. Dia tak lagi berharap, Alpha atau Aizha menolongnya. Semua kamera dan mata yang melihat tubuhnya, dia biarkan saja. Lampu-lampu juga menyorot ke arahnya, hingga terasa panas.
Salah seorang anggota, nampak sedang berdiri di salah satu kamera. Dia bersiap-siap, untuk melakukan live premiernya. Nampak ratusan Penonton bergabung, karena melihat tanda yang membuat kebanyakan orang mesum ingin menonton.
"Kalau koinnya belum memenuhi target kami. Kami nggak bakalan kasih kalian, tontonan yang bagus ini!"
(Komen)
A : Awas aja lo, kalau ngecewain.
B : Ceweknya kek gimana dulu.
C : Bocorin dikitlah, baru kita kasih.
D : Setuju, kalau gue suka. Bakalan gue kasih, koin yang paling gede!
"Ohhh, woke-woke. Bakalan kita kasih tunjuk nih, dikit tapi!"
Kamera pun menrekam sekitar bahu dan leher cantik Innara. Tetapi, para Penonton nampak marah dan menanyakannya. Si Hos, kelihatan bingung dan bertanya pada bagian orang yang memegang laptop. Mereka juga tampak resah dan kebingungan.
Alex yang merasa, ada keanehan terjadi, langsung menghampiri bagian laptop. Tampak, kadua layar laptop itu mulai eror. Mereka mulai resah dan bingung, karena tidak bisa berbuat apa-apa. Listrik juga, tiba-tiba mati. Banyak orang mulai kebingungan. Alex berteriak, karena keributan terjadi.
"Lo cek listriknya sekarang, cepat!" pinta Alex pada salah seorang anggota, emosi.
Alex mendengar suara aneh, di sisi area Innara berada. Dia pun, berlari menghampiri Innara. Namun, ketika tangannya sedang meraba. Dia tampak terkejut, karena Innara telah menghilang.
"Innara hilang!" teriak Alex, membuat kondisi semakin kacau. "Ayo keluar! Kita harus temuin dia sekarang!" suruhnya.
Alex dan anggota yang lain pun, pergi keluar dari markas. Tetapi, ketika mereka hendak keluar. Segerombolan montor datang. Mereka masuk, dengan kondisi montor yang hidup.
Alex dan teman-temannya terpojok. Mereka di putari oleh anak geng montor, hingga tak bisa keluar. Listrik pun kembali hidup dan montor-montor itu berhenti.
Salah seorang Ketua, dari geng itu muncul. Arkana yang merupakan Ketua geng tersebut, nampak menjetikkan tangan. Para anggota yang mengetahuinya, langsung menghajar habis-habisan Alex dan teman-temannya.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
......Sampai berjumpa di bab selanjutnya✨......