Alpha Female

Alpha Female
Bab 80



...Welcome to Alpha Female😘💕...


...Happy Reading ✨...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...[Sebetulnya, aku tau hal ini sudah cukup lama. Hanya saja, aku ingin kau lebih fokus pada misi. Hanya dengan ini, kau bisa meningkatkan kualitas item yang ada pada tubuhmu dan sistem Alpha]...


Aizha nampak sangat murung dan sedih. Seketika, sebuah pertanyaan muncul di otaknya. "Apa semua pemakai Alpha, mengalami ini?"


...[Tidak]...


"Apa?!" Aizha tak percaya. "Bagaimana bisa?!"


...[Sistem Gatif, hanya memilih orang yang benar-benar memiliki energi besar. Jika, orang yang diberi pelajaran oleh Alpha, hanya sedang-sedang saja. Dia akan memilih yang lain, meskipun satu]...


"Mungkinkah, ada dendam pribadi di antara kalian? Kalau begini, mending kita berusaha sendiri, tanpa bantuamu!" keluh Aizha dan pergi duduk di sofa.


...[Aku memilihmu, karena tidak ada niatan, untuk berubah! Jika aku tidak ada, sampai kuliah pun, kau akan dirundung terus!]...


...[-_-]...


Aizha tak memperdulikannya dan memalingkan wajah. Hologram Alpha pun kembali muncul di depan mata Aizha.


...[Layaknya beberapa manusia yang usil dan tidak suka kedamaian. Tanpa mereka, tak akan ada luka, duka dan lara. Kalian para manusia juga, tidak akan menyadari, begitu nikmatnya bisa hidup tentram dan tersenyum bersama seseorang atau sekelompok orang, seperti keluarga serta teman]...


"Jadi maksudnya?"


...[Sistem Gatif sangat tidak menyukai kedamaian dan keharmonisan]...


"Ohhh."


...[Aku telah mendeteksi, jika hari itu, akan segera tiba. Jadi, kalian harus segera selesaikan semuanya]...


...[Energimu sekarang, masih enam puluh persen. Jadi, segeralah kau selesaikan semuanya. Aku akan membantumu!]...


"Oke!" sahut Aizha, sembari menganggukkan kepala, paham.


...<\=>...


Malam Harinya, Arkana, Dirgantara, Akhsan dan Farel, telah bangun dari pingsannya. Pada ruang tengah, Aizha tengah sibuk berbincang, dengan Cantika serta Bunga. Laras, Ayu dan Keysa, baru saja di antar Sopir di Vila, kembali pulang' ke rumah mereka masing-masing.


Saat Arkana, Dirgantara, Akhsan dan Farel sadar. Sistem Alpha mendatangi mereka. Dia memberikan info. Jika hari Sistem Gatif, akan segera tiba. Sistem Alpha pun memberikan sebuah item yang melayang ke arah mereka berempat, berwarna biru dengan cahaya yang mengkilap.


...[Item itu, akan sangat berguna, untuk kalian gunakan pada saat hari H]...


...[Ada sesuatu yang ingin aku beritau Arkana seorang. Apa kalian bisa beri waktu untuk kami?]...


"Iya!" sahut Farel, Akhsan dan Dirgantara juga mengijinkan, dengan menganggukkan kepala.


...[Terimakasih, tolong rahasiakan hal ini!]...


Farel, Dirgantara dan Akhsan, menganggukkan kepala, berjanji. Mereka pun pergi meninggalkan Arkana di dalam kamar, bersama sistem Alpha. Arkana nampak menanyakan, apa hal yang ingin diberitahukan Alpha padanya.


...[Aku merasakan, energi yang sangat kuat pada Jeno. Tapi aku rasa, ada kemungkinan besar, untuk Aizha bisa selamat, karena item nyawa yang aku berikan ke kamu]...


"Lo kan sistem, kenapa ragu-ragu?" tanya Arkana, merasa heran.


...[Ada batasan untuk kami. Lagi pula, aku bukan Tuhan. Melihat masa depan aja, ada batasannya]...


"Oke, apa ada hal lain?" tanya Arkana, memastikan.


Sistem Alpha pun memberitahu Arkana. Dia nampak biasa-biasa saja, ketika keluar dari kamar. Aizha yang sedang sibuk melihat ipad, nampak menyapa Arkana dan menawarkan makanan. Dia juga, menanyakan keinginan Arkana, tentang makanan dan minuman yang diinginkan. Namun, Arkana menolak dengan ramah dan lembut.


"Baiklah," sahut Aizha dan kembali fokus pada ipadnya. Namun, seketika ipad itu menghilang dari tangan dan pandangannya.


Arkana mengambil ipad itu dan berkata, "Aku mau rubah rencana, kalau kalian udah mengaturnya tadi. Aku rasa, kita harus selesaikan masalah ini, dengan waktu maksimal satu minggu!"


"Satu minggu? Bukannya, itu terlalu cepat?" tanya Bunga, yang sedang selesai menulis.


"Kita lakuin, waktu mereka sedang bertindak. Kita nggak perlu cari bukti dan cukup manfaatkan Alpha serta kekuatan Aizha. Selesai misi, kita istirahat sebentar, sambil cari-cari korban kecelakaan dan pendonor darah, untuk Aizha," jelas Arkana, membuat Aizha tercengang.


"Ehhh, enggak ah! Aku nggak mau!" Aizha menolaknya.


"Aku yakin, kamu akhirnya bakalan mau!" sahut Arkana, membuat Aizha cemberut. "Mulai besok senin, gue sama Farel, bakalan mengadakan rapat bareng OSIS dan semua Guru, serta karyawan, setelah upacara. Pada saat itu juga, kalian..."


Dirgantara, Farel, Akhsan, Bunga, Cantika dan Aizha, terus menyimak rencana Arkana. Mereka nampak setuju dan membuat jadwal. Perdebatan yang cukup panjang, akhirnya selesai dengan kesepakatan bersama.


...<\=>...


Pagi harinya, para Murid yang baru saja tiba di sekolah, mulai berkumpul di halaman. Upacara juga, telah berlangsung. Panas yang sangat terik, tak membuat mereka semua tumbang, untuk menjalankan kegiatan tersebut.


Setengah jam kurang, Petugas Upacara membubarkan barisan. Para Murid, langsung kembali ke Kelas. Namun, beberapa memilih untuk pergi ke Kantin, karena jam kosong.


Pada salah satu Kelas sebelas, suasananya nampak sedikit sunyi. Dirgantara dan Cantika, langsung meminta para Murid, untuk masuk ke dalam kelas. Aizha yang tiba-tiba mendobrak pintu kelas itu, berhasil membuat banyak Murid terkejut.


"Wahhhh, aku pikir lagi nonton yang senonoh. Ternyata, lagi ada mukbang ya?" ujar Aizha, melihat sebuah kamera dan satu orang Siswa serta Siswi, yang saling menyiksa. Terlihat beberapa makanan tidak layak dan minuman yang dicampur, dengan telur.


Ada begitu banyak makanan aneh di dalam mangkuk besar. Terlihat bakso yang dicampur, dengan susu, sirup, jengkol, pete, sambal dan yupi. Makanan itu, langsung diambil oleh Aizha dan dia suapkan ke satu per satu Siswa-Siswi yang menjadi Dalangnya. Nampak, seorang Siswa yang baru saja disuapi oleh Aizha, langsung meraih baju itu, dengan sangat kuat. Aizha pun tersenyum dan meremas kuat, lengan Siswa itu, tanpa ampun.


"Arghhhhh!" teriak Siswa tersebut, kesakitan.


Lengan Siswa tersebut, mulai berdarah, karena kuku Aizha. Sebuah tonjokan juga, melayang ke wajahnya, hingga terjungkal ke belakang dan jatuh dari atas meja. Murid yang belum Aizha suapi. Mau tidak mau, menerima suapannya.


"Huekkk!" suara beberapa Murid, muntah.


Aizha pergi mengambilkan minuman itu, untuk Kameraman. "Minum!" pinta Aizha dan menawarkan diri, "Atau perlu bantuanku?!"


Murid yang menjadi Kameraman itu, langsung mengambil alih gelas dan meminumnya. Namun, hampir saja minuman itu, dia semprotkan ke arah Aizha, jika tidak sempat memalingkan wajah. Pemuda itu muntah dan lemas.


"Upsss, yang nonton belum dapat ya?" celetuk Aizha, membuat mereka menggelengkan kepala ketakutan. "Maaf, sayangnya aku Alpha. Aku tidak akan memaafkan kalian."


"Apa?!"


"Mustahil!"


"Terserah kalian, mau percaya atau tidak," ucap Aizha, membuat mereka resah.


Cantika dan Dirgantara tiba-tiba datang, dengan sebuah benda di tangan. Ada minuman dan makanan yang tidak jauh berbeda, di atas nampan Cantika. Dirgantara sendiri, membawa sekumpulan tikus putih yang kecil, dalam kotak tembus pandang. Melihat banyaknya tikus itu, membuat beberapa dari mereka terkejut.


"Hmmm, kayaknya, banyak yang enggak takut nih!" gumam Aizha. Tak berselang lama, dari arah luar, terdengar sebuah teriakan yang begitu kencang. Para Murid yang ada di dalam kelas itu, mulai resah ketakutan. Apalagi, melihat Dirgantara, Cantika dan Aizha, yang tersenyum aneh.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...Bersambung......


...Sampai jumpa di bab selanjutnya ✨...


...Terimakasih, untuk kalian yang masih setia membaca. See you😘💕...