Alpha Female

Alpha Female
Bab 38



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Aizha yang sedang tertidur. Tiba-tiba saja, terbangun. Namun, lingkungan sekitarnya, terlihat sedikit aneh. Hanya ada warna putih dan kebiruan yang mengelilingi dia. Seketika sebuah hologram muncul di depannya.


"Alpha?!" Aizha terkejut dan juga senang. "Apa kau sudah kembali?"


...[Aku adalah seperti partikel Alpha dari setiap item yang kau gunakan dan menyebar pada seluruh tubuhmu]...


...[Aku hanya ingin memberitau, jika kau bisa menyerap darah manusia, secara langsung]...


"Apa maksudmu?" tanya Aizha, bimbang.


...[Maaf Aizha, karena Alpha sedang eror]...


...[Kau harus bisa mengontrol sendiri kekuatan yang ada pada tubuhmu]...


...[Tanpa kau sadari. Hari ini, kau telah menggunakan item kepercayaan dan cerdasmu]...


...[Tetapi, item kepercayaanmu cukup besar. Sehingga, para Penjaga dan Detektif itu, langsung mempercayaimu]...


...[Tanpa kamu sadari juga. Kamu telah membagikan juga item kepercayaan dan cerdasmu pada Innara, Bunga dan Cantika]...


...[Hal itu lah, yang membuatmu terbaring di Rumah Sakit. Jika dibiarkan, seperti yang Alpha katakan sejak awal. Umurmu akan pendek]...


"Apa? Terus gimana caranya, aku ngontrol kekuatan ini?! Kalau aku saja nggak tau! Kapan aku pakai kekuatan ini!" ujar Aizha, sedikit kesal dan prustasi.


...[Caranya, jangan terlalu berharap besar pada temanmu, untuk saat ini]...


...[Lebih banyak diam, untuk sementara waktu dan biarkan Cantika atau Innara yang berpikir]...


...[Serahkan semuanya pada mereka, tanpa harapan]...


"Kau bercanda!" bentak Aizha, membuat hologram itu lenyap.


Aizha terus saja berteriak, meminta pertanggung jawaban dan kejelasan. Tetapi, matanya kembali terbuka dalam kehidupan nyata. Dia melihat sebuah ruang yang sangat tak asing. Apalagi aroma khas Rumah Sakit yang seketika menusuk hidungnya. Innara, Cantika dan Bunga pun, langsung terperanjat. Mereka pergi menghampiri Aizha, dengan senang dan lega.


"Akhirnya, lo bangun juga, Zha!" ucap Cantika lega.


"Lo pakai item yang berlebihan ya?" tanya Innara, membuat Aizha menoleh dan melihat ke arahnya. Innara yang paham, akan tatapan mata itu, langsung memberitau, "Gue udah jelasin Cantika sama Bunga, tentang sistem Alpha. Supaya, kita bisa lindungi elo."


Aizha pun melihat ke arah Cantika dan Bunga. "Kalian percaya? Bukankah itu sulit dimengerti?"


"Memang, kalau dinalar sih, enggak masuk akal banget. Tapi, gue percaya aja," ujar Cantika, santai.


"Jangan tanya, alasan kami bisa percaya begitu aja! Kita juga nggak paham. Mungkin aja, karena kita udah saling deket dan teman sejati. Biasanya, teman sejati itu saling percaya, memberikan kenyamanan dan melindungi," ucap Bunga, membuat Aizha teringat, akan pesan hologram di mimpi.


"Zha, gue nggak bisa lama nih. Gue harus pulang segera," pamit Innara, membuat Aizha bertanya-tanya. Namun, Cantika meminta Innara untuk segera pergi. Dia akan menjelaskan pada Aizha, nanti.


Innara pun pergi dari kamar inap Aizha. Cantika yang mendapatkan tatapan penuh tanya oleh Aizha, tampak menghela napas pelan. Bunga juga, duduk di dekat ranjang Aizha.


"Orang tua Innara tau, kalau rumah mereka kedatangan Polisi. Mereka juga, bakalan pulang ke rumah malam ini, untuk meminta penjelasan sama Innara," jelas Cantika, memberitau.


Aizha tampak merasa bersalah. Bunga pun menambahkan, "Ada satu hal lagi, yang harus kamu tau, Zha! Orang tua Innara, kayak bukan orang biasa. Ada banyak persenjataan dan ruang rahasia di rumah Innara."


"Rumahnya, emang nggak sebesar rumahmu, Zha. Tapi, rumah Innara misterius, persis orangnya," celetuk Cantika, membuat Aizha mengernyitkan kening.


"Maksud mu?" tanya Aizha, meminta penjelasan.


"Lo pada pernah lihat, waktu perggelangan tangan Innara diperban?" tanya Cantika dan diangguki oleh Aizha serta Bunga. "Mana ada, orang yang udah lakuin hal kayak gitu, bisa lepas dari Rumah Sakit dan pergi keluar, tanpa kelihatan lemes atau sakit?"


"Mungkin, itu yang namanya gen," sahut Bunga.


Aizha menyadari, jika ada yang sedikit berubah, dengan mereka sekarang. Tetapi, saat ini dia harus bisa mencari cara, untuk menjaga tubuhnya. Supaya tidak berakhir, dengan fatal.


...<\=> ...


Dua minggu kemudian, kasus Bimo, Teo dan Alex telah selesai. Innara, Bunga, Aizha dan Cantika, pun pergi ke Kantor Polisi, untuk melihat seseorang yang diduga Pembunuh, dari mereka bertiga. Ada banyak pertanyaan yang membingungkan mereka bertiga. Sang Detektif juga mendapingi para gadis itu.


"Dia lah orang yang memberitau kami, kalau Innara pelaku pembunuhan Bimo dan Alex," kata Bu Detektif.


"Tapi Bu, apakah dia menyerahkan dirinya sendiri?" tanya Aizha, pada Bu Detektif.


"Iya, dia juga bawa beberapa bukti yang membuktikan, jika dirinyalah pelaku pembunuhan itu. Dia juga meminta maaf, karena telah membohongi kami," ungkap Bu Detektif, membuat mereka bertanya-tanya.


"Apa mungkin, ini ulah orang tua lo, Ra?" tanya Cantika, pada Innara.


"Mana ada! Mereka cuman nyuruh para Petugas, untuk berhenti ganggu hidup gue, doang! Karena udah jelas, kalau gue cuman di rumah aja, selama kejadian! Mereka juga terlalu sibuk, untuk ngelakuin hak itu," jelas Innara, membuat mereka diam.


"Gue malah curiga, kalau ada orang yang tau, tentang tujuan kita! Dan kayaknya... Orang itu, mau gagalin rencana kita!" kata Innara, disetujui oleh Aizha, Bunga dan Cantika.


"Mungkin---" ucap Bunga terhenti. "Tiarap!" teriaknya sambil membanting setir mobil.


Aizha, Innara dan Cantika, langsung menundukkan kepala, melindungi diei mereka. Namun beruntungnya, Bunga dapat meminggirkan mobil itu, sehingga aksi kecelakaan pun tidak terjadi. Nampak, mobil yang hendak menabrak mereka berempat barusan, langsung pergi begitu saja.


Innara, Cantika dan Aizha, terlihat begitu kaget. Merasa masih deg-degan, karena aksi Bunga, secara mendadak. Bunga pun, mengembalikan mobilnya ke jalan dan mengejar orang tersebut, dengan kecepatan tinggi.


"Kyaaaa, apa yang mau lo lakuin, Bunga?!" tanya Cantika, terkejut dan panik.


"Lo mau bawa kemana mobil gue njir?!" tambah Innara, sama risaunya.


"Bunga, turunin sedikit ya, kecepatannya! Kita tadi, udah hampir mati loh. Jangan cari gara-gara ya!" pesan Aizha, sangat ramah dan lembut.


"Dia sengaja, mau celakai kita!" ucap Bunga, membuat mereka bertiga terkejut. "Kita harus cari tau, siapa orang itu!" lanjutnya, membuat mereka semakin risau.


Belum sempat Cantika bicara, Bunga telah berhasil menemukan mobil tersebut. Dia langsung menggas mobil Innara, dengan lebih kencang lagi. Tetapi, seseorang mengeluarkan pistol yang amat panjang dan menembakannya ke ban mobil Innara. Sehingga, membuat Bunga hilang kendali dan menabrak mobil lain.


"Aduhhh, mobil gue!" keluh Innara, ketika melihat mobilnya yang tergores dan peyok.


"Maaf Pak, saya akan tanggung jawab," ucap Aizha, menundukkan kepala bersama Bunga.


Tampak, sang pemilik mobil yanh ditabrak oleh Bunga, tengah marah-marah. Dia juga mengancam, akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Tetapi, ketika Cantika melihat plat nomor mobil sang Pemilik. Dia pun angkat bicara.


"Sepertinya, Bapak sudah dua tahun, telat bayar pajak ya?" ucap Cantika, membuat Bapak tersebut salah tingkah.


"Kalau iya, kenapa?!" tanya Bapak itu, sombong dan tanpa rasa malu.


"Isisisss, masalah Bapak akan lebih panjang, kalau sampai hal ini dibawa ke jalur hukum. Mending, Bapak terima uang teman saya dan pergi memperbaiki mobil serta bayar pajaknya sekaligus," saran Cantika, membuat Bapak itu tertarik, dengan tawaran yang diberikan.


"Baiklah, saya mau lima puluh enam juta, tanpa tawar menawar!" kata Bapak tersebut, membuat Innara, Bunga dan Cantika terkejut.


Melihat ketiga temannya, yang hendak memaki. Aizha langsung menghentikannya dan pergi mengambil handphone. Dia meminta nomor rekening Bapak tersebut dan mentrasfernya. Setelah menerima transferan Aizha. Bapak itu pun pergi, dengan wajah arogan.


"Sialan! Bisa-bisanya, dia meras kita!" umpat Innara kesal.


"Maaf ya, Zha. Harusnya, aku dengerin kamu tadi," ucap Bunga, merasa bersalah.


"Enggak papa, Kok. Gimana, kalau kita sekarang, pesan mobil online aja? Nggak enak, kalau kita pakai mobil ini kemana-mana. Aku juga, udah panggil bengkel, untuk angkut mobil ini," kata Aizha, membuat mereka bertiga terharu. Mereka pun berterima kasih pada Aizha dan pergi bersama, dengan mobil yang dipesan melalui aplikasi.


...<\=>...


Para Murid kini, telah kembali bersekolah seperti biasa. Nampak, pengumuman pemenang lomba pun, mulai diumumkan. Sudah tiga kali, kelas Aizha mendapatkan penghargaan, dari lomba pasangan model, kebersihan kelas dan mading. Suasananya sangat seru dan berisik. Panas yang begitu terik, tak membuat mereka diam dan tetap bersorak, ketika kelas mereka menang.


Namun, suasana yang menyenangkan tersebut, seketika lenyap. Seorang gadis berlumuran darah, jatuh dari lantai atas. Para Murid tampak sangat terkejut dan ketakutan, melihat kejadian itu. Tetapi, ada sebuah pesan, di kertas yang dikalungkan pada leher gadis tersebut.


...-Sekolah yang menjijikan-...


Tulisan pada pesan itu, membuat Pak Kepala Sekolah, ketakutan. Arkana, Dirgantara, Akhsan dan Farel, tampak begitu kesal. Aizha, Bunga, Cantika dan Innara, hanya menatap dalam diam. Mereka berdelapan, menatap para Guru dan Kepala Sekolah, dengan tatapan yang berbeda-beda serta maksud tertentu.


"Seharusnya, dari awal udah kita basmi dia!" kata Farel, pada Arkana.


Aizha yang berada di lain sisi, nampak sedikit aneh. Dia menutup hidungnya dan pergi jauh, dari lapangan. Innara yang melihatnya, langsung mengejar Aizha.


Tiba di halaman dalam Sekolah, Innara langsung bertanya pada Aizha, "Lo kenapa lagi, Zha?" khawatir.


"Raaa, aku kenapa?" tanya balik Aizha, sambil menangis.


Innara tampak kebingungan dan memegangi bahu Aizha. "Kenapa Zha? Ada apa?!"


"Akuuu, hiks hiks hiks," ucap Aizha menggantung. "Aku cium bau darah, tapi rasanya beda. Aku ngerasa, aroma harum dan memikat dari darah cewek itu. Rasanya, kayak mau makan darah dia."


"Apa?!" tanya Innara, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Aizha terus saja menangis dan menutup hidupnya, dengan sangat kuat. Melihat Aizha yang bersikap aneh, membuat Innara resah dan kebingungan.


...×××××××××××××××××××××××××××××××...


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...