
...Welcome to Alpha Female😘💕...
...Happy Reading ✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...[Dampingi dan bantu mereka saja dulu]...
...[Dengan begitu, aku bisa memiliki banyak waktu, untuk memberikan kalian sesuatu, karena ini berhubungan dengan hari itu]...
...[Aku juga, akan berikan beberapa data Murid di Sekolah kalian, untuk meneruskan kegiatan ini, dengan kekuatan diri mereka sendiri ke kalian berdelapan]...
"Hari itu?" ucap Farel.
Arkana, Dirgantara dan Akhsan menganggukkan kepala paham. Setelah mengingat hal itu, mereka berempat jadi paham. Jika, hari yang dimaksud sistem Alpha, telah benar-benar dekat.
"Woiii! Kenapa hem?! Lo pada takut?" tanya Frans, dengan sombongnya.
Arkana nampak kesal dan langsung menyiramkan air esnya ke mereka bertiga. Bukan amarah atau teriakan kesal yang terdengar. Namun, suara tawa mengejeklah yang terdengar.
"Sialan!" umpat Akhsan dan mengeluarkan bungkusan yang berisi ikan-ikan kecil serta serangga.
Bastian, Frans serta Danil, benar-benar telah gila. Mereka malah, tertawa senang dan meminta yang lebih. Arkana, Dirgantara, Akhsan dan Frans mulai kesal. Mereka berempat pun menghajar habis-habisan ketiga cowok itu. Pada lain tenda, Cantika, Bunga dan Aizha, telah berhasil menyiksa Laras, Ayu serta Keysa, hingga menangis tersedu-sedu.
"Tolonggg, maafin kita!" pinta Laras, sembari menangis.
Tubuh Laras, Ayu dan Keysa, nampak sedikit berantakan. Baru saja, Aizha membawa mereka ke dunia mimpi buatannya. Rasa yang bergairah mereka dapatkan di awal-awal. Namun, dengan kejam Aizha mengubahnya, dengan aksi yang sangat brutal dan tanpa perasaan. Mereka bertiga langsung berdesah dan teriak begitu kencang, sembari menggeliat keanehan.
Laras, Ayu dan Keysa pun terbangun dalam mimpinya. Mereka nampak bernafas, dengan tidak beraturan. Namun, baru saja mereka mulai ngerasa lega. Mereka bertiga, nampak sangat terkejut, melihat perutnya yang mengembang dan ada yang menendang di dalam.
"Kyaaaaa! Enggak! Ini enggak mungkin! Arghhhhhh!" Keysa berteriak sangat kencang, seperti orang mau melahirkan.
"Arghhhh! Mamahhhh, sakittt hiks hiks hiks!" keluh Laras, melakukan hal yang sama.
Ayu pun menyusul kedua temannya. Dia mulai mengatur nafas, untuk mengeluarkan bayi dari perutnya. Dia juga, manatap Cantika, Bunga serta Aizha, dengan ekspresi yang lelah, pucat dan sedih. "Too-tolong! Aaa-aku benar-benar eng-gak ku-at!" pintanya lemas.
"Aku akan bantu kalian bertiga, dengan syarat!" tawar Aizha dan mereka bertiga pun menerimanya, sembari berusaha mengeluarkan bayi dari perut. "Janjilah, untuk menjadi Murid yang lebih baik dan bertanggung jawab! Lakukan juga kegiatan yang tidak melanggar hukum atau agama!"
"Iya, gue janji!" sahut Keysa.
"Iya-iya, aku mau! Aku janji, arghhhh!" ucap Laras.
"Hosh hosh hosh, aku juga janji! Tolong aku cepetan! Aku benar-benar, enggak kuat lagi!" pinta Ayu.
Aizha pun, menghentikan halusinasi mereka bertiga. Laras, Ayu dan Keysa, nampak merasa lega, karena hal itu telah berhenti. Ketiganya, mulai mengatur nafas kembali, untuk menenangkan diri. Setelah tenang, Laras meminta tolong, untuk memaafkan mereka, sembari menangis.
Aizha pun menunjukkan rekaman video itu. "Jangan coba-coba, kalian ada pikiran, untuk mencuri vidio ini! Karena, jika kalian benar-benar melakukannya. Kami akan buat, apa yang kalian rasakan ini, menjadi kenyataan yang lebih pahit, dari yang kalian rasakan atau bayangkan!"
"Kami janji!" seru ketiga wanita muda itu.
"Baiklah, kalian ikut, dengan Cantika dan Bunga sekarang! Tubuh kalian, harus diobati!" ucap Aizha, melihat beberapa goresan dan luka di tubuh mereka, karena latar yang kasar.
Bunga dan Cantika pun, membantu ketiga wanita muda itu, untuk berdiri. Mereka masih lemas, karena efek halusinasi yang Aizha berikan. Sebelum Aizha berpisah, dengan Cantika dan Bunga. Dia sempat mengatakan, jika dirinya akan pergi ke tenda cowok, melihat Arkana, Farel, Dirgantara dan Akhsan, masih belum ada di dekat mobil.
Bunga yang masih berdiri di sana, meminta ijin, "Aizha, aku boleh bawa mobil satunya? Kayaknya, mereka perlu istirahat."
"Iya, boleh!" sahut Aizha dan Bunga pun, tersenyum.
Setelah Bunga dan Ayu pergi. Aizha langsung menghampiri tenda, Arkana, Akhsan, Dirgantara dan Farel. Matanya tiba-tiba terbelalak, melihat ke-empat pemuda itu, pingsan. Sedangkan, Bastian, Danil dan Frans, nampak tersenyum senang serta berjalan aneh.
"X? Mustahil!" Aizha langsung berlari sangat kencang, keluar dari tenda.
Mobil Bunga, juga baru saja meninggalkan lokasi itu. Aizha yang berteriak sangat kencang, tak dapat didengar oleh mereka. Tiba-tiba saja, sebuah tendangan di punggung Aizha, langsung membuatnya tersungkur ke bawah.
"Mati kau, sekarang juga!" ujar Danil, hendak menancapkan tongkat yang lancip itu, ke dada Aizha.
Aizha dengan sigap, langsung menahan tongkat itu. Kekuatan mereka sangatlah kuat. Level item kekuatan Aizha, masihlah lemah, karena jarang dipakai. Dia lebih sering, mengandalkan item yang berhubungan, dengan pikiran dan bukan main fisik. Dia pun, berusaha untuk menghipnotis mereka, namun gagal. Ada sengatan yang menyakiti mata serta otaknya.
Kilatan biru, seketika muncul dan meledak. Danil melepas tongkat tersebut dan menutupi matanya. Bastian dan Frans pun, melakukan hal yang sama. Kilauan itu, sangatlah menyakiti matanya. Dalam sekejap, Alpha memindahkan Aizha, Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan ke Vila. Sedangkan, Bunga dan Cantika, belum tiba di Vila.
...[Kau melihatnya?]...
"Alpha?" Aizha masih sedikit terkejut dan bingung, karena telah tiba di Vila. "Mereka kemana?"
...[Aku pindahkan mereka, ke tempat yang pernah menjadi lokasi Arkana dan Akhsan, diserang oleh rekan-rekan sejenisnya]...
...[Kamu tau, jasat pemuda yang ingin diselamatkan oleh Arkana dan Akhsan hari itu?]...
"Iya," sahut Aizha dan memberitau Alpha, "Aku dengar, jasatnya utuh kembali. Padahal, Arkana sama Akhsan, lihat dengan jelas, tubuh sama kepalanya lepas."
...[Itu benar, tubuh pemuda itu, dikembalikan seperti semula dan diantar ke keluarganya. Aku masih mencari tau, apa alasan pemuda itu, tidak dijadikan koloni mereka]...
"Mungkin enggak, kalau dia terlalu positif orangnya?" pendapat Aizha.
...[Ada beberapa anak yang baik dan lebih positif lagi, dibandingkan dia. Banyak anggota yang tidak bersalah dan masih polos, menjadi koloni mereka juga]...
"Hmmm," Aizha pun berpikir keras.
...[Tapi, aku mendeteksi satu hal yang sangat masuk akal, kenapa dia tidak dijadikan koloni oleh Pemilik sistem Gatif]...
"Apa," tanya Aizha, begitu penasaran.
[Aku mendeteksi, jika dia adalah saudara sepupu, si Pemilik sistem Gatif. Hal ini, adalah faktor yang sangat masuk akal, jika mengingat jasat pemuda itu, dibawa pulang ke rumahnya]
Aizha tampak mengernyitkan kening. "Mereka berdua keluar?" gumamnya. Dia pun berpikir sangat keras dan teringat sesuatu.
Beberapa Bulan yang lalu, Rafi pernah memberikan susu kotak pada Aizha. Dia meminta maaf pada Aizha, atas sikap Jeno padanya. Namun, Aizha yang dulu buta cinta, menolak permintaan maaf itu dan langsung pergi, menemui Jeno.
"Itu artinya, Jeno masih hidup dan pemilik sistem Gatif, dia?" tanya Aizha tak percaya.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Oke, sampai jumpa di bab selanjutnya 😘💕...
Terimakasih, untuk kalian yang masih setia membaca. Aku harap, kalian selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan. See you✨