Alpha Female

Alpha Female
Bab 22



...Happy Reading💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


"Innara!" panggil Tante Innara, ketika masuk ke dalam kamar Aizha.


Innara yang sedang membungkam muka Aizha, langsung berdiri tegak dan melepaskan bantal itu. Aizha langsung menghirup oksigen yang ada, untuk memenuhi tubuhnya. Dokter itu mendekat ke arah Innara.


"Baru aja, Tante mingkem loh, kamu udah berulah lagi! Mau sampek kapan, kamu kayak gini terus, Innaraaa! Kamu udah remaja, dengerin kata Tante!" cubit Dokter itu, ke tangan Innara, hingga sang Keponakan pun merintih kesakitan.


"Arghhhh! Sa-sakit Tante!" keluh Innara dan langsung mengusap-usap lengannya.


"Tadi, kamu apain Pasien Tante, hah?! Mau cari gara-gara ya, sama Tante!" lanjut Dokter itu dan mengeplak lengan Innara, di lain sisi.


"Aww!" keluh Innara kembali dan menatap sang Tante kesal.


"Apa?!" Tante memasang wajah galaknya, ketika diberikan tatapan kesal oleh Innara.


Innara memalingkan wajah. Tante pun, menghampiri Aizha dan meminta maaf, atas nama Innara. Aizha tampak, menganggukkan kepala. Dia telah memaafkan Innara.


Tante merasa lega dan memeriksa kembali kondisi Aizha. Dia berkata, jika sebentar lagi, Aizha boleh pulang. Dia juga berpesan, untuk selalu melakukan kehidupan sehat dan tidak boleh melakukan aktivitas berat atau melelahkan.


Selesai urusannya, dengan Aizha. Tante, mengajak Innara untuk pergi keluar. Meraka pergi menuju kamar Innara. Tampak, sang Tante kembali mengomel dan mengancam, akan menali Innara, jika dia kembali kabur.


<\=>


Beberapa hari berlalu, Bunga tampak terbiasa, dengan ocehan dan ejekan para Murid di Sekolah. Cantika juga, lebih sering pergi ke Perpustakaan, untuk mempersiapkan ujian tengah semester satu.


Bunga dan Cantika pun, hanya berbincang ketika di UKS, Perpustakaan atau di luar Sekolah. Mereka berdua tak ingin. Para Murid mengetahui tentang kedekatan mereka. Ada alasan, dibalik hal ini. Mereka berdua, sama-sama tak ingin. Jika temannya, akan terkena masalah.


Aizha yang telah keluar dari Rumah Sakit juga, seperti dimata-matai. Tampak, tatapan elang Innara, mengekori dirinya. Innara masih belum di-ijinkan untuk pulang. Ada rasa lega dan juga khawatir, pada lubuk hati Aizha. Dia segera pergi, menuju mobil dan meminta Sopir, untuk menjalankannya.


"Sialan!" umpat Innara, kesal.


Salah seorang Perawat, datang menghampiri Innara. "Ya ampun Mbk, saya cari-cari loh, dari tadi. Nggak taunya, si Mbk malah di sini!" ucap Perawat itu, terdengar kelelahan.


"Mbk-Mbk! Sejak kapan, gue jadi Mbk lo!" omel Innara dan Perawat itu, malah mendorong tubuhnya, untuk segera pergi ke kamar.


"Kalau gitu, Adek aja ya! Sekarang, Adek masuk ke dalam kamar, oke! Nanti, Bu Dokter marah loh!" ucap Dokter itu, seperti mengajak omong anak kecil.


"Ya! Gue bukan anak kecil! Lo bener-bener, ya!" batas kesabaran Innara menipis. Namun sang Perawat, hanya tersenyum.


<\=>


Bunga kini, tengah mengunjungi rumah Cantika. Nampak, Cika dan Bima, juga sedang bermain di depannya. Sedangkan Cantika, tengah sibuk belajar.


"Baru juga tengah semester Can, rajin banget," komen Bunga, melihat keseriusan Cantika, dalam belajar.


Cantika yang sedang mencata, menoleh pada Bunga. "Gue mau ambil kuliah, pakai jalur prestasi. Mangkanya, nilai rapot gue harus bagus semua."


"Ohhh, ambil apa?" tanya Bunga, penasaran.


"Hukum," sahut Cantika, membuat Bunga melongo. "Gue mau, jadi Pengacara yang adil dan bisa membela kebenaran, tanpa pandang kasta apalagi disogok pakai uang!"


"Wahhh, bagus banget tuh, kalau aku ada masalah. Kamu bisa aku panggil, deh," ujar Bunga, tertawa kecil.


"Nahhh, apalagi gue juga kenal Aizha. Lumayannn, dapat kolega konglomerat," ujar Cantika dan keduanya pun tertawa.


Sebuah notifikasi handphone Bunga, muncul. Nampak, nama Aizha muncul pada layar tersebut. Bunga dan Cantika tampak terkejut.


"Wahhh, panjang umur dah, tuh anak. Baru juga diobrolin," kata Cantika.


Bunga pun menyuruh Cantika dan kedua Adiknya, untuk diam. "Hallo Zha, gimana?"


Aizha yang sedang duduk-duduk santai di sofa, memberitau, "Hari ini aku udah pulang. Kamu sama Cantika, kalau mau ke rumah silahkan, aku tungguin."


"Lohhh, kamu nggak Istirahat dulu?" tanya Bunga, memastikan.


"Enggak perlu, aku udah sehat kok. Lagi pula, dua hari yang lalu, aku harusnya udah pulang. Cuman, si Bibik aja yang ngelarang dan minta aku, buat tinggal lebih lama lagi di Rumah Sakit," jelas Aizha dan Bunga pun ber-ohh.


"Emmm, kamu tau Cika sama Bima kan, adiknya Cantika?" tanya Bunga dan di-iyakan oleh Aizha. Cantika, terlihat bertanya-tanya pada Bunga, menggunakan alis yang naik ke atas. "Aku bawa mereka sekalian gimana?"


Cantika terkejut dan menampol lengan Bunga. Aizha pun menjawab, "Boleh banget, kebetulan banget nih. Aku ada beli beberapa makanan, karena pingin. Tapi, kebanyakan belinya."


"Wahhh, bagus tuh. Oke deh, aku bakalan ke rumah Cantika dan mereka ke rumah mu!" seru Bunga, senang.


"Siap! Aku tunggu ya!" pesan Aizha dan di-iyakan oleh Bunga.


Bunga tampak tersenyum senang. Sedangkan Cantika, terlihat menghela napas. Bunga pun berseru pada Cika dan Bima, untuk bersiap-siap pergi.


<\=>


Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan, tengah berkumpul di suatu ruangan. Tampak ruang itu, sangat tertata rapi dan ada juga dua laptop, satu komputer, televisi, lemari baca serta piano. Mereka berempat, bisa dibilang Murid VIP. Murid dengan donatur terbesar di Sekolah. Banyak aturan yang dapat dia ubah atau berikan. Perijinan ekskul dan pemakaian setiap sisi Sekolah, juga harus melalui mereka.


"Orang luar, pasti bakalan tau soal ini. Jadi, kita harus bisa pikirin. Gimana cara kita, buat cegah hal itu!" ucap Akhsan.


Dirgantara yang sibuk, dengan laptopnya. Tiba-tiba, menemukan sesuatu. Dia membalikkan laptop, meminta teman-teman untuk melihat. "Setelah gue cari tau, ada kesamaan antara surel yang hubungi Arkana sama si Alpha. Ada kemungkinan besar, jika orang yang mehubungi Arkana adalah Alpha."


"Apa?!" Arkana tampak begitu terkejut.


Farel yang melihatnya, mengernyitkan kening. "Kagetnya biasa aja lah!"


"Sialan, kalau tau dia itu Alpha. Gue nggak bakalan minta kerja sama!" keluh Arkana, kesal.


"Lahhh, elo ngapain ngajak dia kerja sama?" tanya Akhsan.


"Gue mau minta bantuan dia, untuk selidiki siapa sebenarnya Alpha itu!" sahut Arkana dan Akhsan pun menepuk jidat. Sedangkan Akhsan dan Farel, hanya tertawa pelan.


"Tapi... Lo yakin Gan, kalau masalah Alex sampek bocor, si Alpha bakalan tanggung jawab?" tanya Farel.


Dirgantara, belum sempat menjawab, karena Akhsan sudah lebih dahulu, berbicara, "Menurut gue, dia nggak bakalan tau atau ngurus soal itu. Dia cuman fokus, ngehabisi Alex di luar Sekolah, tanpa sepengetahuan banyak Murid. Dia juga, ngebersihin semua jejak fisik kita dan digital."


"Laptop yang kena virus paling fatal aja, masih bisa dibersihin. Lo yakin, dia udah bersihin jejak digitalnya?" tanya Dirgantara. "Gimana, kalau Polisi atau BIN tau?"


"Semua elektronik di markas Alex, hancur lebur. Abu-abunya aja, juga dibuang sama dia. CCTV di area situ, juga udah dia sabotase," jelas Akhsan.


Dirgantara hanya menyimak, tak membalas. Seketika, notifikasi di laptop masuk. Ada seorang Siswa yang meminta ijin, untuk meminjam area lapangan sekolah, tengah malam.


"Sial! Gue ada urusan lagi," gerutu Farel, setelah melihat notifikasi tersebut.


"Gue juga ada urusan. Ada yang bisa pantau mereka?" tanya Arkana pada Akhsan dan Dirgantara.


Akhsan dan Dirgantara, tampak tidak menginginkannya. Mereka pun beradu suit, untuk menentukan orang yang akan menjaga kegiatan tersebut. Ketika suit selama tiga kali, akhirnya Akhsan yang menang dan Dirgantara, wajib melakukannya.


"Jangan sampek ya, Gan. Ada kasus bully apalagi kekerasan!" pesan Arkana pada Dirgantara.


Dirgantara pun mengiyakan. Mereka berempat pergi, kecuali Farel dan Arkana yang harus ke Aula, bertemu dengan anak-anak ekskul yang ikut mengikuti pertandingan.


<\=>


Bunga dan Cantika telah tiba di rumah megah Aizha. Cika dan Bima juga, terlihat begitu happy. Mereka tampak begitu ceria dan takjub, akan kemewahan rumah Aizha. Cika dan Bima, tak henti-hentinya menatap akuarium besar yang ada di ruang tengah.


Aizha tertawa kecil, melihat tingkah kedua bocil itu. Dia pun menoleh ke arah Cantika. "Mereka bisa berenang enggak? Ada kolam renang di halaman belakang."


Cantika menggelengkan kepala. "Jangan kasih tau, deh! Kalau tenggelam, bisa habis gue diamuk Bokap."


Bunga dan Aizha tertawa kecil. Tiba-tiba, Bunga yang sedang menonton story, dari medsos khusus Murid di Sekolah mereka, langsung menunjukkan layar handphone tersebut ke Aizha dan Cantika. "Ada yang mau dateng nggak? Nanti malam loh."


Aizha mengernyitkan kening. "Apa itu?"


"Jangan dateng!" larang Cantika, secara tiba-tiba.


Bunga tampak cemberut, sedangkan Aizha bingung. "Kenapa nggak boleh?!" tanya Bunga, sedikit kesal.


"Ada unsur pembullyan," ucap Cantika, membuat Aizha tersentak.


"Contohnya?" tanya Aizha, kepo.


"Jadi, kita kan punya aplikasi khusus kan?" ucap Cantika dan diangguki oleh mereka berdua. "Nahhh, si Andre nanti bakalan live. Waktu live itu, bakalan ada suatu kejadian kekerasan atau pelecehan. Para penonton yang mayoritasnya Murid Sekolah kita dan Alumni, bakalan kasih koin besar. Jika acaranya seru."


"Hah?!" Aizha tak percaya, dengan apa yang barusan dia dengar. Dia melihat ke arah Bunga. "Kamu suka nonton yang begituan?"


"Ehhh, enggak! Aku pernah sekali ke sana, tapi nggak ada unsur begituan. Adanya tuh ya, cuman ngedance dan pesta minum biasa kok. Waktu minum juga, aku nggak ambil alkohol," jelas Bunga.


"Mungkin, itu waktu mereka jual barang ilegal. Jadi nggak ada unsur pembullyan atau pelecehan," ucap Cantika dan Aizha pun, tampak berpikir sejenak.


...[Bunga harus tau, jika si Alpha itu adalah kamu, Aizha]...


...[Jadilah Alpha Female, bersama Cantika, Bunga dan Innara]...


Aizha mengernyitkan kening bingung.


...[Mereka bertiga, akan membantumu dan selalu ada, untuk mu juga]...


...[Pertama, temui Innara dan datanglah malam ini ke Sekolah]...


...[Dia bisa melihatku]...


"Apa?!" Aizha terkejut, Cantika dan Bunga ikut kaget.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...See you......