Alpha Female

Alpha Female
Bab 44



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Aizha berkunjung di rumah Oma. Dia menghentikan waktu dan menyebarkan sebuah minyak di seluruh rumah itu. Setelah waktu kembali berjalan. Terlihat sang Oma yang marah-marah, karena dia ingin membatalkan perjodohannya, dengan Damian. Aizha yang tak peduli pun, mengeluarkan sebuah korek dan melemparkannya ke area minyak. Oma tampak terkejut dan menjerit, meminta tolong.


Oma yang sedang menangis, langsung dibawa paksa oleh Aizha ke kursi. Dia pun mengikat Oma, dengan sangat kuat, tanpa sebuah ekspresi. Oma yang terlihat kaget, langsung meminta maaf dan minta dilepaskan.


Rumah yang mewah dan megah itu, langsung terbakar. Banyak Orang yang berhamburan keluar. Para Penjaga dan orang di rumah, langsung berusaha menyiram air, dengan selang dari luar rumah serta bantuan pemadam kebakaran otomatis.


Aizha yang berada di dalam rumah itu, tampak tersenyum smrik. Oma yang tampak menangis tersedu-sedu, hingga memohon. Tampak tidak dipedulikan oleh Aizha. Sebuah pistol pun di arahkan Aizha ke kening sang Oma.


"Oma, selamat tinggal!" ucap Aizha, sambil tersenyum lebar.


"Aizzz--" ucap Oma terhenti. Suara tembakan, terdengar begitu kencang dan cipratan darah, mengenai wajah Aizha. Hambusan nafas dan suara tangis pun, seketika menghilang.


Aizha pun terbangun dan melihat kamar Innara. Dia tampak celingukan, mencari seseorang. Sebuah pintu, tak berselang lama terbuka. Terlihat Innara dan Bunga muncul.


"Apa aku ketiduran?" tanya Aizha pada Innara dan Bunga.


Innara dan Bunga, menganggukkan kepala, mengiyakan. Aizha tampak memijat pelipisnya, ketika melihat anggukan kepala mereka berdua. Dia tak percaya, bisa bermimi seburuk itu.


"Aizha, ada yang harus gue sampaiin," ucap Innara, membuat Aizha menoleh. "Lo kayaknya agak berubah, Zha. Setelah ngehisap darah gadis itu."


Aizha yang mendengarnya, tampak merenung sebentar. Apa yang dikatakan Innara ada benarnya. Dia juga, merasa ada yang aneh pada dirinya sendiri. Dia menatap tangannya, dengan pandangan sedih. Dia kecewa pada dirinya, karena telah berani memukul Mamah Vivi.


"Gue sama Cantika sadar, ada butiran darah yang mengeluarkan warna cahaya berbeda. Ada kemungkinan besar, cahaya yang kebiruan itu positif dan kuning, negatif. Jadi, gue sama Cantika, berniat buat letusin butiran darah yang kuning. Supaya elo baik-baik saja dan... Enggak nyimpang," jelas Innara, membuat Aizha murung.


"Jadi, karena itu, aku jadi begini," keluh Aizha dan menutup wajahnya, dengan kedua tangan.


"Apa Alpha masih belum aktif?" tanya Innara khawatir, melihat Aizha.


Aizha pun menggelengkan kepala, sebagai jawaban, belum. Bunga yang hendak bicara, tampak sedikit aneh. Aizha yang melihatnya, tampak menaikkan alis ke atas, bertanya.


"Emmm, Aizha!" panggil Bunga.


"Iya?" tanya Aizha.


"Kayaknya, aku nggak perlu tinggal bareng kamu lagi," ucap Bunga, membuat kening Aizha mengernyit.


Innara juga, tampak sangat terkejut. "Kenapa?" tanya Innara, penasaran.


"Nenek, Ibu dari Mamahku, sekarang tinggal di area sini. Dia mau, kalau aku tinggal sama mereka aja. Tante sama Om ku juga, bakalan urus kartu keluargaku, supaya ikut mereka," jelas Bunga, membuat Innara dan Aizha terkejut.


"Lo yakin?" tanya Innara, risau.


"Kamu nggak sengaja pergi, karena keluargaku kan, Bunga?" tanya Aizha, khawatir dan merasa tidak enak.


"Enggak kok, Zha. Ini kebetulan banget. Kalian lihat aja ini, kalau nggak percaya!" Bunga memberikan handphonenya pada Innara dan Aizha. Mereka berdua pun, membaca chat Bunga bersama sang Tante.


Tante ;


Sekarang usaha Tante sama Om sukses, berkat bantuan Almarhum Mamahmu juga. Anak Tante, juga seneng banget bisa tinggal di sini. Dia kangen berat sama kamu.


Tante yakin, dia bakalan lebih senang lagi, kalau kamu mau terima permintaan ini.


Bunga ;


Tapi Tante, Ayah bukan orang yang gampang di-ajak bicara sekarang. Dia udah jauh berbeda.


Tante ;


Itu bukan masalah yang rumit. Asalkan kamu, mau terima Tante dan Om, sebagai pengganti orang tuamu.


Tante sama Om, bakalan berusaha sebisa mungkin, untuk menyayangi kamu, seperti anak kami sendiri. Kami juga, akan berusaha adil.


Bunga ;


Aku masih bimbang Tante. Temenku juga, masih belum bangun.


Tante ;


{Lokasi}


Sekarang, ini adalah tempatmu pulang Bunga. Jangan anggap kami, sebagai orang asing. Tante harap, kamu mau pulang hari ini. Kami tunggu.


"Tante orangnya nggak beda jauh sama Mamah. Dia bakalan nyuruh aku pulang, bagaimanapun caranya. Om juga, sempat telepon aku. Dia bilang, kalau Tante bener-bener marah banget. Waktu dia tau, kalau aku nggak tinggal lagi di rumahku dulu," jelas Bunga dan menundukkan kepala, murung.


"Kalau udah kayak gini, aku nggak bisa apa-apa. Kebetulan aku mau pulang ke rumah juga, sekalian aja gimana?" tawar Aizha dan diangguki oleh Bunga. "Innara, besok sore aku ke sini lagi ya. Btw, bisa kamu dateng ke rumah Cantika, beliin apa gitu, buat keluarganya besok?" pintanya pada Innara.


"Kenapa besok?" tanya Innara, meminta penjelasan.


"Uang mereka, pasti udah menipis, karena kebutuhan Sekolah dan bayar hutang sana-sini," kata Aizha dan diangguki oleh Innara.


"Tapi... Cantika kayaknya nggak terlalu suka deh, kalau kita ngebantu dia," ucap Bunga, membuat mereka merenung.


"Gue paham, tapi kita teman. Apa gunanya teman, kalau kita tutup mata dan menyembunyikan tangan, ketika ada yang kesulitan?" ujar Innara, membuat Bunga diam. "Gue bakalan jelasin ke Cantika, supaya dia nggak salah paham. Sekarang, kalian pulang duluan aja. Besok, nggak usah ke sini! Kalau enggak aku atau Cantika panggil!"


"Kenapa?" tanya Bunga.


"Lo sama Aizha, selesaiin aja dulu masalah keluarga kalian! Baru kita bahas misi! Sekalian, gue sama Cantika, mau selesaiin nih urusan dan rapiin beberapa rancangan, besoknya!" kata Innara, sambil menunjukkan beberapa lembar kertas.


"Thanks ya, aku bakalan selesaiin ini, dengan cepat!" ucap Aizha dan diangguki oleh Innara.


Aizha dan Bunga pun, berpamitan pada Innara serta Bibik di rumah itu. Bibik tampak kecewa, karena mereka berdua, tidak menginap kembali. Aizha pun tersenyum malu dan berkata, jika dirinya sudah nyenyak sekali tidur di sini, sampai tidak sadar, sudah jam sembilan pagi.


Bibik juga tidak enak, jika harus menahan Innara dan Aizha. Dia pun membawakan sandwit, untuk mereka berdua dan berterima kasih, telah menjadi teman Innara. Innara tampak sedikit malu, dengan sikap Bibik. Aizha yang melihatnya, hanya tersenyum kecil. Bunga juga ikut senyum. Dia bisa merasakan, jika Bibik Innara dan Aizha, tak berbeda jauh. Rasa sayang mereka, sangatlah kental.


Pada halaman rumah Innara. Aizha dan Bunga pun melambaikan tangan, sebelum masuk ke dalam mobil. Sebuah pagar tinggi, langsung di dorong oleh Pak Satpam. Mobil Aizha pergi, meninggalkan halaman rumah Innara.


...<\=>...


Aizha pergi ke rumah Oma. Dia teringat, akan mimpinya semalam. Membayangkan, mimpi itu menjadi menjadi nyata, membuat Aizha sedikit resah.


"Huffff," Aizha mengehela napas pelan. "Jangan berpikiran buruk oke? Ayo kita selesaiin, tanpa darah!" ucapnya pada diri sendiri.


"Waktu berhenti!" ucap Aizha dan seketika, aktivitas semua orang di sekitaran rumah terhenti, seperti patung.


Aizha pergi masuk ke dalam rumah megah itu, mencari keberadaan Oma. Perlu waktu sedikit lama, untuk Aizha menemukan Omanya. Terlihat, sang Oma yang sedang duduk bersama menantu dan Anak lelakinya, alias orang tua Layli, di taman dekat kolam renang. Aizha pun pergi bersembunyi di dekat sana dan kembali, menjalankan waktu.


"Mah, aku denger-denger, Hasan makin sukses di luar sana! Aku mau, perusahaan kita, harus lebih besar dari punya dia! Aku capek, denger mereka muji-muji si Hasan terus!" kesal Ayah Layli, dengan wajahnya yang tampak begitu emosi.


"Kamu tenang aja. Mamah udah rancang ini sejak awal. Perusahaan kita, bakalan jadi lebih kuat dan besar, berkat hubungan keluarga yang bakalan terjalin sebentar lagi. Kamu pasti lebih sukses, dari pada Hasan!" ucap Oma, berusaha menghibur sang Putra kesayangannya. "Tapi, Mamah perlu Diego, anak lelaki Hasan itu. Dia sangatlah tampan dan cerdas. Banyak anak perempuan tunggal, dari Pengusahaan yang besar. Mamah yakin, mereka pasti suka sama Diego! Dengan begitu, perusahaan kita bakalan jadi lebih kuat dan sukses bekali lipat. Apalagi, ditambah anak yang dikandung Istri kamu ini."


"Mamahhh! Mamah kan udah janji, untuk nggak jodohin Putraku ini!" tuntut sang Menantu.


"Kalau, anakmu ini asal pilih pasangan! Diegolah yang bakalan jadi penerusnya, apa kamu mau itu?!" ujar sang Oma, membuat Ibu Layli manyun. "Mamah bakalan kasih beberapa pilihan buat Putramu, jadi jangan risau. Berdoalah, dia bisa seperti Layli yang masih mau dijodohkan!"


"Iya Mah," sahut Ibu Lakli, sambil mengusap perutnya yang melendung.


"Tapi Mah, kekayaan Damian dan Arkana, sedikit berbeda. Damian masih lebih unggul! Aku mau, Layli juga harus di atas Aizha, bukan sebaliknya!" seru Ayah Layli.


Oma tampak menekan pelipisnya, pusing. "Anakmu sendiri yang menolak. Lagi pula, dia enggak cocok buat Damian. Perjodohan itu juga, nantinya bakalan sia-sia!"


"Tapi Mah, apa enggak ada yang lebih dari Damian?!" tanya Ayah Layli, masih berharap. Jika sang Putri, mendapatkan lelaki yang lebih kaya dari Damian.


"Yang lebih sukses dari keluarga Damian, anak-anaknya udah pada nikah. Tapi, ada satu lagi keluarga yang di bawah Damian pas. Sayangnya, putra mereka gemuk dan anakmu itu, malah ngamuk. Dia kekeh, buat milih Arkana," jelas Oma, membuat Ayah layli mendesah.


"Tapi Mah, apa Hasan bakalan diem aja? Kalau dia tau, anaknya dijebak sama Mamah?" tanya Ibu Layli, mendapatkan tatapan tajam dari Oma.


"Jaga ucapanmu! Anak itu sendiri yang menghampiri Mamah! Bukan Mamah yang ngejebak!" tegur Mamah membuat Layli menutup mulutnya rapat-rapat.


"Mah, gimana kalau Hasan sama Vivi, tau hal ini dan ngebatalin perjodohannya?" tanya Ayah Layli pada Oma.


"Kalau gitu...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...