Alpha Female

Alpha Female
Bab 37



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Pada Kelas Aizha, nampak sang Guru yang sedang berdebat, dengan para anak didiknya. Tampak keributan juga muncul, untuk memilih model pasangan. Tetapi, Aizha yang berada paling belakang dan ujung sisi, terlihat sedikit aneh. Ada tetesan darah yang berjatuhan di lantai. Tanpa banyak Murid sadari, Aizha jatuh dari bangkunya, pingsan.


"Aizha!" panggil para Murid, terkejut.


Para Murid dan Guru, langsung pergi menghampiri Aizha. Tampak, sang Guru meminta para Murid perempuan, untuk membopong Aizha bersama-sama. Beberapa Murid, juga diminta, untuk membersihkan kelas. Sedangkan beberapa anak laki-laki, berusaha melindungi para Siswi dan tidak membiarkan kelas lain, untuk menggagu mereka atau menonton.


Para Siswi yang telah siap, langsung membopong Aizha dalam hitungan ketiga. Para Anak laki-laki pun, ada yang keluar lebih dulu, untuk memberikan jalan. Banyak anak dari Kelas lain yang terkejut dan menengok ke arah lorong. Beruntungnya, anak laki-laki sigap menghalangi para Murid yang hendak menonton.


Innara yang berada di kelas, tampak risau. Tanpa berpikir panjang, Innara langsung pamit ke kamar mandi oleh sang Guru dan pergi ke UKS. Terlihat, Cantika juga baru saja keluar dari kelasnya. Mereka berdua pun, pergi menuju UKS bersamaan.


"Kita boleh masuk?" tanya Cantika pada Via, setibanya di depan UKS.


"Enggak boleh, kalau mau jenguk, mendingan nanti. Soalnya, Aizha mau kita bawa ke Rumah Sakit," sahut Via, memberitau.


"Biar gue aja yang bawa. Dia pernah jadi Pasien, Kakak gue soalnya!" kata Innara, membuat Via bimbang.


"Ohhh," Via pun membukakan pintu, untuk Innara. "Masuk aja, coba kasih tau Guru, sebelum mereka nentuin Rumah Sakitnya."


Innara mengangguk dan berterima kasih. Tak lama, Bunga muncul. Dia tampak kelelahan dan bertanya, tentang kondisi Aizha. Mendengar cerita Via, Cantika dan Bunga, tampak sedih serta murung.


"Para Guru belum telepon atau nentuin Rumah Sakitnya kan? Gimana, kalau ke Rumah Sakit rekomendasiku? Karena, Dokternya pernah ngasih obat buat Aizha," tawar Bunga.


Via tau, niat Bunga sangat baik. Tetapi, dia terpaksa menggelengkan kepala, menolak. "Mantan pacar Alex, lebih dahulu menawarkan Kakaknya yang merupakan Dokter. Kakaknya juga, udah pernah periksa Aizha. Jadi, kemungkinan besar, kita harus ke sana."


"Ohhh," Bunga tampak sedikit kecewa, tetapi dia langsung tersenyum.


Tiba-tiba pintu UKS terbuka. Aizha yang digendong oleh Pak Guru, langsung dibawa pergi. Bunga, Via dan Cantika, tampak sangat terkejut. Sebelum Innara juga pergi. Dia memberi pesan pada Cantika dan Bunga, untuk pergi ke rumahnya. Dia juga memberitau, untuk mengambil laptop di mobil Aizha. Mereka berdua pun, menganggukkan kepala.


...<\=>...


Cantika dan Bunga kini, telah tiba di rumah Innara. Dia meminta bantuan Bibik, untuk memberitau ruang pengendali CCTV. Bibik pun menuntun mereka berdua, untuk pergi menuju ruangan tersebut. Terlihat, sebuah ruang dengan televisi yang sangat besar dan menampakkan beberapa hasil rekaman CCTV.


"Wahhhh, apa ini nggak berlebihan Bik?" tanya Bunga, terkejut.


Cantika hanya diam. Dia tidak mengerti, jalan pikir orang kaya. Jadi, dia memilih diam dan membiarkan Bunga yang bicara.


"Tuan ingin memantau, setiap kegiatan Non Innara di rumah. Meskipun Tuan dan Nyonya sangat keras, tapi mereka juga sangat sayang. Kalau Tuan dan Nyonya pulang, terus bertengkar sama Non Innara. Mereka pasti ke sini, untuk ngelihat perkembangan anak mereka," ungkap Bibik, membuat Bunga dan Cantika, merasa sedikit tersentuh.


Entah kenapa, mereka seperti merasakan hal aneh pada hatinya. Mereka dapat merasakan, sedih dan sepinya kehidupan Innara yang menyesakan dada. Tetapi, Bunga merasa aneh pada layar televisi yang besar ini.


"Bik, apa Innara merasa nyaman di Rumah? Jika, ada banyak CCTV di sini? Tuh, di kamarnya aja, ada dua CCTV sendiri," tanya Bunga, risau.


"Kayaknya enggak, Non Innara juga nggak peduli. Soalnya, Non Innara udah berulang kali, coba bunuh diri dan mecahin barang-barang di rumah," ujar Bibik, memberitau.


Cantika dan Bunga terkejut. Mereka tak percaya, Bibik bisa menceritakan hal itu, dengan sangat jujur dan terbuka. Tetapi, mengingat waktu mereka yang tak banyak. Mereka langsung melaksanakan tugas.


Bibik pergi, untuk menyiapkan minum dan camilan. Tetapi, Bunga menolak camilannya dan hanya meminta, dibuatkan minum saja. Cantika yang sedang menonton vidio, cara Aizha menyabotase CCTV, tampak sangat serius. Selesai menonton, dia pun mempraktekannya, secara langsung.


Butuh satu jam lebih sedikit, untuk Cantika menyelesaikan hal itu. Dia hanya menyabotase rekaman CCTV tersebut. Pada hari, ketika Innara membunuh Alex. Hari sebelum dan sesudah kejadian itu juga, diedit oleh Cantika, dengan sangat sempurna.


"Non Cantika! Non Bunga!" panggil Bibik, secara mengejutkan.


"Ada apa, Bik?" tanya Bunga.


"Non Innara bilang, kalian harus sembunyi, karena para Polisi dan Detektif itu, akan datang kemari!" ucap Bibik, memberitau Cantika dan Bunga.


"Tapi, mereka akan menggledah rumah ini. Bagaimana kita akan bersembunyi?" tanya Bunga pada Bibik.


Cantika dan Bunga pun mengikuti Bibik pergi, entah kemana. Butuh dua menit, untuk mereka berada di ruang garasi. Nampak satu moge (montor gedhe) dan mobil yang besar dan mewah. Terlihat juga, Bibik membuka lemari yang ada pada garasi itu.


"Waw, ada beberapa perlengkappan untuk mencuci dan alat perkakas bengkel. Apakah kita bakalan nyamar?" tanya Bunga, berusaha untuk mengajak bercanda.


Cantika hanya tersenyum dan menggelengkan kepala kecil. Bibik pun, mengeluarkan sebuah kartu dan bagian bawah lemari itu terbuka. Cantika dan Bunga melongo, melihat hal itu.


"Kalian bersembunyi di dalam situ saja. Ada beberapa camilan baru dan minuman yang Bibik tadi buat. Tetapi, tidak ada sinyal di dalam. Jika ada informasi dari Non Innara, saya akan kirimkan melalui tablet di atas meja," jelas Bibik dan diangguki oleh Cantika dan Bunga.


"Terima kasih banyak, Bik," ucap Cantika dan Bunga juga menyusul, untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.


Bibik pun mengiyakan, sambil tersenyum. Cantika dan Bunga, turun ke ruang bawah, menggunakan tangga. Tampak, sang Bibik yang melambaikan tangan dan menutup jalan itu.


Ruang bawah, rumah Innara sangat nyaman. Lampu yang tidak begitu terang dan dinding coklat tua. Namun, ada yang membuat Bunga takut. Terlihat banyaknya pesenjataan, seperti pisau dan pistol yang beragam. Pada tiga sisi ruangan. Bukan hanya persenjataan, namun juga benda aneh lainnya.


"Apa mungkin, orang tua Innara, seorang agen rahasia?" tebak Cantika, melihat ruangan tersebut.


"Pantes, Innara terlihat biasa aja, setelah membunuh Alex. Dia juga, kelihatan sangat santai dan nggak panik, waktu ada Polisi. Dia malah paniknya, kalau Aizha ketahuan. Seakan-akan, dia itu bersih, tanpa noda sedikitpun," ucap Bunga, membuat Cantika terdiam.


"Tumben agak pinter," ujar Cantika, membuat Bunga mengerucutkan bibirnya. Cantika pun pergi, melihat-lihat setiap persenjataan yang ada di ruang tersebut. "Kayaknya, gue mulai memahami Innara sedikit."


"Memahami apa?"


"Innara tau, di rumah ini banyak CCTV. Tapi dia sengaja, bunuh diri dan ngamuk di rumah, untuk pancing orang tuanya pulang. Dia juga tau, pekerjaan orang tuanya di luar, sangatlah berbahaya. Dia mungkin takut, jika kedua orang tuanya, tiba-tiba meninggal dunia dan pergi untuk selamanya," jelas Cantika, membuat Bunga mengangguk-anggukan kepala, paham.


"Ternyata, kau sangat-sangat pandai Cantika!" seru Bunga, kagum.


Cantika hanya tersenyum malu dan mengajak Bunga, untuk duduk. Selagi menikmati ketenangan ini, mereka pun mengobrol-ngobrol kecil. Terlihat para Detektif dan Polisi, tengah sibuk mencari sesuatu serta menonton CCTV. Sang Detektif juga, melihat rekaman CCTV pada hari, ketika Alex meninggal. Terlihat, Innara yang menangis di kamarnya, sebelum dan sesudah, hari itu juga.


"Apa dia ada masalah? Tiga hari berturut-turut, dia terus saja menangis," tanya sang Ibu Detektif, penasaran. Jiwa ke Ibuannya juga keluar.


Bibik nampak sedikit murung. "Mau bagaimana lagi, Bu. Tuan sama Nyonya berada di luar negeri. Kalaupun pulang ke Negeri ini, pasti ada di kota lain. Jarang sekali mereka berada di rumah. Sekalinya di rumah, malah bertengkar."


Bu Detektif tampak menganggukkan kepala, paham. Dia ikut berempati, dengan kondisi yang dialami Innara. Bibik pun bertanya, "Apa Non Innara membuat masalah?"


"Enggak ada kok, Bu. Cuman ada masalah saja di Sekolah dan kebetulan, ada seseorang yang melapor. Jika, Innara adalah pelakunya," ucap Bu Detektif, membuat Bibik terkejut.


"Ya ampun, siapa yang berani-beraninya, bikin masalah sama Non Innara saya yang malang, hah?! Bu Detektif perlu apa? Saya akan kasih bukti kuat! Jika Non Innara itu, tidak berhubungan dalam kasus ini!" tanya Bibik.


"Emmm, saya cuman perlu saksi dan bukti saja, kemana dan ngapain saja, Innara waktu ini!" Bu Detektif menyodorkan kertas.


Pada Kertas tersebut, ada hari, tanggal dan jam ketika kejadian Alex, Bimo serta Teo, terbunuh. Bibik pun menceritakan kegiatan Innara, sambil menunjukkan CCTV. Dia mengarang cerita, ketika bagian waktu terbunuhnya Alex. Para Pejaga yang lain juga ditanyai dan jawaban mereka sangat berhubungan, dengan cerita Bibik.


Para Detektif dan Polisi berterima kasih. Bu Detektif juga meminta maaf, karena telah menggagu waktunya. Ketika mereka semua telah pergi. Bibik menerima telepon dari Innara. Innara memberitau Bibik, untuk menyuruh Cantika dan Bunga, segera pergi ke Rumah Sakit.


Bibik pun pergi ke garasi. Dia memanggil Cantika dan Bunga, untuk segera pergi naik ke atas. Ketika Bunga dan Cantika, tiba di ruang garasi. Bibik pun memberitau mereka, sesuai pesan Innara.


"Ohh iya, apa kalian bisa kasih tau Non Innara, untuk pulang malam ini? Sepertinya, Non Innara harus menjelaskan langsung pada orang tuanya, tentang kejadian ini," pesan Bibik, sambil tersenyum.


Cantika dan Bunga, malah risau sendiri. Mendengar perkataan Bibik. "Apa Innara, akan baik-baik saja?"


"Mungkin, Bibik tidak bisa jamin. Tetapi, jika kalian diam dan tidak mengatakannya. Non Innara, malah dalam bahaya. Kalian juga, akan kesulitan, untuk bertemu dengan Non Innara kembali," ucap Bibik, membuat Cantika dan Bunga khawatir.


...×××××××××××××××××××××××××××××××...


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...