Alpha Female

Alpha Female
Bab 28



...Happy Reading✨...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


"Selanjutnya..." ucap Aizha, menggantung. "Kita pikir nanti. kita harus belajar," lanjutnya dan pergi keluar dari area Bar.


"Ishhh, aku kira apaan!" gerutu Bunga kesal.


Innara dan Cantika, tampak menahan tawa. Mereka berempat pun, pergi masuk menuju mobil. Kali ini, Innara lah yang mengemudi mobil. Pertengahan jalan, Aizha yang duduk di bangku depan, memintanya untuk berhenti. Cantika dan Bunga, tampak bingung.


"Lohhh, ini mau ngapain?" tanya Bunga, bingung.


"Main-main dulu yuk! Masa' jauh-jauh ke sini, cuman mau ngintilin Andre. Aku juga kan, udah janji. Kita bakalan happy-happy," ucap Aizha membuat Bunga begitu senang.


Innara, Cantika, Bunga dan Aizha pun, masuk ke dalam sebuah pasar malam yang sangat besar. Bunga tampak takjub, mengingat hari semakin malam. Tetapi, pasar malam itu, terlihat masih sangat ramai. Ada perasaan terharu yang menjadi satu, dengan kegembiraan.


Aizha menarik tangan Innara, untuk ikut berlari dengannya. Bunga juga menarik tangan Cantika, untuk mengikuti Aizha. Mereka pergi masuk, ke dalam rumah hantu. Nampak, Cantika sedikit ketakutan dan Innara yang menolak. Namun, Bunga dan Aizha tak membiarkan hal itu. Mereka berdua memaksa, untuk tetap masuk.


Terdengar suara mengerikan, mengiringi jalan Aizha, Innara, Bunga dan Cantika. Terlihat, Innara yang bersembunyi di belakang punggung Aizha. Dia benar-benar ketakutan. Sedangkan Cantika, tampak menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada hantu yang mengejutkan dirinya. Ketika mereka mulai masuk lebih dalam, beberapa hantu mulai muncul mengejutkan mereka berempat.


"Kyaaaa!"


"Sialan!"


"Arghhhh!"


"Setan!"


Teriak Cantika dan Innara, ketika mereka berdua, dikejutkan oleh para Hantu. Keluar dari rumah hantu, tampak kedua ekspresi yang sangat jauh berbeda. Aizha nampak begitu puas. Bunga juga, terlihat begitu senang. Sedangkan Cantika dan Innara, tampak begitu kelelahan.


"Sekarang naik itu yuk!" ajak Bunga, sambil menunjuk wahana yang seperti ayunan dan diputar, dengan cukup kencang atau ombak banyu.


Aizha dan Cantika tampak menolak, dengan menggeleng-gelengkan kepala. Innara juga menolak, dengan tegas. Dia sudah merasa pusing, karena rumah hantu. Apalagi, jika ditambak ombak banyu. Bisa-bisa, dia akan muntah atau hal terburuknya, jatuh pingsan.


Bunga terlihat murung dan sedih. Aizha pun merangkulnya dan menawarkan komedi putar. Innara dan Cantika, tampaknya ingin menolak kembali. Namun, Bunga tak akan membiarkannya. Lagi pula, komedi putar tidak terlalu menakutkan dan melelahkan, hanya perlu duduk, menikmati pemandangan.


Cantika, Innara, Aizha dan Bunga pun berhasil naik ke komedi putar. Nampak ekspresi kagum dan terpesona meraka berempat, pada pemandangan malam hari. Aizha juga menyempatkan waktu sebentar, untuk mengajak ketiga temannya berfoto-foto.


Cantika, Innara, Aizha dan Bunga, juga sedang mencoba hal lain. Mereka nampak, tengah menonton tong stan. Dimana beberapa Pemotor, akan mengendarai montornya dalam lingkaran yang sangat besar bagaikan tong. Bunga dan Aizha, sedikit menjauh. Mereka tidak tega dan takut, jika Pemotor itu jatuh. Sebaliknya, Cantika dan Innara malah mendekat. Mereka berdua juga, memberikan uang pada para Pemotor tersebut, dengan riang.


Ada begitu banyak hal yang mereka lakukan, setelah menonton tong stan. Mereka berempat juga, makan arum manis, bakar-bakaran dan beberapa jajanan yang lain. Tak lupa, Aizha juga mengambil tiap moment itu, dengan handphone miliknya. Mereka sangat menggemaskan dan seperti idol. Apalagi, ketika bando lucu itu bertengker di kepala mereka.


Aizha, Cantika, Bunga dan Innara pun kembali ke Vila. Mereka langsung pergi tidur di kamar. Bunga dan Aizha berada pada satu kamar. Sedangkan Cantika bersama Innara. Mereka tampak kelelahan dan tertidur nyenyak.


<\=>


Matahari terbit, Innara, Aizha, Cantika dan Bunga memutuskan, untuk pergi berenang bersama. Selesai bersiap-siap, mereka pun naik ke mobil Aizha yang baru saja tiba. Mereka juga sempat berhenti sejenak, untuk membelikan oleh-oleh. Cantika lah yang paling banyak membawa oleh-oleh, karena pemberian Aizha, Innara dan Bunga. Maklumlah, ketiga gadis itu, memiliki keluarga yang sepi.


"Selamat pagi, bagaimana liburannya?" sapa seorang wanita, dengan pakaian rapi dan tampak begitu cantik. Tubuhnya juga, seperti model.


Innara, Aizha, Cantika dan Bunga, tersenyum. Mereka terkejut, melihat kehadiran wanita itu, di halaman rumah Aizha. "Baik Miss," sahut Aizha, mewakili teman-temannya.


"Syukurlah, perkenalkan nama saya Miss Ina. Apa kalian sudah siap belajar?" tanya Miss Ina, membuat mereka menganggukkan kepala, siap. "Bagus! Mari ikut Miss!"


Miss Ina pun berjalan ke arah samping Rumah megah Aizha. Mereka bertiga tampak bingung dna juga penasaran. Beda dengan Aizha yang terlihat senang.


"Ini dia, tempat yang akan kita pakai, atas persetujuan Dek Aizha," ucap Miss Ina, membuat mereka takjub.


Ada tempat yang berbentuk persegi panjang. Tempat itu, dikelilingi oleh tanaman yang merambat. Terlihat bunga-bunga kecil di tiap ujung dan atapnya. Meja panjang dan beberapa kursi juga terpajang di dalam. Meja dan kursinya juga dililitkan tanaman palsu, untuk mempercantik.


"Wahhh!" Bunga benar-benar takjub. "Aku pikir, kita bakalan belajar di ruang sepi dan tertutup."


"Tapi Miss, kalau mataharinya tertutup awan, akan jadi sedikit gelap. Saya terbiasa belajar, di tempat yang sang---" ucap Cantika terhenti, ketika taman itu mulai terlihat sangat terang dan semakin cantik.


"Waw," satu kata yang keluar dari mulut Cantika.


"Mari, kita belajar!" seru Mis Ina.


Innara, Cantika, Aizha dan Bunga mulai belajar bahasa Inggris serta Jerman. Bunga yang sama sekali, sulit untuk mengerti, mendapatkan bimbingan khusus oleh Miss Ina. Sedangkan Cantika, Innara dan Aizha, tengah fokus mengerjakan tugas diberikan. Miss Ina juga memberikan nomornya, pada mereka berempat. Dia akan menghubungi satu per satu, dengan menggunakan bahasa Inggris dan Jerman. Namun, secara mendadak. Ada juga grup, dengan bahasa yang sama. Mereka tampak begitu puas serta senang. Ucapan terima kasih pun diberikan pada Miss Ina.


<\=>


Hari berlalu, para Guru di Sekolah, mulai memberikan kisi-kisi UTS. Hal yang menajubkan, ketika Bunga fasih menjawab pertanyaan Guru Jerman dan Inggrisnya. Vlora dan Kawan-Kawan, tampak sedikit kesal. Mereka yakin, perkembangan Bunga ini, dikarenakan kedekatannya dengan Innara, Cantika dan Aizha.


Pada kelas Innara juga, banyak wanita yang syirik, karena menjadi sok pintar. Mendapatkan nilai tertinggi di kelas, membuat banyak perempuan di kelasnya kesal. Mereka juga tidak senang, melihat Innara yang terlihat begitu bahagia. Namun, berbeda dengan kehidupan Cantik dan Aizha di kelas. Mereka masih sama seperti biasa.


Kini, Innara, Aizha, Cantika dan Bunga, sedang berada di kantin. Nampak, mereka berempat sedang makan siang bersama. Ada banyak orang yang melihat ke arah mereka, dengan rasa dengki, iri, kesal dan marah.


"Ohh iya, hampir aja aku lupa. Aku ada informasi tentang si Blak, loh," ucap Bunga membuat mereka bertiga menoleh ke arahnya.


"Informasi apa?" tanya Aizha.


"Aku denger-denger, mereka berhasil ngedapetin soal-soal UTS minggu depan. Tapi, posisi mereka bukan sebagai Penjualnya, tetapi Pelanggan. Orang yang ngebocorin soal-soal itu, ngasih patokan harga yang saaa-ngat mahal!" ungkap Bunga, sedikit pelan. "Harga awal dua puluh enam juta. Tapi, waktu dilelang jadinya empat puluh juta."


"Gilak, mahal banget!" komen Cantika, dengan volume suara biasa.


Innara dan Aizha tampak berpikir sejenak. "Bunga, kamu tau yang beli berapa orang?" tanya Innara.


"Lima, termasuk si Blak," sahut Bunga dan Innara pun mengangguk.


"Hmmm, kalau dilihat dari rangking sepuluh besar tahun kemarin. Nilai anggota Aples, Cantika dan Vlora itu murni pemikiran mereka. Itu artinya, ada tiga orang yang kemungkinan besar, mereka beli paket soal itu," ucap Innara.


Aizha dan Cantika, mengernyitkan kening. Aizha merasa da yang salah dan bertanya, "Bukannya empat ya? Anggota Aples ada empat orang, ditambah Cantika sama Vlora, jadinya kan enam. Sepuluh dikurangi enam sama dengan empat, kenapa kamu bilang tiga?"


"Karena, salah satunya Murid beasiswa. Gue pikir, dia itu yang bantu ngejawab bocoran soal-soal yang dibeli oleh salah seorang dari ketiga Murid tersebut. Jadi, dia bukan termasuk kategori jujur dan bukan juga, Murid yang memiliki niat curang," jelas Innara.


"Lo tau dari mana, kalau dia nggak ada niat buat curang?" tanya Cantika.


"Bener itu, coba kamu kasih tau kita. Alasan kamu berpikir dia seperti itu dan kenapa tiga orang tersebut yang membeli. Bisa saja kan, satu atau dua orang dari ketiga orang tersebut yang membeli paketnya?" tanya Aizha, meminta penjelasan.


"Denger ini baik-baik! Gue sangat yakin, Murid Beasiswa itu dibully. Dia nggak mampu, buat beli obat Bokapnya yang sekarat di Rumah Sakit. Kedua, buat ngedapatin uang, untuk berobat Bokapnya itu. Dia harus ngelayani Murid di sini, dengan ngasih jawaban, ngerjain tugas dan yang lainnya," ungkap Innara, membuat Aizha terkejut. Bunga jadi sedih dan Cantika, tampak diam menyimak.


"Nah, untuk ketiga orang yang gue curigai. Mereka bukanlah orang yang benar-benar pintar. Salah seorang dari mereka bertiga juga, ada yang sudah menikah, karena urusan bisnis," jelas Innara terhenti.


"Sebentar, kamu yakin Ra, soal ini?" tanya Aizha, menghentikan ucapan Innara.


"Gue yakin seratus persen, dari informasi ini, kita bakalan tau, seberapa kuat kekuasaan mereka. Kalian juga bakalan paham, kenapa gue sangat yakin, diantara mereka bertiga, adalah Pelanggan si Tukang Bocor Soal!" ucap Innara penuh keyakinan.


Aizha teringat, akan file yang sempat dia curi dari Sekolah. "Mungkin, aku harus satu per satu," batinnya.


"Oke, itu artinya tinggal cari satu orang lagikan?" tanya Cantika dan diangguki oleh mereka bertiga. "Tapi, kita tetap harus berpegangan pada tujuan awal. Misi pertama kita adalah si Blak. Jadi, kita harus fokus pada misi tersebut!" pesannya dan disetujui oleh ketiga temannya.


"Mengingat, sebentar lagi UTS. Aku mau, kita harus segera mendapatkan ipad dan handphone si Blak serta kedua temannya. Sambungkan kabel itu, pada barang tersebut dan handphone yang aku beri! Apa kalian siap?" tanya Aizha dan mereka pun mengangguk pasti.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...Terima Kasih, karena telah berkunjung ke novelku ini. Maaf, kalau ada salah tulis atau typo. Semoga kalian suka✨...


...See you ...💕...