
...Welcome to Alpha Female, guys✨...
...Selamat membaca💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Aizha, Bunga dan Cantika, telah tiba di lokasi. Cantika pamit pergi duluan, diantar oleh Supir Aizha. Bunga dan Aizha pun pergi masuk ke dalam rumah.
Bibik memberikan minuman hangat pada Aizha dan Bunga. Aizha tampak memberiu sang Bibik, untuk menemani Bunga dan menyuruhnya tidur di kamar tamu. Bibik pun langsung melakukan perintah Aizha.
Bibik terlihat, sedang membujuk Bunga yang kelihatan kacau. Dia berusaha, untuk membuat Bunga nyaman padanya dan membawa pergi ke dalam kamar. Aizha juga berusaha membujuk Bunga, supaya mau ikut Bibik.
Aizha juga pergi ke dalam kamarnya, untuk membersihkan diri dan tidur. Dia harus menyiapkan tubuhnya, untuk nanti malam. Bibik juga berusaha, untuk menidurkan Bunga, di kamar lain. Tampak mata sayu Bunga, mulai terlelap.
<\=>
Langit telah berubah menjadi gelap. Posisi Matahari pun, telah tergantikan oleh Bulan. Aizha yang sudah mengganti baju, dengan piyama. Tampak sedang sibuk, dengan laptopnya di ruang tengah. Innara juga berada di sana. Dia terlihat, sedang meminum jus buatan Bibik.
"Lebih bagus lagi, kalau kamu bisa dapetin handphone mereka," ucap Aizha dan menaruh laptopnya ke atas meja.
Innara nampak berpikir sejenak. "Emmm, kayaknya bakalan sulit deh. Lo nggak pakai kekuatan, apa gitu dari sistem Alpha?"
"Bisa sih, cuman... Setiap kali aku pakai item dari Alpha. Aku bakalan mimisan, kalau terlalu berlebih pingsan," ungkap Aizha, membuat Innara terkejut.
"Kalau anemia gimana?" tanya Innara, khawatir.
"Tinggal ke Rumah Sakit lah," sahut Aizha, santai.
Innara pun terdiam dan tiba-tiba berkata, jika dirinya akan mendapatkan handphone Andre CS. Aizha tersenyum senang, mendengarnya. Tak berselang lama, Bunga turun ke lantai bawah, menghampiri Aizha.
"Ehhh, udah bangun Bunga? Gimana, udah mulai enakan belum?" tanya Aizha, setelah melihat kehadiran Bunga.
Innara tersenyum dan memberikan ucapan bela sungkawa, atas meninggalnya Ibu Bunga. Bunga menganggukkan kepala pelan dan berterima kasih.
Bunga melihat ke arah Aizha dan bertanya, "Aizha, apa kamu yakin. Aku boleh tinggal di sini? Aku agak... Ngerasa nggak enak."
"Kenapa nggak enak? Aku malah seneng banget, karena ada temen. Bibik juga seneng banget, sampai masak banyak tuh, di dapur!" kata Aizha dan Bunga pun menundukkan kepala.
Innara berusaha, untuk membantu Bunga. "Bunga, jangan mempersulit diri lo, jika ada yang mudah di depan mata. Mamah lo, juga udah happy di sana. Lo cukup berdoa pada Tuhan, untuk meringankan ujian Mamah lo, di akhirat sana dan meminta, supaya beliau berada di tempat yang indah serta nyaman."
Aizha tersenyum lembut dan menganggukkan kepala. "Apa yang dibilang Innara itu bener, Bunga. Sedih terlalu lama juga nggak ada gunanya. Lebih baik, kita bertiga pergi makan dan mulai buka lembaran baru."
"Ehhh, gue ikut makan?" Innara tersentak, ketiga mendengar ucapan Aizha.
Aizha pun mengedipkan mata, untuk mengkode Innara. Namun, Bunga masih belum mau. Dia masih merasa, sedikit malu. Innara dan Aizha, terpaksa menyeret Bunga ke dapur.
Aizha, Innara dan Bunga, mulai makan bersama di meja makan. Tampak, Bunga makan dengan begitu lama. Innara pun mengambil alih sendok Bunga dan memaksanya, untuk menerima suapan yang dia berikan. Aizha yang melihatnya, tersenyum kagum.
"Ehhh, enggak-enggak! Aku bisa makan sendiri kok," tolak Bunga dan berusaha, meraih kembali piring serta sendoknya.
"Nooo! Lo mau gue suapin atau... Gue lempar nih piring ke muka lo?!" ancam Innara, membuat Bunga cemberut.
"Terima aja, Bunga. Innara bukan orang yang lemah lembut, apalagi suka bercanda. Dia nggak bercanda sama omongannya itu," ucap Aizha, membuat Bunga tersentak.
Bunga pun menerima suapan dari Innara. Nampak, Aizha menahan tawa, ketika melihat hal itu. Selesai Aizha makan, dia juga menyuapi Innara. Wajah malu-malunya, membuat Aizha memiliki ide jail.
Aizha tampak menggoda Innara dan terus saja, memajukan sendoknya. Innara terus menolak dan memberikan tatapan tajam. Namun, tatapan itu tidak mempan. Innara pun, terpaksa menerima suapan itu, berkat bantuan Bunga. Mereka bertiga, mulai terlihat dekat satu sama lain. Tampak ketiganya, mulai bercanda tawa.
<\=>
"Wahhh, itu mobil baru Bunga kah?"
"Ehhh, kok ada si Aizha?"
"Gilak, Aizha glow-up banget sekarang!"
"Jangan-jangan, mobil Aizha tuh,"
"Kayaknya, diem-diem Aizha itu anak orang tajir deh,"
"Kalau Bianka CS masih ada, bisa kepanasan mereka."
Aizha dan Bunga, tampak tidak peduli. Mereka berdua berjalan menghampiri Innara. Tak lama, Cantika juga mulai memasuki area halaman Sekolah.
"Lohhh, Innara juga ada di sini?" Cantika terkejut, melihat kehadiran Innara.
"Kita kan sama-sama sendiri. Kenapa, nggak jadi satu aja? Aku mau, kita berempat jadi teman mulai sekarang. Nanti, waktu istirahat kita makan bareng-bareng gimana?" ujar Aizha dan mereka pun saling melihat.
Bunga, Cantika dan Innara, tampak menyetujuinya, dengan cara menganggukkan kepala. Mereka berempat pun, pergi bersamaan menuju ke dalam gedung Sekolah. Banyak Murid, tampak memperhatikan mereka berempat. Bunga, Cantika, Aizha dan Innara, berpisah ketika tiba di kelas.
<\=>
Siang hari, jam pelajaran juga telah dimulai. Banyak anak-anak yang mulai melakukan ulangan harian. Terlihat di salah satu kelas, ada Murid yang sedang bertengkar hebat. Tampak juga, seorang gadis yang sedang panik dan nangis. Pertengkaran itu, terjadi karena ulah gadis itu yang ketahuan selingkuh.
Kelas yang lain, tampak terganggu. Aizha, Innara, Cantika dan Bunga pun keluar dari kelas mereka masing-masing. Para Guru juga berkumpul di kelas yang ribut itu, sambil berusaha untuk melerai. Tetapi, pertengkaran itu masih belum berhenti.
Aizha mendekati Cantika. Dia meminta tolong Cantik, untuk mencaritau awal mula pertengkaran itu terjadi. Cantik pun mengiyakan dan pergi, menghampiri salah satu Siswi di Kelas tersebut.
"Kayaknya, gara-gara Dwi selingkuh," ujar Innara tiba-tiba.
Aizha mengintip ke dalam. Dia melihat ke arah Dwi, yang terlihat begitu risau dan sedih. Tak berselang lama, Cantika menghampiri Innara dan Aizha. Bunga juga baru menyusul.
"Si Dwi itu diem-diem lagi chatan sama siswa kelas sebelah. Dia nggak tau, kalau Pacarnya ini lagi ngajak ngomong. Ehhh, handphonenya diambil sama Pacar terus... Ya begitulah, kalian bisa menduganya sendirikan? Nah, awal-awal yang bertengkar, cuman dua cowok itu. Tapi, Temen-Temen mereka berdua pada nggak terima dan jadi deh, aksi keroyok," cerita Cantika dan mereka bertiga pun paham.
Suara heboh, tiba-tiba terdengar. Aizha, Bunga, Cantika dan Innara pun mendekat. Nampak beberapa Siswa telah babak belur. Salah seorang Siswa, keningnya terkena ujung meja, hingga berdarah. Tak berselang lama, ada juga kejadian yang sangat mengejutkan. Salah seorang Siswa di dorong, hingga keluar dari jendela dan terjatuh.
Para Murid benar-benar terkejut. Mengingat, kelas dua belas berada di lantai dua, membuat beberapa langsung berlari menuju lantai bawah. Beberapa Guru juga langsung keluar, mencek kondisi Siswa tersebut.
"Kita nggak mau lihat juga?" tanya Bunga dan mereka bertiga pun menggelengkan kepala.
"Lo mua lihat?" tanya Cantika dan diangguki oleh Bunga.
"Enggak usah, mending balik ke kelas aja. Apalagi, lo habis berduka. Jangan sampai, ada berita buruk tentang lo lagi," ujar Innara dan Bunga pun menganggukkan kepala, dengan ekspresi murung
Cantika pun menggegam tangan Bunga, berusaha untuk mengerti dan memberikan kekuatan. Aizha teringat, akan permintaan sistem Alpha, untuk memberitau Bunga.
"Kayaknya, momen ini lagi pas banget. Sekalian, aku kasih tau Cantika aja apa ya?" batin Aizha.
"Guys, aku mau bicara sama kalian. Kita ke Perpustakaan aja yuk!" ajak Aizha dan mereka pun mengikuti.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...See you✨...