
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Aizha dan Bunga, tengah sarapan bersama. Ketika mereka berdua, sedang sibuk melahap roti. Sebuah panggilan telepon masuk di handphone Aizha, dari Innara.
"Ada apa, ya? Tumben-tumbenan, Innara telepon pagi buta kayak gini?" tanya Bunga, merasa heran.
Aizha sempat milirik jam yang menunjukkan pukul setengah enam pagi. Dia pun, segera menerima panggilan dan bertanya, "Hallo, ada apa Ra?"
"Bimo sama Teo meninggal, Zha!" ucap Innara, membuat Aizha terkejut. "Sekarang, semua Murid pada nuduh elo. Semua ini salah gue! Sorry banget, Zha! Gue bener-bener minta maaf!" mulai terdengar sendu.
"Sebentar Ra, tolong tenang dulu!" pinta Aizha, berusaha untuk menetralkan kondisi. "Gimana kondisi keluarga Teo sama Bimo sekarang?"
"Ada yang bilang, Polisi sekarang di Sekolah! Mereka nemuin bukti, kalau pembunuhnya Murid di Sekolah kita!" sahut Innara, memberitau Aizha.
Aizha tampak terdiam sejenak dan berucap, "Ra, kamu jemput Cantika dan kita ke Sekolah bareng-bareng!"
Innara pun mengiyakan. Aizha dan Bunga, langsung bersiap-siap, untuk pergi ke Sekolah. Namun, saat Aizha hendak masuk mobil. Sebuah hologram muncul.
...[Aizha, untuk saat ini dan entah sampai kapan. Aku tidak akan bisa muncul membantumu]...
...[Aktifkan segera, item otomatis]...
...[Pengaktifan ini, sangatlah beresiko. Semua item yang pernah kamu pakai, akan melekat padamu, tanpa kontrol atau peringatan dariku]...
...[Jadi, kamu akan merasa lelah dan capek dua kali lipat, dari pada sebelumnya. Mungkin, kamu juga memeperlukan donor darah, setelah menggukannya]...
Tiba-tiba, hologram itu terlihat sangat aneh. Seketika, hologram tersebut menghilang, muncul dan kabur. Aizha tampak terkejut, bingung dan risau. Nampak, sistem Alpha kembali memberikan pesan memelalui hologram tersebut.
...[Ba-hay-a]...
"Bahaya?" batin Aizha, bingung. "Siapa yang dalam bahaya? Apa maksudnya?"
"Aizha, ayo! Innara udah jemput Cantika loh!" ujar Bunga, yang baru saja menerima pesan dari Innara. "Nih, mereka udah otw ke Sekolah!"
Aizha yang terkejut, langsung menganggukkan kepala. Dia pun masuk ke dalam mobil. Bunga dengan lihai, memutar balik mobil dan mengemudikannya, pergi keluar dari rumah megah itu.
...<\=>...
Tiba di area Sekolah, beberapa Mobil dan Montor. Nampak berbaris rapi, untuk diperiksa oleh para Petugas Kepolisian. Tetapi, ada beberapa Petugas yang tidak mengenakan pakaian Polisi. Mereka terlihat seperti orang yang sangat rapi dan ada juga, Detektif.
"Perasaan gue, jadi nggak enak, Zha," ucap Innara, dari dalam mobilnya.
Aizha yang berada di dalam mobil belakang Innara dan Cantika, tampak diam. Bunga yang berada di sisi Aizha, juga merasa risau. "Enggak tau kenapa, aku juga ngerasain hal itu," kata Bunga.
"Apa mungkin, kita bakalan ketahuan?" tanya Cantika, melalui alat yang selama ini mereka berempat kenakan, untuk berkomunikasi.
"Stststtt, bentar lagi mobil kalian!" Aizha meminta Cantika dan Innara, untuk menghentikan kegiatan mereka.
Ketika Innara menurunkan kaca mobilnya. Para Petugas, Detektif dan Pengacara tersebut, langsung melihat ke arah Innara. Nampak, senyum menyeringai dari wajah sang Detektif.
"Boleh, turun sebentar dan ikut sama saya sebentar, Kak?" tanya sang Detektif perempuan, ramah.
Aizha dan Bunga, tampak terkejut. "Aizha...!" panggil Bunga, risau.
"Maaf, tapi ada urusan apa ya, Bu?" tanya Innara balik, berusaha untuk mengontrol ekspresi.
"Kalau bisa, beri kami penjelasan sedikit, tentang tujuan anda!" tegas Cantika, membuat sang Detektif tersenyum.
"Kakak lihat, di belakang kalian masih banyak mobil. Jika, kita bicara di sini. Mereka bisa marah, dengan kami dan kalian juga," jelas Bu Detektif.
"Oke, saya akan pinggirin mobilnya. Tapi, jangan buang-buang waktu saya!" pesan Innara pada Bu Detektif.
"Kalau Ibu, hanya membuat teman saya kena masalah di rumah, karena membuang waktunya yang sia-sia. Saya sebagai teman, tidak akan membiarkannya!" ancam Cantika, membuat Ibu Detektif itu, tersenyum dan mengangguk.
Innara pun menyingkirkan mobilnya. Mobil Aizha dan seterusnya, langsung di persilahkan masuk, tanpa pemeriksaan. Bunga dan Aizha semakin risau. Mereka berdua keluar dari mobil dan melihat Innara yang pergi bersama Bu Detektif. Cantika juga, di temani oleh sang Pengacara.
"Aizha, ini gimana?" tanya Bunga, risau.
"Kenapa Innara di bawa Petugas itu?" tanya Akhsan pada Aizha dan Bunga.
Aizha dan Bunga menoleh, ke arah sumber suara tersebut. Mereka berdua melihat, Aksan tak sendirian. Ada Arkana, Dirgantara dan juga Farel.
"Kami juga kurang tau," sahut Aizha, membuat Akhsan khawatir.
"Kayaknya, dia dicurigai," kata Dirgantara, membuat mereka diam. Apa yang dia katakan, terdengar benar dan masuk akal.
Mereka berlima pun menganggukkan kepala, mengiyakan. Aizha langsung pergi, meninggalkan Bunga bersama anggota Aples. Dia sempat berpesan, melalui bros yang dia kenakan, untuk memberitau Bunga. Jika dirinya, akan membantu Innara dan meminta tolong Bunga, untuk memantau keadaan di sekitar yang mencurigakan.
...<\=>...
Innara dan sang Detektif, tengah bicara di ruang BK. Tampak, hanya mereka berdua, pada ruang tersebut. Sang Detektif juga, menunjukkan sebuah foto di layar laptopnya ke Innara.
"Saya sangat apresiasi kamu, karena berhasil menghilangkan, hampir semua jejak yang ada. Tetapi, sepertinya kamu salah mengedit, pada salah satu rekaman CCTV di toko roti," ucap Bu Detektif, dengan penuh kepercayaan diri.
Innara yang melihatnya, terdiam. Dia memang membunuh Alex dan melewati jalan itu. Tetapi, dia tidak berniat, untuk menyabotase setiap CCTV. Dia hanya menghapus semua jejaknya di satu lokasi saja. Tetapi anehnya, pada tanggal yang tertera, menunjukkan kejadian semalam. Padahal, kemarin malam, dia hanya di rumah saja. Pakaian yang dia kenakan juga, telah dibakar setelah membunuh Alex hari itu.
"Apa anda, menuduh saya sebagai Pembunuh Teo dan Bimo?" tanya Innara, memastikan.
Bu Detektif tersenyum lembut. "Menurut kamu gimana?"
Innara terdiam dan kembali bertanya, "Saya denger-denger, kalian juga nyari Pembunuh Alex?"
"Tentang itu, kamu tidak perlu khawatir. Kami menemukan jejak geng montor yang kemungkinan besar, terjadi sebuah perkelahian kelompok, hingga menewaskan sang Korban," jelas Bu Detektif.
Innara mengernyitkan kening, mendengar hal itu. Tak berselang lama, Aizha langsung masuk, tanpa permisi. Bu Detektif dan Innara, tampak terkejut.
"Maaf, kalau saya ikut campur. Saya cuman mau melindungi Innara, supaya dia tidak terkena masalah di rumah," ucap Aizha dan memberikan salam, dengan menundukkan kepala sebentar, pada Bu Detektif.
"Anak-anak juga dalam perlindungan negara. Jika terjadi sesuatu yang buruk, kami akan melindunginya," kata Bu Detektif, membuat Innara dan Aizha, spontan tertawa.
"Kalian akan melindungi kami, setelah kejadian itu viral atau korban, termasuk orang yang berada. Mana mau, jaman sekarang dimintai bantuan, tanpa adanya paksaan atau iming-iming duit?" celetuk Innara, membuat Bu Detektif terdiam. "Lihat korbannya, sekarat di rumah sakit dulu. Baru kalian muncul, bak Pahlawan kesiangan. Apalagi, kalau udah kesorot sama Wartawan."
Bu Detektif tampak sedikit marah, mendengar hak itu. Aizha pun meminta Innara, untuk diam dan meminta maaf. Innara tersenyum dan meminta maaf pada Bu Detektif, sambil menundukkan kepala.
"Saya di luar, sempat dengar sedikit. Jika Alex, ada kemungkinan meninggal, karena pertengkaran antar geng montor. Itu sangat masuk akal, karena dia punya geng montor. Tapi, apa kaitan Innara yang membuat anda curiga, jika dia membunuh Bimo dan Teo?" tanya Aizha, berusaha untuk kembali ke topik.
"Kami berpikir, jika Nak Innara ini, ingin membalaskan dendamnya, pada Bimo dan Teo, karena telah menipu Alex yang merupakan Pacarnya," ucap Bu Detektif, membuat Innara dan Aizha terkejut.
"Sebentar, kalian tau, kalau Innara adalah Pacar Alex. Tapi, kenapa kalian enggak curiga, kalau Innara yang ngebunuh Alex?" tanya Aizha, membuat Innara terkejut, tak percaya. Bagaimana bisa, Aizha mengatakan hal itu.
"Awalnya, kami memang mencurigainya. Tetapi, ada banyak bukti dan saksi yang bilang, jika Nak Innara dan Alex, saling mencintai. Ada juga yang melapor, jika Nak Innara adalah pelaku pembunuhan Bimo dan Teo, karena telah menipu sang Kekasihnya," ungkap Bu Detektif, membuat mereka bingung dan penasaran.
"Apa?! Siapa orang itu?!" tanya Innara, sedikit emosi.
Bu Detektif hendak menjawab, namun keduluan Aizha. "Apa kalian, menemukan bukti lain, selain rekaman ini?"
"Ada rompi serta earphone yang dikenakan Nak Innara. Persis, seperti pada rekaman itu yang tertinggal di lokasi," kata Bu Detektif, membuat Innara dan Aizha, memperhatikan dengan detail layar laptop itu.
Aizha tampak berpikir sejenak, untuk membebaskan Innara dari kasus ini. Namun, saksi yang melampor, merupakan bukti yang kuat. Dia harus memberikan alasan yang pas dan kuat, supaya Bu Detektif percaya.
"Maaf Bu, apa Ibu sudah jamin. Jika sang Pelapor, adalah orang yang bersih? Saya tau, Innara sangatlah hancur, ketika Alex meninggal dunia. Tapi, saya juga tau, Innara bukan orang yang sebaik itu," ucap Aizha, membuat Bu Detektif mengernyitkan kening.
"Maksud kamu?" tanya Bu Detektif, tak mengerti.
"Jika benar, Innara tau sang Pacar telah ditipu oleh Bimo dan Teo. Dia sudah pasti, membuat Bimo dan Teo, untuk membayar hal itu, secara setimpal. Mereka bukan orang yang membunuh Alex. Jadi, untuk apa Innara membunuh mereka?" tanya Aizha pada sang Detektif.
"Mana--" ucap Bu Detektif terpotong.
"Saya sudah cukup lelah, dengan kehidupan ini, Bu. Saya tidak akan membunuh orang, hanya karena alasan itu. Coba, Ibu tatap mata saya!" pinta Innara dan mereka pun saling bertatap mata. "Apa Ibu yakin, saya pembunuh Bimo dan Teo? Jika Ibu salah orang. Saya akan bunuh diri, dengan dalih ketakutan, karena telah dituduh, sebagai pembunuh oleh seorang Detektif. Dengan alasan itu, saya pasti mendapatkan simpati banyak orang dan nama baik keluarga pun, tidak terlalu jatuh."
Bu Detektif, menelan ludah melihat keseriusan Innara. "Jika hal itu benar-benar terjadi. Banyak anak Muda, akan merasa terancam dan memilih, untuk menghindari kalian. Saya sebagai saksi, juga akan bertindak. Jika Ibu Detektif, ternyata salah orang!" ancam Aizha, membuat Detektif itu risau, dengan tindakannya sendiri.
"Kalau boleh jujur, rekaman itu telah di edit. Saya memiliki CCTV di rumah yang menunjukkan, jika pada waktu itu. Saya berada di rumah!" ucap Innara, membuat Bu Detektif menoleh ke arahnya.
"Baiklah, saya akan mengunjungi anda, nanti," sahut Ibu Detektif, mulai ramah.
Bu Detektif juga minta maaf, jika telah membuat Innara dan Aizha tersinggung. Aizha tampak memaafkan Bu Detektif, begitu juga dengan Innara. Mereka pun, ikut meminta maaf, jika telah berlaku tidak sopan pada Bu Detektif.
Ketika Aizha tiba di ambang pintu. Dia berpesan pada Bu Detektif, untuk memeriksa sang Pelapor. Bu Detektif pun mengiyakannya, tanpa jeda atau pamrih.
...<\=>...
Para Petugas berpamitan, dengan Kepala Sekolah dan beberapa Guru. Cantika yang melihat dari balik jendela, tampak mengirimkan sebuah pesan di grup. Innara yang hendak membalas pesan itu, terhenti. Cantika, Bunga dan Innara terkejut, melihat kerisuhan di lorong mereka. Terlihat seorang Siswi, dengan darah yang sangat banyak di area hidung dan seragamnya.
"Aizha!" Innara, Cantika dan Bunga terkejut.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like 👍vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...