Alpha Female

Alpha Female
Bab 50



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


"Aku udah bunuh Farel dan teman-temannya, karena ngedarin narkoba di Sekolah," sahut Aizha, membuat Bunga, Cantika dan Innara, terkejut bukan main.


"Apa?!" Cantika dan Innara, tak percaya, dengan apa yang barusan mereka dengar.


Bunga tampak sangat terkejut. Dia jatuh terduduk, meneteskan air mata. Cantika dan Innara, terlihat begitu kesal pada Aizha. Innara pun, mengambil sebuah lembar kertas. Dia meraih baju Aizha dan menunjukkan selembar kertas tersebut.


"Lo baca, ini!" suruh Innara, tanpa melepaskan gegaman baju Aizha.


Aizha pun membaca kertas tersebut, dengan cukup santai. Matanya seketika membulat. Dia terkejut, ternyata yang Farel dan teman-temannya edarkan, bukanlah narkoba. Cantika dan Innara, sampai memberikan tanda tanya pada nama barang tersebut.


"Ada satu Siswa curiga, kalau itu bukan narkoba yang seperti umumnya. Rasanya sedikit berbeda dan terkadang, tubuh terasa dikontrol, melakukan banya hal kegiatan, tapi ngga tau apa-apa," ungkap Cantika, sambil mengusap lembut, punggung Bunga. Aizha tampak kebingungan, merasa bersalah dan sedikit kesal.


Innara pun mengambil kertas itu, dari tangan Aizha. Dia melihat ke arah Cantika dan Bunga. "Lo bawa Bunga ke kamar sebelah aja! Biar Aizha, gue yang jelasin!" suruhnya dan mereka berdua pergi.


"Itu artinya, gue bunuh kunci jawaban kita?" gumam Aizha dan di-iyakan oleh Innara.


"Zha, kenapa lo jadi seenaknya gini sih?! Lo berubah!" ujar Innara, membuat Aizha merenung.


Aizha sadar, jika dirinya sudah sedikit berubah. Dia pun meminta maaf pada Innara. Dia juga tidak tau, kenapa dirinya bisa begini. Tetapi, sebuah layar hologram muncul, dengan sangat mengejutkan.


...[Apa-apaan ini?! Kenapa tubuhmu penuh hal negatif?!]...


Innara dan Aizha terkejut, melihat layar tersebut. Sistem Alpha, ternyata telah kembali. Ada rasa gembira yang bercampur aduk, dengan perasaan bingung.


"Hal negatif?" ucap Aizha dan Innara, hampir bersamaan.


...[Sebentar, aku kakulasi dulu]...


Aizha dan Innara, deg-degan. Butuh sekitar dua mintan, untuk layar hologram tersebut, kembali muncul.


...[Apa kau sudah mulao menyesap darah manusia? Dua kali?]...


Aizha spontan menggelengkan kepala. "Enggak, cuman sekali!" sahutnya.


...[Aneh rasanya, aku merasakan dua darah yang asing dari tubuhmu. Ada darah manusia licik]...


...[Sepertinya, ada sistem yang serupa denganku]...


"Hmmm, jangan-jangan lo hisep darah orang lain, tanpa sepengetahuan kita ya?" Innara tampak, mulai sedikit marah, dengan tangan telipat di depan dada.


"Enggak suer! Tapi... Aku nerima tambahan darah dari Rumah Sakit," ucap Aizha.


...[Aku kan bilangnya menghisap, Aizha!]...


"Apa itu berbeda?" tanya Aizha penasaran. Innara pun sama halnya.


...[Selama disalurkan melalui tangan, itu aman. Aku telah memberikan pengendali di sekitar tangamu, untuk membersihkan darah yang kamu terima]...


...[Tetapi, menghisap berhubungan, dengan nafsu. Pengendali itu, tidak akan bisa mengendalikan darah dalam skala besar, apalagi singkat. Namanya saja nafsu. Tanpa sadar, kamu menginginkan lebih, hingga dirimu puas]...


"Itu artinya, kalau kamu kasih pengendali, di seluruh tubuh Aizha, tidak akan berguna?" tanya Innara, memastikan.


...[Sesuatu yang berlebihan, akan memiliki sisi negatif]...


...[Jika aku kasih pengendali di seluruh tubuh Aizha. Pengendali itu, bisa mengambil alih tubuh Aizha. Apalagi, dia sangat berhubungan, dengan darah]...


Innara tampak menganggukkan kepala paham. Aizha yang tampak khawatir pun bertanya, "Apa kau bisa, membersihkanku?"


...[Baru saja muncul, kau sudah membuatku serepot ini]...


Aizha tampak sedih dan menundukkan kepala. Dia sangat merasa bersalah. Innara juga ikut sedih, melihat Aizha.


...[Ini akan sakit sekali, apa kau yakin?]...


"Apapun yang terjadi. Aku akan terima! Aku nggak mau, kalau sampai bikin kesalahan lagi!" ucap Aizha, sedikit sendu.


...[Baiklah]...


...[Tiga]...


"Aizha, siap-siap!" pesan Innara dan diangguki oleh Aizha. Aizha berdiri ditengah-tengah ruangan, menyerahkan diri.


...[Dua]...


...[Satu]...


Garis-garis biru itu mulai berputar. Aizha tampak mendesah, kesakitan. Belum ada satu pun garis yang mengenai tubuhnya, namun Aizha telah merasakan sakit. Innara merasa kasihan dan khawatir, pada Aizha.


Perlahan-lahan, Aizha melayang. Dia juga, masih bisa menahan rasa sakit itu, dengan tidak berteriak. Namun, garis-garis yang berputar-putar, mulai mengarah ke tubuh Aizha.


"Arghhhhhh!" teriak Aizha, begitu kencang. Ketika, garis-garis biru itu, menelusup masuk tubuhnya.


Cantika dan Bunga, yang mendengar teriakan Aizha barusan, langsung pergi ke ruang belajar. Tapi sayang, pintu itu tidak dapat terbuka. Mereka berdua tampak begitu khawatir dan mengedor pintu, berulang kali. Innara yang berada di dalam ruangan, menangis. Dia pun memejamkan mata, tak sanggup melihat Aizha.


"Arghhhhh, hiks hiks hiks! Ber-berhen-ti Alpha! Ini sangat sakit!" Aizha tampak mulai kelelahan dan menangis, ketika garis-garis biru mulai berhenti. Mereka kembali berputar-putar.


...[Tahanlah sebentar Aizha!]...


...[Jika menundanya, aku akan kembali eror]...


...[Kau ingin aku eror?]...


Aizha yang menangis kesakitan, langsung menggelengkan kepala. "Lakukanlah!" ucapnya.


Para garis-garis biru itu, langsung menelusup masuk, ke dalam tubuh Aizha. Teriakan Aizha yang kesakitan, terdengar begitu kencang dan menyakitkan. Innara yang masih memejamkan mata, langsung menangis. Bunga dan Cantika yang mendengarnya, ikut menangis.


Proses itu berjalan cukup lama. Aizha tampak kewalahan dan jatuh pingsan. Innara yang menyadari. Jika proses itu telah berakhir, langsung memeluknya erat Aizha, sembari menangis. Cantika dan Bunga, juga berhasil masuk. Mereka berdua, langsung menghampiri Aizha serta Bunga.


"Aizhaaa!" panggil Cantika, lirih.


"Innara, hiks hiks hiks, Aizha kenapa?" tanya Bunga, namun Innara tak membalasnya.


...<\=>...


Hari berikutnya, Innara memilih untuk ijin, tidak masuk Sekolah. Sedangkan, Cantika dan Bunga, dipaksa oleh Innara, untuk pergi bersekolah. Innara tidak ingin, beasiswa Cantika benar-benar terancam.


Matahari sudah sangatlah terik dan jarum jam, menunjukkan pukul 13.21. Innara menatap Aizha, dengan ekspresi sendu. Mengingat kejadian semalam, membuat tubuhnya terasa begitu lemas. Teriakan Aizha yang kesakitan, terus terngiang-ngiang di telinga. Tanpa disadari, sebuah hologram muncul.


...[Dia akan bangun, nanti malam]...


...[Apa kau merasakan sakit, melihat Aizha?]...


Innara, menganggukkan kepala, "Iya."


...[Suatu saat nanti, dia akan merasakan hal yang lebih menyakitkan, dari pada ini. Tubuhnya bukan hanya terasa tertusuk dan tercubit. Tapi, dia juga, akan merasakan sesuatu yang meledak pada dalam tubuhnya dan rasa panas atau diangin, dengan suhu tinggi]...


"Apa?!" Innara tak percaya, dengan apa yang barusan dia dengar. Membayangkan hal itu benar-benar terjadi, membuat tubuhnya gemetar. "Aaa-apa ada cara lain, untuk hentiin hal itu?"


...[Aku telah memberikannya kekuatan, untuk membalas dendam. Sebagai timbal balik, Aizha akan menerima tugas dariku, untuk memberikan pelajaran, pada para manusia keji dan kotor itu]...


"Seandainya, orang yang kamu pilih, malah nolak, gimana?" tanya Innara.


...[Andaikan aku memilihmu pun, kau pasti, akan melakukannya]...


"Why?"


...[Karena aku yang mengedalikan]...


Innara tampak terkejut. "Sialan!" umpatnya, sembari mengepalkan tangan. Dia juga menangis, dengan emosi. Rasa sakit, sedih, kesal dan marah, yang sulit untuk diluapkan, hingga dadanya terasa begitu sesak.


...×××××××××××××××××××××××××××××××...


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...