
...Welcome to Alpha Female✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Bunga kini, sedang berada di dalam mobil. Namun, kali ini dia diantar oleh Supirnya. Dia tampak sibuk bermain handphone. Nampak pada layar handphone tersebut, tertulis nama Farel. Mereka berdua sedang berchatan melalui aplikasi.
Farel :
{Semua komputer di Sekolah juga diretas oleh Alpha}
{Para Guru juga bungkam}
{Tapi, ada beberapa Guru yang nggak terima pesan notifikasi dari Alpha}
Bunga :
{Aku pikir cuman kategori Murid, yang nggak dapet notif}
Farel :
{Arkana curiganya, Guru yang ngga dapat notif itu bermasalah. Mungkin juga, si Alpha bakalan nargetin mereka, suatu hari nanti}
Bunga :
{Kalian nggak berusaha cari tau?}
Farel :
{Udah, tapi nggak tau kenapa, lokasinya jadi teracak}
Bunga :
{Maksudnya?}
Farel :
{Waktu kita lacak lokasinya. Titik yang dituju pindah-pindah. Tempatnya juga aneh-aneh. Ada juga titik lokasinya di Afrika}
Bunga :
{Pinter dong si Alpha}
Farel :
{Pasti}
{Udah dulu ya, gue ada urusan}
Bunga :
{Iya}
Bunga pun menyimpan handphone itu ke dalam tas. Dia melihat ke arah luar jendela mobil. Dia curiga, Alpha bukanlah orang sembarangan. Namun, baginya Alpha juga sangat keterlaluan. Jika ingin berbuat sesuatu seperti di Aula hari itu. Seharusnya, dia memberitau Bunga dahulu.
Bunga pun menghubungi seseorang, untuk meminta tolong dicarikan siapa Alpha sebenarnya. Lain tempat, Aizha dan Cantika sedang berada di taman. Aizha tampak, merebut paksa surat Cantika.
"Ayolah Can!" kekeh Aizha, ingin melihat surat tersebut.
Cantika tetap akan menyembunyikan surat itu dari Aizha. "Enggak! Ini urusan gue, Zha!"
Aizha menatap Cantika kesal. Dia tampak berpikir sejenak. Sebuah ide pun muncul. Dia memilih, untuk mengaktifkan kembali sistem kepercayaan, untuk mendapatkan surat tersebut.
...[Sistem Kepercayaan diaktifkan]...
"Cantika... Aku mau lihat surat itu, boleh ya?" pinta Aizha, dengan penuh harapan.
Cantika yang melihat mata Aizha, tersentuh. Dia pun memberikan surat pada Aizha, tanpa berat hati. Senyum kemenangan Aizha, mengembang dengan sangat sempurna.
Aizha melihat isi surat itu. Pada surat tersebut, terbaca jika Cantika kembali membuat masalah atau nilainya turun. Dia harus meninggalkan Sekolah ini serta denda yang harus dibayar. Cantika juga, dimintai pertanggung jawaban atas biaya Rumah Sakit Rona nanti.
...[Item kepercayaan dinonaktifkan]...
Cantika menyadari hal aneh pada dirinya sendiri. Melihat Aizha, membawa surat miliknya, membuat dia bingung. Tapi, entah kenapa, Cantika sekarang merasa lega dan nyaman.
Aizha tersenyum kecil melihat Cantika. Dia tau, meskipun item kepercayaan dinonaktifkan. Tubuh Cantika, akan langsung merespon.
Rasa percaya yang ditanamkan sekali, pasti akan membekas dan sulit dilupakan. Itu lah kenapa, banyak orang hancur, karena terlalu mudah percaya. Contohnya saja, orang yang dengan mudah membeli barang murah dan langsung memakainya, tanpa mencaritau latar belakang produk tersebut. Sehingga, ketika dia tertipu dan mengalami kesulitan. Dia akan susah sendiri, menderita dalam diam dan tak ada seorang pun yang membantu. Hancur dan kecewa, sudah pasti dialami olehnya. Hingga membuat korban trauma.
"Cantika, kamu udah dihubungi Rona?" tanya Aizha pada Cantika.
"Belum, tapi waktu di jalan tadi, handphone gue gerak. Coba aku lihat dulu," ucap Cantika, memberitau.
Aizha menganggukkan kepala, mengiyakan. Cantika pun, melihat notifikasi handphone yang masuk. Selesai membalas, dia langsung memberitau Aizha.
"Dia minta gue tanggung jawab di Rumah Sakit *****" Cantika tampak begitu lesu. Dia pun duduk ala katak di tengah-tengah taman.
"Ehhh, itukan Rumah Sakit elit," ucap Aizha, membuat Cantika terkejut.
"Emmm, nggak juga," sahut Aizha, santai. "Palingan, kalau terkilir cuman berapa jutaan doang."
"Kira-kira berapa?" tanya Cantika, penasaran dan was-was.
"Tujuh juta, itu level keparahan yang paling rendah," jawab Aizha yang benar-benar santai.
Cantika langsung melayang, mendengarnya. Dia bingung, harus mencari kemana uang sebanyak itu. "Kenapa semahal itu?" tanyanya, lemas dan menunduk. Dia sudah tak berdaya.
"Mahal apa sih, murah gitu kok! Pelayanan yang diberikan, obat sama jaminan apa... Gitu, aku agak lupa sih. Tapi, nggak beda jauh sama garansi barang. Jadi, kalau masih belum sehat lewat dari hari yang diperkirakan. Pihak Rumah Sakit, akan kasih potongan harga setengah dan pelayanan yang lebih baik lagi," jelas Aizha, membuat Cantika jatuh terbaring di atas rerumputan hijau yang kecil-kecil.
Aizha melihat ke arah Cantika. Dia duduk ala katak dan menopang dagu, dengan kedua tangan. "Mau aku bantu?"
Cantika menolak, dengan cara melambaikan salah tangan, lemah. "Gue nggak mau bikin orang tua lo repot."
"Repot kenapa? Aku ada uang satu setengah milyar di kartuku. Baru aja tadi pagi, aku tarik uang dua juta. Kenapa orang tuaku harus kerepotan, kalau aku mau kasih kamu uang?" ucapan Aizha, membuat Cantika terkaget-kaget.
"Lo bilang satu setengah M? Lo nggak lagi bercandakan?!" tanya Cantika, sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
Aizha menggelengkan kepala, tidak. Dia sedang tidak bercanda. "Ayah sempat marah, karena pengeluarkanku yang sangat kecil. Ayah minta, untuk habisin uang itu minimal tiga ratus juta dan bakalan Mamah cek, bulan depan. Kalau bulan depan, pengeluaranku kurang dari segitu. Ayah bakalan turun tangan langsung dan ngasih seseorang, untuk ngikutin aku sepanjang hari."
"Tiga ratus juta?!" Cantika tak percaya, dengan apa yang didengarnya barusan. "Enggak habis pikir gue. Apa sih yang ada di otak mereka? Kok bisa, gitu loh, buang-buang uang seenak jidatnya. Padahalkan, banyak orang yang nggak mampu dan sangat membutuhkan uang itu."
Aizha sedikit tersinggung, dengan ucapan Cantika. Dia pun duduk, dengan nyaman di atas rumput tersebut. "Ayah bukan orang, seperti yang kamu pikirkan Can. Dia cuman khawatir, jika perjuang kerasnya sia-sia. Dia banting tulang dari pagi sampai malam, buat menuhin kebutuhan kami bertiga. Dia nggak mau, anak atau Istrinya direndahkan, apalagi kekurangan materi sedikitpun," jelasnya, mengklarifikasi.
Cantika lagi-lagi salah bicara. Dia pun menepuk mulutnya, pelan. Rasa bersalah menghantui dirinya. Dia merutuki kebodohan dan mulutnya yang ceplas-ceplos.
"Ayah khawatir, kalau aku nggak punya teman. Dia selalu lebihin aku uang, buat traktir teman-temanku, padahal..." Aizha mulai menangis. Nada suaranya juga perlahan-lahan terdengar lirih. "Aku sama sekali nggak punya. Tiap kali, Ayah minta fotoku bareng temen-temen. Aku selalu aja bayar, beberapa orang anak seusiaku, hanya buat foto itu."
Tangis Aizha pecah. Dia mulai menangis sesenggukan. "Hiks hiks hiks, aku berulang kali lakuin itu. Tapi, aslinya Ayah itu enggak percaya. Dia cuman pura-pura percaya dan seneng."
Cantika kini, telah duduk di sebelah Aizha. Dia mengusap-usap punggung Aizha, berusaha untuk menguatkan. "Lo tau dari mana, kalau Ayah lo itu, cuman pura-pura doang?"
Aizha menyeka air matanya dan menjawab, "Waktu ulang tahunku. Ayah kekeh buat ngadain pesta. Padahal, aku udah berulang kali nolak. Ayah juga, sampai ngasih souvenir mahal, buat teman-teman di Sekolahku. Dia langsung nemuin satu per satu dan diajikin ngobrol. Ekspresi Ayah hari itu mulai berubah, waktu denger jawaban mereka. Sejak hari itu, Ayah minta Mamah buat pantau keuanganku."
"Sekarang, lo udah habisin berapa?"
"Baru dua ratus tiga puluh enam juta mungkin," sahut Aizha dan Cantika pun mengangguk-anggukan kepala.
"Kalau gitu, lo bisa bantu gue? Tapi... Gue bayarnya pakai jasa. Jadi, lo kalau butuh bantuan. Gue bakalan siap bantu lo, tujuh belas jam! Soalnya, gue juga butuh tidur. Orang tua juga, nggak bakalan setuju, kalau gue keluar malem-malen." Cantika tersenyum malu.
Aizha pun menganggukkan kepala, mengiyakan. Aizha dan Cantika pun pergi ke Rumah Sakit yang digunakan oleh Rona. Setibanya di sana, Cantika tampak marah dan kaget, melihat biaya yang harus dibayar. Aizha yang membayar, hanya tersenyum. Sedangkan Cantika, diam-diam mengumpat, hingga sang Kasir ketakutan.
...~\=~...
Tengah malam, Innara masih terbangun dan menatap foto keluarganya. Dia mencoret wajah sang Kakak Perempuan, menggunakan lip tin. Tak berselang lama, sebuah notifikasi masuk. Pesan itu dikirim oleh Alex.
Alex :
{Ngapa lo nggak masuk sekolah hah?!}
{Gue mau lo ketemu sekarang}
{Kalau lo nggak dateng. Gue bakalan sebar, foto lo yang telan*jang ke medsos!}
{Gue tunggu!}
Innara melempar handphone tersebut ke karpet empuk. Dia mulai sedikit ketakutan. Teras yang awalnya terbuka. Dia langsung tutup dan juga gorden jendelanya ditarik, hingga kamar itu nampak begitu gelap.
Jarum jam terus berputar. Sudah tiga jam lebih, Innara berada di dalam kamar. Dia juga, masih belum tertidur. Dia terduduk di bawah, sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Handphone yang dibuang Innara tadi, bergetar dan mengeluarkan sebuah nada yang berisik. Innara langsung menutup kedua telinganya, ketakutan. Dia juga, menyembunyikan wajahnya ke dinding.
Handphone itu terus berbunyi. Alex terus-menerus menelpon Innara, hingga dua puluh kali. Innara yang telah ketakutan pun, mulai kehilangan akal. Dia mengambil sebuah vas bunga dan dibanting, dengan sangat kuat. Pergelangan tangannya, langsung digores menggunakan pecahan vas tersebut, hingga mengeluarkan banyak darang.
Bibik yang mendengar benda pecah pun, langsung berlari ke arah kamar Innara. Rambutnya tampak berantakan, seperti orang bangun tidur. Dia terus menggedor pintu, dengan panik. Namun, Innara tak membukakan pintu itu.
Bibik pun pergi ke lantai bawah, meminta bantuan Penjaga dan Supir di rumah, untuk mendobrak pintu. Ketika pintu berhasil dibuka, Bibik langsung berteriak histeris, melihat kondisi Innara. Dia memeluk erat Innara yang penuh dengan darah, sembari menangis. Mereka pun, memutuskan untuk membawa Innara, pergi ke Rumah Sakit.
...~\=~...
Dini hari, Aizha masih belum tidur. Dia mengirimkan beberapa virus pada beberapa orang, yang kepo akan dirinya. Semua rahasia dan aktivitasnya di laptop, akan dia kunci rapat-rapat. Banyak kunci dan penjagaan ketat, untuk meretasnya. Dia juga memastikan, setiap teknologi yang dipakai untuk meretas miliknya, akan mendapatkan virus berbahaya, hingga membuat sistem tak berfungsi.
Aizha tampak begitu senang, melihat kecerdikannya. Ruangan itu juga, penuh dengan berbagai macam teknologi, untuk meretas dan menyabotase semua teknologi canggih di dunia ini. Hidungnya mulai mengeluarkan darah. Dia pun segera menonakifkan item cerdas dan membersihkan. Ketika dia hendak pergi tidur, sebuah hologram besar, menghentikannya.
...[Ada hal yang harus kamu lakukan, karena ini darurat!]...
"Darurat?" Aizha mengernyitkan kening, penasaran.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Terimakasih, karena sudah mau berkunjung guys. Tinggalkan jejak kalian, melalui like dan komen. Berikan juga rank, hadiah dan vote kalian ya, supaya ngetiknya lancar....
...Sampai berjumpa di bab selanjutnya ya, ...
...daaa👋...