
...Welcome to Alpha Female😘💕...
...Happy Reading ✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Zeidan datang ke dalam kelas. Para Murid itu, mulai ketakutan dan kabur, untuk menjauhinya. Bukan karena Zeidan, mereka semua takut. Melainkan, ular yang dia bawa. Raka juga, membawa beberapa ular yang ukurannya lebih kecil, di dalam tempat tembus pandang.
"Aku beri kalian pilihan, makan dan minumlah yang dibawa Kak Cantika, atau... Aku minta Kak Dirgantara ini, untuk melepaskan tikus-tikus imut itu dan ular yang ada di tangan Zeidan serta Raka? Pilihan ada di tangan kalian!" tawar Aizha.
Para Murid langsung memilih, pilihan yang pertama. Mereka semua berebutan makanan dan minuman yang Cantika bawa. Melihat hal itu, Aizha langsung merangkul kedua Murid yang ditindas tadi, sembari tersenyum puas.
"Cantik? Mau ikut denganku?" tawar Aizha, sambil memiringkan kepala ke Siswi yang ditindas.
Siswi itu menganggukkan kepala, sembari tersenyum senang. Aizha pun mengajak pergi Siswi itu. Sebelum meninggalkan kelas, Bunga telah tiba dengan banyak makanan dan minuman yang serupa. Aizha pun berpesan, untuk setiap Murid di kelas ini, wajib menghabiskannya. Jika tidak, dia akan melepaskan banyak ular, serta tikus.
...<\=>...
"Aku Siska? Nama Kakak, Aizha kan?" tanya Siswi itu.
Aizha dan Siska, kini sedang berada di UKS. Terlihat, Aizha menganggukkan kepala, mengiyakannya. Dia tak banyak bicara, karena sedang mengobati luka di lutut Siska.
"Enggak nyangka, film yang aku tonton semalam, jadi kenyataan. Orang yang dulunya sering dibully, akhirnya membalikkan situasi," ujar Siska, sembari memperhatikan Aizha.
Aizha pun tersenyum. Dia menyimpan kotak p3k ke tempatnya dan menjawab, "Apa yang kau maksud itu aku?"
Siska menganggukkan kepala, dengan semangat. Dia seperti anak kecil yang menggemaskan. "Karena Kakak, mereka pasti enggak akan berulah lagi."
Aizha pun meraih kedua bahu Siska. "Siska, kamu lihat Zeidan sama Raka tadi?" tanya Aizha dan diangguki oleh Siska. "Bergabunglah dengan mereka. Aku dan Kakak-Kakak yang lainnya, akan membantu kalian, untuk mempelajari beberapa hal, demi kedamaian serta kebebasan orang lain, seperti kita."
"Menjadi Alpha?" tanya Siska.
"Emmm, kurang lebih begitu, bagaimana?"
"Aku mau!" seru Siska, dengan sangat gembira. Aizha pun tersenyum senang dan meminta pelukan. Siska, tanpa berpikir panjang, langsung memeluknya, dengan begitu erat.
...<\=>...
Jam Istirahat kedua, para Murid heboh, melihat sosok Aizha, bersama Via, Afifah dan Alin. Anggota Aples, Cantika serta Bunga, menyusul tak lama kemudian. Akhsan nampak merindukan Innara. Cantika pun memberikan saran, untuk menjenguk Innara, nanti sehabis pulang sekolah, bersama-sama.
"Ohh iya, para Murid di kelas itu, beberapa ke UKS dan ada yang pulang ke rumah. Kira-kira, para Orang tuanya bakalan maju enggak?" tanya Bunga.
"Enggak, mereka udah janji, kalau ini murni kesalahan mereka sendiri," sahut Arkana dan Bunga pun, menganggukkan kepala paham.
Pada lain tempat, Aizha tengah digoda oleh teman-teman sekelasnya. Banyak yang menanyakan, apakah dirinya benar Alpha. Namun, penjelasan Alin, mengenai permasalahan kasus Jeno dan Bianka, banyak membuat mereka percaya. Aizha pun tersenyum malu dan memilih, untuk memainkan handphone. Dia sedikit terkejut, melihat pesan dari Damian.
Damian ;
Elo ingetkan, kalau gue udah kasih dokumen penting tentang Arkana? Tapi, pernjanjian kita gagal.
Aizha ;
Mau mu apa? Lagi pula, aku nggak butuh itu ternyata.
Damian ;
Lo mau lari, dari pertanggung jawaban elo hah?!
Aizha ;
Enggak.
Kamu mau apa?
Damian ;
Gue mau, kita balikan.
Aizha ;
Aku lagi nggak pacaran dulu.
Damian ;
Aizha benar-benar kesal, membaca pesan dari Damian itu. Dia pun, segera mengetik kembali dan mengirim pesan, pada Damian.
Aizha ;
Balikan no! Tapi, kalau kamu butuh teman pendamping. Aku bakalan lakuin, lima kali kesempatan aja! Titik, enggak pakai koma atau tawar-menawar lagi!
Damian pun menyetujui tawaran tersebut. Aizha nampak mendesah dan mengaduk minumannya, sembari menatap meja. Dia tak menyadari, Afifah sedari tadi, telah memperhatikan dirinya.
...<\=>...
Tiba di Rumah Sakit, Arkana, Dirgantara, Akhsan, Farel, Cantika, Bunga dan Aizha, langsung pergi menjenguk Innara. Beruntung, kondisi Innara telah membaik. Mungkin, perlu sedikit waktu, untuk dirinya kembali sadar. Tak tega, melihat kondisi Innara, mereka memilih untuk pergi. Sedangkan Akhsan, masih berada di ruang inap itu.
Arkana, Dirgantara, Farel, Cantika, Bunga dan Aizha, memilih pergi ke kantin Rumah Sakit. Kantin itu, tidaklah terlalu ramai dan cukup sunyi. Mereka juga nampak sibuk, mendiskusikan tentang pembelajaran apa yang akan mereka bagikan, pada penerus visi-misi Alpha.
"Ada empat kategori, teknologi, kesehatan, Leader dan bela diri gimana?" tanya Aizha, tentang pendapat mereka.
"Urusan bela diri, biar aku sama Akhsan. Kalau Leader, Dirgantara sama Farel gimana?" tanya Arkana.
"Kenapa bukan elo sama Aizha?" tanya balik, Cantika.
"Betul itu! Lagi pula, bela diri Cantika kan, yang terbaik di Sekolah kita. Lebih cocok, kalau Cantika yang ambil kategori itu," pendapat Bunga dan disetujui oleh Dirgantara, dengan anggukan kepala.
"Enggak bisa, karena aku ambil teknologi atau IT. Aku juga, harus ciptain beberapa teknologi canggih lain, buat mereka," ucap Aizha, menolak.
"Kalau aku Leader, bela dirinya cuman Cantika?" tanya Arkana.
"Innara?" sahut Cantika.
"Innara, masuknya teknologi juga," sahut Aizha.
"Gini aja, mending elo bagi aja sendiri, Zha. Kalau ada yang keberatan, langsung bilang aja, biar diubah lagi," saran Farel dan disetujui yang lain.
Aizha pun menganggukkan kepala, mengiyakan. Dia langsung membagikan setiap tugas teman-temannya. Aizha dan Innara, masuk ke kategori Ilmu teknologi. Arkana dan Cantika, masuk kategori bela diri. Farel dan Akhsan, masuk ke kategori Leader. Bunga dan Dirgantara, masuk ke kategori kesehatan.
"Kenapa Akhsan? Kalau Farel sih, gue setuju ya. Soalnya, gue sering lihat. OSIS lebih sering ditangani dia, ketimbang Ketuanya," ujar Cantika, membuat Arkana sedikit tersinggung. Farel sendiri, nampak senang dan mulai besar kepala.
"Sebetulnya, ada hologram Alpha di sini," ujar Aizha dan benar saja, Alpha tengah membantunya, dengan menunjukkan diagram data keunggulan serta kekurangan mereka.
"Ohhh, kalau gitu, gue percaya," sahut Cantika dan menyeruput teh hangatnya.
Bunga masih tidak percaya, karena dia masuk bagian kesehatan. "Aizha, apa kamu nggak salah masukin aku ke kesehatan?" resah.
"Kan ada Dirgantara, kamu nggak perlu khawatir. Lagi pula, jiwa-jiwa lembut dan penuh perhatianmu itu, cocok untuk bidang ini," ucap Aizha dan Bunga pun tersenyum lembut dan menganggukkan kepala, paham. "Baiklah, kita lakuin ini, setelah misi ini selesai okay?" tanya Aizha dan disetujui oleh mereka semua.
...<\=>...
Pagi-pagi buta, Aizha diminta Afifah, untuk menemuinya di area dekat rumah dia. Lokasi yang dituju Afifah itu, nampak seperti lahan bangunan, untuk membangun rumah. Tetapi, Aizha merasakan aura aneh pada Afifah.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Aizha pada Afifah.
"Aku udah duga, kalau kamu itu Alpha. Karena kamu, Pedro sekarang harus menderita!" ucap Innara, penuh amarah. Namun, nada tidak tinggi.
Aizha mulai risau dan melangkahkan kakinya mundur. "Pe-Pedro kenapa?"
"Lo harus mati sekarang, sebelum banyak orang menjadi korban, seperti Pedro, Aizha!" ucap Innara kembali, nada yang sama. Dia mengeluarkan sebuah pistol, dari sakunya.
Ketika punggung Aizha, telah menatap tembok. Dia pun mengangkat kedua tangannya ke atas, karena Afifah telah menyodorkan pistol ke kening. Perasaan gelisah dan takut, langsung melanda Aizha. Afifah nampak sedikit bergetar dan meneteskan air mata.
"Kamu harus mati Aizha, maaf!" Afifah pun menekannya dan... "Dorrr!"
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Bersambung......
...Sampai jumpa di bab selanjutnya ✨...
...Terimakasih, untuk kalian yang masih setia membaca. See you😘💕...