Alpha Female

Alpha Female
BAB 34



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Ayah Andre pun, mencekeram kerah anaknya. Namun, ketika tangan itu, hendak melayang ke wajah sang Anak. Lelaki yang baru saja membeli barang dari Andre tadi, langsung menahan tangan itu dari samping.


"Kekerasan tidak akan membuatnya paham, dengan apa yang telah dia perbuat. Apa yang Bapak lakukan ini, hanya akan memperburuknya dan membuat anda semakin hancur!" ucap lelaki itu, dengan ramah, lembut dan santai.


Bapak tersebut, tampak begitu sedih. Setelah mendengar ucapan lelaki tersebut. Dia memukuli tembok berulang-ulang kali, meluapkan semua perasaannya. Lelaki itu pun mendekat dan meminta ijin, untuk mengajak Andre, berbicara sebentar. Ayah menganggukkan kepala. Dia juga meminta pada lelaki tersebut, untuk menyadarkan anaknya, tentang dia yang menyukai sesama jenis.


"Saya akan berusaha, Pak," ucap lelaki itu dan mengajak Andre pergi dari ke rumunan.


"Kenapa lo bawa gue kemari, hah?! Gue nggak butuh bantuan lo!" ucap Andre, dengan sangat kasar.


Lelaki itu tersenyum kecil. Mereka berdua, sekarang berada di pinggiran lapangan. Dia meminta Andre, untuk duduk di bangku depannya. Sedangkan lelaki itu, tengah menyender pada dinding.


"Gue tau, lo orang yang baik. Elo nggak seburuk yang Ayah lo bayangkan. Dia hanya salah paham, karena ulah lo sendiri!" kata lelaki itu, membuat Andre sedikit kesal.


Lelaki itu, mengeluarkan handphone dan menunjukkan layar handphonenya ke Andre. "Apa alasan lo, bikin ini channel?"


"Kalau gue jawab, pertanyaan lo! Apa untungnya bagi gue?!"


Lelaki itu tersenyum kembali. "Elo udah banyak duit, punya rumah dan mobil buat Mamah lo. Tapi... Kenapa lo nggak segera bawa kabur dia?" ungkapnya, membuat Andre terkejut. "Elo benci, sama Bokap lo sendiri. Tapi, malah lo bantu perusahaannya, supaya nggak bangkrut? Bukankah, itu artinya lo anak baik?!"


"Sialan! Siapa lo hah?!" umpat Andre, marah.


"Itu nggak penting lagi, Andre. Gue bakalan kasih lo kesempatan, untuk perbaiki ini semua dan kembali hidup harmonis bareng keluarga," tawar lelaki itu, namun Andre menolak dan hendak pergi. "Kalau lo pergi sekarang. Gue jamin, kehidupan lo bakalan hancur! Dan Mamah lo, mungkin akan lebih menderita, karena dua lelaki yang amat dia sayangi tidak akur! Apalagi..." lelaki itu tersenyum. "Putra semata wayangnya, telah salah mencintai seseorang yang berjenis sama, alias gay!"


Andre benar-benar muak dan kesal. Dia langsung meraih kerah lelaki itu dan menatapnya tajam. "Lo bilang, kalau gue anak baikkan? Gue bakalan kasih tunjuk lo! Siapa gue sebenarnya!"


Lelaki itu tersenyum sedikit lebar, membuat Andre bingung dan kesal. "Elo lupa, untuk mengerti diri lo sendiri! Elo terlalu sibuk, mengikuti nafsu yang tumbuh, karena pengaruh di sekitar lo! Elo lupa sama kebaikan dan kehangatan yang keluarga kasih! Elo terbutakan oleh virus jahat, sehingga hati, mata dan telinga lo pun tertutup!"


"Sok tau, lo!" maki Andre pada lelaki itu.


Lelaki itu tersenyum kecil dan memukul wajah Andre, hingga terjatuh. Dia langsung berada di atas tubuh Andre dan menghajar wajah itu, hingga mengeluarkan banyak darah. Andre sama sekali, tidak dapat mengelak. Dia telah lelah dan kesakitan.


"Maaf, gue cuman mau kasih lo lihat. Bokap dan Mamah lo itu, sebenarnya sayang banget sama elo! Tapi, Bokap lo akhir-akhir ini, emang lagi capek dan sibuk, karena ingin memperbesar kekuatan perusahaannya. Supaya apa? Supaya elo, dapat meneruskan perusahaan itu, tanpa bekerja sangat keras. Kalaupun ada kerugian besar. Elo masih bisa hidup, bergelimang harta," ungkap lelaki itu, membuat Andre tersenyum miris. Dia tak percaya, dengan apa yang didengarnya barusan.


Lelaki itupun berdiri dan menunjukkan sebuah vidio. Terlihat, sang Ayah yang sedang berbicara, dengan Pangacara pribadinya. Dia memberitau, untuk mewariskan semua hartanya pada Andre, tanpa syarat apapun. Dia meminta Andre, untuk menerima perjodohan, dengan anak Guru Kimia pun, karena gadis itu sangatlah baik hati. Dia merasa, gadis itu dapat membahagiakan Andre.


Pengacara sempat bertanya. Jika Andre menolak perjodohan itu dan menikahi gadis lain, apakah dia tetap mendapatkan warisannya? Dan Ayah pun menjawab, seperti yang dikatakannya barusan. Jika Andre dapat menerima semua hartanya, tanpa syarat. Perjodohan itu, hanyalah keinginannya dan sang Istri.


Pengacara itu juga, sempat mengkhawatirkan kesehatan Ayah. Namun, Ayah berkata, jika dirinya tidak apa-apa. Lagi pula, apa yang dia lakukan ini, demi kebaikan sang Anak. Dia ingin, Andre dapat meneruskan perusahaan ini, tanpa merasa terbebani. Dia juga membiayai seorang Siswa, untuk menjadi Asisten Andre. Ketika dia menggantikannya.


Andre tampak terkejut. Dia juga sempat menangis, ketika Ayahnya berkata. Jika, dirinya sangat menyesal dan terpukul, ketika membuat Andre ketakutan. Dia hanya takut, putra kecilnya yang baik hati itu, menghilang dan pergi meninggalkannya. Dia juga ingin, Andre menjadi anak yang tangguh dan tidak takut pada siapapun, kecuali Tuhan. Dia amat sangat menyayangi Andre, sampai tidak merasakan, rasa nyeri yang berdenyutan di tubuhnya.


Andre benar-benar menangis. Lelaki itu tersenyum melihatnya. Dia pun pergi, dengan meninggalkan kertas di sebelah Andre.


...Surat :...


...Masih belum terlambat, untuk memperbaiki ini semua. Lihatlah pada orang-orang yang berada di sisimu. Adakah orang yang lebih menyayangi dirimu, selain Ayah dan Mamahmu? Lelaki yang selama ini kau kencani, hanya akan membuat mereka berdua hancur dan menderita di dunia serta akhirat....


Hentikan semua ini dan segera perbaiki. Aku yakin, perasaanmu masih baik-baik saja. Kamu masih dapat mencintai seorang perempuan. Apa gunanya, Tuhan menciptakan lelaki dan perempuan, jika kalian suka sejenis? Tolong sadarlah dan perbaiki dirimu kembali! Jangan siksa kedua orang tuamu dan membuat contoh tidak baik di sekitarmu!


...<\=>...


Pagi harinya, para Murid sedang sibuk, dengan urusan mereka sendiri. Nampak, beberapa kelas, tengah sibuk memilih Murid, untuk diikut sertakan menjadi peserta lomba. Namun, salah seorang berteriak, untuk memberikan sebuah info. Dia meminta para Murid, untuk segera pergi ke area ruang Kepala Sekolah.


Pada area luar ruang Kepala Sekolah. Andre dan kedua orang tuanya, sedang bersalaman dengan para Bapak-Ibu Guru. Beberapa Murid juga menangis, melihat Andre hendak pergi dari Sekolah ini. Dia diminta, untuk memundurkan diri, karena perbuatannya semalam.


"Ngeriiii, wajah Andre lo apain, Zha? Bisa babak belur gitu?" tanya Innara yang berada di dekat area ruang kepala sekolah.


Aizha yang berada di lain sisi, bersama teman sekelasnya. Tampak tersenyum kecil. "Kelepasan, maap," ucapnya, membuat Cantika, Bunga dan Innara tertawa kecil.


"Gimana, kalau kita rayain ini di Mall?" tanya Bunga, meminta pendapat.


"Boleh juga," sahut Innara.


"Gue sih setuju aja, selagi Aizha atau Innara yang traktir!" ujar Cantika, membuat Innara tersenyum, mendengarnya.


"Gampang!" sahut Aizha, tanpa menyadari sekitarnya.


Teman-teman sekelas Aizha, menoleh ke arahnya. "Apanya yang gampang?" tanya Via.


"Ehhh, itu... An-andre," ucap Aizha, kikuk dan bingung, membuat para temannya penasaran. "Andre pasti, gam-pang cari Sekolah lain. Kalian nggak perlu khawatir!"


"Siapa yang khawatir? Perasaan, gue dari tadi, cuman ngehujat Andre dah," kata Afifah, heran.


"Iya-kah? Ohhh, berarti aku salah denger, kayaknya otakku kebanyakan ilmu, karena UTS kemarin," alasan Aizha, untuk menghindari kecurigaan teman-temannya.


"Hahhahaaa, mangkanya! Kalau belajar tuh, jangan dipaksain! Ada banyak orang stress, karena terlalu pinter. Mending, kayak gue aja, biasa!" komen Alin, dengan percaya diri dan mendapatkan jitakan dari Afifah.


"Ajaran sesat, jangan didengerin! Belajar tuh bagus, tapi yang biasa aja. Jangan terlalu berlebihan, apalagi sampai enggak lakuin sama sekali! Dan modalnya, cuman nirun atau bayar orang, untuk jawab soal yang---" sindir Afifah, sambil menatap tajam Alin.


Namun mulut Afifah, langsung dibungkam oleh Alin. Aizha tampak curiga. Terlihat, Alin langsung tersenyum dan mengajak teman-temannya, untuk segera pergi masuk ke dalam kelas. Mereka harus segera, menyelesaikan rapat yang tertinggal barusan.


Aizha dan teman-teman pun, pergi masuk ke dalam kelas mereka. Saat dalam perjalan menuju kelas. Alin tampak menegur Afifah. Namun, bukan hanya dia seorang. Via juga ikut menegur Afifah. Aizha semakin curiga, jika diantara mereka, adalah Murid yang membeli kunci jawaban tersebut.


Tiba di kelas, para Murid kembali berdebat, untuk menentukan peserta lomba. Sang Ketua Kelas dan Siswa di Kelas, saling berebutan penghapus. Dia juga menutupi papan tulis, untuk tidak menuliskan namanya. Namun, para Siswa langsung menyeretnya, hingga nama anak itu tertulis di papan tulis dan disambut bahagia oleh para Murid. Aizha yang berada di tengah-tengah keributan tersebut, diam-diam mengirimkan pesan ke grup.


Aizha :


Aku ketemu, Murid yang beli kunci soal itu.


Bunga :


Aku pun.


Innara :


Serius?


Cantika :


Gue juga baru tau!


Gue yakin, lo pada nggak bakalan percaya! Karena, gue sendiri juga kaget!


Aizha :


(stiker animasi, dengan tanda tanya)


Bunga :


(emot kaca mata satu)


Innara :


?


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...