
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
"Jawab aja dulu, nanti aku kasih tau," ucap Bunga, membuat Farel sedikit was-was.
"Kamu janji?" tanya Farel, memastikan.
Bunga pun memberikan jari kelikingnya pada Farel. Dia berjanji, akan memberitau Farel, tentang dari mana dia tau soal hal ini. Farel yang telah percaya pada Bunga, mengiyakan. Farel sengaja, tidak memberitau Arkana, Dirgantara dan Akhsan, karena nyawa merekalah yang menjadi ancaman. Siswa yang mengedarkan narkoba tersebut, mengancaman Farel, dengan menghancurkan hidup teman-temannya. Siswa itu memiliki beberapa kelemahan Farel dan ketiga anggota Aples, yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa aku boleh tau? Kelemahan apa itu?" tanya Bunga, membuat Farel tidak nyaman. "Kalau nggak mau kasih tau, juga nggak apa-apa. Aku cuman sekedar, pingin tau aja dan mastiin, kalau itu ancaman yang sangat kuat. Kalik aja, aku bisa bantu sedikit."
"Emmm, kebetulan juga, aku pingin tau, pendapat orang lain, tentang hal ini," ucap Farel, membuat Bunga tersenyum lembut. "Dia tau, kelemahan Arkana ada di cewek yang dijodohin sama dia. Kalau Dirgantara sendiri, kekurangannya ada di masa lalu Bokap dia, yang ternyata selingkuh dan punya anak," ungkap Farel, membuat Bunga terkejut.
"Akhsan juga nggak beda jauh sama Dirgantara, cuman beda posisi. Istri pertama atau ibu dari Kakaknya Akhsan, ternyata bunuh diri, karena tau perselingkuhan Suaminya. Akhsan sama keluarga nggak tau, cuman Ibunya dia doang yang ngerti," lanjut Farel dan memalingkan wajah, ke arah kaca mobil.
Bunga meraih tangan Farel. "Apa dia tau sesuatu yang fatal juga, tentang kamu Rel? Aku bakalan rahasiain ini. Kamu nggak perlu risau."
Farel melihat ke arah Bunga. "Aku takut, kamu jadi nggak nyaman lagi."
"Kenapa?" tanya Bunga, penasaran.
"Aku akan kasih tau, asalkan kamu mau jadi pacarku!" pinta Farel, membuat Bunga terkejut. "Kamu juga, harus janji sama aku! Untuk enggak putusin aku, tanpa ijinku!"
"Apa?!" Bunga tampak sangat terkejut. Dia ingin melepaskan tangannya dari Farel. Tetapi, Farel terlalu menggegam tangannya, dengan sangat erat.
"Aku butuh kamu, Bunga," pinta Farel, dengan mata penuh harapan dan sedih. "I like you, so much!"
Hati Bunga, sebenarnya sangat gembira. Dia juga, sangat menyukai Farel. Tanpa disadari, Bunga telah menganggukkan kepala dan berkata, jika dirinya juga sangat menyukai Farel.
Farel pun memberitau, "Aku udah ngebunuh Kakakku sendiri, karena dia punya Pacar!" ucapannya yang mendadak, membuat Bunga tersentak kaget.
Bunga merasa, telah menginjak zona yang tak seharusnya dilewati. Farel pun meraih wajah cantik Bunga dan mengatakan banyak pujian. Bunga memiliki kecantikan, yang tidak beda jauh, dengan sang Almarhum Kakaknya. Farel juga berkata, jika dirinya telah membaik dan Bunga tidak perlu risau.
"Gimana caranya...?" batin Bunga, mengeluh. Farel seketika mendekat dan mencium kening Bunga.
"Thank you," ucap Farel, membuat Bunga tersenyum getir.
...<\=>...
"Kalau Pedro udah nggak ada. Vlora juga menghilang. Nih misi, kita coret aja!" saran Innara, sambil menunjukkan berkas ke Cantika.
Cantika tampak sedikit kesal. Mereka berdua kini, sedang berada di ruang belajar Innara. Ruangan itu sangatlah besar, terdapat juga sebuah papan tulis di sana. Cantika melihat ke arah papan tulis yang terlihat berantakan, penuh dengan foto, potongan berkas dan coretan.
"Tapi, tuh kasus ada kaitannya sama masalah sistem VIP," ujar Cantika, tidak rela.
"Dua kasus itu, lompatin dulu aja. Kita urus, masalah bullying di Sekolah!" ucap Innara, memberikan pendapat.
Cantika merasa pusing dan kesal sendiri. Tapi, dia teringat akan sesuatu. Dia kembali berdiri dan melihat papan tulis tersebut.
"Nooo, kita nggak perlu lompatin dua kasus itu. Pembullyan di Sekolah kita juga, bakalan hilang seketika, kalau dua kasus ini terselesaikan!" seru Cantika, membuat Innara terkejut.
Innara pun mengernyitkan kening, bingung. "Caranya?"
"Tujuannya apa? Kalau pelakunya aja lenyap, itu kegiatan juga hilang. Masalah itu selesai, tanpa kita turun tangan. Jadi, lepas aja lah...!" kata Innara dan kembali membaca berkas-berkas tersebut.
Cantika pun menggebrak meja, hingga membuat Innara terkejut. "Mereka pasti kebingungan dan resah, karena kartu AS menghilang. Ada kemungkinan besar, luapan emosi dan kesal, akan meledak besoknya. Tapi, kalau nggak ada hal buruk yang terjadi, itu artinya..." Cantika mengetuk-ketukan spidol, ke foto seorang Guru PKWU, Bu Hani. "Si Pelaku tidak sepenuhnya menghilang."
"Bu Hani?" Innara tampak bingung dan tak percaya. "Bu Hani berkaitan sama dua kasus itu atau---"
"Yups, lo benar sekali!" ucap Cantika, lagi-lagi membuat Innara tersentak kaget. "Murid VIP, akan terjamin masuk di Universitas favorit mereka, dengan jalur rapot. Murid yang jadi pelanggan Pedro, ingin seperti Murid VIP, tapi mereka nggak mampu. Dua jalur yang tujuannya hampir sama. Bu Hani, selaku Guru yang memegang akses, nilai anak-anak di Sekolah kita, bergabung dalam mewujudkan mimpi para Murid VIP. Tetapi, tujuan dia sepertinya gagal atau bayaran yang diterima, tidak memuaskan. Jadi, dia pun bekerja sama, dengan Pedro, untuk menjual lembaran soal ke Murid yang gagal mendapatkan tiket VIP!"
"Bagus sih, diskripsi lo. Tapi... Lo dapat dari mana kesimpulan itu?" tanya Innara, memastikan jika Cantika tidak asal bicara.
Cantika pun membalikkan papan tulis itu. Terlihat sebuah papan tulis yang masih bersih dan putih. Dia menempelkan beberapa printnan nama Murid yang gagal mendapatkan tiket VIP, foto Bu Hani, chat dan beberapa file yang lain.
"Coba lo baca chat-chat yang di screnshot Pak Kepala Sekolah!" pinta Cantika pada Innara, untuk membaca kertas printnan di sebelahnya.
Innara pun mengambil kertas yang ditunjuk Cantika dan membacanya. Terlihat pada chat itu, Pak Kepala Sekolah dan Bu Hani, mengambil kesepakatan, untuk merahasiakan soal Murid VIP dan membagi rata penghasilan yang di dapat.
"Oke terus?" tanya Innara, setelah selesai membaca.
"Bayaran para Murid VIP, memang dibagi secara merata. Tetapi, Pak Kepala Sekolah, mendapatkan banyak keuntungan dan relasi yang besar, dari kegiatan ini. Sayangnya, dia enggak bagi keuntungan ini ke Bu Hani. Kamu bisa lihat di email Pak Kepala Sekolah dan dua guru yang meninggal!"
Innara langsung mencari print email itu dan membacanya. Dua Guru yang telah meninggal, tampak begitu senang, menerima hadiah dari Pak Kepala Sekolah. Dua Guru itu juga, melakukan banyak hal, untuk kegiatan VIP ini. Mereka ikut turun tangan, mengurusi para Murid VIP.
"Enggak ada dua puluh persen, Pak Kepala Sekolah keluarkan, untuk mereka berdua. Mungkin, Bu Hani tau hal ini dan bekerja sama, dengan Pedro, yang merupakan mantan Murid VIP," ujar Cantika, terdengar sangat masuk akal.
"Apa yang lo bilang, ada benarnya juga. Apalagi, Bu Hani termasuk Guru yang paling cerdas. Banyak Guru dan Murid yang curiga, karena dia megang mapel PKWU. Padahal, Bahasa Inggris, Jerman, Matematika dan ilmu Ekonominya bagus banget," seru Innara, menimpali ucapan Cantika.
"Lebih mengejutkan lagi, kalau ternyata, Bu Hani yang bikin soal-soal, dari keempat mapel itu!" ucap Cantika, membuat Innara tersadar.
"Pantesan aja, banyak banget materi yang diterangin Guru, dari mapel-mapel itu, nggak keluar!" kata Innara dan memukul meja. "Tapi..." Innara melihat ke arah Cantika dan bertanya, "Gimana, kalau tiba-tiba Bu Hani meninggal?"
Cantika seketika terdiam. Pada lain tempat, Aizha yang baru sadar, tampak sedikit murung. Ayah Hasan, terlihat begitu hancur dan sedih. Beberapa menit yang lalu, seseorang mengirimkan sebuah dokumen ke Hasan. Terlihat pada dokumen itu, jika Hasan sudah lama, dicoret oleh Oma, dari kartu keluarga. Dia juga, tidak mendapatkan sepersenpun warisan. Adapun surat ancaman perjodohan, untuk Aizha dan Diego.
Dokumen itu, dikirim oleh Aizha, melalui seorang penjaga di rumahnya. Setelah kabur, mencuri dokumen tersebut dari rumah Oma. Aizha juga, meminta salah seorang Bibik di rumahnya, untuk mengirimkan hasil rekaman, obrolan Oma dan kedua orang tua Layli. Ada juga bukti, jika sang Kakak, sudah beberapa kali, menghancurkan usahanya.
"Ayah jangan sedih... Ayah kan udah terbiasa sama hal ini. Kita juga ada di sini, untuk Ayah," ucap Aizha, membuat Hasan berhenti bersedih.
"Kenapa, kamu juga lakuin ini, Aizha! Ayah bener-bener kecewa sama kamu! Apa kamu nggak tau, segila apa Damian itu?!" omel Ayah Hasan.
Aizha pun menundukkan kepala dan meminta maaf. Dia berjanji, untuk menjadi anak baik. Dia juga siap, untuk diomeli atau menerima hukuman yang diberikan.
Ayah Hasan pun, pergi memeluk sang Putri satu-satunya dan berkata, "Ayah nggak pantes, untuk menghukummu. Ayah tau, kamu lakuin hal ini, karena ancaman Oma. Ayah yang bersalah, karena telah meninggalkanmu sendirian di sini! Ayah minta maaf, sayang."
Aizha pun memeluk erat Ayah Hasan dan tersenyum lembut. "Aku akan selalu memaafkan Ayah. Tapi, sepertinya Ayah harus segera pergi, menemui mereka."
Ayah sempat terdiam dan tersadar. Dia pun melepaskan pelukan itu dan berpamitan pada Istri serta anak. Vivi tampak begitu risau dan melarangnya. Tetapi, Aizha menahan Vivi, untuk tidak menghalangi Ayah yang pergi, menemui keluarganya.
"Kakak makin keren juga," ucap Diego, ketika melihat senyum kecil Aizha. "Kayaknya, aku perlu cek kondisi rumah, mumpung Kakak di Rumah Sakit," batinnya, tersenyum lebar.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Oke deh, sampai sini dulu ya. Ayo dukung novel ini, dengan like, komen dan berikan juga rating kalian tentang novel ini. Berikan juga hadiah dan vote kalian, khihihiii.
See you💕