
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Aizha, Alin, Afifah dan Via, sedang berada di mobil. Meraka kini, dalam perjalanan menuju rumah Afifah. Tampak si Alin lah, yang mengemudikan mobil. Mereka tampak begitu asik menari, sembari duduk dan menyanyikan sedikit lagu "merindukanmu" dengan iringan musik, dari mobil.
Via yang berada di bangku belakang bersama Afifah, tampak begitu senang. Dia merekam, penampilan mereka barusan, dengan senyum ceria dan suara paling keras. Dia pun, langsung mempostingnya di medsos, tanpa ijin teman-temannya.
"Via, lo udah posting ya? Lo belum ijin Aizha, loh!" tegur Alin dan mendapatkan, tepukan bahu yang cukup keras dari Afifah. "Argghh!"
"Lo? Aku enggak salah dengerkan?" tegur Afifah balik, membuat Alin tersenyum kikuk dan meminta maaf, dalam bahasa Inggris.
Via tampak tertawa kecil, melihat ekspresi Alin. Dia langsung, mencondongkan badan ke depan, mendekat ke arah Aizha. "Bolehkan, aku post ini ke medsos? Nanti aku tag deh!"
"Boleh kok, kenapa enggak?" sahut Aizha, membuat Via berseru senang.
Via pun mengirim vidio itu, ke beberapa aplikasi medsosnya. Aizha dan Afifah, tampak langsung mengecek hasil postingan Via. Aizha terkejut, melihat folowers Alin yang sangat melimpah. Dia jadi teringat, akan kejadian di Kantin, beberapa bulan yang lalu. Dia benar-benar tak menyangka, dapat berteman dengan seorang Murid yang sangat diimpikannya, sejak dulu.
Aizha dari SMP, selalu di Bully dan jarang sekali mendapatkan teman. Dia selalu melihat, sekumpulan anak yang penuh keceriaan dan sangat menghibur banyak orang di sekitarnya. Dulu waktu SMP, dia menemukan sircel Kakak Kelas perempuan yang begitu menyenangkan. Mereka benar-benar netral, tak memihak yang lemah, maupun kuat. Jika menolong, tak perlu banyak orang tau. Kenakalan yang dilakukan pun, tak selalunya merugikan Sekolah. Pengikut yang ribuan hingga jutaan, tak membuat mereka besar kepala atau sok berkuasa, seperti sircel yang lainnya.
Aizha tersenyum begitu lebar, saking bahagianya. Alin yang melihat hal itu, langsung mencubit pipi Aizha. "Hayooo, lagi lihatin apa? Kok senyumnya lebar banget?" goda Alin, membuat Aizha malu.
"Bu-bukan apa-apa kok," sahut Aizha, malu dan kikuk.
Afifah dan Via, memiringkan kepala. Mereka menengok, ke arah Aizha, secara bersamaan. "Wahhh, nonton yang nggak bener nih, pasti!" celetuk Via, mendapatkan jitakan dari Afifah.
"Kebiasan!" tegur Afifah, dengan tatapan dinginnya. Via tampak meringis, melihat ekspresi wajah Afifah yang galak. "Jangan terlalu dipikirin, Zha! Gini-gini, dia cuman bisa goda. Aslinya mah, dia nggak pernah nonton begituan."
"Benarkah? Aku pikir, Via udah nggak polos lagi, ternyata..?" goda Aizha balik, membuat wajah Via memerah.
"Aku masih polos lah! Aku cuman mancing doang! Kalik aja kan, kalian tau hal itu!" ujar Via, menahan malu.
"Aku sih tau, dari pelajaran yang pernah kita dapat. Itu pun, dari logika ku sendiri," sahut Alin, sambil fokus mengemudi.
"Jangan penasaran, entar keblabasan! Kalau udah ketagihan, malah endingnya bisa nyesel tahunan," ucap Afifah, memberi saran.
"Bukan hanya, menghancurkan diri sendiri, tapi juga keluarga!" tambah Aizha, membuat mata Via berkaca-kaca.
Via tampak mulai menangis. "Aku kan, cuman bercanda doang. Kenapa kalian, malah nasehatin aku, kayak begini?"
Afifah pun merangkul Via dan membelai rambutnya. "Kami cuman mengingat, sebagai teman. Kita enggak akan tau, ketika kamu bercanda seperti ini. Ada cowok yang mengambil kesempatan itu dan menghancurkan masa mudamu, hanya untuk kepuasan semata. Sedangkan kamu, berakhir dengan keterpurukan, dalam penyesalan dan kesedihan yang berlarut."
Aizha kagum, dengan kata-kata Afifah. Suaranya juga, terdengar begitu nyaman dan menyetuh hati. Terdengar ketulusan yang menyalur, pada setiap kata-katanya.
...<\=>...
"Farel!" panggil Bunga, sebelum mereka berdua masuk, ke dalam mobil.
Bunga dan Farel kini, tengah berada di parkiran Mini Market. Mereka berdua juga, telah berganti pakaian santai. Nampak beberapa kantong plastik yang dimasukan oleh Farel, ke bangku belakang.
"Ada apa?" tanya Farel, setelah menutup pintu mobil.
"Kamu inget kan, kalau kita udah jadian?" tanya Bunga dan diangguki oleh Farel. "Emmm, kalau gitu... Kamu mau enggak, main ke rumah, selepas misi ini selesai?" takut ditolak.
Farel tak langsung menjawab dan berkata, "Mending kita break dulu."
"Kenapa?" tanya Bunga langsung, tanpa jeda.
"Aizha udah habisi teman-teman Arkana dan Akhsan. Dia juga makan darahku, seperti orang aneh. Aku nggak bisa, tutup mata dan bahagia, di atas kejadian itu," jelas Farel, tanpa menatap Bunga.
Bunga pun meremas spion mobil, dengan meneteskan air mata. "Kalau gitu, kenapa kalian masih mau kerja sama, dengan kami?"
"Urusan pribadi, enggak ada hubungannya, dengan ini!" ujar Farel.
"Enggak papa, jika itu demi Sekolahan kita," sahut Farel, membuat Bunga tersentak.
Farel pun masuk ke dalam mobil. Setelah itu, dia juga menyuruh Bunga, untuk segera masuk ke dalam mobil. Tetapi, Bunga malah menolak dan memilih pergi, menaiki mobil online yang sedari tadi, telah dia pesan. Dia sudah menduga, akan ada kecanggungan yang membuatnya harus pergi, menggunakan mobil lain.
"Hufff!" Farel mengehela napas berat, hingga menaruh jidat ke setir.
...<\=>...
Alin, Via, Afifah dan Aizha, tengah berada di rooftop. Beruntung sekali, rooftop milik Afifah, terdapat penutup di atasnya, untuk menghalangi cahaya matahari. Ada juga banyak pot-pot pohon yang cukup besar, untuk mengurangi rasa panas. Namun, mereka tidak sedang mengerjakan tugas bersama. Tetapi, malah nonton drama di rumah sebelah Afifah.
Pada halaman rumah sebelah Afifah, nampak keributan kecil muncul. Beberapa koper, di keluarkan dari rumah besar itu. Nampak seorang anak wanita, jatuh bersujud. Dia menangis, di sebelah anak lelaki. Jika dilihat-lihat, umur mereka tak jauh berbeda, dengan Aizha, Alin, Via, maupun Afifah. Empat orang tua marah besar, pada kedua anak itu. Salah seorang Ibu, sampai jatuh pingsan, hingga digotong sang Suami dan anak lelaki tersebut.
"Baru... Aja, kita obrolin di mobil barusan. Ehhh, udah ada kejadiannya aja," celetuk Alin, kembali duduk di tempat yang iyup.
Afifah, Aizha dan Via pun menyusul. "Fah, kalian saling kenal?" tanya Via dan diangguki oleh Afifah.
"Mereka baru pacaran, tiga bulan yang lalu. Baru bulan kemarin, Mamahku ngerasa, kalau ada yang berubah, dari bentuk tubuhnya. Sekarang, kecurigaan Mamahku terjawab deh," ucap Afifah dan diangguki oleh Alin dan Via.
"Para Ibu-Ibu ngeri juga ya. Mereka bisa tau, mana yang perawan dan enggak, cuman lihat dari postur tubuh doang," komen Via.
"Kalau sekali lihat, ya Mamahku nggak bisa simpulin. Cewek itu masih perawan atau enggak. Mamahku tau, kalau cewek itu perawan atau enggaknya, karena sehari-harinya lihat," jelas Afifah disetujui oleh Alin. Aizha hanya menyimak dalam diam.
"Paling aneh, kalau Ibu mereka sendiri enggak sadar. Padahalkan, ada naluri atau ikatan batin yang terikat," julid Via, membuat Afifah geleng-geleng kepala.
"Mungkin, Ibunya juga ngerasa aneh atau janggal di benaknya. Tapi mereka milih, untuk menyangkalnya," sahut Alin.
"Atau bisa saja, mereka hanya diam memperhatikan dan menunggu," timpal Aizha yang sedari tadi diam.
"Astaga, aku baru sadar, kalau ada Aizha di sini!" celetuk Via, sambil tepuk jidat.
Afifah dan Alin, hanya tertawa kecil. Aizha yang berada di sebelah Via, tampak tersenyum kikuk. Via pun, langsung menegur Aizha, untuk tidak sering-sering diam. Dia menyuruhnya, untuk banyak bicara. Jika tidak, Aizha bisa-bisa akan tertinggal.
Aizha, Alin, Afifah dan Via pun, lanjut mengerjakan tugas. Tampak si Alin yang sedang sibuk, dengan laptopnya. Dia tampak fokus mendesain power poin, untuk projek mereka nanti. Namun, panggilan alam mulai menggagunya. Dia langsung menyeret Via, untuk menemaninya ke kamar mandi. Kini di rooftop, hanya ada Afifah dan Aizha.
"Akhir-akhir ini, kamu kelihatan aneh. Kayaknya, kamu mau tau sesuatu? Apa aku boleh tau?" tanya Afifah, ketika dia dan Aizha, berdua di rooftop.
Aizha tampak terkejut dan terdiam. Dia menatap wajah Afifah, dengan ekspresi yang sedikit resah. Sedangkan Afifah sendiri, tampak bertanya-tanya dan berusaha. untuk tersenyum. Supaya Aizha terbuka dan merasa nyaman.
Aizha tampak menenangkan dirinya sejenak. Supaya, tidak terlihat, jika dirinya gugup. "Apa kamu yakin? Kita nggak akan canggung, kalau aku kasih tau?"
"Kalau singgung pekerjaan Ayahku. Jangan berharap, aku bakalan bersikap biasa aja ke kamu!" ujar Afifah, membuat Aizha tertegun.
"Pekerjaan Ayahmu?"
"Aku bakalan kasih tau kamu, kalau Ayahku seorang Mafia. Jadi, jangan singgung hal itu! Soal minuman dan camilan ini, kamu nggak perlu khawatir. Buat beli bahan-bahan minuman dan camilan ini, hasil dari Restoran Mamahku sendiri," ungkap Afifah, membuat Aizha tersentak.
Aizha pun, menjadi diam. "Kamu enggak jadi tanya? Aku udah jujur loh," ucap Afifah, tampak dingin dan curiga.
Aizha mengehela napas pelan. Dia akan tetap bertanya. Jika seandainya, Afifah bungkam. Dia akan memutar kembali waktu. "Apa kamu tau, siapa orang yang menjalankan jual beli soal ujian Sekolah kita, selain Pedro?"
"Tau," sahut Afifah langsung, tanpa jeda.
"Siapa?"
"Aku!" ucap Afifah, membuat Aizha terkejut bukan main. Mereka berdua saling bertatapan, tanpa adanya kata-kata. Tatapan datar dan terkejut, ditunjukkan mereka berdua, tanpa ada seorang pun yang bicara.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Oke, sampai jumpa, di hari berikutnya, ya guys💕...
...Jangan lupa, untuk jaga kesehatan kalian, oke?! Hiduplah, dengan penuh semangat dan jangan pantang menyerah! Semua memiliki ujian masing-masing, kita pasti bisa melaluinya! Semangat semuanya✨...