
...Welcome to Alpha Femaleππ...
...Happy Reading β¨...
...ΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓ...
"Lo harus ngerekam suara, permintaan maaf dan mengungkapkan kesalahan yang telah diperbuat, kepada penghuni Sekolah!" ucap Farel, membuat Firman marah.
"What?! Enggak ada bedanya dong, sama Alpha!" ujar Firman, kesal.
"Beda sedikit," sahut Arkana, dengan tenang dan santai. "Kalau Alpha, bakalan hancurin usaha keluarga lo dan mempermalukan elo, lebih parah, dari yang gue tawarin."
"Dia mungkin, bakalan lakuin hal yang lebih fatal, daripada kasus mantan Kakak Kelas Lo, Jeno dan Bianka. Elo ikut ke sana kan, dulu?" Farel tampak nyengir, dengan salah satu alis naik.
Firman yang mendengarnya, langsung mengingat kejadian hari itu. Dia adalah orang paling depan, yang melihat kejadian Jeno dan Bianka, di Perpustakaan. Mengingat kejadian itu, tubuhnya seketika gemetar ketakutan. Bayang-bayang, dirinya yang dijebak oleh Alpha dan dilihat banyak Murid, membuat keringatnya meluncur bebas.
"Oke! Gue bakalan lakuin hal itu! Tapi..." ucap Firman, menggantung. Dia menatap mata Arkana, dengan sangat intens. "Elo harus janji dan pastiin! Kalau gue sama yang lainnya, keluar dari Sekolah, tanpa anak-anak ketahui!"
"Mana bisa?! Mereka pasti, bakalan tau!" sewot Farel, tidak terima.
"Tapi, kita bisa pastiin! Lo sama yang lainnya keluar, tanpa anak-anak lihat secara langsung!" ucap Arkana dan disetujui oleh Firman.
Pada lain tempat, seseorang nampak sedang mencari Bunga, di lorong Kelas dua belas. Dia sedikit ketakutan, melihat para Kakak Kelasnya. Bunga yang baru saja keluar dari Kelas, langsung dipeluk oleh siswi itu.
"Ehhh, kamu siapa?" tanya Bunga, merasa asing.
Siswi itu melepaskan pelukannya dan menatap Bunga, dengan ekspresi sendu. "Kakak, aku Cici, dari kelas sepuluh. Aku juga, temannya Desty."
Bunga pun ber-ohh dan teringat, akan sesuatu. "Ehhh, kamu Cici?" tanyanya dan diangguki oleh Cici. "Itu artinya, kamu korban..."
"Iya," sahut Cici dan menangis. Bunga pun memeluknya, dengan penuh kehangatan. Innara yang melihat hal itu, bertanya apa yang telah terjadi. Setelah mendengarnya, Innara mengajak mereka, untuk pergi mengikuti dia.
<\=>
Aizha yang masih berada di dalam kelas, merasa aneh pada tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya, terasa sedikit panas. Mata Aizha juga, berkaca-kaca.
"Aizha, are you okay?" tanya Alin, risau.
Aizha tampak menggelengkan kepala, sedang tidak baik-baik saja. Alin pun berdiri dari duduknya dan membopong Aizha, untuk pergi ke UKS, bersama. Afifah dan Via, ingin ikut menemani. Namun, sang Ibu Guru melarangnya.
Ketika Alin dan Aizha, dalam perjalanan menuju UKS. Aizha tiba-tiba mendesah, hingga mulutnya dibungkam oleh Alin. Cantika yang sedang melihat ke arah luar jendela, tampak terkejut. Dia langsung pergi dari kelas, menghampiri Aizha dan Alin.
"Aizha! Lo kenapa?!" tanya Cantika, khawatir.
Aizha melihat ke arah Cantika dan memberitahunya. Cantika yang mengetahuinya, ingin mengambil alih Aizha. Namun, Alin tak ingin melepaskannya. Cantika pun, meyakinkan Alin, untuk menyerahkan Aizha padanya.
"Oke," sahut Alin, tiba-tiba.
Aizha merasa sedikit tidak enak. Tetapi, Alin memasang senyum yang sangat lembut. Dia juga berkata, akan menyusul Aizha di UKS, sambil membawakan minuman hangat dan bubur.
Tiba di UKS, Cantika membantu Aizha, untuk membaringkan tubuhnya. Rambut Aizha yang terkucir pun, akhirnya digerai. Tak berselang lama, sistem Alpha muncul.
[Ini hanya akan terasa beberapa kali saja. Setelahnya, kamu tidak akan merasakan hal ini lagi]
"Apa mungkin, ini semua karena aku yang memutar waktu hari itu?" tanya Aizha.
[Iya]
"Apha!" bentak Cantika, secara tiba-tiba. Dia tampak begitu marah. "Kenapa kau jarang sekali muncul dan tidak terlihat kuat?!"
[Bukankah, aku sudah pernah jawab, alasan kenapa jarang muncul?]
"Tapi, elo banyak kekurangannya!" seru Cantika, kesal.
[Semua punya proses]
[Jangan anggap apapun itu, dengan pandangan yang rendah, karena kamu tidak tau apa-apa!]
[Aku mengontrol diriku, karena suatu alasan. Aku tidak bisa membantu banyak Aizha, untuk saat ini.]
[Kau akan tau nanti]
[Selesaikan saja misi kalian dan tunggu hari H nya]
"Apa maksudnya?!" Cantika tampak kesal, marah dan emosi. Sedangkan Aizha, hanya tersenyum kecil dan berusaha menenangkan Cantika.
Ketika Cantika, tengah pergi meninggalkan Aizha, untuk memanggil Innara dan Bunga. Aizha yang sendirian di UKS. Nampak, mulai meneteskan air mata.
<\=>
Jam istirahat tiba, banyak Murid yang langsung berhamburan keluar, untuk membeli makan siang. Namun, Firman dan ketiga cowok, tengah berkumpul di halaman belakang Sekolah. Mereka nampak sedang berdebat, hingga salah seorang pemuda, menendang kursi.
"Kalau lo pada, enggak percaya sama ucapan gue. Silahkan tunggu Alpha, untuk menjebak kalian bertiga! Jangan berharap, ampunan kalian dimaafkan!" ucap Firman dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Gas! Elo yakin, enggak mau terima tawaran Si Ketos?" tanya Bisma pada Bagas, yang sedang mengepalkan tangan di batang pohon.
"Yang dibilang Firman, ada benarnya. Perusahaan Bang Alex aja, sampai bangkrut!" ujar Wahyu.
Bagas pun membalikkan badan, melihat ke arah Bisma dan Wahyu. "Apa cuman itu? Kalau kita ketahuan dan ngaku. Endingnya juga, bakalan sama! Ekonomi keluarga kita, tetap akan bermasalah!"
"Tapi... Firman sempat bilang. Kalau kita mau kerja sama dan ikuti kata mereka. Aples bakalan terima kita, setelah keluar dari penjara nanti! Mereka juga, akan jaga keluarga kita!" kata Wahyu dan diangguki oleh Bisma.
Bagas pun, tersenyum remeh dan mengatai kedua temannya, polos. "Kalian yakin, mereka bakalan pegang omongannya sendiri? Ngejaga satu keluarga, bukanlah hal yang mudah."
"Iya juga, tapi..." Bisma sedikit ragu.
Wahyu sendiri, lebih memilih untuk bekerja sama, dengan Aples. Jika Alpha yang turun tangan, dia tidak bisa membayangkannya. Berada di penjara dan mengakui hal itu, adalah sebuah keharusan. Semua yang diperbuat, harus dipertanggung jawabkan.
Bagas yang sedikit kesal, menyuruh si Wahyu, untuk segera pergi. Dia juga menyuruh Bisma, untuk mengikuti Wahyu, jika menginginkannya. Bisma pun terpaksa, untuk menetap bersama Bagas, karena belum sanggup, terus terang pada keluarganya.
"Bagus, kebetulan gue ada ide bagus," ucap Bagas, membuat Bisma penasaran.
Bagas pun mendekat dan membisikkannya pada Bisma. Senyum lebar, merekah di wajah Bisma. Setelah itu, mereka berdua saling bertos dan tersenyum.
<\=>
Aizha yang sedang tertidur di UKS, akhirnya dibangunkan oleh Innara. Ketika Aizha, ingin merubah posisinya, menjadi duduk. Innara dengan sigap, langsung membantunya. Bunga dan Cantika juga berada di dalam sana.
"Aizha, kita harus ke gedung pertemuan sekarang!" ucap Cantika.
Aizha yang masih sedikit pusing, tampak melihat ke arah Innara, Cantika dan Bunga, dengan ekspresi khas orang bangun tidur. "Apa kalian semua, udah panggil mereka? Gimana, soal Firman, Bisma, Bagas dan Wahyu? Siswi yang jadi korban, apa kalian juga, udah dapati semua?" tanyanya dan diangguki oleh Ketiga temannya.
"Sebenarnya, selama kamu tidur tadi, ada pertemuan mendadak, untuk memperkenalkan Kepala Sekolah dan Guru-Guru yang baru. Pada saat itu juga, Arkana minta kami buat kumpul di ruang Aples dan bahas masalah ini," jelas Innara dan Aizha pun, menganggukkan kepala paham.
"Berkat Cici juga, kami bisa bertemu banyak siswi yang jadi korban. Tapi, Bisma sama Bagas, menolak tawaran Arkana dan Farel. Mereka memilih, untuk menunggu Alpha, mengungkapnya," ucap Bunga, membuat Aizha menghela napas berat.
Aizha pun meminta kedua tangan Cantika dan Bunga. Dia ingin menyalurkan energi dan kekuatannya pada mereka berdua. Cantika dan Bunga, tampak terkejut, merasakan sesuatu mengalir pada tubuhnya. Sedangkan Innara sendiri, tampak sedang menebak-nebak dalam pikirannya, tentang apa yang sedang dilakukan oleh Aizha.
"Alpha pernah bilang, kalau aku percaya sama kalian, semuanya akan berjalan sesuai harapanku. Namun, hal ini sangat menguras energi, tanpa aku sadari. Tetapi, aku sekarang sudah bisa mentransfer kekuatanku, untuk kalian. Seandainya, ada perasaan ragu yang melandaku. Kalian bisa menyelesaikannya, dengan kemampuan kalian sendiri!" ucap Aizha, sembari menggenggam tangan Cantika dan Bunga.
"Itu artinya, energi mereka bisa terkuras dan mimisan kayak kamu?" komen Innara dan Aizha, langsung menggelengkan kepala.
Aizha pun melepaskan kedua tangan Cantika dan Bunga. Dia memberitau mereka bertiga, jika energi yang terkuras, hanyalah dua puluh persen saja. Sedangkan sisanya, akan ditanggung oleh sistem dan Aizha sendiri. Mendengar hal ini, Cantika dan Bunga berjanji, akan menggunakan kekuatan yang diberikan, sebijak mungkin.
"Tapi Zha, kekuatan apa yang kami terima?" tanya Bunga.
"Alpha akan melihat kondisi di sana dan memberitaukan, ke kalian nanti," sahut Aizha dan diangguki oleh Bunga.
Aizha, Cantika, Bunga dan Innara pun, membicarakan rencana mereka. Selesai berdiskusi, Cantika dan Bunga, segara pergi meninggalkan Sekolah. Tiba waktunya Sekolah sepi, Aizha dan Innara, langsung melakukan aksi mereka. Beberapa Penjaga, sampai dibuat pingsan oleh mereka berdua.
...ΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓ...
...Bersambung...β¨...
...Sampai jumpa, di bab selanjutnya, guys!ππ...
...Maaf, jika ada salah kata, kekurangan dan ketidak nyamanan kalian, pada saat membaca.πβ¨...