Alpha Female

Alpha Female
Bab 78



...Welcome to Alpha Female😘💕...


...Happy Reading ✨...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Note :


Perempuan yang seangkatan atau tamu Cantika itu, bernama Gladis. Adik kelas yang menjadi tamu Akhsan, bernama Raka kelas sepuluh. Sedangkan tamu Arkana, bernama Zeidan, kelas sebelas.


Gladis, Zeidan dan Raka, kini tengah berdiskusi, dengan Aizha, Arkana, Akhsan, Dirgantara, Cantika, Bunga serta Farel. Sore harinya, setelah berdiskusi. Gladis, Zeidan dan Raka, mulai menjalankan misi. Mereka datang ke lokasi, untuk bercengkrama dengan para anak-anak pecinta alam.


Aizha, Arkana, Akhsan, Dirgantara, Cantika, Bunga serta Farel, memantau dari jauh. Mereka dapat melihat, para anak pecinta alam dan orang yang mereka suruh, tengah asik bernyanyi serta memasak. Tanpa banyak yang disadari, dada Aizha kembali terasa sakit dan berdenyutan.


"Aizha, kamu kenapa?" tanya Arkana, resah.


Aizha menggelengkan kepala, sebagai jawaban, tidak apa-apa. Dia memberitau, jika dirinya bisa seperti ini, karena memutar ulang waktu, untuk menyelamatkan Afifah dulu. Arkana menganggukkan kepala paham dan berpesan, jika terjadi apa-apa, untuk langsung mengabarinya.


"Gara-gara nih perkumpulan, ada banyak korban yang harus menderita!" kata Cantika, kesal.


"Iya, aku nggak nyangka, kalau Bagas, Wahyu, Firman dan Bisma, bisa kayak gitu, karena mereka semua. Andaikan aja, Firman sama Wahyu, mau lebih jujur lagi sama kita. Udah pasti, si Keysa, Laras dan Ayu, enggak bakalan ada di sini," ujar Bunga yang sama kesalnya.


Flessback tadi siang, Gladis dan Zeidan cerita, soal Firman, Bagas, Bisma serta Wahyu. Mereka bisa seperti itu, karena obat yang diberikan oleh Danil. Raka juga bilang, jika Laras, Ayu dan Keysa mendatangi keempat pemuda itu. Mereka hanya ingin melepaskan penat sejenak, karena tidak ada yang mau diajak bermain. Bagas adalah orang yang paling sulit dirayu. Tetapi, karena minuman yang Keysa dan Laras berikan, Bagas menjadi orang berbeda. Namun, Aizha tak sepenuhnya menyesal. Dia hanya perlu, menyiksa ketiga gadis itu, lebih parah lagi.


Waktu yang sangat dinantikan pun, akhirnya tiba. Tenda yang sangat besar itu, juga telah selesai dipasang. Banyak anggota pecinta alam, masuk ke dalam sana dan tertidur. Bastian, Frans dan Danil, berada di tenda yang berbeda. Laras, Ayu dan Keysa juga ditempatkan di tenda yang berbeda, dengan anggota lain serta ketiga cowok itu.


Aizha kini, berada di tengah-tengah, anggota pecinta alam yang tertidur lelap. Matanya terpejam, dengan kaki bersila dan melayang ke atas. Para anggota pecinta alam, langsung berteriak histeris. Ada banyak anggota yang menangis, berkeringat dan berwajah merah. Bunga saja, sampai ketakutan dan mengajak Cantika, untuk keluar dari tenda. Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan, juga merinding, melihat kejadian itu.


Para anggota pecinta alam, diberikan mimpi yang sangat indah, dari Aizha. Pada mimpi itu, mereka dikejar-kejar oleh ular yang besar, anjing menggonggong dan harimau. Hal itu, berhasil membuat mereka ketakutan histeris, hingga menangis. Tak ada yang bisa pingsan, dalam mimpi tersebut.


Selesai dikejar hewan, Aizha mulai memberikan ruang, untuk mereka bernapas. Terlihat para Anggota pecinta alam, mulai berhenti berteriak dan menghentikan tangis. Namun, baru saja kondisi hendak sunyi. Sebuah tangan yang muncul dari atas, menarik bolam mata mereka, hingga terputus dan menjadi gelap gulita.


"Arghhhhhhh!" teriakan mereka yang terdengar sangat kesakitan. Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan, mulai resah. Bunga yang mendengar teriakan tersebut dan melihatnya, langsung pingsan. Farel pun membawa Bunga, kembali ke Vila, sesuai perintah Arkana.


Dalam mimpi, para anggota pecinta alam. Aizha muncul dan bertanya, "Apa kalian ingin, aku kembalikan bolam mata ini?"


"Iyaaaa!" seru para anggota pecinta alam, dalam mimpi mereka sendiri-sendiri.


"Kalau begitu, berjanjilah padaku, untuk menggunakan mata ini, dengan bijak! Gunakan penglihatan kalian, untuk menonton hal-hal yang bijak dan positif! Jika melanggar, apa yang kalian rasakan ini, akan menjadi kenyataan. Jangan berani-berani, kalian melupakan atau menyepelekan ucapanku!"


"Baik! Kami berjanji!" ucap mereka dan penglihatan pun kembali.


Mereka semua membuka mata dan menangis. Aizha pun berdiri tegak dan tersenyum lebar. "Mimpi yang indah bukan?"


"Hiks, kau... Aizha bukan?" tanya seorang pemuda yang seangkatan, dengan Aizha. Dia adalah teman sekelas Innara.


"Benar!" sahut Aizha, ceria. "Aku adalah Alpha. Aku ingin, kalian menjadi Murid yang berakhlak baik dan bertanggung jawab, apakah bisa?"


"Ya!"


"Janji, enggak akan ikut atau menyaksikan hal keji ini lagi?"


"Janji!"


"Aku mau, kalau ada aksi penindasan, mengejek, pelecehan dan sebagainya, kalian harus bertindak, untuk menghentikannya. Jika, sudah ada yang bertindak, kalian harus ikut membela! Tapi, perhatikanlah dulu, supaya tidak salah. Jika seandainya, enggak bisa bertindak. Kalian diam saja dan jangan bicarakan hal itu juga, paham?!"


"Paham!"


"Baik!"


"Kalau gitu, pulanglah dan beristirahat!"


"Terimakasih!" ucap mereka, sambil membungkukkan badan.


Mereka semua pamit pergi, meninggalkan lokasi. Banyak suara mesin montor dan mobil, yang mulai berisik. Aizha, Farel dan Bunga, melambaikan tangan pada mereka, selamat tinggal. Arkana, Cantika, Dirgantara dan Akhsan, hanya melihat dalam diam serta menundukkan kepala, jika perlu.


"Oke, sekarang kalian berempat, samperin ketiga cowok itu. Biar gue sama Cantika, yang urus cewek-cewek itu!" ucap Aizha dan diangguki oleh Mereka.


Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan, pergi ke tenda tiga cowok itu berada. Terlihat tiga lubang yang tingginya, mencapai dada mereka. Ketiga cowok itu, langsung ditampar dan diguyur air. Mereka bertiga pun sadar dan terkejut, dengan apa yang telah terjadi.


"Woi! Apa-apaan ini hah?!" protes Bastian pada Arkana. Tangan dan kaki mereka bertiga pun, telah terikat. Hingga membuat mereka, tak dapat keluar dari lubang tersebut.


"Berani-beraninya, lo bohongi kita, hah?!" bentak Farel, tak kalah ngegas.


"Ohhh, jadi kalian udah tau?" ucap Bastian, santai.


Arkana pun, mengernyitkan kening, heran. "Kenapa lo sesantai ini?"


"Ya... Bisa dibilang, kita sangat menantikan kehadiran kalian. Kita tau, kalau kalian kerja sama, dengan Alpha. Kebetulan gue juga udah capek dan gatel banget, pingin habisi wajah songong kalian!" ujar Bastian, membuat Arkana terdiam.


Dirgantara pun berbisik. "Kayaknya, mereka mau mojokin kita, untuk bngehentiin rencana ini."


Arkana menggelengkan kepala, tidak sependapat. "Gue rasa, ini ada hubungannya, dengan sistem Gatif," sahutnya, dengan suara berbisik. "Lo ingatkan pesan Alpha, hari itu?"


Beberapa hari yang lalu, ketika mereka berempat, hendak membunuh Aizha, Cantika, Bunga dan Innara. Pada saat itu, Alpha memberitau, jika Sistem Gatif telah mulai terang-terangan menunjukkan jati dirinya.


[Ernanklar dari negara lain, telah mendapatkan serangan dari sistem Gatif. Sistem ini, berhasil menghancurkan sekolahnya, hingga hancur lebur. Beruntung, si Alpha male ini, berhasil menyuruh kawan-kawannya, untuk segera pergi dan meninggalkan dirinya bersama saudara sepupunya. Sepupunya itu, adalah orang yang mengaktifkan Sistem Gatif]


"Apa dia mati?" tanya Arkana, resah.


[Sepupunya mati, kalau si Alpha male masih hidup, sampai sekarang. Tapi, dia tidak mengingatku, hanya Pacarnyalah yang tau. Semua orang hanya tau, sekolah hancur karena sebuah perkelahian]


"Syukurlah," sahut Arkana, Farel dan Akhsan. Sedangkan Dirgantara, hanya lega di dalam batin.


"Apa mungkin, tingkat kekuatan sistem Gatif ini, tergantung si Pemakainya?" tanya Dirgantara.


[Kami hanya memberikan kekuatan, saran dan membantu sedikit. Kita harus menghemat tenaga, jika sewaktu-waktu, kejadian genting terjadi. Aku harus menghapus semua memori kalian tentangku. Tapi, aku tidak akan menghilangkan, kesan kalian pada si Alpha. Apa yang telah dilakukan para Alpha, akan selalu membekas pada mereka semua]


[Jika benar-benar terjadi pertempuran. Kalian semua, hanya akan mengingat. Ada perkelahian besar, dengan seseorang atau sebuah kelompok yang ingin menjatuhkan atau meremehkan nama baik sekolah. Nanti, akan ada beberapa orang dari sistem Gatif yang akan aku bersihkan dan mengaku, jika dirinyalah pelaku itu]


"Bukannya, itu salah?" komen Farel.


"Benar, kenapa harus anggotanya dan bukan pemimpinnya?" tanya Akhsan.


[Para anggota yang dipimpin pemilik sistem Gatif, tidak mengetahui apa-apa. Mereka hanya tau, jika dirinya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, karena kesalahan atau dosa yang mereka perbuat sendiri. Mereka juga, akan mengaku, kalau hal ini dia lakukan, karena ingin balas dendam, atas kejadian yang tidak menyenangkan itu]


Empat cowok itu mengerti. "Jadi, kita harus gimana?"


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Maaf ya guys, kalau ada kekurangan pada naskah ceritaku ini. Semoga kalian suka😘💕