
...Happy Reading💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Langit telah mulai menggelap. Bulan muncul di tengah-tengah langit, dengan ditemani beberapa bintang berkelip. Lampu-lampu juga mulai dinyalakan, untuk menerangi jalan dan gedung. Arah jarum jam juga, menunjukkan pukul sepuluh. Sudah sangat jarang, orang beraktivitas pada jam segini. Sehingga, jalan sedikit sepi.
Kini Innara yang sedang berada di mobil taksi, tampak begitu risau. Dia mengigit bawah bibirnya, sambil melihat ke arah luar jendela. Setibanya di depan Hotel, dia tak langsung keluar. Pak Supir menjadi khawatir, pada Penumpangnya.
"Mbk, udah sampai," ucap Pak Supir memberitau Innara.
"Emmm, iya Pak, berapa?" tanya Innara, sambil mengambil domper dari dalam tas.
"Tujuh puluh lima ribu, Mbk," sahut Pak Supir.
Innara pun memberikan uang seratus ribu. Ketika Pak Supir, tengah mengambilkan kembalian. Innara langsung keluar dari mobil dan meminta Pak Supir, untuk mengambil kembaliannya. Pak Supir berterima kasih dan pergi.
Innara mengehela napas pelan. Saat dia tiba di dalam hotel. Dia tak sengaja menabrak salah seorang wanita seksi, dengan pakaian yang sangat terbuka, membuat Innara kaget. Dia pun meminta maaf, dengan panik dan gugup.
"Gugup banget, baru pertama ya?" tanya wanita itu, dengan senyum aneh.
Innara berpikir, wanita di depannya ini. Mengira, jika dia adalah Kupu-Kupu Malam atau PSK. Tetapi, pantas saja, jika dia dianggap seperti itu. Cara berpakaian dan make up yang dikenakan pun, tak beda jauh, dengan wanita itu. Meskipun, bagian atas dia tutupi dengan jaket jens.
"Kalau lemah gini, keenakan cowoknya. Udah cantik, muda dan... Polos kek gini, beruntung banget tuh cowok," komen Wanita itu, melihat ujung kaki hingga rambut Innara..
Pikiran Innara benar. Dia dianggap wanita malam. Hatinya benar-benar tidak terima. Ada rasa benci dan jijik pada dirinya sendiri. Innara pun, memilih untuk pamit dan pergi, meninggalkan wanita itu.
Innara pergi menaiki lift. Dia menekan tombol, angka dua puluh satu. Ketika tiba di lantai tiga belas, seorang wanita masuk. Innara dapat melihat, dengan sangat jelas, ada bekas gigitan di bahu wanita itu. Dia pun merembyak rambutnya, untuk menutupi gigitan itu.
Tiba di lantai dua puluh satu. Innara pun pergi keluar dari lift. Namun, sebelum dia benar-benar keluar. Dia sempat mengintip ke wajah wanita itu. Apa yang di khawatirkan, ternyata benar. Bibir wanita itu bengkak dan mata yang berkaca-kaca.
Handphone Innara, tak berselang lama, berdering. Terlihat nama Alex, di layar handphone Innara. Dia pun menghela napas berat dan mengangkat telpon tersebut.
"Kamu dimana, In?" tanya Alex, biasa dan sedikit ramah.
"Udah ada di lantai dua satu, tinggal cari kamarnya aja," sahut Innara, berusaha santai.
"Ohhh, dari lift kamu belok ke kiri aja. Ingat ya, kamar empat ratus tiga!"
"Iya."
"Oke, aku tunggu sayangku," ucap Alex, membuat Innara jijik.
Innara menyimpan handphonenya ke dalam tas. Dia melangkahkan kakinya, dengan berat hati. Jantungnya berdegup, dengan sangat kencang.
Innara menekan bel kamar Hotel, dengan berat. Tak berselang lama, pintu itu terbuka. Senyum Alex, mengembang dengan sangat sempurna. Dia mempersilahkan Innara, untuk masuk. Ketika Innara masuk, Alex tiba-tiba saja jatuh. Sebuah jarum, berhasil menusuk leher Alex.
Seorang bertopeng, dengan jaket kulit warna coklat dan celana jens. Terlihat menarik tangan Innara. Dia langsung membawa pergi Innara, tanpa permisi. Innara kelihatan bingung dan sedikit takut. Namun, orang tersebut menggegam tangannya, dengan begitu erat.
Ketika tiba di lift, Innara yang hendak bertanya, langsung dibungkam oleh orang bertopeng. Keluar dari lift, Innara dan orang bertopeng, pergi keluar dari Hotel. Innara yang terus bertanya, tak mendapatkan jawaban.
"Elo siapa sih?!" tanya Innara, kesal.
"Stststtt, lihat mobil itu. Naik ke sana dan jangan kembali ke Hotel ini lagi!" ucap orang bertopeng, serak.
Waktu Innara, melihat ke arah yang ditunjuk orang bertopeng. Dia telah kehilangan orang bertopeng tersebut. Orang itu, telah pergi entah kemana. Meninggalkan Innara seorang diri.
"Siapa sih dia?" Innara penasaran dan tak lama, mobil itu pun berhenti di depannya.
Innara terkejut, melihat sang Supir rumahnya yang datang. "Loh Pak, kok bisa ke sini?"
"Saya janji, bakalan rahasiain ini, Non. Ayo Non, masuk! Bibik udah nungguin di rumah," ucap Pak Supir dan diangguki oleh Innara.
Innara pun masuk ke dalam mobil. Nampak, Pak Supir memberikan selimut pada Innara. Tangis Innara pecah. Kala Pak Supir, mengatakan rasa kecewanya, melihat kondisi Innara saat ini. Dia juga mengingat masa lalu, Innara yang sangat menggemaskan dan polos. Pak Supir tak menyangka, gadis polos itu telah berubah delapan puluh derajat.
Innara benar-benar merasa bersalah. Dia berharap orang tuanya, tidak mengetahui hal ini. Pak Supir pun berjanji. Dia juga minta maaf, karena telah mengecewakan Pak Supir dan Bibik, yang sudah seperti keluarganya sendiri.
...<\=>...
Aizha yang kini berada di ruang CCTV Hotel, segera menghapus dan mengeditnya. Para Penjaga, juga tampak pingsan, tak berdaya. Selesai dengan CCTV, dia pun menyuntikan sesuatu pada para Penjaga. Suntikan itu, akan membuat mereka lupa, apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.
"Mobil anda sudah siap," ucap seorang lelaki, muncul dari handphone Aizha.
Aizha yang sedang sibuk, dengan hidungnya menjawab, "Baiklah, kalian datang ke arah selatan dan akan ada mobil hitam di sana. Orangnya juga ada di dalam. Aku harap, kalian tidak membuatku kecewa."
"Baik," sahut lelaki itu dari balik telpon. Lelaki tersebut tidak tau, jika orang yang menelponnya perempuan atau pria, karena Aizha memasang efek suara.
[Kamu berhasil, Aizha!]
[Beristirahatlah sekarang, biar tubuhmu tidak drop]
Aizha tersenyum dan pergi meninggalkan mobil itu. Ketika Aizha, telah pergi menjauh. Sekumpulan anak montor datang. Mereka membuka bagasi itu dan membawa Alex, menggunakan mobil lain.
...<\=>...
Alex kini telah sadar. Kain yang terikat di matanya juga telah lepas. Dia melihat ke seluruhan ruang. Namun, yang dia lihat hanya warna hitam, alias gelap gulita.
Alex pun meronta, ingin melepaskan tubuhnya dari bangku kayu itu. Namun, seketika perasaannya mulai gelisah. Saat mendengar langkah kaki mendekat. Tetapi, beberapa detik kemudian, suara langkah kaki itu tak terdengar lagi.
Alex masih belum bisa lega. Dia merasakan, seseorang berada di depannya tepat. Dia juga semakin khawatir, karena tak bisa melihat apapun.
Deru montor tak lama berbunyi dan disusul. Cahaya satu per satu mulai muncul dari montor. Alex langsung terkejut dan hampir saja jatuh, melihat pemuda bermaskeran, menodongkan pisau tajam. Beruntung sekali, Pemuda itu berhasil menginjak kayu pada kursi tersebut. Sehingga, dia pun balik terpental ke depan, menatap perut pemuda itu.
Lampu ruang yang terang benderang, menyala. Montor-montor sport itu pun dimatikan. Para pemuda yang menggunakan masker tersebut, turun dari atas montor mereka dan mengambil senjata. Ada yabg mengambil tali, pisau, pistol kecil dan juga selang air.
Alex tampak begitu merinding, melihat mereka semua. Pemuda di depannya, membuka lakban yang membukam mulut Alex. Belum sempat Alex bertanya. Dia telah menendang perut Alex, hingga kursi itu terjatuh.
Malam yang sial pun terjadi. Tali yang memikat Alex dilepaskan. Pemuda yang menendang perut Alex, menantangnya untuk maju. Alex yang tampak kesal, langsung melawan pemuda itu. Namun, pemuda itu berhasil menghindari setiap perlawanan yang dilayangkan ke arahnya.
Pemuda itu, juga sempat melihat ke arah jam dan langsung meraih tangan Alex yang hendak menonjoknya. Dia bantin Alex, dengan cukup kencang, hingga kesakitan dan tak berdaya. Dia pun mundur, memberi anggotanya kesempatan.
Salah seorang anggota, berjalan mendekat. Dia menggores wajah tampan Alex, dengan pisau. Setelah itu, dia juga menggores bahu, tangan dan kaki Alex, hingga mengeluarkan darah.
"Arghhhhh!" teriak Alex, setiap kali pisau tajam itu, berhasil melukai tubuhnya.
Pemuda yang menendang dan membanting Alex tadi, membuka maskernya. Siapa sangka, jika Ketua dari geng itu adalah Arkana, si Ketos. Dia terlihat, sedang menghubungi seseorang, sambil mengintip kondisi di belakang tubuhnya.
Aizha yang telah tiba di rumah, dengan laptop di depannya, tampak tersenyum. Pada layar tersebut, terlihat bagaimana Arkana dan teman-temannya, menyiksa Alex. Tak berselang lama, panggil telepon dari Arkana muncul.
"Ya?" angkat Aizha, dingin.
"Saya telah melakukan, sesuai rencana," sahut Arkana, terdengar tegas dan beribawa. Dia masih belum tau, jika orang ditelpon Aizha.
"Baguslah, uangnya akan aku transfer," ucap Aizha dan hendak mematikan telepon itu.
"Tidak! Saya butuh kerja sama, dengan anda!" pinta Arkana pada Aizha.
Aizha terdiam sejenak dan bertanya, "Maksudmu, kerja sama apa?"
"Saya butuh anda bagian IT," ucap Arkana.
Aizha yang tampak sedikit pusing, tak ingin banyak bicara dan langsung mengiyakannya. Arkana pun berterima kasih dan ditutup oleh Aizha. Alex kini, tampak terbaring tak berdaya, dengan kedua tangan dan kaki yang diikat, hingga membentuk X.
Arkana yang telah kembali, mengenakan masker, langsung menodongkan sebuah pistol ke arah Alex. "Berjanjilah, lo nggak bakalan ganggu Innara lagi! Dan jangan pernah, lakukan hal kotor ini lagi! Jika tidak..." ucapnya menggantung dan menekan pistol itu, hinga sebuah peluru keluar ke arah dinding. "Kau akan habis di tangan kami!" lanjutnya.
"Kirim dia ke markas gengnya kumpul! Berikan mereka peringatan, untuk tidak bertindak ceroboh!" pinta Arkana, sambil berjalan pergi dan melempar sebuah pistol ke salah seorang anggota.
Alex tampak terkejut dan juga kesal. Harga dirinya malam ini, benar-benar telah di-injak-injak. Beberapa anggota pun menali Alex dan menyeretnya. Alex yang berteriak dan memaki, langsung ditambar, dengan lakban yang membuat mulutnya tertutup rapat.
Pada waktu yang bersamaan. Aizha tampak begitu lemah dan sedikit pucat. Dia melangkah pergi ke arah pintu, dengan tubuh lemas. Tetapi, kesadarannya mulai menurun. Belum sempat, dia meraih gagang pintu itu. Aizha langsung jatuh pingsan.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Bagimana? Semoga kalian tetap suka ya, dan terus membacanya, hingga selesai.
See you ...