
...Welcome to Alpha Female๐๐...
...Happy Reading โจ...
...รรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรร...
"Carilah serbuk warna di sekitar halaman Sekolah ini! Hukum mereka, dengan itu! Semoga berhasil!" seru Alpha dan para Murid, langsung berlari berhamburan, mencari serbuk itu.
"Ayo Zha!" ajak Alin, sembari menarik tangan Aizha.
Afifah dan Via pun, mengikuti dari belakang. Pada lain sisi, Innara dan satu teman kelasnya, tengah sibuk menonton. Cantika dan Bunga sendiri, sedang ikutan mencari serbuk warna itu.
Ketika serbuk warna itu telah didapatkan oleh banyak para Murid. Dirgantara pun menekan sebuah tombol, dari remot kecil yang dipegangnya. Suara Alpha, tak berselang lama terdengar. Dia meminta para Murid, untuk menyiramkan serbuk warna itu ke para Guru. Warna merah menyala dan hitam, kini nampak telah menjadi satu, di tubuh beberapa Guru serta Kepala Sekolah.
Wakil Kepala Sekolah yang sekarang, Guru dan Karyawan yang tidak terlibat pun, telah dipisahkan oleh Aples. Mereka tampak terkejut, khawatir dan resah. Arkana yang berada di sebelah mereka, memberikan pesan untuk tidak melakukan kesalahan seperti ini dan melanggar aturan Sekolah. Jika sudah terlanjur, dia hanya berpesan, untuk banyak-banyak berdoa pada Tuhan.
"Bagus semuanya! Apa kalian senang dan puas?!" tanya Alpha, begitu semangat.
Para Murid menyauti, dengan sangat heboh. "Tapi guys, ada Guru yang terpaksa lakuin hal ini, karena paksaan Wali Murid itu sendiri. Aku ingin melepaskannya, bolehkan?"
Beberapa Murid tak menjawab dan sibuk mengobrol sendiri. Banyak juga yang memaafkan dan setuju, dengan ucapan Alpha. Guru yang dimaksudkan pun, dipanggil oleh Alpha dan diminta, untuk pergi membersihkan diri.
"Sebenarnya, program Murid VIP dan Penjual soal ini, Dalang serta orang yang menggerakkan beberapa telah meninggal dunia. Sekarang ini, mereka hanya akan melanjutkan, dengan sistem yang sedikit berbeda. Jadi, mari kita hukum sekali lagi! Supaya mereka tidak berani, untuk mempertahankan pekerjaannya dan menerima pemecatan yang sebentar lagi terjadi!" ucap Alpha, membuat Pak Kepala Sekolah dan Guru-Guru tersebut, tertegun.
Para sekumpulan serangga, langsung mengerubungi Pak Kepala Sekolah dan Guru-Guru itu, di suatu ruangan berkaca. Para Murid yang melihatnya, tampak gemetaran, geli, ketakutan dan ada juga yang senang. Alpha juga berkata, jika hukuman ini sangatlah sesuai, dengan apa yang telah mereka perbuat. Banyak Murid merasakan penderitaan yang berat, karena adanya progam-progama ini. Rasa takut yang mengelilingi, trauma, hingga depresi yang muncul, akibat tuntutan dan ketidak adilan Sekolah.
Para Murid pun menangis, mendengar ucapan Alpha. Ada juga yang marah, karena mengetahui hal ini. Melihat vidio yang ditayangkan dan pernyataan beberapa Murid, tentang progam tersebut. Membuat para Murid benar-benar geram. Mereka langsung memaki Pak Kepala Sekolah dan Guru-Guru, yang baru saja keluar, dari ruang kaca tersebut.
...<\=>...
Selesai dengan acara penghukuman. Paman Arkana datang ke Sekolah, dengan beberapa orang di belakangnya. Para Murid yang melihatnya, dapat langsung menebak. Jika orang-orang tersebut, adalah pengganti Guru dan Kepala Sekolah yang baru.
Pak Kepala Sekolah meminta ampun, hingga bersujud pada Arkana. Sayang, Arkana malah pergi meninggalkan ruangan itu. Sang Paman tampak bangga pada Arkana dan ketiga temannya. Paman Arkana, tampak menampar sang Kepala Sekolah dan Guru-Guru itu, dengan cukup kencang. Dia langsung menamparnya, tanpa melihat jenis.
"Kasihan ya, baru mulai progam, udah kena batunya," komen Innara.
"Itu sama halnya, kayak orang yang dulu menjadi korban. Setelah balas dendam, malah dianya sendiri yang masuk penjara," kata Akhsan dan diangguki oleh Bunga, Cantika dan Innara, setuju.
"Aizha mana?" tanya Arkana, setelah melihat ke kanan dan ke kiri.
"Dia sama teman-temannya di Kelas," sahut Cantika dan diangguki oleh Arkana.
"Mendingan ke Kantin yuk!" ajak Bunga dan disetujui oleh mereka semua.
Tiba di Kantin, Arkana, Dirgantara, Farel, Akhsan, Cantika, Innara dan Bunga, melihat Aizha serta teman satu kelasnya, yang tengah membuat kehebohan. Tampak Alin yang kembali melakukan akting bersama Siswa satu kelasnya. Drama yang sangat romantis dan mengharukan itu. Berhasil mendapatkan tepuk tangan, dari para Murid dan Ibu-Ibu Kantin.
Kisah yang dipertunjukkan Alin dan temannya, adalah cinta beda keyakinan. Ada juga lagu yang dinyanyikan oleh teman sekelas Aizha, untuk menambahkan kesan haru. Suara merdu Via dan penghayatannya, berhasil menyentuh para Penonton. Satu kelas pun, saling berpegangan tangan dan membungkukkan badan, untuk penutupan.
"Kelasnya Aizha, best banget!" seru Bunga, sampai meneteskan air mata haru.
"Kelas mereka sekarang bersih, tanpa ada korban atau pelaku Bullying. Jadi, mereka sekarang begini. Kalau dulu, waktu Aizha masih dibully Bianka CS. Mereka paling-paling, drama kecil doang, buat narik perhatian banyak Murid, untuk nggak tertarik sama pertunjukan bullying yang ada di sekitar kita," ujar Cantika membuat Innara menaikkan alis.
"Hmmm, cara mereka bagus juga ya. Mereka enggak senggol si Pembully atau muncul, sebagai Pahlawan keadilan yang menonjol. Andaikan, Alpha milih mereka. Apa yang akan mereka lakukan?" gumam Innara, berpikir keras.
"Yang harusnya kalian pikirin, bukan hal itu! Tapi, gimana caranya, supaya setiap Kelas punya ciri khas dan kekompakan, seperti mereka! Kalau pun bisa, yang lebih baik dari mereka! Ada temen dibully, datangi dan tolong! Bukannya datang, ketika orang itu, udah bisa jaga diri!" tegur Arkana tegas dan duduk di bangku pojok.
"Ikut campur juga, ada batasan dan konsekuensi yang harus diterima. Apa yang dilakukan teman-temannya Aizha itu, menurut gue nggak salah kok. Kalau mereka ikut campur, mungkin itu bisa membahayakan Aizha, ketika dirinya sendirian," komen Cantika.
"Andaikan Aizha punya hati yang buruk. Satu Kelas, udah pasti dikasih pelajaran sama dia. Tapi beruntungnya, Aizha masih punya hati lembut dan positif. Seandainya ada Murid yang punya sistem sama dan menghancurkan teman-temannya, karena ketidak pedulian mereka atau ketidak tau-annya, bagaimana?" tanya Farel, setelah Ibu-Ibu Kantin pergi.
"Kalau emang udah jalan ceritanya begitu. Mau lo nolong atau diem aja, itu semua tetap akan terjadi!" seru Innara dan diangguki oleh Cantika dan Bunga, setuju. "Orang mau pergi beli bakso. Ehhh, di tengah perjalanan, malah kecelakaan dan berakhir koma. Dia kalau di rumah aja, juga endingnya bakalan sama! Entah rumahnya yang ambruk atau gempa!"
"Gue setuju," ucap Dirgantara, membuat Farel, Akhsan dan Arkana diam.
"Hai!" sapa Aizha, dengan ekspresi riang. Mereka bertujuh pun menoleh. "Kenapa kalian kumpul di sini?" tanyanya, berbisik.
"Kenapa emangnya?" tanya Bunga.
"Ada banyak yang ngobrolin kalian, karena semeja makan," sahut Aizha, sedikit pelan.
"Apa ada masalah?" tanya Innara, memastikan.
"Enggak juga sih. Btw, ini!" Aizha memberikan sekotak roti pada mereka bertujuh. "Hari ini, ulang tahun Bendahara kami!" ucapnya, dengan sangat ceria dan suara yang sedikit kencang.
"Semoga kalian suka!" ucap Siswi berbando kelap-kelip, alias si Bendahara. Orang yang berulang tahun hari ini.
"Makasih!"
"Selamat ulang tahun!"
"Sama-sama, terimakasih kembali," sahut sang Bendahara dan pergi ke meja yang lainnya.
"Ada kasus pelecehan yang dilakukan Adik Kelas, tadi pagi. Waktu kita mulai pertunjukan di halaman. Korbannya ada yang seangkatan dan Siswi kelas sebelas. Aku dapat informasi juga, ada dua orang yang udah hamil, umur kandungannya sekitar dua bulan," ucap Aizha, sedikit pelan dan hati-hati.
Arkana, Dirgantara, Cantika, Innara, Akhsan, Farel dan Bunga, tampak sangat terkejut. Aizha pun memberikan kertas yang terbuntal di meja dan pergi, dengan kotak roti yang kosong. Dia kembali tersenyum ceria dan main bersama teman sekelasnya.
Pesan Aizha ;
Anindi, Bisma, Bagas, Wahyu, Firman, Laras, Ayu, Cici, Tasya, Talia, Keisya, Dila, Via, Mila.
Temanku bialng, ada dua Siswi kelas sepuluh, yang jalannya kelihatan aneh. Mungkin, dia korban yang baru saja dilecehkan. Tolong, datangi mereka berdua. Tapi, jangan kalian semua!
"Sialan!"
"Buset!"
"Gilak!"
"Ini satu orang berapa?"
"Setan!"
Arkana, Dirgantara, Farel, Akhsan, Cantika dan Innara, mulai geram. Sedangkan Bunga, mulai mengkhawatirkan para Korban. Tanpa basa-basi, Arkana langsung mengajak Farel, untuk menghampiri Siswi itu. Sisanya, diminta untuk tetap diam, supaya tidak menarik perhatian.
...รรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรร...
... ...
...Sampai sini dulu, ya Guys. Sampai jumpa, di pertemuan bab selanjutnya!๐๐โจ...