
...Happy reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Cantika meminta sang Adik perempuan dan lelakinya, untuk menyalami Aizha. Dua anak kecil itu, dengan malu-malu mendekat ke arah Aizha. Mereka mennyalami tangan Aizha, sesuai perintah Cantika.
Saat hendak masuk ke dalam rumah, Aizha tampak terkejut. Dia melihat, rumah itu benar-benar sangat kecil. Luas rumah itu, dengan kamarnya saja, tidak jauh berbeda. Kamar mandi, menyatu dengan dapur. Ruang tamu yang sangat kecil. Dua kamar berjejeran dan sisa ruang, dijadikan tempat menonton TV.
Cantika pun mempersilahkan Aizha, untuk duduk di kursi. Dia akan membuatkah teh, untuk menjamu Aizha. Aizha hendak menolak. Namun, Cantika tidak menerima penolakan. Dia, akan tetap membuatkan teh untuknya.
Saat Cantika pergi. Dua Adik kecilnya itu, menatap ke arah Aizha, malu-malu. Aizha pun tersenyum lembut dan melambaikan tangan, menyapa kedua anak kecil itu. Namun, mereka malah memalingkan wajah dari Aizha.
Aizha pun mendekat dan bertanya, "Kalian berdua namanya siapa?"
"Aku Bima," sahut Adik lelaki Cantika, dengan berani.
"Cika," jawab Adik perempuan Cantika, malu-malu.
"Namanya bagus ya. Kalian nggak mau tanya, nama Kakak?" tawar Aizha, berusaha akrab dengan Adik-Adik Cantika.
"Emmm," Bima tampak ragu dan sedikit malu. "Ka-Kak, namanya siapa?"
Aizha tersenyum lebar dan menjawab, dengan senang hati, "Nama Kakak, Aizha. Kalian bisa manggil aku, Kak Aizha."
"Kak Aizha!" panggil Cika, malu-malu. Dia mencoba, untuk menyebutkan panggilan itu.
Aizha tampak senang dan tersenyum. Tak berselang lama, Cantika muncul. Tampak, nampan yang berisi dua buah gelas teh hangat dan dua piring yang berisi telur kecap serta nasi putih. Entah kenapa, raut wajah Bima dan Cika, menjadi masam. Aizha yang melihatnya pun, bertanya-tanya.
"Kenapa kalian nggak makan?! Sebelum Mamah pergi, pasti kalian berdua, udah di-ingetin buat makan tepat waktu kan!" omel Cantika, setelah menaruh nampan itu ke meja. Dia menatap kedua Adiknya, tajam.
"Uhhh, aku mau-nya ayam!" kata Cika, dengan menekukkan wajah, kesal. "Tiap hari, masa makan tiga T!"
"Tiga T?" tanya Aizha, spontan.
"Tempe, tahu, telur!" jelas Bima, datar.
Aizha pun ber-ohh saja, tanpa suara. Sedangkan Cantika, nampaknya benar-benar marah. "Kalian emang nggak ada rasa syukurnya sedikitpun, ya! Baru beberapa hari yang lalu, kalian makan-makanan enak yang Kakak bawa dari tampat Kak Aizha. Tapi, kalian malah bilang di depan Kak Aizha, selalu makan tahu, tempe, telur!"
Bima dan Cika, terkejut. Mereka melihat ke arah Aizha, yang tersenyum kikuk. "Apa kalian nggak punya rasa malu, hah?!" lanjut Cantika, mengomel.
Bima dan Cika menangis. Mereka berdua langsung meminta maaf, dengan suara terisak-isak. Aizha merasa tak nyaman dan kasihan. Dia pun meminta Cantika, untuk menenangkan sang Adik. Namun sayang, Cantika malah diam saja.
"Jangan nangis, Kakak nggak masalah kok," ucap Aizha, berusaha untuk membuat Bima dan Cika, tidak merasa bersalah.
Tangis Bima dan Cika, tampak mereda. Tetapi, Cantika kembali mengomel, hingga membuat kedua anak kecil itu menangis. Aizha nampak begitu kesal. Dia menahan amarah yang meluap, sambil menatap Cantika, jengkel.
Aizha pun berusaha, untuk meredakan tangis Bima dan Cika. Namun sayangnya, mereka tak mau berhenti menangis, karena Cantika yang terus saja mengomel. Amarah Aizha, benar-benar telah berada di puncaknya.
"Nangis aja terus! Kal---" omel Cantika, terpotong.
"Cantika, stop!" potong Aizha, membentak.
Cantika tampak terkejut, karena dibentak oleh Aizha. Tatapan Aizha juga sangat menakutkan. Aizha menghela napas pelan, untuk mengontrol emosinya. Bima dan Cika, menangis dengan raut wajah takut.
"Stststtt, Kakak nggak bakalan marahin kalian kok. Kalian mau ayam kan? Kita tunggu bentar, oke? Bentar lagi, ayamnya dateng," kata Aizha, dengan senyum lebar.
Cantika terkejut dan merasa tidak enak. "Ehhh, jangan Zha! Mereka bakalan makan telur kecap itu, pada akhirnya. Jadi, lo kagak usah beli ayam buat mereka!"
"Tapi, udah terlanjur dimasak tuh." Aizha menunjukkan layar handphonenya. Tampak, sebuah chat dari si Tukang Kurir.
Cantika mendesah dan merasa tak nyaman. Dia benar-benar malu. Tatapan tajam yang menusuk pun, diberikan oleh Cantika pada kedua Adiknya. Bima dan Cika, langsung mendelik.
Beberapa menit kemudian, Kurir datang membawakan pesanan Aizha. Bima dan Cika, tampak begitu bahagia. Mereka berterima kasih pada Aizha, dengan riang. Imutnya dua anak kecil itu, membuat Aizha meleleh. Bagaimana bisa, ada malaikat kecil di rumah kecil ini.
Cantika, Aizha, Bima dan Cika pun, menikmati makan sore mereka bersama-sama. Bima dan Cika, tampak menyuapi Aizha, kentang serta bawang goreng. Cantika diam-diam, meneteskan air mata, ketika melahap nasinya. Dia merasa terharu dan senang, bisa mengenal Aizha.
Tawa dan suara kebahagian pun, terdengar hingga memenuhi seluruh ruangan. Selesai bercengkrama, dengan Cika dan Bima. Aizha dan Cantika pun pergi keluar. Mereka saling berbicara, berdua saja.
"Can, apa kamu tahan, diperlakuin kayak gitu di Sekolah? Bukan cuman cewek, tapi cowok juga," tanya Aizha.
"Jujur, gue nggak pernah ada Temen curhat kek gini. Semua yang gue alami. Gue pendam sendiri. Lelah, muak, kesal dan benci, udah bikin gue mati rasa," ucap Cantika dan Aizha pun menyimak.
"Gue diem, bukan karena takut sama mereka. Gue cuman nggak mau, hidup sia-sia dan menyesal. Mereka, kalau dilandeni pun, nggak bakalan sadar dan malah ngelunjak. Sebenarnya, gue itu udah capek, Zha. Tapi mau gimana lagi. Keluarga gue, kayak gini," lanjut Cantika.
Aizha menggegam erat tangan Cantika. "Mereka yang ganggu kamu, sebenarnya memiliki kehidupan yang kacau. Kamu lihat sendirikan, rumah ku hari itu gimana. Luas, megah dan mewah, tapi... Nggak ada kehidupan di dalamnya. Rasanya benar-benar kosong."
Cantika diam dan masih mendengarkan. Aizha menatap ke arah langit dan melanjutkan ucapannya, "Melimpahnya harta kami, tak sebanding dengan kebahagian yang kita terima, mungkin itulah keadilan hukum dunia. Mereka menyiksa orang lebih rendah atau lemah, untuk melampiaskan rasa kesal, gabut dan benci, karena keluarga mereka yang tidak sempurna. Apapun yang terjadi di Sekolah anaknya, belum tentu mereka peduli. Makan bersama di tempat mewah pun, rasanya sepi dan hambar. Kami serasa hidup di tengah awan-awan, tanpa adanya bintang, bulan, apalagi matahari."
Cantika tersentak, mendengar ucapan Aizha. Aizha melihat ke arah Cantika dan tersenyum sendu. "Jadi, kalau kamu lelah, muak dan kesal, bilang aja ke aku. Aku bakalan selalu ada buat kamu. Jangan, jadikan status keluargamu menjadi sebuah alasan! Kamu punya rumah, masih bisa makan dan ada keluarga lengkap yang selalu ada untukmu. Bukankah itu indah?"
Cantika diam dan merenungkan ucapan Aizha. Apa yang dibilang, memang benar. Lelah, marah dan kesal yang terjadi di Sekolah. Seketika luntur, hanya dengan bercanda tawa bersama keluarga. Meskipun, pertengkaran terjadi karena emosi dari luar. Cantika dan Keluarga, masih bisa bersama. Meredam emosi itu, dengan berkumpul bersama keluarga.
"Bener sih, tapi... Lo terkesan ngebelain mereka ketimbang gue!" celetuk Cantika, membuat Aizha tertawa kecil.
"Maaf, kalau aku bukan pendengar yang baik, khihhihi." Aizha masih tertawa kecil, membuat Cantika menatapnya ketus. "Tapi, salah mu sendiri. Pakai kalimat terakhirnya tentang keluarga. Aku kan sensitif, kalau singgung soal itu!"
"Ck, ngeles segala lo!" cetus Cantika, membuat Aizha tak berhenti tertawa.
Sebuah mobil hitam, tak berselang lama, muncul di depan rumah Cantika. Aizha pun pergi menghampiri mobil itu dan menemui sang Supir. Dua buah plastik besar di keluarkan oleh sang Supir dari dalam mobil. Cantika terkejut, melihatnya.
Cantika bertanya-tanya, apa maksud semua ini. Dia juga sempat menolak pemberian Aizha. Namun sayangnya, Aizha sangat kerasa kepala. Dia tidak menerima penolakan.
Pada plastik tersebut, terlihat ada beragam macam benda, seperti buah, sayur, roti, ikan, ayam dan cemilan kering. Pak Supir juga membawakan cat rumah, boneka tedy bear dan robot yang dapat bergerak serta berbicara. Adel dan Bima sangat bahagia. Mereka berdua, langsung memeluk erat Aizha.
"Makasih banyak, Zha! Gue nggak tau, gimana caranya ngebalas kebaikan lo ini," ucap Cantika dan Aizha pun menepuk bahunya.
"Kamu nggak perlu membalas semua ini. Aku lakuin hal ini, karena keinginanku sendiri. Aku juga makasih, karena udah ijinin aku masuk ke rumahmu. Cika sama Bima, asik banget! Rasa-rasanya pingin tak ajak pulang. Supaya, bisa main semalaman," ujat Aizha yang benar-benar tulus dan tidak sedang menipu.
Aizha pun berpamitan pada Cika dan Bima. Tampak, raut wajah sedih ditunjukkan oleh kedua anak kecil itu. Aizha menjadi terharu dan merasa sangat gemas. Dia jadi tak ingin meninggalkan mereka berdua. Namun, langit sudah sangat malam. Sistem Alpha, juga mengingatkan Aizha, tentang kondisi tubuhnya yang harus dijaga.
Aizha pun pamit pergi. Cantika, Cika dan Bima, melambaikan tangan. Ada perasaan senang yang tumbuh di dalam tubuhnya. Senyumnya juga, terus terukir di wajah manis itu. Pak Supir yang melihat dari kaca tengah mobil, ikut merasa bahagia.
...<\=>...
Dentuman musik yang kuat dan kencang, berhasil membuat tiap orang menari. Banyak sekali perempuan yang memakai pakaian terbuka dan merayu pria, tanpa rasa malu. Minuman berakohol juga tersebar dimana-mana. Satu per satu orang, tampak mabuk hingga tak sadarkan diri.
Innara yang sedang berada di lokasi itu, tampak risi. Dia juga mengenakan pakaian yang sangat terbuka. Namun, ini bukanlah hal yang dia sukai. Ada alasan, kenapa dia harus mengenakan pakaian terbuka itu dan berada di tempat ini.
Alex, pria yang sedang berjalan ke arah Innara, dengan dua gelas minuman berakohol. Yups, dia adalah alasan Innara, mengenakan gaun terbuka itu dan berada di sini. Rasanya sangat sesak. Namun, Innara harus menerima takdirnya.
Alex menghampiri Innara dan menyodorkan gelas kristal itu ke Innara. "Malam ini, kamu beneran cantik," ucapnya, sambil memberikan gelas akohol itu, dengan tatapan nafsu.
Innara hanya tersenyum kecil dan berterima kasih. Dia hanya menggegam gelas itu dan tidak ada niat, untuk meminumnya. Alex pun menatap Innara terus menerus. Innara yang menyadarinya, langsung meneguk akohol itu, hingga membuat Alex tersenyum.
"Gimana?" tanya Alex pada Innara.
Innara tampak sedikit aneh. Dia benar-benar, tidak menyukai minuman seperti ini. "Bagus," sahutnya, sambil melihat ke arah lain. Entah kenapa, kepalanya sedikit pusing.
"Pusing ya?" tanya Alex, dengan ekspresi wajah aneh.
Innara pun menggelengkan kepala. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah kenapa, ada napas yang mengenai lehernya. Innara baru sadar, jika Alex mulai mendekat dan meraih kakinya. Dia pun, spontan menghindari Alex, hingga terjatuh dari kursi.
Alex dan Teman-Temannya, terkejut. Raut wajah kesal Alex, muncul. "Innara... Apa yang barusan kau lakukan?" tanyanya, dengan nada yang membuat Innara gemetar ketakutan. Tatapannya juga penuh, dengan amarah dan kekesalan. Tatapan seseorang yang ingin memakanmu hidup-hidup.
Innara langsung berdiri dan meminta maaf. Dia hanya terkejut, karena Alex tiba-tiba mendekatinya. Kepalanya juga sangat pusing, hingga membuat dia kaget.
Alex pun tersenyum kecil. Dia menepuk sofa dan meminta Innara untuk duduk di sebelahnya. Setelah Innara berada di samping Alez. Dia pun bertanya, "Apa sekarang aku boleh?"
Innara menelan ludah. Jantungnya berdetak dengan kencang, karena takut. Dia pun, tersenyum kecil dan menganggukkan kepala.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Aku menyadari, jika Tuhan memanglah adil. Kehidupan si kaya dan si tidak mampu, sebenarnya juga tidak jauh berbeda kok. Apa yang dilihat enak, kalau diamati betul-betul. Bakalan ketahuan kok, nggak enaknya. Udahlah, intinya bersyukur saja atas apa yang kita rasakan tiap detiknya ini, seperti bernapas, berbicara, melihat dan mendengar.
Aku juga, kadang lupa mensyukuri hal ini sih. Mungkin, karena udah dikasih dari lahir ya? Emang dasar manusia😆 Aduh, jadi malu sendiri. Ya udah, sampai sini dulu. Sampai berjumpa di bab selanjutnya💕✨