Alpha Female

Alpha Female
Bab 77



...Welcome to Alpha FemaleπŸ˜˜πŸ’•...


...Happy Reading ✨...


...Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—...


"Lo kaget?" tanya Pedro, dengan senyum lebar.


"Waittt! Gue masih belum ingat!" Innara berusaha mengingat. Namun, Pedro secara tiba-tiba mendekat.


Pedro terdengar meminta maaf dan menusuk perut Innara, dengan pisau. Innara yang terkejut, langsung mengeluarkan darah dari mulutnya. Dia menatap Pedro, dengan penuh amarah dan kebencian. Sebelum mata Innara tertutup. Dia sempat melihat, Pedro yang tampak mengatakan sesuatu padanya.


...<\=>...


Para tamu pecinta alam, tampak pingsan di tengah-tengah hutan. Dirgantara pun pergi, mengambil mobil khusus, untuk mengangkut mereka bersama Farel. Arkana, Aizha, Cantika dan Bunga sendiri, sibuk merancang strategi selanjutnya. Sedangkan Akhsan, tampak resah, karena Innara tak kunjung datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.12.


Aizha pun mendekat, ke arah tempat Akhsan berdiri. "Akhsan, kamu samperin aja deh! Perasaanku udah nggak enak soalnya."


Akhsan menganggukkan kepala, paham. Dia langsung pergi berlari, menuju tenda Innara berada. Aizha pun kembali menghampiri Arkana.


"Apa kamu yakin, akan hukum mereka, kayak gini?" tanya Arkana, melihat pesanan Aizha di handphone.


"Aku udah turutin kamu, buat enggak umbar-umbar. Jadi, jangan hentiin aku, untuk satu hal ini. Aku memang enggak jauh berbeda, dengan mereka yang tukang menindas. Tapi, jika bukan aku. Siapa yang akan ngehentiin ini?! Mereka harus mendapatkan pelajaran, supaya jera!" ujar Aizha, membuat Arkana diam.


Ketika Aizha, Cantika dan Bunga, tengah sibuk memandangi para tamu pecinta alam. Arkana yang melihat kehadiran Akhsan, dengan menggendong Innara, di kedua tangannya, langsung heboh. Aizha, Cantika dan Bunga pun melihat. Mereka terkejut, karena bagian perut Innara berdarah.


"Ar... Tolongin Innara!" pinta Akhsan, dengan begitu lirih dan penuh harapan.


Arkana menganggukkan kepala, mengiyakan. "Kita bawa pakai montor sekarang! Lo di bel--" ucapnya terpotong.


"Enggak!" tolak Aizha, membuat Arkana bingung.


"Apa maksudmu?!" tanya Arkana, tak paham.


"Pakai kekuatanku aja!" tawar Aizha, namun Arkana menolak, dengan sangat tegas.


Arkana tidak ingin, Aizha kembali melanggar aturan dan terkena hukuman. Namun, Aizha meyakinkan Arkana dan Akhsan, jika hal ini, tidak melanggar aturan. Dia pun memegangi tangan Innara dan menyuruh Cantika serta Bunga, untuk tetap stay di sini, menunggu Dirgantara dan Farel.


"Oke, kalau ada apa-apa, langsung kabari!" pesan Cantika dan diangguki oleh Aizha.


"Arkana, kamu pegang tangan Akhsan!" suruh Aizha, setelah dia menggenggam tangan Arkana.


Arkana langsung memegang lengan Akhsan, sesuai perintah Aizha. Mereka semua sangat terkejut, ketika mata Aizha terpejam, terdapat titik-titik biru yang mengelilingi mereka berempat. Cantika dan Bunga, tampak begitu terpukau. Titik-titik biru itu, seketika lenyap bersama dengan Aizha, Arkana, Akhsan dan Innara.


"Apa Aizha, enggak bisa nyembuhin Innara?" tanya Bunga dan mendapatkan jitakan, dari Cantika.


"Jangan ngayal deh! Kita doain aja, semoga kita enggak terlambat dan Innara, masih bisa diselamatkan!" ucap Cantika dan diaminkan oleh Bunga.


...<\=>...


Akhsan, Aizha, Innara dan Arkana, akhirnya tiba di Rumah Sakit. Tampat ini, adalah lokasi Tante Innara bekerja. Mereka tiba, tepat di dekat depan pintu Rumah Sakit. Namun, mereka sepertinya mabuk, karena pengaruh teleportasi. Terlihat, si Akhsan yang jatuh terduduk, dengan memeluk Innara. Arkana dan Aizha, sampai kesulitan untuk berdiri.


"Huekkk!" Arkana, nampak muntah di pojokan.


Aizha yang melihatnya sedikit jijik. Tapi, dia baru sadar, jika kondisi Innara sedang parah. Akhsan juga, tampak sulit untuk bergerak dan sama-sama, ingin muntah. Aizha pun berusaha, untuk berdiri tegak dan pergi memanggil Dokter.


Tiba di dalam Rumah Sakit, seorang Suster langsung datang menghampiri Aizha. Dia tampak khawatir, melihat Aizha yang kesulitan berjalan. Namun, Aizha tak membalasnya dan meminta Suster, untuk segera keluar, karena ada Pasien yang terluka parah.


Beberapa Suster dan seorang Dokter pria, langsung membawa Innara, ke ruang oprasi. Tante Innara yang baru saja selesai menjalankan oprasi di ruang lain, tampak begitu terkejut, melihat kondisi sang Keponakan.


"Innara!" panggil Tante, namun Innara telah dibawa masuk, ke dalam ruang oprasi. Dia pun melihat ke arah Aizha. "Innara kenapa bisa kayak gitu?!" tanyanya, resah.


"Dia yang tau, Tante!" Aizha menunjuk ke arah Akhsan, yang masih terlihat lemas.


Akhsan yang ditunjuk, bingung. Tante pun menghampiri Akhsan dan menanyakan kronologinya. Akhsan menjawab, jika dirinya tidak tau pasti, kenapa Innara bisa seperti itu.


Dia hanya bercerita, jika setibanya di tenda. Innara telah terluka parah, seperti itu.


Tante Innara, tampak jatuh terduduk, dengan kedua tangan, menutup muka. Dia menangis dan takut, untuk memberitau Kakaknya, alias orang tua Innara. Aizha pun, berusaha menenangkan sang Tante dan meminta maaf.


...<\=>...


"Apa kita berhenti?" tanya Dirgantara dan Aizha menggelengkan kepala, sebagai jawaban tidak.


"Kita tetap harus lakuin ini, sekarang!" kata Aizha dan diangguki oleh Dirgantara dan Farel.


Beberapa jam kemudian, terlihat beberapa paket dan pesanan Aizha tiba. Mereka juga, membawa para tamu ujung kolam renang. Terlihat, para tamu yang baru saja sadar, langsung menggeliat dan histeris, karena serangga di mata mereka. Ada juga baskom di setiap atas kepala.


"Kalian tau Alpha?" tanya Aizha dan mereka semua, langsung menganggukkan kepala, mengiyakan. "Aku adalah Alpha. Aku sering kali tunjukin ke kalian. Beberapa hukuman yang aku berikan, pada manusia bareng*ek seperti kalian ini! Tapi, aku lihat-lihat, kalian masih bisa aku perbaiki. Jadi, aku akan beri kalian kesempatan!" kata Aizha, yang berada di sebrang kolam renang.


"Tetapi, semua itu, perlu timbal balik. Apa kalian mau?" tanyanya dan mereka semua, langsung menganggukkan kepala, mengiyakan.


Lakban yang ada di setiap tamu, langsung dilepas secara bersamaan. Terdengar beberapa teriakan orang, yang ketakutan dan jijik. Aizha nampak tertawa senang, hingga membuat beberapa orang tamu, merinding ketakutan.


"Gini aja, lo pada takut. Pecundang!" ejek Aizha, membuat beberapa orang, bungkam.


"Kakkk! Tolong lepesain aku! Aku janji, bakalan lakuin apapun, buat Kakak! Tapi tolong, lepasin aku! Aku takut banget Kak, sama ulet!" rengek sang adik kelas.


"Utututuuuu, takut ya, Dek? Maafin Kakak ya. Ini juga, demi kebaikan kamu kok! Supaya kamu, enggak seenaknya!" ujar Aizha, membuat Adik Kelas itu, menangis.


"Kalau elo beneran Alpha, kenapa lo sekap kita? Dan bukannya, si para Cecunguk sialan itu, hah?!" umpat pemuda itu, marah.


"Jangan-jangan, lo cuman ngaku-ngaku doang?" komen seorang cewek, tamu Cantika.


"Aku sengaja bawa kalian, untuk mancing para Cecunguk yang lo sebutin tadi dan bantu kami, untuk ingetin para Murid yang lain. Supaya mereka, enggak berulah," ujar Aizha, membuat mereka berempat, saling melihat.


"Maaf, aku udah lulus!" ucap seorang perempuan, tamu Aizha.


"Ya... Kakak, setelah ini harus sadar dan jangan diam aja, kalau lihat hal tercela atau melanggar hukum!" tegur Cantika, yang berada di belakangnya. Kakak itu pun mengangguk, paham.


"Ohhh, Kakak itu lepasin aja deh! Dia nggak sejahat itu kok. Dia cuman mau belajar, cara bikin anak, karena bucin," ucap Aizha, tanpa filter dan raut wajah yang tak berdosa.


Perempuan yang menjadi tamu Aizha itu, langsung wajahnya memerah. "Woiii!" tegur seorang perempuan, tamu Cantika.


Aizha hanya diam saja. Cantika pun melepaskan Kakak Alumni. Kakak itu, langsung berterima kasih. Sebelum pergi, Aizha sempat berpesan pada Kakak tersebut, "Kak, jangan terlalu mencintai seorang manusia, terlalu dalam. Mencintai mereka, hanya akan meninggalkan kekecewaan dan rasa yang sulit terhapuskan. Jika cinta, berusahalah di level yang wajar. Supaya Kakak, tidak terlalu berangan-angan tinggi! Dan seandainya jatuh, Kakak masih bisa bangkit."


Kakak itu, menganggukkan kepala paham. Dia juga, berjanji akan merahasiakan hal ini. Aizha pun mengangguk kecil.


"Hiks Kak, mau sampek kapan begini? Lama-lama, aku bisa pingsan nanti!" keluh. Adik kelas, tamu Akhsan.


"Kalian tandangan kontrak dulu dan teteskan darah pada kertas itu! Aku, akan beri kalian kesempatan, untuk membacanya!" kata Aizha dan mereka pun membaca kontrak itu.


Seorang perempuan yang merupakan tamu Cantika, tampak begitu fokus membaca. Setelah selesai, dua orang lelaki di sebelahnya, langsung menandatangani kontrak itu. Senyum lembut, terlukis di wajah kedua pria itu dan berjanji, akan melakukan yang terbaik.


"Kami juga berjanji, akan bertanggung jawab, atas apa yang telah ditawarkan," sahut Aizha.


Arkana, Dirgantara, Akhsan dan Farel, tampak tersenyum sumringah. Mereka saling berbincang, dengan kedua lelaki itu. Sedangkan Cantika dan Bunga, masih menatap perempuan itu, bingung.


"Ada masalah?" tanya Cantika, pada perempuan tersebut.


"Kalian tau kan? Kalau gue, seangkatan sama kalian?" tanya perempuan itu dan diangguki oleh Bunga serta Cantika.


Keenam lelaki itu, langsung melihat ke arah perempuan tersebut. Aizha yang masih berada di sebrang kolam renang, hanya menatap dalam diam. "Bisa nggak, kalau nih kontrak diambil alih Adek gue? Dia kelas satu di sekolah kita juga. Tapi, dia punya karakter yang beda jauh sama gue. Anaknya pendiem dan masih belum punya teman."


"Aku tau, kalau kamu bakalan nawarin hal ini. Kebetulan, itulah tujuanku!" ujar Aizha, membuat perempuan itu, diam. "Kamu tanda tangani aja, sebagai penanggung jawab atau walinya. Biar kita yang bicara sama Adik mu."


Perempuan itu mengangguk, paham. Dia langsung menandatangani kontrak tersebut dan mencap, dengan darahnya. Aizha pun meminta sang teman, untuk melepaskan jebakan serangga dan membicarakan rencana mereka.


Pada lain tempat yang jauh, dari keberadaan Aizha. Terlihat seorang pemuda, tengah duduk bersila, di dalam lengkungan merah merona yang tembus pandang dan sedikit silau. Pemuda itu, seketika melayang dalam kondisi tenang dan sunyi. Banyak orang terbaring di sekelilingnya, seperti ikan teri. Terlihat jelas, ada tanda X di beberapa bagian tubuh mereka.


...Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—...


...Sampai sini dulu, ya Guys. Sampai jumpa, di pertemuan bab selanjutnya!πŸ˜˜πŸ’•βœ¨...


Maafkanlah, jika ada kekurangan atau typo, okayπŸ‘ŒπŸ˜„ See youπŸ˜˜πŸ’•