Alpha Female

Alpha Female
Bab 7



Happy Reading Guys✨


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


"Aizhaaaaa! Mamah tersayang udah pulang!" ucap seorang wanita paruh baya, sambil berjalan masuk.


Wanita itu sangat cantik, seksi dan juga terlihat muda. Dia adalah Vivi, Mamah Aizha. Cantika yang melihatnya, nampak kagum dan tak percaya, jika dia adalah Mamah Aizha. Sedangkan Aizha, malah malu dan menghindari kontak mata, dengan Mamahnya.


"Aihhhh, ini siapa?" Vivi langsung menghampiri Aizha dan memegang wajah sang Anak, dengan kagum. "Cantiknya... Apa anak Mamah yang satu ini, lagi suka sama cowok? Tumben-tumbenan dandan begini. Dulu aja, Mamah ajarin dandan nggak mau."


"Mamahhh, jangan begini! Ada Temenku itu!" keluh Aizha, yang malu akan sikap Mamah Vivi.


Vivi baru sadar, jika ada orang lain di antara mereka berdua. Dia pun menyambut Cantika, dengan begitu riang. Saat Cantika bersaliman, Vivi langsung memeluknya erat. "Makasih ya, udah mau jadi Anak Tante. Baik-baik ya, kamu sama Aizha. Kalau ada masalah, bilang langsung ke Tante. Nanti, Tante urus semua oke?" ucapnya, setelah melepaskan pelukannya dan menggegam kedua tangan.


Cantika tersenyum malu, melihat tingkah Mamah Vivi. Aizha yang melihat dari belakang, juga malu sendiri. Vivi pun mengajak mereka untuk duduk dan mengobrol.


"Tante, udah lama banget nggak lihat Temen Aizha, selama ini. Tante itu sampek mikir, apa mungkin Aizha ini nggak punya Temen?" keluh Vivi, langsung mendapatkan teguran dari Aizha.


Cantika tampaknya paham, akan maksud Mamah Vivi. "Saya ngerti kok, Tante. Saya juga suka khawatir sendiri, kalau Adik saya nggak punya Temen di Sekolah. Kadang, lihat Adik murung atau minta bolos Sekolah, pasti perasaan saya langsung nggak enak. Takut, kalau ternyata, Adik saya adalah korban bully."


"Nahhh, itu yang Tante takutin. Tante nggak mau, kalau sampek Aizha atau Adiknya jadi korban bully dan mentalnya kena. Kalau udah masalah mental kan, kita nggak bisa apa-apa ya? Masa, Anak yang udah dijaga dari kecil, harus hancur masa depannya, karena pembullyan di Sekolah. Padahal, tujuan orang tua nyekolahin anak itu kan, supaya dia bisa ketemu banyak Temen dan masa depannya juga cerah, enggak berantakan," ujar Mamah Vivi, panjang lebar dan diangguki oleh Cantika.


Aizha yang mendengarnya pun, merasa bersalah. Cantika juga sempat melirik ke arah Aizha, yang terlihat tidak nyaman. Dia pun meminta ijin, untuk pamit. Lagi pula, langit mulai senja. Sudah terlalu lama juga, berada di sini.


"Ehhh, sebentar!" tahan Mamah Vivi dan berdiri dari duduknya. "Kamu tunggu dulu, di sini! Aizha, ikut Mamah bentar!" ajaknya dan diangguki oleh Aizha.


Aizha pun meminta Cantika, untuk menunggu sebentar. Sebelum, dia ke dapur bersama Mamah Vivi. Setibanya di dapur, Mamah Vivi langsung mengeluarkan beberapa makanan kering dari tasnya.


"Rencananya, ini buat kamu. Tapi, kalau Mamah kasih ke Temenmu nggak papakan?" tanya Mamah Vivi, sambil mengeluarkan beberapa makanan kering dan biskuit dari tas.


Aizha menganggukkan kepala, mengiyakan. "Nggak papa kok, Mah. Lagi pula, aku masih bisa makan ini lain waktu."


"Sippp, nanti kalau Mamah balik lagi ke Indonesia bareng Ayah sama Adik. Kami bakalan bawa yang lebih banyak lagi, makanan, perhiasan, aksesoris, gaun, tas, sep---" Aizha langsung menutup mulut Mamah Vivi, dengan sendok.


"Stststttt, kalau mau kasih anak orang tuh cepatan dikit! Dia harus pulang sekarang, sebelum keluarganya khawatir Mah!" tegur Aizha, membuat Mamah Vivi tersenyum malu.


"Iya, juga ya." Mamah Vivi pun langsung mengambil paper bag dan segera mengemasi beberapa makanan dari tas serta kulkas, untuk Cantika.


Mamah Vivi dan Aizha, pergi menghampiri Cantika. Mamah Vivi, terlihat memaksa Cantika, untuk menerima pemberiannya. Cantika pun menerima pemberian Mamah Vivi, dengan lapang dada. Dia berterima kasih dan berpamitan.


"Mamah lo ngasih, bukan karena montor gue ini kan?" tanya Cantika, setibanya dia dan Aizha, tiba di halaman rumah.


Aizha menggelengkan kepala dan menjawab, "Enggak kok, itu rasa terima kasih Mamahku aja, karena udah mau berkunjung. Soalnya, udah lama juga, kita nggak kedatengan tamu di rumah ini."


Cantika diam sejenak dan bertanya, "Emmm, lo tinggal sendiri di sini?"


Aizha terdiam, mendengar pertanyaan Cantika. "Iya, mungkin," jawabnya, ragu.


Cantika pun paham dan memilih, untuk tidak bertanya lebih dalam lagi. Dia pun mengucapkan terima kasihnya kembali pada Aizha dan pamit. Aizha nampak melambaikan tangan, saat Cantika mulai pergi. Dia menatap ke arah langit dan tersenyum senang.


<\=>


Kamar tidur Bunga kini, nampak sangat gelap dan terasa sunyi. Langit juga mulai senja, namun lampu tak segera dinyalakan. Sebuah notifikasi pun masuk. Bunga yang sedang tertidur, mulai terbangun dan melihat pesan tersebut.


Tiba-tiba, Bunga mengubah posisinya menjadi duduk, dengan ekspresi terkejut. Kamar itu seketika terang dan nampak sedikit berantakan. Dia berlari ke kamar mandi dan bersiap-siap, entah mau kemana. Tampilannya juga sederhana, namun elegan.


Selesai bersiap-siap, Bunga pergi ke lokasi yang ditujunya. Namun, sebelum tiba di lokasi, dia pergi membeli pizza. Senyumnya terus saja mengembang, selama perjalanan. Tapi, senyum itu seketika pudar. Saat dia mengetahui, jika lokasi yang ditujunya, ternyata sebuah kampung kecil. Jalannya juga, hanya muat untuk dua buah montor saja.


Bunga pun bertanya pada beberapa orang, tentang rumah yang ditujunya. Seorang Anak kecil pun, dengan baik hati, mengarahkan rumah tersebut. Namun, seorang gadis yang tak asing lagi. Terlihat, menatap Bunga, dengan ekspresi dingin.


"Vlora!" panggil Bunga, setelah melihat Vlora, yang berdiri di depan rumah kecil, dengan cat sedikit luntur.


"Akhirnya, lo dateng juga ya. Gimana? Elo kaget, lihat rumah sama kampung gue?" tanya Vlora ketus, membuat Bunga merasa tidak enak.


Tentangga Vlora, diam-diam menguping. Bunga terlihat semakin tidak nyaman. Entah kenapa, Bunga merasa, jika Vlora akan memarahi dia di depan banyak orang. Perasaan gugup dan khawatir pun melandanya.


Jelas sekali, Vlora telah mengompori orang-orang yang sedang menguping. Bunga sedikit kesal, karena ucapan Vlora barusan. "Vlo! Kok kamu bilang kayak gitu, sih?! Kamu pikir, aku orang yang mandang har---"


"Memang!" potong Vlora, dengan emosi. "Lo mana mau, Temenan sama gue yang miskin, begini!"


"Apa?! Kapan aku begitu?"


"Lo lupa, hah?! Waktu ulang tahun si Alex. Lo pernah pojokin gue..."


Flessback, pada saat ulang tahun Alex yang ke tujuh belas tahun. Bunga, Vlora dan Teman-temannya, mendapatkan undangan dari Alex. Mereka datang bersama, dengan warna couple. Banyak mata yang memperhatikan mereka berenam.


Pertengahan acara, ketika Anak-anak sibuk berbincang, main dan nonton koser kecil. Bunga, Vlora dan keempat Temannya, lebih memilih untuk mengobrol bersama di meja bundar. Tak berselang lama, seorang gadis berdress merah muncul dan ikut mengobrol.


"Ehhh, kalian nggak ada bikin acara party gitu?" tanya gadis berdress merah.


"Party buat apa?" tanya salah satu Teman Vlora.


"Lohhh, bentar lagi kan, ulang tahun Vlora yang ke tujuh belas. Masa, nggak ada party sih," seru gadis berdress merah. "Bunga! Elo kan yang paling tajir nih, bikinlah acara kejutan buat Vlora!"


"Kok aku?" Bunga, bingung.


"Iya dong! Lo kan yang paling tajir di sini."


"Ehhh, kita semua juga kaya kok. Kenapa harus aku? Itu kan acaranya Vlora. Dia yang harusnya bikin. Kita sebagai Teman, cuman bantu siap-siap aja, iya kan Vlo?" Bunga pun melihat ke arah Vlora, meminta pendapat.


"I-iya," sahut Vlora, mengiyakan dengan ragu.


"Oke, gue tunggu undangannya ya!" ucap gadis berdress merah itu dan pergi ke arah Teman-temannya berada.


Flessback pun selesai. Bunga masih bingung, dengan cerita Vlora barusan. Apa kesalahan yang telah dia buat, pada saat itu? Apa hubungannya, dengan masalah ini? Bunga tak paham, maksud Vlora.


"Terus?"


Vlora nampak kesal, mendengar pertanyaan Bunga, yang masih sajatak paham. "Lo udah lihatkan, kondisi gue sekarang gimana?! Gue tuh bukan orang kaya, seperti yang lo pikirin. Gue cuman orang miskin, yang beruntung aja, bisa dapet beasiswa di Sekolah lo! Karena ulah lo itu, gue jadi harus utang sana-sini!"


"Tapikan, aku tau kondisi kamu itu sekarang. Sedangkan waktu itu, aku sama sekali nggak tau kondisi kamu, kayak gini," sahut Bunga, berusaha untuk membuat Vlora mengerti.


"Bohong! Lo pasti udah tau dari awal dan kepingin buat malu gue kan?! Lo juga sengaja, bikin kita terkesan morotin elo di depan anak-anak lain, dengan pura-pura baik dan polos. Supaya lo dapat perhatian banyak! Dan waktu lo ungkap rahasia gue ini, kayak kemarin. Elo bisa dapet banyak Temen, sedangkan gue sendirian. Bener kan?"


"Apa? Aku kan udah jelasin ke kamu. Aku sama sekali enggak ada sangkut pautnya!"


"Kalau lo beneran nggak tau. Harusnya, waktu gue selesai cerita tadi. Elo langsung sadar dan minta maaf! Tapi, apa yang lo lakuin? Lo malah diem dan nggak ngerti maksud gue!" Vlora mulai sedikit lirih dan emosi. "Sebodoh-bodohnya orang, kalau udah ngelihat langsung. Dia pasti bakalan sadar dan langsung minta maaf! Apalagi, sekarang rumah kecil gue, ada tepat di depan mata lo!"


Bunga tak berkutip. Apa yang dikatakan Vlora memang benar. Dia pun meminta maaf, namun tak mendapatkan balasan. Vlora pun mengusir Bunga dan memutuskan hubungan pertemanan mereka.


Para Tetangga Vlora, mulai memandang rendah Bunga dan mengatainya. Bunga hanya bisa diam dan menangis, mendengar komentar mereka. Dia membuang pizza yang dia bawa ke tong sampah dan pergi, dengan mobilnya.


<\=>


Malam harinya, Aizha yang sedang duduk di teras kamar, nampak diam menatap langit. Tak lama, terdengar notifikasi masuk pada handphonenya. Dia pun melihat notif itu dan tersenyum senang. Nampak, seseorang telah memberikan nomor Bunga. Dia langsung menyimpan nomor itu dan mengirimkan pesan pada Bunga.


{Bunga, ini Aizha}


{Aku lihat, kamu di Sekolah kemarin nangis. Apa kamu baik-baik aja?}


{Aku agak kaget, waktu lihat kejadian di Aula kemarin. Aku harap, kamu bisa bertemu, dengan Teman yang lebih baik lagi}


Aizha hanya diam, menatap pesan itu. Bunga sama sekali tidak membacanya. Terlihat di lain kamar, Bunga sedang menangis di belakang pintu. Kamarnya juga sangat gelap dan sedikit sunyi, hanya rintihan tangis yang terdengar.


Tiga hari kemudian, para Murid kembali bersekolah, setelah libur dua hari. Mereka pergi berbaris di halaman Sekolah, untuk melaksanakan upacara bendera yang selalu diadakan pada hari senin. Namun, ketika di pertengahan acara. Aizha mulai pusing dan jatuh pingsan. Dia sempat melihat bayang-bayang seorang Siswa, sekilas.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


See you💕