
...Welcome to Alpha Female๐๐...
...Happy Reading โจ...
...รรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรร...
Aizha melihat kepergian Arkana dan Farel. Dia berharap, mereka berdua tak akan membuat masalah dan menemukan kedua gadis malang itu. Afifah tampak, memberikan suapan donat padanya.
"Maaf, untuk--" ucap Afifah terpotong.
"Enggak papa kok. Aku juga salah," potong Aizha dan mengambil sepotong donat, untuk Afifah. "Aaak!"
Afifah tampak tersenyum malu dan ikut menyuapi Aizha. Mereka pun, saling menerima donat itu dan bertukar. Alin dan Via juga menginginkan hal itu.
"Eitsss! Sekalian foto ya?" pinta Alin dan diangguki oleh mereka bertiga.
Mereka pun saling menyuapi donat dan berfoto. Pada lain sisi, Arkana dan Farel tengah berada di lorong Kelas sepuluh. Mereka mengamati satu per satu Siswi kelas sepuluh. Banyak dari mereka terpukau dan salah tingkah, karena Arkana serta Farel.
"Sial, gimana caranya, kit---" gerutu Farel terhenti, ketika Arkana menepuk dadanya.
Arkana memberitau Farel, untuk melihat ke arah yang dilihatnya. Farel pun, mengikuti arah mata Arkana. Terlihat sesosok gadis yang bertingkah aneh. Dia tampak khawatir, ketakutan dan kesakitan. Cara jalannya saja, terlihat sedikit aneh. Mereka berdua, langsung pergi menghampiri Siswi itu.
"Dek, apa kamu lagi sakit?" tanya Farel, risau.
Siswi itu tampak sangat terkejut dan ketakutan. Dia pun menggelengkan kepala, panik. "Saya baik-baik aja, kok Kak."
"Kamu nggak perlu takut. Kakak, adalah Wakil Ketua OSIS, di sini dan dia!" Farel menunjukkan ke arah Arkana, memperkenalkan. "Namanya Arkana, Ketua OSIS. Keluarganya juga, adalah pemilik Sekolah ini. Jadi, kamu nggak perlu risau," ucapnya sangat ramah tamah.
Siswi itu, bukannya merasa aman dan lega. Dia malah tampak gelisah dan takut. Dia terus saja mengatakan, jika dirinya baik-baik. Dia juga memberitau, jika dirinya hanya sedikit tidak enak badan, karena terlambat makan akhir-akhir ini. Farel tampak memicingkan mata, tidak percaya.
Arkana yang sedari tadi diam, langsung angkat bicara, "Lo nggak usah tutup-tutupin lagi! Kita berdua udah tau dan masih banyak orang di luar sana, yang tau hal ini juga. Sekarang, gue kasih lo pilihan. Lo ikut sama kita berdua! Atau, lo tetap bungkam, sampai dikeluarkan secara paksa dan tidak diterima, oleh sekolah manapun?!" peringatannya, membuat Siswi itu ketakutan dan menangis.
Siswi itu memilih, untuk mengikuti Arkana dan Farel. Dia juga meminta, untuk membiarkan dia tetap sekolah, tanpa orang tuanya ketahui. Farel pun berjanji, hingga membuat Siswi itu, merasa lega. Tapi, dia sepertinya lupa, jika Arkana hanya diam dan tidak ikut berjanji.
...<\=>...
Aizha terlihat, tengah berjalan masuk ke dalam ruang Aples. Terlihat Siswi yang ditemui Arkana dan Farel, juga berada di dalam sana. Aizha pun pergi duduk, di sebelah Arkana, untuk berhadapan langsung dengan Siswi tersebut.
"Namamu siapa?" tanya Aizha, ketika berhadapan langsung, dengan Siswi tersebut.
Siswi itu, dengan kikuk menjawab pertanyaan Aizha, "Aaa-aku Milea, Kak."
"Milea?" ulang Aizha dan diangguki oleh Siswi itu, mengiyakan. "Bukan Mila?"
Milea tampak menggelengkan kepala, tidak. Namun, dia mengetahui nama itu. "Apa yang kalian cari, Kak Mila?" tanyanya memastikan.
"Kak?" gumam Aizha dan membatin, "Itu artinya, si Mila Kakak Kelas dan Milea, adalah korban baru?"
"Apa kamu tau, dia Kelas berapa?" tanya Aizha pada Milea.
Milea tidak tau. Dia menggelengkan kepala, sebagai jawabannya. Arkana pun, mengambil kesempatan, untuk bertanya pada Milea, "Siapa yang udah lakuin hal itu ke kamu? Bisma, Bagus, Wahyu atau Firman?"
Milea tampak menunduk kepala. Dia cukup lama, untuk memberitahu jawabannya. "Emmm, Fir-man Kak," sahutnya, dengan pandangan ke bawah dan tangan yang saling menggenggam.
"Apa dia..." tanya Arkana ragu-ragu. Dia bingung harus bagaimana, untuk mengatakannya. Aizha tampak memperhatikan dia, dengan begitu serius dan seksama, hingga membuat wajahnya memerah.
Farel yang mengetahuinya, tampak menahan tawa, dengan memalingkan wajah. Arkana pun buang muka, untuk menghindari mata Aizha. Hal itu, membuat Aizha mengerutkan kening, bingung dan heran.
"Kenapa kamu jawabnya kayak gitu? Emang, kamu tau, Arkana mau tanya apa?" pertanyaan itu, membuat Arkana tersentak dan meminta Milea, untuk tidak memberitahunya.
Milea pun tertawa kecil. Aizha yang merasa terasingkan, tampak menekuk wajahnya, kesal. Farel yang telah berhenti tertawa, menyodorkan sebuah laptop ke Aizha dan Arkana. Dia tampak memutarkan Vidio CCTV, tepat ketika Milea dan satu gadis yang lainnya, dilecehkan oleh dua orang Siswa. Namun, Arkana langsung mempause video tersebut.
"Ehhhh, kok dipause sih?!" protes Aizha, pada Arkana.
"Anak di bawah umur, minggir!" ketus Arkana dan mengambil alih laptop itu.
Aizha dengan sigap, menghentikannya dan menatap tajam Arkana. "Siapa yang kamu maksud, di bawah umur hah?! Milea yang di bawah umur aja, lakuin yang nggak seharusnya dia tau!"
"Enggak! Lo masih anak-anak!" tolak Arkana dan berdiri tegak, hendak pindah tempat.
Aizha yang kesal, ikut berdiri dan merebut laptop tersebut. Aksi rebut merebut pun terjadi. Mata Milea tampak ke kanan dan ke kiri, mengikuti Aizha serta Arkana. Sedangkan Farel sendiri, hanya menatap jengah.
Pada lain sisi, nampak pintu ruang Aples terbuka. Terlihat Cantika, Akhsan, Dirgantara dan Innara muncul, dari balik pintu itu. Ada juga, Siswi seumuran Milea yang menyusul belakangan, bersama Bunga. Mereka tampak terkejut, melihat Aizha dan Arkana.
"Kalian ngapain?" tanya Innara, dengan salah satu alis, naik ke atas.
Aizha pun melepaskan laptop itu, secara tiba-tiba. Hampir saja, Arkana hilang keseimbangan dan hendak jatuh ke belakang. Milea yang melihat gadis itu, tampak memasang ekspresi sendu.
"Innara! Dia mau ngelihat rekaman CCTV itu sendirian! Aku enggak dikasih ijin, untuk lihat!" ngadu Aizha, membuat kening Innara dan Cantika mengerut.
Mereka pun berjalan mendekat, ke arah Milea berada. Nampak, si Bunga juga, menyuruh Siswi itu, untuk duduk di sebelah Milea. Sedangkan Dirgantara, nampak berjalan mendekat ke arah Farel, meminta penjelasan.
"Kenapa elo, nggak ijinin Aizha, buat lihat tuh rekaman?" tanya Innara, menginterogasi Arkana. Dia seperti Ibu Aizha, yang tidak terima, anaknya dibuat kesal atau marah.
Arkana tak ingin menjawabnya. Dia hanya menjawab, jika bukan hal yang penting dan candaan biasa. Aizha yang tidak terima, langsung dibungkam oleh Arkana, dengan membuka topik, tentang kedua Adik Kelas mereka.
"Siapa namamu?" tanya Arkana.
"A-ku Desty, Kak," sahut Siswi itu, sedikit ketakutan.
"Desty? Itu artinya, kalian sama-sama baru? Siapa yang lakuin hal ini ke kamu, Desty?" tanya Aizha pada Desty.
"Itu..." Desty tampak khawatir. Namun, genggaman tangan Milea, membuatnya ada keberanian, untuk menjawab. "Wah-yu Kak."
Aizha tampak berdecak sebal. Mereka yang ada di ruangan, tampak memasang ekspresi kesal dan kasihan. Arkana pun mengatakan pada Desty dan Milea, untuk tetap menjaga diri mereka. Dia berjanji, akan menyelesaikan masalah ini, dengan cepat. Milea dan Desty menangis haru. Mereka berdua, langsung berterima kasih, pada Kakak Kelasnya.
...<\=>...
"Firman! Ini gaswat bener!" seru seorang pemuda.
Nampak, si Firman yang duduk di sofa kecil, dengan kaki di atas meja dan rokok di kedua jarinya, langsung memasang ekspresi kesal. "Apa?!"
"Ketua OSIS sama Wakilnya, ngintrogasi Milea, tadi siang!" sahut sang Teman, membuat Firman kesal dan menekuk rokok itu.
"Sialan!" umpat Firman begitu kesal. "Ayo, beri pelajaran Milea sekarang!" ajaknya dan meraih sebuah pisau. Sang Teman, tampak menganggukkan kepala, mengiyakan.
...รรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรร...
...Bersambung...โจ...
...Sampai jumpa, di bab selanjutnya, guys!๐๐...