
...Welcome to Alpha Female😘💕...
...Happy Reading ✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
"Ternyata, ada gunanya juga, gue bawa nih rotan Bokap," ucap Danil, sembari memukulkan rotan ke tangan satunya.
Aizha dan Bunga, sampai mengigit bawah bibirnya. Perasaan resah dan takut, melanda mereka semua. Ketika rotan itu melayang, Aizha dalam sekejap, langsung menghentikan waktu. Dia tak sanggup, menyaksikan kekerasan seperti ini.
"Aizha?" panggil Arkana, terkejut.
Aizha yang mendengarnya, langsung menoleh ke arah Arkana. Dia tampak sangat terkejut, karena Arkana tidak terpengaruh oleh kekuatannya. Padahal, semua yang ada di sekitarannya, telah mematung.
"Ba-Bagaimana bisa?!" Aizha tampak bingung.
Arkana menghela napas pelan. "Kamu tenang dulu, okay!" pintanya, dengan sangat ramah dan Aizha pun, menganggukkan kepala. "Kembalikan waktunya, seperti semula! kita bantu dua anak itu, setelah waktunya tiba."
"Tapi..." Aizha, sepertinya tidak sependapat, dengan Arkana. Terlalu menyakitkan, melihat Adik Kelasnya sendiri, diperlukan seperti itu. Dia sangat tau, bagaimana rasanya disiksa dan orang-orang, hanya menonton. Tak ada niatan, diantara mereka untuk menolong.
"Aizha, aku nggak tau pasti, apa yang kamu pikirkan sekarang. Tapi, jika kamu lakukan hal ini dan seandainya, mengambil rotan itu atau menghipnotis mereka. Bukankah, itu terlalu berisiko, untuk kamu dan dua anak itu?" tanya Arkana, membuat Aizha diam sejenak.
Aizha menyerah dan mengembalikan waktu. Rotan itu, langsung mengenai kedua tubuh Adik Kelas. Teriakan dua orang lelaki itu, berhasil meremas hati Aizha, Arkana, Cantika, Dirgantara, Innara, Akhsan, Bunga dan Farel. Bunga meminta, untuk tidak bisa lagi, mendengar suara anak-anak pecinta alam. Sistem Alpha pun, memutuskan pendengaran jarak jauh Bunga.
"Bugh! Bugh! Bugh!"
"Arghhhh!"
Mereka, para anak pecinta alam, tampak begitu menikmati, pemandangan yang menyayat hati itu. Aizha yang melihatnya, menjadi geram sendiri. Namun, Arkana tiba-tiba berbisik dan mengatakan, jika dirinya yang sekarang, tak beda jauh, dengan mereka. Tubuh Aizha, seketika melemas. Tatapan mata Arkana, berhasil membuatnya terdiam.
...<\=>...
Malam hari tiba. Dua pemuda yang disiksa oleh Danil tadi siang, dimasukkan ke dalam tenda, dengan sangat kasar. Kondisi tubuh mereka berdua, sangat memprihatikan. Mereka juga, masih belum mendapatkan makanan atau minuman.
Pada luar tenda, Anak-anak pecinta alam, tengah berkumpul. Mereka nampak, menunggu kehadiran seseorang yang sangat dinantikan. Beberapa montor dan mobil, tiba di lokasi. Arkana yang masih memantau, langsung memberikan kode pada teman-temannya, untuk segera menjalankan misi.
Dirgantara, Farel dan Bunga, langsung menyekap para Bintang yang akan memuaskan tamu. Sedangkan Arkana, Aizha, Cantika, Akhsan dan Innara, pergi menggantikan posisi mereka. Berkat sistem Alpha, mereka tidak akan dapat, dikenali oleh semua orang. Para tamu yang datang, akan tertipu dan tidak menyadari. Jika mereka telah masuk ke dalam jebakan.
Tenda level lima : Cantika✨
Seorang perempuan yang seumuran dengannya, masuk ke dalam tenda Cantika. Keisya yang mengantarkan gadis itu, tampak tersenyum sumringah dan berharap. Jika sang tamu, dapat menikmati malam indahnya. Mendengar hal itu, Cantika langsung tersenyum Smrik.
"Malam Kakak," ucap Cantika, dengan malu-malu. Dia mengenakan pakaian panjang dan sedikit tipis.
Perempuan itu pun duduk. Dia membuka rompi bajunya dan berbaring di atas kasur, yang ada di dalam tenda. "Cepatlah kau pijat aku! Tubuhku, serasa pegal semua!"
Cantika terkejut dan langsung menurut. Dia tak menyangka, jika kerjanya semudah ini. Tetapi, ketika dirinya sedang memijat. Perempuan itu, tiba-tiba berbalik badan dan menaruh tangan Cantika, ke dadanya. "Pegelnya, pindah ke sini. Bisakah, kau membuatnya nyaman?" pinta perempuan itu, dengan manja, hingga membuat Cantika tersentak.
"Ternyata, dugaan gue nggak salah," batin Cantika, tetap tersenyum lembut dan mengangguk.
Tenda level lima : Akhsan✨
Seorang Pemuda, kelas sepuluh muncul. Dia tampak terkejut, melihat sosok Akhsan. "Bukannya, gue udah minta cowok lembek dan pendek? Sial! Jangan-jangan, mereka juga mandang rendah gue!" umpat pemuda itu.
Akhsan yang baru saja membungkukkan badan, langsung berdiri tegak dan berkata, "Lebih baik, kamu terima saja Kakak ini. Aku sebenarnya, ada di level empat. Tapi kebetulan, mereka lagi nggak ada tamu buat level itu."
"Ehhh, yang bener Kak?" tanya pemuda itu, tak percaya dan Akhsan pun, menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Jadi, apa masalahmu? Ayo, kita bicara bareng. Kebetulan, aku ada bawa ini!" Akhsan menunjukkan vapor pada pemuda itu.
Pemuda itu menolak, karena Ibunya sangat tidak menyukai benda itu, apalagi narkoba. Akhsan pun tersenyum dan mendekatkan dirinya, pada pemuda tersebut. "Yakin nih, nggak mau? Sekali hisep, lo bisa merasakan kenikmatan yang jarang orang ketahui."
"Hmmm, baiklah, kita lihat aja nanti," ucap Akhsan dan pemuda itu, mengangguk dengan gaya cool.
Tenda level tiga : Aizha✨
Seorang Alumni sekolah mereka, adalah tamu Aizha. Dia perempuan polos, dengan pakaian yang sangat terbuka. Namun, Aizha merasakan, ketidak nyamanan perempuan itu, dalam memakai pakaian tersebut.
"Bisakah, kau ajari aku, untuk... proses memiliki anak?" tanya perempuan itu, kikuk dan resah.
Aizha yang terlihat badas dan cantik, tampak tersenyum smrik. "Kau meminta hal ini denganku? Apa kau bercanda?!" tanyanya, dan tertawa remeh.
Perempuan itu, langsung menundukkan kepala dan memainkan jari. Aizha pun menatapnya dan berkata, "Mana bisa, cewek sama cewek hamil?! Emangnya, sejak TK kau ini jurusan IPS, hah?! Minim sekali ilmu-mu ini!" omelnya.
Perempuan itu, langsung menangis dan bertanya, "Hiks hiks hiks, jadi aku harus gimana? Pacarku marah, karena aku nggak asik."
"Pakai nanya! Ya harusnya, kau ini pergi, pesan cowok level utama! Biar makin dong!" sahut Aizha ngegas.
Perempuan itu pun, menganggukkan kepala, paham. Dia langsung berdiri dan hendak pergi. Namun, sebelum perempuan itu membuka tenda. Aizha langsung mencegahnya dan berbisik, "Tapi, aku punya sesuatu, untuk membuat pacarmu terpikat!"
"Apa?" tanya perempuan itu dan Aizha, langsung tersenyum.
Tenda level satu atau utama : Arkana✨
"Sialan, apa dia ngajak gue ngegay?!" batin Arkana tidak terima dan kesal.
Ketika pemuda itu, hendak membuka celananya. Arkana langsung, menghentikan pemuda tersebut. "Eitsss, sebentar! Apa lo sering kemari?"
"Iya, kenapa?" tanya Pemuda itu, dingin.
"Biasanya sama apa emang beda-beda?" tanya Arkana, terlihat kepo di mata pemuda tersebut.
"Kayaknya, gue harus protes sama Bang Bastian!" ujar Pemuda itu, kembali memperbaiki celananya dan hendak memakai bajunya.
"Ck, ngambekan banget lo!" komen Arakan kesal.
Pemuda itu, menatap tajam Arkana. "Lo barusan, bilang apa?!"
Arkana tiba-tiba teringat sesuatu. "Bentar, Lo nggak salah tenda? Perasaan, tamu gue enggak ngajak kencan? Dia pingin pelampiasan."
"Emang! Menurut lo, gue udah nggak normal hah?!"
Arkana pun ber-ohh saja dan berkata, "Sorry lah, gue kira, lo mau ngajak anu. Soalnya, datang-datang, udah buka baju sama celana. Enggak salah dong, kalau gue bisa mikir kek gitu?"
"Terserah!" pemuda itu, sudah sangat geram dan langsung menonjok Arkana.
Arkana secara tiba-tiba, menghindari tonjokan tersebut. "Upsss, sorry!" dia pun berdiri tegak, bersiap-siap menerima pukulan pemuda tersebut.
"Enggak, gue lebih suka, lo begini!" ujar pemuda itu dan Arkana pun mengangguk paham. Pemuda itu, langsung memberikan pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi. Beruntung, Arkana dapat menghindarinya. Dia juga mengajak pemuda itu keluar, supaya lebih bebas.
Tenda level utama : Innara ✨
Innara yang sedari tadi menunggu, merasa bosan sendiri. Namun, tak berselang lama, seseorang masuk. "Maaf, aku telat ya?" ucapnya, sembari melepas jaket.
"Lohhh, bukannya dia...?" batin Innara terkejut, melihat sosok pemuda itu.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
... ...
...Sampai sini dulu, ya Guys. Sampai jumpa, di pertemuan bab selanjutnya!😘💕✨...