Alpha Female

Alpha Female
Bab 17



...Welcome guys......


...Happy Reading✨...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Cantika yang telah berganti baju. Tampak sibuk, membawakan beberapa bola basket di tangannya. Dia tampak begitu kesulitan, namun tak ada seorang pun yang membantu. Hingga akhirnya, Bunga muncul dan menubruk tubuh Cantika. Bola-bola itu jatuh, menggelinding ke segala arah, tanpa tujuan.


"Awww," keluh Cantika, kesakitan.


Bunga pun meminta maaf pada Cantika. Dia berulang kali, menundukkan kepala. Cantika tampak begitu kesal.


"Ck, lo lari nggak pake mata juga ya?!" omel Cantika dan lagi-lagi, Bunga hanya meminta maaf, sembari menundukkan kepala. "Udah lah, kalau beneran minta maaf. Bantu gue pungutin tuh bola-bola basket!"


"Baik!" Bunga langsung mengambil bola-bola basket tersebut. "Mau dibawa kemana?"


Cantika yang sedang memunguti bola basket itu, menoleh ke arah Bunga. "Biasa, ruang olahraga."


Bunga menganggukkan kepala, paham. Cantika dan Bunga pun, pergi ke ruang penyimpanan alat-alat olahraga. Nampak, mereka berdua sibuk merapikan peralatan tersebut.


"Arghhh, sialan! Pak Eko kebiasaan banget, bikin gue menderita gini!" gerutu Cantika, sambil menata peralatan olahraga tersebut.


"Asik ya, bisa dimintai tolong Guru. Aku dari dulu, pingin... Banget, dimintai tolong Guru. Tapi, nggak pernah ada yang mau nyuruh," keluh Bunga, membuat Cantika menoleh.


Cantika dan Bunga, telah selesai merapikan peralatan olahraga tersebut. "Kenapa nggak ngajuin diri sendiri, sebelum disuruh?" tanya Cantika.


"Malu," sahut Bunga, dengan senyum malu-malunya.


Cantika pun mendesah. Dia dan Bunga, keluar dari ruang olahraga tersebut. Cantika tak lupa, mengunci pintu. Mereka berdua pergi, entah kemana.


"Lo nggak masuk Kelas?" tanya Cantika, heran.


"Emmm, teman satu kelasku pada ribut, karena aku. Mereka nggak ada yang mau satu kelompok, denganku," curhat Bunga, murung.


Cantika sekarang mengerti, kenapa waktu Bunga menabraknya tadi. Dia tampak sedang menangis. Jika, mengingat berita yang lagi heboh akhir-akhir ini. Cantika semakin mengerti. Alasan teman-teman Bunga, tak menginginkan dia, untuk bargabung dalam kelompok mereka.


"Lo sombong kalik! Meskipun kaya, jangan mandang rendah orang lemah! Gini-gini, kita juga manusia dan diciptakan oleh Tuhan yang sama!" omel Cantika, memihak pada Vlora.


Bunga terlihat murung. Namun, dia tidak bisa biarkan, Cantika salah paham dengannya. Dia harus berusaha, untuk menjelaskan. Jika seandainya, Cantika masih tidak percaya. Dia akan menyerah.


"Aku nggak maksa kamu, buat percaya sama omonganku ini. Tapi, berita yang beredar itu, sebagiannya palsu. Vidio waktu aku nyuruh Vlora dan teman yang lain, buat nurutin perintahku itu, sebenarnya permintaan mereka sendiri. Aku juga udah curiga, karena mereka ngevidio. Tapi mereka bilang, ini cuman buat main-main aja," ungkap Bunga, sembari menahan tangisnya.


Cantika tampak tidak percaya. "Bisa lo kasih penjelasan lagi ke gue? Kalau berita itu emang salah, ini waktunya lo buka suara. Gue juga nggak mau, nambah-nambah dosa, cuman karena berita lo."


"Emmm, kamu lihat yang ditunjukin Alpha di Aula?" tanya Bunga dan diangguki oleh Cantika. "Sebenarnya, aku sama sekali, enggak minta tolong ke Alpha. Aku nggak tau, kenapa Alpha lakuin hal itu. Lihat ini!" Bunga menunjukkan isi chatnya, dengan sang Hacker.


Cantika pun melihat layar handphone itu. Terlihat Bunga yang meminta tolong pada sang Hacker, dengan penuh harapan. Dia juga menjajikan uang besar, jika Hacker itu berhasil. Bunga ingin mengetahui, siapa Aloha yang sebenarnya, karena dia butuh penjelasan. Dia juga minta pertanggung jawaban, karena telah membuatnya jauh dari Vloraa dan Teman-temannya yang lain.


"Hah, bentar-bentar! Apa yang mau lolakuin, kalau ketemu dia?!" tanya Cantika penasaran dan sedikit khawatir, mengingat Alpha bukan orang sembarangan.


"Semua ini, karena ulah Alpha! Enggak ada satu orang pun yang percaya sama omonganku! Mereka semua, jadi musuhin aku, karena Alpha! Aku benci dia!" seru Bunga, sembari menangis dan sedikit emosi.


"Apa?!" Cantika tak percaya, dengan apa yang didengarnya barusan.


"Aku mau, mengungkap siapa sebenarnya Alpha itu! Aku juga mau, dia jujur sama para Murid, kalau kejadian di Aula hari itu, enggak ada sangkut pautnya denganku!" ucap Bunga emosi.


"Santai... Santai... Kenapa lo emosi gini ke gue?"


Bunga menundukkan kepala dan meminta maaf. "Aku cuman capek, karena sendirian terus dan selalu aja dihina. Padahal, aku selalu turuti mau Vlora sama teman-teman yang lain. Tapi, kenapa jadi gini semua. Mereka juga nyalahin aku. Nggak ada yang mau denger penjelasanku," rengeknya.


"Lo kalau mau ngejelasin, harus ada bukti yang kuat!" ujar Cantika.


"Tau! Mangkanya, aku cari Hacker buat nemuin Alpha!" sahut Bunga, marah.


Cantika pun diam. Entah kenapa, dia teringat jika Bunga ada Siswi cantik. Namun, dengan kapasitas otak yang tidak sesuai, alias bodoh dan polos.


"Oke, gue percaya," ucap Cantika.


Bunga menatapnya, kesal. "Aku nggak butuh keterpaksaan buat percaya."


"Ck, gue nggak terpaksa. Sebenarnya, ada beberapa Murid yang percaya sama lo dan Alpha. Mengingat lo yang polod dan bodoh. Gue, jadi percaya sama lo," jelas Cantika, tanpa melihat ke arah Bunga.


"Apa?"


"Gue sekarang tau, kenapa lo diem waktu dipojokin Vlora, di daerah kampungnya hari itu. Lo ngerasa bersalah, saking polosnya. Lo juga tertipu dan diam, karena kebodohan lo! Benar bukan?" tanya Cantika, tanpa memikirkan perasaan Bunga.


Bunga menatap Cantika, ketus. "Mana aku tau?!"


Cantika tersenyum, dia semakin yakin, kalau Bunga memang polos dan bodoh. Dia pun meminta Bunga, untuk kembali ke Kelas. Jika tidak ingin, dia akan menemaninya ke BK, meminta surat ijin pulang. Siapa sangka, Bunga lebih memilih untuk pergi UKS. Dia juga, melupakan soal Cantika yang telah mengatai dirinya.


...<\=>...


Innara belum lama, mendapatkan pesan dari Alpha, alias Aizha. Jika, Alex kembali menggagu Innara. Dia diminta, untuk menghubungi Alpha, melalui kontak itu.


Alex :


Tapi, gue bakalan berbaik hati sekarang. Gue kasih lo kesempatan buat minta maaf hari ini.


Datanglah ke ***** (alamat)


Gue bakalan tunggu lo. Jangan sampai, lo bikin kesabaran gue habis dan kirim vidio itu ke seluruh dunia ini!


Chat ancaman yang dikirim oleh Alex, membuat Innara ketakutan. Dia langsung memberitau Alpha, melalui chat. Dia tidak menelpon, karena setingan yang dibuat oleh Aizha.


Aizha yang sedang berbaring di Rumah Sakit, tampak terkejut. Melihat terusan chat Innara, tentang Alex yang mengancamnya. Membuat Aizha, langsung mencabut bius yang menempel pada punggung tangannya. Dia kabur dari Rumah Sakit, sembari menelpon Arkana.


Terlihat di Sekolah, Innara telah pergi, dengan Sopirnya. Arkana yang sedang membaca buku di dalam Kelas, mendapatkan panggillan dari Aizha, melalui jam tangan canggihnya. Dia pun keluar dari Kelas, pergi menuju kamar mandi.


"Hallo, ada masalah apa lagi?" tanya Arkana, setelah tiba di dalam kamar mandi.


"Lama banget, njir!" maki Aizha pada Arkana. "Cepat ke lokasi yang aku kirim sekarang! Alex akan kembali menyiksa gadis itu. Jika kau terlambat, akan aku pastikan, hidupmu dan para anggotamu menderita seumur hidup! Ingat, kau lah yang mengajakku kerja sama!" ucapnya, membuat Arkana mengernyit.


Aizha telah mematikan telepon itu, tampa pamit. Arkana tampak begitu kesal dan bingung. Bagaimana caranya, dia meminta teman-temannya, untuk membolos Sekolah. Sedangkan, Sekolah mereka berbeda-beda. Dia pun mau tidak mau, memaksa beberapa teman-temannya, untuk membolos Sekolah. Dia tidak tega, jika harus menyuruh semua anggota.


"Arkana?" panggil Farel, terkejut.


Arkana yang baru saja keluar, juga tampak terkejut. Dia khawatir, jika Farel mendengar obrolannya. "Lo sejak kapan di sini?"


"Baru aja," sahut Farel dan Arkana pun mengangguk. "Ohh iya, Pak Eko baru aja manggil kita. Dia mau ngobrol sama anak Osis, tanpa anggota."


"Lo handel aja!" ucap Arkana, sambil menepuk bahu Farel.


Farel tampak terkejut dan menoleh ke arah Arkana. "Gue?" tanyanya, tak percaya. Namun Arkana langsung pergi, tanpa memberikan penjelasan.


"Sialan!" maki Farel, kesal. Dia pun segera pergi ke dalam kamar mandi, untuk malaksanakan tugas alam.


<\=>


Jam pulang Sekolah, tiba. Cantika yang sedang berada di parkiran, langsung mengambil montornya. Dia bawa pergi ke luar area Sekolah. Ketika di pertengahan jalan, ban montornya bocor. Cantika pun menghentikan aktivitas dia dan turun dari atas montor.


"Arghhh, sialan!" maki Cantika, sembari melihat ban montornya yang bocor.


Cantika pun menuntun montornya, menuju bengkel yang ada. Tak berselang lama, sebuah mobil merah muncul. Kaca mobil itu menurun dan menampakkan wajah Bunga yang tersenyum lebar.


"Butuh bantuan?" tawar Bunga.


Cantika pun menolak, dengan sombongnya. Dia lanjut menuntun montor itu, tanpa memperdulikan Bunga. Bunga terlihat sedikit kesal. Dia turun dari atas mobil dan menahan montor tersebut.


"Sombong banget sih, orang mau dibantu kok, malah nolak kek gitu!" tegur Bunga dan Cantika pun menoleh.


Cantika menatap Bunga jengah. "Terserah gue lah! Lo kalau niat bantu, buruan bertindak!"


"Oke," sahut Bunga dan melepaskan montor Cantika. Dia pergi mengambil handphonenya, dari dalam mobil. Nampak, dia yang sedang menghubungi seseorang.


"Lo nelpon siapa?" tanya Cantika.


"Tanya Bapakmu!" sahut Bunga dan tertawa kecil.


Cantika langsung menatap Bunga, judes. Mereka berdua pun saling diam, sembari menunggu orang yang dihubungi Bunga. Beberapa menit kemudian sebuah mobil, dengan bagasi yang besar dan terbuka, muncul.


"Maaf, lama ya, Mbk?" tanya orang Bengkel.


"Lumayan Kak," sahut Bunga dan memberitau dua orang pria itu, untuk mengambil montor Cantika. Dia juga berbisik pada salah satu pria, hingga membuat Cantika penasaran.


"Baik Kak, kalau sudah selesai. Kami akan hubungi," kata orang Bengkel itu dna diangguki oleh Bunga.


"Kira-kira, berapa lama ya, Mas?" tanya Cantika pensaran.


Bunga pun tersenyum dan menyuruh mereka, untuk segera pergi. Cantika mengernyitkan kening dan hendak menahan mereka. Namun, Bunga memeluk tubuhnya erat-erat, membiarkan para orang Bengkel itu pergi, dengan montor tersebut.


"Yaaa! Montor gue njir!" teriak Cantika, namun mobil itu telah pergi menjauh.


"Santai... Kalau mereka penipu, tinggal aku beliin montor baru buat kamu," ucap Bunga, tanpa rasa bersalah, melihat wajah kesal Cantika.


"Awas aja lo, ya! Kalau sampek, lo nggak kembaliin tuh montor! Gue bikin hidup sekolah lo, makin menderita!" ancam Cantika, marah.


"Hahahaaa, oke deh! Kalau gitu, ayo masuk! Biar aku antar ke rumah lo!" tawar Bunga, sambil berjalan masuk ke dalam mobil.


Cantika juga terpaksa ikut, mengingat jarak rumahnya yang jauh dari Sekolah. "Lo bakalan nyesel, kalau lihat rumah gue nanti."


"Kita lihat aja dulu." Bunga tersenyum senang dan mengemudikan mobilnya ke jalan.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Terima Kasih, karena telah berkunjung ke novelku ini. Maaf, kalau ada salah tulis atau typo. Semoga kalian suka✨


See you ...💕