Alpha Female

Alpha Female
Bab 75



...Welcome to Alpha FemaleπŸ˜˜πŸ’•...


...Happy Reading ✨...


...Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—...


Aizha, Arkana, Innara dan Akhsan, berada di mobil paling depan. Mobil yang berada di belakang, berisi Bunga, Farel, Cantika dan Dirgantara. Setiap mobil, memiliki satu Sopir dan Bibik, untuk menyiapkan semua keperluan di Vila nanti.


Mereka semua, tampak begitu senang, menikmati pemandangan. Pertengahan jalan, mobil paling depan, terlihat begitu sibuk, merundingkan masalah yang ada di sekolah mereka. Sebaliknya, mobil paling belakang, terlihat sunyi. Mereka sibuk, dengan aktivitas masing-masing. Cantika dan Dirgantara, sibuk membaca buku. Bunga serta Farel, hanya melihat pemandangan di luar jendela.


Butuh waktu satu setengah jam, untuk mereka tiba di Vila. Mereka sengaja, tidak sampai naik ke atas, karena sedikit kesulitan, jika menggunakan mobil yang kini dipakai. Mereka harus menggunakan mobil khusus atau montor.


"Selamat datang!" sapa Bapak dan Ibu, pemilik Vila.


Bukan main-main, jiwa laki-laki Arkana, Farel, Dirgantara dan Akhsan, seketika runtuh. Vila itu sangat besar. Ketika mereka tiba di dalam, Vila itu terlihat sangat luas dan tertata, dengan sangat rapi. Ada juga kolam renang, dengan pemandangan yang sangat indah dan memanjakan mata.


Bapak dan Ibu pemilik Vila, berpamitan pada mereka semua. Bibik yang Aizha ajak, langsung pergi ke dapur, untuk membuat masakan dan minuman. Para Sopir juga, pergi menaruh koper di depan pintu, sesuai arahan Aizha. Pada Vila ini, terdapat empat kamar, dapur, ruang TV, ruang tengah, ruang tamu, ruang olahraga, kolam renang, gazebo dan garasi yang cantik. Terlihat empat montor, bertengker di garasi itu.


"Buset, montornya bagus-bagus semua!" seru Cantika, heboh melihat montor-montor itu.


"Tapi, emang kalian berdua bisa naik montor?" tanya Innara, sembari melihat Aizha dan Bunga.


Aizha dan Bunga, menoleh ke arah Innara. "Aku mah, kalau naik bisa. Tapi jangan tanya, cara ngendarainnya gimana," kata Aizha, di akhiri tawa kecil.


Bunga ikut tertawa dan setuju. Innara pun tepuk jidat. Arkana yang mendengarnya, memberikan saran, untuk anak laki-laki, menggoncengkan para gadis. Farel, Dirgantara dan Akhsan, satu pendapat dengan Arkana. Aizha, Innara dan Bunga, ikut menyetujuinya. Hanya, Cantika seorang yang menolak.


"Nooo! Gue maunya yang bawa montor!" seru Cantika, menolak.


"Ya udah, lo goncengin gue aja. Gue juga udah lama, enggak pakai montor," sahut Dirgantara dan Cantika pun ber-ok, dengan gaya jari.


"Oke, masalah montor udah selesaikan? Mending, kita sarapan lagi yuk, karena harus ke bukit segera!" ajak Aizha dan disetujui oleh mereka semua.


Aizha dan Innara, tampak berada paling depan. Belakang mereka, ada Akhsan dan Arkana. Terlihat belakang, mereka berempat Cantika dan Dirgantara, sibuk bicara. Cantika tampak usil, menggoda Dirgantara. Sedangkan, Bunga serta Farel, hanya saling diam, dengan suasana canggung.


...<\=>...


"Mereka udah stay di Bukit," ucap Aizha, memberitahu.


Arkana yang sudah datang, dengan montor yang dipakai pun, menyarankan untuk segera pergi ke atas Bukit. Akhsan sempat menanyakan, apakah mereka yakin, tidak akan membuat tenda? Namun, Aizha menjawab tidak. Jika membuat tenda, sebenarnya memiliki beberapa resiko, antara lain bakalan ketahuan dan kondisi Aizha yang suka tiba-tiba down.


Arkana pun menyuruh teman-temannya, untuk segera pergi ke atas Bukit. Udaranya terasa semakin dingin, sedikit demi sedikit. Beruntungnya, mereka menggunakan jaket dan ada juga yang pakai topi. Setibanya di lokasi, mereka dapat melihat, aktivitas para Murid seangkatannya dan Adik Kelas, yang terlihat sibuk membangun tenda. Mereka berdelapan, sembunyi di tempat yang cukup jauh. Namun, berkat bantuan Alpha, mata mereka dapat dengan jelas, melihat aktivitas itu.


"Lohhh, ada Keysa, Ayu sama Laras?" Bunga terkejut, melihat ketiga gadis itu, tengah membangun tenda bersama anak laki-laki yang lain.


"Aku harap, dia tidak termasuk Pelakunya. Jangan sampai, kita udah menolong orang yang salah," ucap Aizha dan disetujui Innara, Bunga serta Cantika.


Keysa adalah korban pelecehan Bagas. Sedangkan Ayu dan Laras, adalah korban pelecehan Firman. Mereka bertiga hadir, bersama keluarganya, beberapa hari yang lalu. Keysa sempat marah dan mengatai Bunga, hingga mendorongnya sampai jatuh, karena Bagas tidak hadir. Beruntung, Cantika langsung datang dan menenangkan Keysa.


"Sebenarnya, gue semalem baru dapat info, kalau Laras sama Danil jadian. Ada kemungkinan besar, Keysa sama Ayu, punya hubungan spesial sama mereka juga," kata Farel memberitau.


Danil adalah Wakil Ketua, dari ekskul pecinta alam. Aizha yang sedang berpikir, seketika terkejut. Arkana secara tiba-tiba, meminta para temannya, untuk melihat ke arah timur tenda. Mereka semua, langsung mengikuti perintah Arkana. Terlihat, tiga orang cowok, memberikan uang ke Frans, sang Bendahara di ekskul tersebut.


Hologram sistem Alpha, tiba-tiba muncul. Terlihat, sistem sedang mengaturnya. Supaya mereka, hanya dapat fokus, mendengarkan pembicaraan satu titik, tidak tercampur suara lain. Ketika prosesnya selesai, mereka langsung dapat mendengar, obrolan keempat laki-laki itu.


"Kenapa duit lo, kurang sejuta?!" protes Frans, setelah menghitung uang yang diterimanya.


Seorang pemuda, dengan ketakutan, meminta maaf pada Frans, hingga terduduk di bawah. Frans yang kesal pun, menampar wajah Pemuda itu, dengan cukup keras. Si Ketua ekskul, bernama Bastian pun muncul. Dia menegur si Frans, dengan suara biasa dan sedikit lembut. Dia juga, membantu pemuda tersebut, untuk berdiri tegak.


"Lain kali, jaga sikap, lo dong Bro! Kalau anak-anak lain lihat dan ketakutan gimana? Bisa gagal, acara kamping kita!" tegur Bastian, tak meninggikan nada suara.


Frans pun meminta maaf dan ijin pergi, untuk menyimpan uang itu. Bastian, nampak menganggukkan kepala dan duduk, di bangku yang ditempati Frans barusan. Matanya, terus saja, menatap satu per satu, wajah ketiga pemuda tersebut.


"Apa ada kesulitan? Coba kalian katakan, biar aku bisa kasih saran, sebagai Kakak Kelas yang baik!" ucap Bastian sangat ramah.


"Maaf Kak, setelah kemunculan Alpha. Aku jadi kesulitan, untuk cari orang. Mereka enggak mau lagi, mainin orang. Meskipun, aku udah tawarin, Kakak Sasya yang paling favorit, dengan harga murah. Aku juga, tawarin si Kutu Buku, sama mereka semua, tapi nolak," jelas Pemuda itu dan Bastian pun, mengangguk-anggukan kepala.


"Kalau kalian berdua?" tanya Bastian, pada dua pemuda yang lain.


"Teman saya sendiri, enggak peduli sama Alpha dan masih mau pakai jasa kita, Kak. Beberapa, ada yang ketakutan, tapi saya berusaha ajak bicara, untuk mau lanjut. Saya juga, berhasil mendapatkan teman baru, dengan pesanan kelas Utama," ucap pemuda itu, dengan bangga.


Bastia tersenyum senang dan bertanya, "Apa dia menginginkan Syasa, untuk bercinta?"


Pemuda itu menggelengkan kepala, tidak. "Dia mau si Kutu Buku, untuk melampiaskan kemarahannya, karena si Kakak telah masuk ke universitas terbaik di Amerika Serikat!"


"Waw!" Bastian tampak terpukau, hingga bertepuk tangan. "Enggak tau kenapa, gue bisa pahami situasinya saat ini. Kita nggak bisa menunda hal ini. Lo harus bilang ke Danil sekarang, buat kirim si Kutu Buku ke tuh anak!" suruhnya.


Pemuda itu langsung mengiyakan dan pergi, melaksanakan perintah Bastian. Bastian pun kembali bertanya, dengan pemuda satunya lagi. Dia tampak sedikit kikuk. Namun, Bastian nampak sabar menunggu jawaban.


"Saya cuman dapat dua orang Kak. Kurang satu, mereka juga cuman ngambil yang terbawah, kelas lima," sahut Pemuda itu, resah.


"Lohhh, kenapa duitnya pas?" tanya Bastian.


"Iii-itu, karena pa-kai uang sa-ya sendiri, Kak," jawab Pemuda itu dan menelan salivanya, dengan berat.


"Hmmm, itu artinya kalian telah gagal dong. Kalian tau konsekuensi bukan?" tanya Bastian dan mereka berdua, menganggukkan kepala, lemah. "Enaknya gimana, ya?"


Mereka berdua, tampak begitu khawatir dan menundukkan kepala. Bastian pun, memanggil anggota yang lain, untuk segera berkumpul di tengah-tengah. Dia juga, membawa kedua pemuda itu.


Aizha, Cantika, Bunga dan Innara, tampak langsung menutup mata mereka. Arkana, Farel dan Dirgantara, juha spontan menutupi pandangan Aizha, Bunga serta Cantika. Sedangkan, Akhsan yang telah mengetahui. Jika Innara, telah lebih dahulu menutup matanya, memilih untuk tetap menonton.


Pakaian dua cowok itu, benar-benar di lepas. Tak ada sehelai benang pun, berada di tubuh mereka. Beberapa anak perempuan, nampak menggoda kedua pemuda itu, hingga merasa malu dan ingin menangis. Dinginnya udara di sini, membuat tubuh mereka berdua, juga bergemetar. Apalagi, ketika empat orang, melempar air ke arah mereka, dengan ember yang dibawa. Pemuda itu, langsung bergemetar hebat dan meminta ampun. Sayang, permintaannya tak didengar. Mereka semua langsung heboh, melihat kehadiran Danil.


"Enggak mungkin!" gumam Aizha, tak percaya.


...Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—...


...Sampai sini dulu, ya Guys. Sampai jumpa, di pertemuan bab selanjutnya!πŸ˜˜πŸ’•βœ¨...


...Maaf, jika ada typo, kekurangan dalam isi cerita atau ketidak sesuaian yang kalian harapkan. Semoga, kita semua selalu diberikan kesehatan dan umur panjang yang berkah, see you πŸ˜˜πŸ’•...