Alpha Female

Alpha Female
Bab 20



...Welcome to Alpha Female✨...


...Selamat membaca✨...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Tiga hari kemudian, Innara yang sedang berbaring di atas ranjang Rumah Sakit, tampak begitu serius, dengan handphonenya. Tak berselang lama, sang Dokter yang merupakan Tante-nya datang.


"Tante kan udah bilang, jangan main handphone dulu, Nar!" omel Tante, setibanya di dalam kamar Innara.


"Tante, sekali... ini aja! Ijinin aku, keluar sebentar ya, plisss! Ini penting banget!" pinta Innara, sembari memohon.


"Enggak ada!" tolak Tante, tegas. Dia juga menyuntikkan sesuatu ke kantong infusnya. "Kalau kamu, coba-coba untuk kabur! Tante akan laporin hal ini ke Orang tuamu!"


Innara tampak kesal. Tante pun pamit pergi, untuk mengurusi Pasien yang lain. Setelah Tantenya pergi, Innara memanggil seseorang, dengan cara vidio call. Nampak seorang Bapak baru baya dan anak yang sedikit aneh atau id*ot. Namun, orang tersebut sangatlah pintar dalam IT.


"Aku mau, kamu cari tau tentang dia secepatnya! Akan aku beri permen, es krim dan apapun yang kamu mau!" ujar Innara.


Orang yang ada pada layar handphone Innara, tampak begitu senang, sambil bertepuk tangan. Dia pun memberikan jempol tangan ke Innara, dengan artian siap. Innara tersenyum dan memberikan keperluan pemuda gemuk itu, untuk mencari tau. Siapa yang sebenarnya Alpha itu.


<\=>


Aizha yang juga berada di Rumah Sakit, tampak murung. Bibik menyuapi Aizha, sembari mengomel. Aizha terlihat seperti anak kecil. Dia sudah meminta maaf berulang kali. Namun, Bibik malah semakin mengomel.


"Bibik kan udah bilang berulang kali! Jangan pakasain diri sendiri! Kalau sakit bilang! Kalau pusing ngomong! Kalau capek istirahat! Apa sulitnya toh, lakuin hal itu?" omel Bibik, Aizha pun kembali meminta maaf. Dia juga berjanji, untuk melaksanakan ucapan Bibik.


"Jangan cuman janji sama minta maaf! Harus benar-benar dilakuin! Kalau cuman ngomong doang ma, siapapun juga bisa! Manusia itu, kalau udah ngomong sama janji, sukanya nyepelein. Giliran dipraktekin aja, sulitnya minta ampun!" omel Bibik, tanpa henti. "Disuruh nyapu aja, loh. Udah jawab iya, tapi ngelakuinnya entah jaman kapan!" curhat.


Aizha, hanya tertawa kecil. Bibik pun kembali mengomel, karena Aizha malah tertawa. Tak berselang lama, panggilan vidio call dari Mamah Vivi. Bibik dan Aizha mulai panik.


Bibik pergi mengambil baju dari dalam tas. Dia membantu Aizha, untuk bersiap-siap. Bibik juga menuntun Aizha, untuk berjalan menuju sofa yang ada dalam kamar.


Panggilan vidio call itu pun, diterima oleh Aizha. Nampak pada layar tersebut, ada Ayah Hasan, Mamah Vivi dan Diego. Mereka tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada Aizha.


"Sayangkuuu, panjang umur ya! Maaf, akmi telat. Padahal, udah tiga hari yang lalu," ucap Mamah Vivi, riang.


"Kak, happy brithday! Paketanku minggu depan datang. Kakak harus terima ya!" kata Diego, sang Adik.


"Sayang, gimana kabarmu? Kamu happy kan?" tanya Ayah Hasan, khawatir.


Mereka bertiga, bicara secara bersama. Aizha, hanya tersenyum kaku, melihat keluarganya. Dia serasa ingin menangis. Matanya juga, telah berkaca-kaca, membuat keluarganya khawatir.


"Kakak, are you okey?" tanya Diego, khawatir.


"Im oke, aku cuman kangen aja sama kalian," ucap Aizha dan tersenyum lembut. "Aku juga happy banget di sini! Kalau kalian nggak percaya. Tanya aja sama Bibik. Kemarin, waktu aku ulang tahun aja. Temenku kasih kejutan bareng Bibik, Pak Satpam sama Pak Sopir."


"Serius? Wahhh, Mamah ikut seneng, sayang!" ucap Mamah Vivi.


"Bibik mana?" tanya Ayah Hasan.


"Bibik! Ayah nyariin nih," panggil Aizha dan Bibik pun muncul, pada layar tersebut.


"Yang dibilang, Aizha itu bener, Bik?" tanya Ayah Hasan, memastikan kebenarannya.


"Iya Pak, mereka sampek dekorin ruang tamu dan keluar malam-malam, cuman buat Mbk Aizha aja," ucap Bibik, memberitau.


Ayah Hasan tersenyum senang dan ikut bahagia. Dia senang, Aizha benar-benar telah memiliki teman. Dia berharap, teman-teman Aizha, akan selalu setia dan menolong. Mereka pun mengaminkan secara bersamaan.


"Ohh iya, Mamah udah cek pengeluaran kamu tadi. Ternyata, bulan ini pengeluaranmu banyak banget ya," ungkap Mamah Vivi, membuat Aizha tersenyum kikuk.


Ayah Hasan, mengernyitkan kening. "Kamu nggak buang-buang uang, secara sengajakan, Aizha?"


"Enggak Yah! Aku beneran pakai, buat keperluan pribadiku. Aku juga, belanjaiin uang itu, buat ngasih temen!" jelas Aizha.


Ayah Hasan mulai curiga. "Kamu... diperas?"


"Apa?!" Aizha terkejut.


"Kamu diperas, sayang?" tanya Mamah Vivi, khawatir.


"Enggak! Kalian ini ngomong apa sih?! Mamah inget kan, Cantika yang datang ke rumah hari itu?" tanya Aizha dan Mamah Vivi pun menganggukkan kepala. "Aku dateng ke rumahnya. Waktu itu, kedua adiknya pada ngambek nggak mau makan. Mereka bosen, makan tempe, tahu, telur. Jadi, aku beliin tuh ayam sama beberapa persediaan makanan yang lain. Aku juga, ada beli mainan buat mereka berdua."


"Ohhh," sahut Mamah Vivi.


"Kamu jujur kan?" tanya Ayah Hasan, masih tidak percaya.


Diego yang sedari tadi menyimak pun angkat bicara. "Ayah cuman khawatir sama Kakak. Bagaimana pun, Kakak Putri Ayah satu-satunya," ucapnya dan diangguki Ayah Hasan.


"Ayah bukannya nggak percaya, Aizha. Ayah cuman khawatir, kamu kenapa-kenapa di sana. Apalagi, Oma nggak bisa nemenin kamu, karena sakit," kata Ayah Hasan, berusaha menjelaskan pada Aizha, untuk tidak salah paham. "Saudara Ayah juga punya keluarga masing-masing. Jarak antara rumah kita pun jauh. Kamu Ayah minta, buat tinggal di sini, enggak mau."


"Ayah... Aku minta maaf. Aku nggak sepinter Diego, Yah. Menguasai materi dan bahasa asing, bukan hal yang buat ku. Aku lebih suka tinggal di sini," ucap Aizha dan sang Ayah pun mengehela napas pelan.


Mamah Vivi, angkat bicara. "Mas... Aku kan udah bilang, kalau kamu mau tinggal serumah sama Aizha. Pilihannya ada dua, tinggalkan kerjaanmu yang ada di sini atau cari orang, untuk kamu percayai, pegang perusahaan ini."


"Bukannya, sua pilihan itu sama aja, minta Ayah ninggalin kerjaannya yang ada di sini?" tanya Diego.


"Enggak dong," sahut Mamah Vivi. "Kalau pilih yang pertama, Ayah nggak bakalan lagi berurusan, dengan kerjaan yang ada di sini. Tapi, kalau Ayah pilih yang kedua. Ayah tetap akan bekerja di sini, namun tak harus membuatnya menetap, karena sudah ada Perwakilan."


Diego pun ber-ohh saja. Aizha tampak menolak. Dia membuat Ayahnya, untuk mempercayai dia. Dia berjanji, akan menjaga dirinya baik-baik dan meminta Ayah, untuk tidak meninggalkan pekerjaan itu.


Perdebatan pun berakhir. Ayah Hasan, akan berusaha mempercayai Aizha sepenuhnya. Mereka bertiga, berpamitan pada Aizha, dengan begitu hangat.


Bibik menuntun Aizha ke ranjang. "Mbk Aizha, saya sebenarnya ngerasa bersalah sama Bapak dan Ibu. Mereka pasti, sudah merasakan hal tidak enak. Karena itu, mereka resah dan sulit mempercayai ucapan Mbk Aizha. Bagaimana pun juga, ikatan orang tua dan anak itu, sangatlah melekat dan kuat."


"Aku tau Bik, tapi tolong... Tepati janji Bibik. Jangan, Bibik kasih tau mereka, kalau aku sakit!" mohon Aizha dan Bibik pun, terpaksa menerimanya. Dia tak ingin, Aizha sendirian dan memikirkan hal konyol, seperti bunuh diri.


<\=>


Jam pulang Sekolah tiba. Cantika pun pergi pulang ke rumahnya, menggunakan montor yang sedikit berbeda. Dua hari yang lalu, Bunga dan orang bengkel datang, dengan montornya. Nampak, montor itu terlihat bersih dan baru. Bunga memperbaiki sedikit mesinnya dan mempercantik montor itu.


"Iii-ini montor gue?" tanya Cantika, tak percaya.


Bunga tertawa kecil. Dia senang, melihat wajah Cantika yang terkejut, seperti orang tak bisa berkata-kata. Orang Bengkel itu pun, ijin pergi duluan. Mereka pamit dan meninggalkan area Rumah Cantika. Nampak dari kejauhan, Bima dan Cika berlari menghampiri mereka berdua.


"Kak Bungaaa!" panggil Cika, penuh semangat dan riang.


Bunga pun melambaikan tangan, sembari tersenyum lebar. Cika yang sedang berlari, langsung memeluk erat Bunga, hingga kehilangan keseimbangan. Untung saja, Cantika berhasil menahan punggung Bunga. Supaya, mereka berdua tidak jatuh.


"Cika, pelan-pelan! Kak Bunga, hampir aja jatuh tuh, karena kamu!" tegur Bima pada sang Adik.


Cika yang telah melepaskan pelukannya, meminta maaf pada Bunga, "Maaf Kak Bunga."


"Nggak papa kok, Kakak malah seneng. Ohh iya, Kakak ada bawa hadiah buat kalian!" ucap Bunga pada Cika.


Bunga pergi menuju mobil, untuk mengambil barang bawaannya. Terlihat dua buah pizza besar komplit, di tangan Bunga. Cantika, Cika dan Bima terkejut, melihatnya. Cantika terus saja berterima kasih. Dia merasa tidak enak, dengan Bunga.


Bunga hanya bisa tersenyum. Dia senang, bisa bertemu, dengan Cika dan Bima. Namun, dia harus segera pergi, karena ada urusan. Dia pun berpamitan dan pergi meninggalkan area itu.


Mengingat hari itu, Cantika langsung tersenyum, sembari mengendarai montor. Tetapi, senyum itu seketika pudar. Nampak dari spion montor, Cantika melihat lima montor tengah mengikuti dirinya.


"Ohhh, mau cari gara-gara lo pada," gumam Cantika dan menggas montornya, dengan sangat kencang.


Lima montor itu pun mengejar Cantika, dengan kecepatan yang tak kalah tinggi. Aksi kejar mengejar telah dimulai. Memasuki area lapangan yang sepi. Para pemuda itu mencegat Cantika dan melingkarinya, dengan montor.


Cantika yang telah masuk ke dalam perangkap, mulai sedikit risau. Para Pemuda itu turun dari atas montor mereka. Nampak, salah seorang pemuda pergi menghampiri Cantika.


"Lo mau kabur kemana?" tanya Pemuda itu, dengan ekspresi datar dan marah.


"Apa mau lo, hah?!" tanya Cantika, membentak.


Pemuda itu tersenyum smrik. "Gue mau balas dendam, atas perbuatan lo tahun lalu!"


Cantika masih mengingat hari itu. Hari dimana, Cantika berhasil membuat pemuda itu babak belur. Aizha juga pernah melihat kejadian itu. Akibat kejadian itu, si Pemuda ini menerima banyak penghinaan oleh teman-temannya, karena dianggap lemah dan pengecut. Lelaki manapun, pasti akan hancur harga dirinya. Jika, seorang wanita berhasil membuatnya babak belur.


"Ohhh, lo mau berantem sama gue lagi? Lo nggak malu, hah?! Ngajak duel anak cewek?!" maki Cantika dan pemuda itu tersenyum.


"Sejak hari itu, gue nggak pernah lagi, anggap lo tuh cewek! Gue nggak peduli juga sama omongan orang. Gue cuman mau habisi lo, bagaimana pun caranya!" ucap pemuda itu yang penuh, dengan kebencian dan amarah.


Cantika menelan ludah. Dia mulai risau dan khawatir. "Jangan bilang, lo mau nyerang gue keroyokan?"


Pemuda itu hanya tersenyum smrik. Dia memberi kode pada teman-temannya, untuk segera menyerang. Cantika dan para pemuda itu pun beradu gulat. Pertengahan aksi, Cantika mulai lelah, menghadapi mereka berlima. Pemuda yang sangat membenci Cantika itu, berhasil menendang perutnya, dengan begitu kencang, hingga terjatuh dan tak sadarkan diri.


"Ayo pergi!" ajak pemuda itu dan mereka pun pergi meninggalkan Cantika, terbaring di tengah jalan sepi.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Oke deh, sampai sini dulu ya. Ayo dukung novel ini, dengan like, komen dan berikan juga rating kalian tentang novel ini. Berikan juga hadiah dan vote kalian.


See you💕