
...Welcome to Alpha Femaleππ...
...Happy Reading β¨...
...ΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓ...
"Ayo!" ucap salah orang yang mengkode dan suara tembakan pun terdengar sangat keras. Dua peluru, berhasil keluar dari pistolnya dan kedua pisau itu. Dua orang yang memegang pisau, juga telah mengayunkannya ke arah Bunga serta Innara.
Peluru dan pistol itu, seketika berhenti. Mereka sangat terkejut, benda itu melayang dan balik mengarah ke mereka berempat. Spontan mereka berempat, langsung menaikan kedua ke tangan ke atas.
Hologram Alpha pun muncul, dengan ukuran yang begitu besar. Masker dan topi yang mereka kenakan, langsung terlepas. Arkana, Farel, Dirgantara dan Akhsan, mulai resah.
...[Apa yang kalian mau?!] ...
Arkana pun menjawab, "Apa Lo sendiri, nggak bisa tebak?"
...[Dasar sombong!]...
Arkana, Dirgantara, Akhsan dan Farel, tercengang ketika melihatnya. "Sialan!" maki Akhsan, dalam batin.
...[Aku memilih Aizha, bukan hanya karena dia tangguh. Namun, aku juga melihat sekitarnya. Banyak alasan, kenapa aku memilihnya. Salah satunya adalah kalian!]...
"Apa?" Arkana dan Farel, tak paham. Akhsan dan Dirgantara, hanya menaikkan salah satu alis, heran.
...[Hidup kalian, tak seindah yang dibayangkan anak-anak. Aku akui, kalian pandai menutupi kekurangan dan rahasia keluarga. Tapi, kalian tidak sebanding, dengan anak-anak yang menjadi Pewaris keluarga, di dunia ini]...
...[Kalian terlalu nafsu, akan kemarahan, benci, iri dan dengki]...
...[Ada banyak anak yang harus dipukuli dan mendapatkan didikan yang begitu keras, untuk memuaskan keinginan orang tuanya. Sedangkan kalian?]...
Arkana tampak begitu kesal. Sedangkan Dirgantara, terlihat sedang mengerutkan kening. Farel dan Akhsan, hanya fokus menyimak.
...[Lihatlah, kalian masih bisa datang ke sini, hanya untuk membunuh. Apa kalian tidak memikirkan, nasib keluarga bagaimana?]...
...[Sebagai Pewaris utama keluarga, seharusnya lebih berhati-hati dan waspada. Jika aku tidak menghentikan hal ini, kalian sudah pasti masuk penjara! Keluarga kalian juga, akan jatuh dilanda hutan dan kemiskinan]...
"Kalau gitu, kenapa lo hentiin kita?!" tanya Farel, nyolot.
"Apa jangan-jangan, elo udah mulai bergerak?" ujar Akhsan, tiba-tiba membuat Farel, resah.
...[Aku?]...
...[Kalian apa masih enggak sadar?]...
Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan, tak mengerti. Alpha pun menunjukkan rumah megah Aizha dan Innara. Koleksi persenjataan orang tua Innara, juga ditunjukkan oleh Alpha. Mereka berempat, tampak sangat terkejut dan tercengang.
Alpha menunjukkan kekuatan orang tua Innara dan Aizha. Melihat data diri orang tua Aizha, membuat mereka berempat kagum. Mereka juga, semakin tercengang, setelah mengetahui data diri orang tua Innara yang begitu keren.
...[Bukanlah hal yang sulit, bagi mereka untuk menghancurkan empat keluarga sekaligus. Akses dan kekuatan mereka, sudah diakui oleh banyak orang berkuasa, di luar negeri]...
...[Ayah Aizha, rela memutuskan hubungan dan menghancurkan usaha keluarga, hanya karena Anak serta Istrinya. Ibu dan Ayah Innara, juga pernah melakukan hal serupa]...
...[Bukan hal yang tidak mungkin lagi, kalau mereka< akan menghancurkan keluarga kalian, tanpa terkecuali!]...
Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan, mulai resah. Mereka saling melihat dan sibuk, dengan pemikiran masing-masing. Dirgantara dan Arkana, tampak begitu kesal. Mereka berempat pun, meminta maaf.
"Kami terpaksa lakuin hal ini, demi Sekolah. Kami nggak ingin, anda sama Aizha, menguasai Sekolah dan melakukan hal yang aneh-aneh," ucap Arkana, merasa bersalah.
"Kami juga nggak mau, kalau sampai ulah Aizha, membuat Sekolah, jadi tekena masalah yang lebih besar," tambah Dirgantara dan diangguki oleh Farel serta Akhsan, sependapat.
...[Aku tau! Karena itu, aku bilang, kalau kalian sombong!]...
...[Ini juga, demi kehidupan Innara, Cantika dan Bunga]...
...[Percayalah, kami hanya ingin, membebaskan anak-anak yang tidak bersalah]...
Dirgantara, Farel dan Akhsan paham. Sedangkan Arkana, merasakan hal janggal. Ada rasa yang meremas hatinya. Dia merasa, Aizha akan pergi meninggalkan dunia ini. Namun, Alpha telah lebih dahulu, memberitaukan hal yang lebih penting dan darurat.
...<\=>...
Aizha, Cantika, Bunga dan Innara, pergi masuk ke dalam ruang Aples. Aizha yang baru saja tiba, menanyakan soal kebijakan sekolah yang baru. Arkana yang sedang sibuk, dengan buku paketnya, langsung memberitau Aizha. Jika semuanya telah disetujui dan akan segera diumumkan. Para gadis itu, tampak senang dan lega.
Dirgantara yang berbaring di atas sofa, tiba-tiba bertanya. "Soal sistem Gatif dan orang bertanda X itu, gimana?"
Aizha tampak berpikir sejenak dan menjawab, "Alpha bilang, aku harus segera selesaikan misi-visinya. Setelah semuanya selesai, aku akan ungkap jati diriku."
"Oke, kalau gitu, setelah ini kita ngerjain apa?" tanya Farel.
"Ada kasus perbudakan yang dilakukan oleh Ketua dan Wakil, dari ekskul pecinta alam," ucap Aizha memberitahu, sembari Innara membagikan print-printnan.
"Semua data kegiatan dan sebagian bukti, udah kami data. Kita hanya perlu saksi, untuk buka suara dan vidio bukti," ujar Innara, setelah menyebarkan printnannya.
"Apa kita bisa, lakuin hal ini secara diam-diam saja? Tidak perlu terang-terangan," tanya Arkana, menawarkan pendapat.
"Enggak!" tolak Cantika, Bunga dan Innara.
"Soalnya, kita harus bikin mereka takut dan benar-benar penasaran, dengan sosok Alpha yang sebenarnya," jelas Cantika.
"Tapi, konsep kalian ini terlalu berlebihan. Mereka semua, bisa merasa nggak nyaman dan memandang sebelah mata soal Alpha!" komen Akhsan.
"Itu benar guys," ucap Aizha tiba-tiba. Dia setuju, akan pendapat Aples. "Mendingan, kita selesaikan ini, dengan cara yang biasa aja dan nggak terlalu mengumbarnya."
"Oke lah!" sahut Innara.
"ku ngikut!" seru Bunga dan Cantika, juga menganggukkan kepala setuju.
Arkana berjalan ke tengah-tengah mereka semua dan menunjukkan ipad yang digenggam. "Kebetulan, mereka ada kegiatan di Bukit besok. Gimana, kalau kita sekarang siap-siap?"
Mereka semua tampak senang dan berseru heboh. Aizha pun bersedia, untuk menyediakan mobil dan memboking Vila di lokasi itu. Namun, keempat laki-laki itu, merasa jaim dan menolaknya. Mereka ingin mengambil alih. Tetapi, penawaran Aizha terlalu menarik.
<\=>
Pagi hari sekali, pukul lima pagi. Arkana, Dirgantara, Farel, Akhsan, Cantika, Bunga dan Innara, telah tiba di rumah Megah Aizha. Dua mobil mewah, langsung tiba di depan mereka. Aizha yang baru saja keluar, dengan camilan buatan Bibik, menyuruh mereka, untuk segera masuk. Bukan main-main, dalam mobil itu terdapat kursi yang sangat empuk, TV kecil seukuran Ipad dan kulkas mini serta barang mewah lainnya. Terlihat juga pembatas, antara Sopir dan Penumpang. Arkana, Farel, Dirgantara dan Akhsan, hanya diam saja.
"Wahhhh, gila! Nih mobil, kalau dijual kagak ada apa-apanya dah, dibandingkan rumah gue!" ujar Cantika, membuat Bunga tertawa kecil.
"Di rumah baru ada satu, itu pun jarang kepakai, karena sayang," bisik Akhsan.
"Lo udah ada belum Ar?" tanya Farel, dengan suara pelan.
Arkana menganggukkan kepala, sebagai jawaban sudah memiliki mobil itu. "Tapi belum dimodif, aslinya enggak begini!" ucap Arkana dan disetujui oleh Akhsan.
"Yuk, kita berangkat! Sebelum, kita ketinggalan jejak mereka!" kata Aizha dan mereka pun segera masuk ke dalam mobil.
ΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓΓ
Bersambung...β¨
Sampai jumpa, di bab selanjutnya, guys!ππ
Maaf, jika ada salah kata, kekurangan dan ketidak nyamanan kalian, pada saat membaca.πβ¨